![The Heiress Of The Legendary Family [S1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-heiress-of-the-legendary-family--s1-.webp)
"Selamat datang, Nona Casilda, Tuan Charles. Saya diperintahkan oleh Tuan Muda untuk mengantar Anda sekalian." Seorang hantu butler membungkuk di hadapan sepasang kakak beradik itu.
"Jangan panggil aku seperti itu, aku bukanlah majikanmu" tegur Casilda dengan halus.
"Hm, sama" imbuh Charles singkat.
"Maaf, ini adalah perintah dari Tuan Muda" kata Hantu Butler masih menunduk.
Casilda menghela napas. "Ya sudahlah, apa boleh buat" helanya. 'Lain kali aku harus negur Eden biar nggak kayak gini lagi. Emangnya aku siapanya dia? Kan nggak harus kayak gini juga.'
Hantu Butler menatap gadis bersurai safir itu lekat-lekat. Ingatannya tentang pembicaraannya dengan Eden beberapa saat yang lalu mulai menggerayangi otaknya.
"Selamat datang, Tuan Muda" sapa Hantu Butler itu kala Eden memasuki gerbang kedua.
Sang Tuan Muda membalasnya dengan anggukan kecil. "Ah ya, nanti kalau Kiel mengantar dua orang kemari, tolong bawa mereka sampai ke gerbang kelima" ucapnya.
"....Untuk apa, Tuan Muda?" tanya Hantu Butler. "Siapa mereka?"
"Mereka adalah temanku saat Ujian Knight, kau harus bersikap sopan pada mereka, terutama perempuan bernama Casilda" balas Eden.
"....." Hantu Butler itu terdiam sesaat. "Kalau boleh tahu, ada urusan apa?"
Eden tersenyum misterius. "Kau akan tahu kalau bertemu dengannya nanti."
Saat ini, Hantu Butler masih memandangi Casilda yang sedang berbicara dengan Charles. Ia heran, rasanya tak ada yang aneh dari gadis ini.
Wuuunggg
Tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya. Hantu Butler mengerjabkan matanya beberapa kali dan melihat sekeliling. Baik hantu-hantu lain maupun sepasang kakak beradik itu sama sekali tak mendengar suara yang didengarnya itu.
Hantu Butler mencari dari mana sumber suara itu. Kemudian, matanya tertuju pada saku yang berada di pakaian Casilda.
'Di dalam saku itu ada......' Hantu Butler itu seketika terkejut. 'Begitu rupanya, aku paham kenapa Tuan Muda menyuruhku untuk bersikap sopan pada gadis ini.'
"Nona Casilda, Tuan Charles, mari ikuti saya" kata Hantu Butler itu sembari memimpin jalan.
"Ah, baik."
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...༺♥༻...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...
.......
.......
...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...༺♥༻...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
"Eeeh? Jadi, Anda adalah Kepala Pelayan Kediaman Onyx yang terdahulu?" kaget Casilda saat mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang berada di tengah hutan.
Hantu Butler mengangguk. "Benar, tapi sekarang yang menjadi kepala pelayan adalah putra saya" balasnya tanpa ekspresi.
Casilda mengangguk kecil. "Hmm, makannya Anda memakai pakaian butler. Hmm, hmm...."
Charles hanya diam saja dengan wajah datar nan jengah, sama sekali tak berniat untuk ikut berbincang dengan mereka. 'Kapan sampainya? Aku pengen cepetan ngasih barangnya ke iblis itu, terus balik. Capek aku..' batinnya frustasi.
Casilda memahami bahwa adiknya benar-benar kelelahan. "Sabar, ya, Charles. Namanya juga kediaman Keluarga Utama, pasti punya wilayah yang besar. Habis ini kita bakal beli makanan lagi, deh" hiburnya.
Charles langsung berseri-seri. "Beneran, Kak? Kita beli makanan lagi?"
"Iya" angguk Casilda.
"Sama Kakak?"
"He'em."
"Berdua?"
"Iyaaa." Casilda kembali mengangguk.
"Kalau gitu, aku akan menunggu dengan sabar" kata Charles dengan badan tegap, tak lagi lesu seperti tadi.
Sang kakak terkekeh kecil. Sungguh, adiknya ini memang sangat lucu dan menggemaskan!
Hantu Butler yang mendengar pembicaraan mereka hanya diam dengan wajah datar seperti biasanya. Tak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...༺♥༻...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...
.......
.......
...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...༺♥༻...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
"Kakak?" Seorang gadis cantik bersurai hitam yang diikat ekor kuda bertanya pada sang kakak yang sedang melamun sambil tersenyum. "Kakaaak?"
Yang sedang ditanyai masih tak bergeming. Bibirnya masih tertarik ke atas dan matanya menatap dengan sayu.
"Kakaaaaakkkk!!!"
Mendengar suara melengking dari sang adik, kakaknya pun terjengkit kaget. "Apa, sih?!"
Gadis itu memanyunkan bibirnya dengan kesal. "Kenapa Kakak nggak jawab tadi? Kakak lagi mikirin apa, sih?" tanyanya dengan kesal.
"Huh, bukan urusanmu" ketus sang kakak dengan dingin.
Sang adik tambah kesal. "Ibuu!! Lihat, Kakak malah bersikap aneh!" adunya pada sang ibu.
Wanita bersurai abu-abu gelap itu terkekeh kecil. "Sepertinya kakakmu sedang banyak pikiran, Ellen" ucapnya dengan lembut.
"Tapi... Kakak malah kelihatan kayak orang lagi jatuh cinta, Buu."
"Emang bener."
"Eh?" Kedua perempuan itu menoleh dengan shock.
"Apa?" tanya sang kakak dengan heran.
"Ka-Kakak tadi bilang apa?" tanya Ellen—sang adik dengan mulut megap-megap karena shock. "Ka-Kakak jatuh cinta?!"
JDERRRR
Kedua perempuan itu shock bukan main. Ellen sampai menjatuhkan pedangnya yang ia gunakan untuk latihan, dan sang ibu masih shock sambil menutup mulutnya dengan menggunakan tangan.
"Hiks... Akhirnya... Hiks.. Akhirnya putraku telah tumbuh dewasa... Hiks..." Sang ibu menangis terharu.
"I-Ibu... Aku kan emang udah besar..."
"Akhirnya Kakak suka sama perempuan!!" Ellen mengepalkan tangan kanannya dengan bangga.
"Emangnya siapa yang bilang kalau aku nggak suka sama perempuan?" Sang kakak speechless sendiri. 'Sejak kapan keluargaku jadi absurd kayak gini?' batinnya dengan heran.
"Eden, katakan pada ibu, siapa orang yang kamu sukai?!" tanya sang ibu sambil memegang bahu anaknya.
"Siapa, Kakak?! Bilang, dong!!"
"Kenapa kalian kepo?" tanya sang kakak—Eden dengan wajah datar.
"Sudahlah, bilang ajaa!!" paksa kedua perempuan itu.
"Dia—"
"Tuan Muda, Anda dipanggil oleh Tuan Besar ke ruangannya sekarang." Perkataan Eden dipotong oleh seorang pelayan lelaki.
"Oh, aku harus pergi. Dadah~"
"Kakaakkk!! Jangan pergi duluuuu!!"
"Eden! Setidaknya beritahu kami, siapa diaa?"
Eden pun menoleh ke belakang tanpa berhenti melangkah. "Kalian akan tahu nanti. Kujamin, kalian pasti suka~"
"Setidaknya beritahu kami duluu!!"
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...༺♥༻...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...
.......
.......
...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...༺♥༻...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
"Akhirnya.. Kita sampai di gerbang terakhir...." ucap Casilda dan Charles dengan lega.
Di hadapan mereka berdiri sebuah gerbang yang terbuat dari beton yang sangat besar dan nampak berat tentunya. Sepertinya akan sulit untuk mendorong gerbang yang satu ini.
"Ini adalah gerbang kelima di Kediaman Onyx. Gerbang ini bernama 'Gerbang Penyeleksi', itu karena gerbang ini dapat 'menyeleksi' siapapun yang hendak masuk ke kediaman" jelas Hantu Butler.
"Menyeleksi?" tanya Casilda.
Hantu Butler mengangguk. "Benar. Untuk dapat memasuki kediaman, seseorang harus membuka pintu gerbang ini dengan cara apapun. Boleh menggunakan kekuatan, sihir, ataupun kemampuan lainnya."
"Dan setelah berhasil melakukannya, maka gerbang ini akan terbuka. Jika gerbang berhasil terbuka, itu artinya orang tersebut berhak memasuki Kedaiman Onyx" jelas hantu itu.
"Biar kutebak, ada banyak orang yang mencobanya, tapi tak bisa, kan?" tebak Casilda.
"Itu benar" angguk Hantu Butler. "Gerbang ini memiliki berat ratusan ton dan mustahil digerakkan atau dibuka. Yang dapat melakukannya hanyalah Tuan Besar Onyx saja."
"Bahkan Eden tak bisa menggerakkannya?"
Hantu Butler itu menggeleng. "Berbeda dengan Tuan Besar yang cenderung hebat dalam kekuatan fisik, Tuan Muda hebat dalam sihir. Itulah sebabnya Tuan Muda membuka gerbang ini dengan menggunakan sihirnya."
"Ooh, begitu.. Aku paham.." angguk Casilda.
Charles diam-diam menyeringai. 'Kufufu~ Aku sudah tahu kelemahan iblis itu~ Kufufufu~' batinnya nista.
"Untuk dapat bertemu Eden, kami harus membukanya, ya...." gumam Casilda yang dapat didengar oleh Hantu Butler.
"Apa Anda ingin mencobanya, Nona Casilda?" tawar Hantu Butler.
"Eh? Aku?" tunjuk Casilda pada diri sendiri. Ia menimang-nimang sejenak. "Boleh, deh" angguknya.
Casilda melangkah mendekati gerbang itu. "Boleh pakai apapun, kan?"
"Tentu saja."
Gadis itu berpikir sejenak. 'Tuan Butler bilang kalau beratnya mencapai ratusan ton. Dengan kekuatan fisikku yang sekarang, aku tak bisa membukanya. Aku harus cari cara lain. Hmmm... Apa mending, aku pakai aura aja?'
Ia mengangguk kecil. 'Itu ide bagus. Aku juga bisa tahu seberapa kuat auraku sekarang.'
Casilda memejamkan matanya. Tiba-tiba angin kencang berhembus, membuat rambutnya melambai-lambai. Aura Casilda yang berwarna biru keluar dengan cepat.
Pancaran aura itu membuat embun-embun yang berada di daun-daun serta rerumputan melayang-layang di udara.
Hantu Butler membolakan kedua matanya. Ia terkejut, sangat terkejut. Padahal Casilda nampak tak begitu kuat, tapi ternyata dugaannya salah besar.
Charles tersenyum bangga dengan wajah penuh kekaguman. 'Woaaahhh!!!'
Embun-embun yang melayang-layang itu berterbangan ke arah Casilda dan membuat tornado kecil di sekitar gadis itu.
'Dia.. Mengendalikan embun?!' kaget Hantu Butler.
Gadis bersurai safir itu membuka matanya. Cahaya berwarna biru keluar dari matanya seketika.
Sringgg....
BRAKKK
Gerbang itu terbuka dengan dentuman suara yang sangat keras. Angin-angin berhembus sangat kencang kala Casilda berhasil membuka gerbang itu dengan auranya.
"......" Hantu Butler masih terkejut. Ia bahkan tak sadar jika mulutnya sampai menganga lebar.
"Woaahh!! Kakak kereenn!!" puji Charles. 'Hmph, lihat, kan? Kakakku sangatlah kuat, tak seperti dugaanmu!' batin pemuda itu sambil memandang remeh Hantu Butler.
"Bagaimana, Tuan Butler?" tanya Casilda.
"....Itu sangat hebat" balas Hantu Butler masih dalam keterkejutannya.
Casilda terkekeh kecil. "Kalau begitu, tolong antar kami untuk bertemu dengan Eden" pintanya.
"A-ah, baik. Le-lewat sini." Hantu Butler itu begitu grogi sekarang. 'Kini aku tahu mengapa Tuan Muda memberikan benda itu pada gadis ini..'
.
.
.
.
.
Sementara itu, Ellen dan sang ibu yang mendengar dentuman keras dari arah gerbang kelima pun menjadi khawatir.
"Apa yang terjadi?" tanya sang ibu.
"Aku tak tah—"
"Nyonya, Nona Ellen! Ada orang yang membuka pintu gerbang kelima!" kata seorang pelayan dengan tergesa-gesa.
"Apa?" kaget Ellen.
"Da-dan mereka... Bersama dengan Kepala Pelayan Terdahulu."
Mata kedua perempuan itu terbelalak. 'Bersama dia?! Apa maksudnya?!'
"Ibu.."
"Tak ada pilihan lain." Sang ibu menaruh cangkir tehnya dan berdiri dari kursinya. "Kita harus bertemu dengan mereka."
"Ellen, kamu ikut denganku" imbuh sang ibu.
"Baik!"
TBC.