The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Anak Itu....



"Nona, mereka sudah selesai mandi" kata salah satu makhluk halus yang merupakan bawahan dari Casilda.


Gadis bersurai biru safir itu menghentikan kegiatan menulisnya. Ia menengok ke arah makhluk halus itu. "Ah, ya, terima kasih. Tolong suruh mereka untuk berkumpul di depan goa."


"Baik, Nona." Sosok itu membungkuk kemudian pergi dari tempat itu.


Casilda bangkit dan merapikan buku-buku serta kertas-kertasnya. Ia membawa barang-barang itu dan keluar dari goa. Saat sudah sampai di mulut goa, para budak itu sudah berada di sana. Kondisi mereka nampak lebih baik dari sebelumnya.


"Bagaimana keadaan kalian? Apa ada yang sakit?" tanya Casilda sembari menatap mereka semua.


"Tidak, Nona. Kami baik-baik saja" jawab salah satu dari mereka. Para budak itu baru pertama kali melihat wajah Casilda. Mereka kira Casilda adalah lelaki, ternyata perempuan.


Casilda memiliki tinggi sekitar 165 cm, jauh lebih tinggi daripada perempuan lainnya yang seusia dengannya. Wajahnya tirus dan tegas seperti lelaki. Namun, tubuhnya feminin dan suaranya halus seperti perempuan.


"Karena kalian berada di sini, bagaimana kalau menyamakan marga kalian?" tawar Casilda.


Mereka saling berpandangan. "Emm, itu... Apa maksudnya, Nona?" tanya mereka.


"Maksudku adalah, kalian akan menggunakan nama keluarga yang sama. Nama depan kalian bebas, namun nama belakang harus sama" terang Casilda.


Mereka mengangguk. "Tapi, apa nama marga kami?".


Casilda menimang-nimang sebentar. Sesuatu yang berhubungan dengan hutan... Tourmaline... Permata....


"Ah, bagaimana dengan Jade?" tanya Casilda.


Mereka mengangguk dengan antusias, senang dengan nama marga mereka.


"Kalau nama depan kalian, boleh memikirkannya sendiri. Yang penting jangan ada yang sama, ya."


"Baik, Nona!" Mereka saling berunding untuk memikirkan nama depan mereka. Casilda mengulas senyum lembut. Ia senang karena para mantan budak itu telah melupakan masa lalu mereka.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


DRAP DRAP DRAP DRAP DRAP


Gema suara langkah kaki terdengar di henjuru hutan. Nampak para anggota Keluarga Jade sedang berlatih berlari 1 km. Casilda tidak memberatkan mereka. Ia tahu stamina mereka masih lemah, oleh karenanya ia memberikan pelatihan ringan.


Para anggota Keluarga Jade itu sudah memiliki nama masing-masing. Mereka yang berjumlah sekitar 50 orang tinggal bersama di sebuah rumah besar yang Casilda bangun beberapa hari yang lalu.


Mereka sangat senang karena telah dibeli oleh Casilda. Gadis itu tidak mengekang mereka sama sekali. Justru ia membiarkan mereka bebas, asalkan tidak merusak ataupun mengotori hutan.


Casilda sekarang sedang duduk termangu di balkon kamarnya. Firasatnya menyuruh dirinya untuk tetap tinggal di Hutan Keramat, padahal ia ingin pergi ke Dataran Barat untuk menjual pil-pilnya. Ia menunggu dengan tenang dan sabar. Gadis itu yakin, ada sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi.


"KYAAAAAA!!!"


Suara teriakan menggema di hutan itu. Casilda dengan cepat melompat dari balkon kamarnya dan menghampiri sumber suara. "Ada apa?! Apa yang terjadi?!" tanyanya dengan suara keras.


Seorang gadis yang tadi berteriak menengok ke arah Casilda. Ia menghampiri Casilda yang berlari ke arahnya. "No-Nona! A-ada anak kecil yang terluka parah di sini!" tunjuknya ke anak kecil itu.


Casilda melihat ke arah yang ditunjuk oleh gadis itu. Ada anak kecil yang terbaring di sana. Tubuhnya sangat kurus dan badannya penuh darah.


Casilda segera mengangkat tangannya di atas tubuh anak itu dan menyembuhkannya. "[Berkah Kesembuhan]"


SRINGGG


Tubuh anak itu dipenuhi cahaya dan luka-lukanya langsung sembuh seketika. Casilda menggendong anak itu dengan gaya bridal style. "Anak ini akan kurawat. Kau lanjutkan latihanmu" perintah Casilda kepada gadis itu.


"B-baik, Nona!"


Casilda berlari dengan sangat cepat menuju rumahnya. Ia sudah memberikan sihir penyembuh kepada anak itu, tapi sepertinya anak itu kedinginan. Gadis itu menendang pintu rumahnya dengan tidak sabaran. Ia menggunakan sihir untuk menutup pintu rumahnya.


Gadis itu meletakkan tubuh anak kecil malang itu di atas kasurnya. Ia kemudian keluar dari kamarnya untuk membuat bubur.


Beberapa saat kemudian, anak itu terbangun.


Ia mendudukkkan dirinya di ujung kasur dan melihat sekeliling. Kamar yang ia tempati ini bernuansa putih abu-abu. Sangat elegan dan sederhana. Di kamar ini hanya ada kasur dan sebuah lemari besar. Tidak ada benda lainnya di sana, membuat kamar itu terasa lebih longgar.


Anak itu melihat bajunya. Sudah diganti. Baju yang ia pakai sekarang adalah baju polos sederhana yang kebesaran. Luka-lukanya juga sudah hilang, bahkan tidak ada bekasnya sama sekali.


'Hebat.... Luka-lukaku yang sangat parah sudah sembuh... Sebenarnya, orang yang menolongku sekuat apa?' pikirnya kagum.


Cklekk


Krieett


Pintu kamar itu terbuka, membuat anak kecil yang baru bangun memasang sikap waspada.


Casilda memasuki kamarnya sembari membawa semangkuk bubur yang masih hangat. "Eh, kau sudah bangun" ucap Casilda mendekati anak itu.


Gadis itu menaruh semangkuk bubur itu di meja yang ia buat dengan menggunakan sihirnya. Ia memegang kening anak itu. "Hm, tak panas.." gumamnya.


Anak itu termenung. Otaknya ingin menepis tangan gadis yang ada di depannya, namun tubuhnya sama sekali tak bisa digerakkan. Entah kenapa, anak itu merasa bahwa gadis yang ada di depannya ini sama seperti dirinya. Auranya... Nampak tak asing.


"Nah, ayo makan." Casilda menyuapi anak itu.


Anak itu awalnga nampak ragu, namun karena terlalu lapar, ia pun memakannya. Anak kecil yang memiliki tubuh kurus itu nampak sangat menyukai masakan Casilda. Wajahnya nampak sangat kagum.


'Hehe... Lucu..(´∀')' batin Casilda dengan aura bunga-bunga yang bermekaran.


Tak lama kemudian bubur itu habis, dan anak kecil itu nampak kekenyangan. Casilda mengelus pucuk kepala anak itu. "Nah, sekarang tidurlah.. Aku tak akan mengganggumu" ucapnya.


Gadis bersurai aquamarine itu keluar dari kamarnya, meninggalkan anak kecil yang menatapnya tertegun.


"Nona, kenapa Anda langsung meninggalkan anak itu?" tanya salah satu bawahannya.


"Yah, karena dia memerlukan privasi.. Tidak ada orang yang langsung percaya dengan orang lain yang baru ia kenal. Dan jika aku mengorek informasi tentangnya, itu akan membuatnya semakin menutup dirinya dengan orang lain" balas Casilda.


"Hm.. Begitu rupanya.. Nona Casilda memang sangatlah pintar!"


"Iya, dong!!" Casilda bersorak bangga.


.


.


.


.


.


Hari demi hari Casilda lalui dengan merawat anak itu. Dirinya mengesampingkan keinginannya untuk pergi ke pelelangan demi merawat anak malang itu. Mereka sekarang menjadi sangat dekat. Casilda tetap menunggu anak itu untuk bicara jujur padanya.


Tak masalah walau membutuhkan waktu bertahun-tahun, karena ia menghormati privasi orang lain, walaupun seorang anak sekalipun. Hingga pada akhirnya, anak itu mau berkata jujur kepada Casilda.


"Anu, Kak..."


Casilda menoleh. "Ya?"


Anak itu nampak ragu. "Ada yang ingin saya bicarakan dengan Kakak..." ucapnya pelan.


Casilda tersenyum. Akhirnya anak ini mau bicara. Gadis itu menaruh piring-piring yang sudah ia cuci ke rak. Ia melepas celemeknya dan menyuruh anak itu untuk mengikutinya ke ruang tamu.


Anak itu sekarang tidak lagi kurus. Ia lebih terawat. Hanya dalam waktu 1 minggu kondisinya berubah. Bahkan anak itu tumbuh dengan sangat cepat.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Casilda lembut.


Anak itu nampak ragu. "Ja-janji tidak akan membenciku?" tanyanya.


Casilda mengangguk. "Janji" ucapnya sambil tersenyum.


Anak itu menghela napas lega. "Sebenarnya... Saya adalah anak haram" katanya dengan ragu.


Ucapan anak itu membuat Casilda meremang. Anak haram... Mata Casilda melirik ke wajah anak itu. Wajahnya dipenuhi ketakutan. Anak itu trauma. Casilda berjalan dan duduk di samping anak itu. Ia memeluknya dengan erat.


"Jangan takut.. Aku ada di sini... Dan apa kau tahu, aku juga anak haram, loh..."


Anak itu membolakan matanya. "Eh?! Kakak juga?!" pekiknya.


Casilda mengangguk. "Ya.. Karena aku anak haram, mereka membenciku dan mengusirku dari rumah.. Ayah membenciku, padahal dirinyalah yang telah memperkosa Ibu..." 'Yah, walau Ibu tidak hamil anaknya, sih..'


"Jadi, kau tak perlu risau. Nasib kita sama, mana mungkin aku membencimu." Casilda tersenyum sangat lembut, membuat anak itu menangis.


"Hiks.. Me.. Mereka.. Hiks... Mereka selalu menyiksaku... Hiks.. Mereka selalu membanding-bandingkan aku dengan orang lain... Hiks.. Mereka mengganggapku sampah.. Hiks.. Aku benci mereka.. Hiks.. HUAAA!! AKU BENCI MEREKAA!" Anak itu menangis di pelukan Casilda.


Gadis itu mengepalkan tangannya. Ternyata ada orang yang diperlakukan sama seperti dirinya. "Tenanglah, Nak.. Aku di sini... Aku akan selalu bersamamu, tenanglah...." Casilda menenangkan anak itu. Anak itu pun mulai tenang walau masih terisak di pelukan Casilda.


"Oh ya, omong-omong, siapa namamu?" tanya Casilda.


"Hiks.. Cha-Charles..." balas anak itu sembari menyeka air matanya.


Charles, anak itu memiliki warna rambut berwarna hijau muda dengan mata berwarna coklat hazel. Casilda sedikit curiga dengan identitas anak itu.


'Semoga saja tidak benar...'


"Nak, kau dari keluarga mana?" tanya Casilda.


"Hiks... Emerald.. Hiks..."


"APAA?!" Casilda memegang kedua bahu anak itu. "APA ITU BENAR?! BERAPA UMURMU?!"


"Hiks.. Du-dua belas tahun... Hiks."


Casilda memeluk anak itu dengan erat. Tubuhnya bergetar, ia ingin menangis.


"K-Kak? Kakak kenapa? Kenapa menangis?" Charles panik.


Casilda melepas pelukannya dan mengelap bekas air matanya. "Tidak, aku hanya bingung mau tersenyum atau menangis. Tak kusangka aku bertemu dengan anak sepertimu. Karena... Kita sebenarnya adalah saudara."


Charles membolakan matanya. "Apa?!"


TBC.