The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Ujian Knight: Perjalanan²



Pagi hari pun tiba, kapal yang Casilda naiki sudah sampai di daratan yang penuh dengan manusia yang saling berlalu lalang. Mereka kini berada di sebuah pelabuhan yang sangat ramai.


"Kita sudah sampai, tapi ingat, kita di sini hanya untuk membeli perbekalan! Akan aku tunggu sampai matahari terbenam!!" teriak Nahkoda Tua dari ujung kapal.


Casilda yang mendengarnya pun langsung berpikir. Kenapa mereka berhenti hanya untuk membeli perbekalan?


"Pertanyaan yang bagus, Nona." Tiba-tiba Nahkoda Tua sudah berada di samping Casilda, entah sihir apa yang ia gunakan untuk sampai di sana dengan cepat.


Casilda tersentak kecil. Padahal ia memiliki insting yang kuat, tapi bagaimana bisa ia tak merasakan keberadaan nahkoda ini?


"Hey, kau membuat Kakak kaget, tahu💢" protes Charles yang tentu saja hanya dianggap angin lalu oleh nahkoda itu.


"Bagaimana Anda bisa tahu apa yang saya pikir—"


"Kau tak perlu tahu" potong Nahkoda Tua. "Aku yakin, kau pasti penasaran, kan?"


Casilda mengangguk kecil.


"Lokasi diadakannya Ujian Knight terletak di tengah samudra yang sangat terisolasi dari pulau lain. Orang-orang menyebutnya dengan nama 'Pulau Hantu' karena pulau itu telah ditinggalkan oleh pemiliknya" jelas Nahkoda Tua.


"Ditinggalkan oleh pemiliknya?" tanya Casilda.


"Dulu, ada sebuah cerita yang sangat terkenal. Cerita itu adalah kisah sebuah keluarga yang super kaya. Mereka memilih untuk membeli pulau itu dan menggunakannya untuk berlibur."


"Mereka kemudian membangun sebuah mansion super besar, yang sayangnya sudah terbengkalai saat ini. Anggota keluarga itu tak betah tinggal di sana karena diganggu oleh penunggu samudra yang berada di sekeliling pulau."


Casilda merasa tertarik dengan cerita itu, sementara Charles merengut kesal karena perhatian sang kakak teralihkan darinya.


"Kakak, kita pergi aja, yuk" ajak Charles sambil menatap tajam ke arah Nahkoda Tua.


"Nanti dulu, Charles. Aku kepo, nih" sahut Casilda tanpa menoleh ke arah sang adik.


'HAH!! KA-KAKAK MENCAMPAKKAN AKU!! TIDAAAAAKKKK!!!!' Charles terduduk dengan aura suram. 'Dasar Nahkoda Tua!! Akan aku santet kau!!' geramnya sambil menatap tajam ke arah pria itu.


Nahkoda Tua sama sekali tak merasa takut akan tatapan tajam dari Charles. Ia memilih untuk melanjutkan perkataannya.


"Katanya, keluarga itu diganggu oleh penunggu samudra karena mereka telah melanggar aturan yang ada" lanjut Nahkoda Tua.


"Aturan apa?"


"Aku tak tahu pasti. Yang penting, aturan itu tak boleh dilanggar, atau seluruh keluarganya akan terkena nasib sial seumur hidupnya."


"Lalu, apa yang terjadi pada keluarga itu?" tanya Casilda lagi.


"Katanya, keluarga itu memilih untuk pergi dari pulau itu dan tinggal di kekaisaran kita. Tapi, sampai sekarang aku tak tahu siapa mereka" balas Nahkoda Tua.


"Kalau memang pulau itu berbahaya, lantas kenapa tempat itu dijadikan lokasi Ujian Knight?"


Nahkoda Tua menyeringai kecil. "Justru tempat yang berbahaya itu jauh lebih menantang, bukan?"


Casilda terpaku sesaat. Ia tersenyum beberapa saat kemudian. "Anda benar. Kalau tak berjuang sambil mempertaruhkan nyawa, bukan Knight namanya." Gadis itu pun menatap lurus ke depan.


Nahkoda Tua yang mendengarnya tersenyum simpul. Gadis yang ada di depannya ini ternyata menarik juga.


"Kakak.... Ayo... Kita.... Pergi.... Sekarang...." lirih Charles yang masih murung.


"Demi makanan! Aku lupa kalau kau sedang cosplay jadi gembel, Charles" kaget Casilda. "Ya udah, yuk. Kita cari makanan." Gadis itu pun menyeret sang adik pergi dari sana.


Nahkoda Tua yang melihatnya pun speechless. 'Kasihan sekali nasibmu, Nak.. Punya kakak yang terlalu aktif dan kepo seperti dirinya...' miris pria tua itu.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


..."Charles, ayo beli yang itu!!" tunjuk Casilda pada sebuah stan makanan bertuliskan 'Jasuke'....


Tunggu, sejak kapan ada jasuke di sana?


"Mau pesan apa, Kak?" tanya penjual makanan itu dengan ramah.


"Emm... Rasa....." Casilda sibuk memilih pilihan rasanya. "Blueberry pedas, ya!"


"Eh?" Penjual itu kaget sekaligus sweatdrop.


Charles mendengus kecil. 'Kayaknya Kakak lagi ngidam, deh' pikirnya. Sesaat kemudian, ia menyadari sesuatu. 'Bentar, Kakak hamil anaknya siapa?!'


"Kenapa, Charles?"


"Kakak, Kakak nggak main sama cowok lain, kan?!" tanya Charles dengan ekspresi wajah yang menyeramkan disertai pelototan maut.


"Hah? Main apaan?" beo gadis bersurai safir itu.


Charles pun langsung lega. 'Kakak adalah orang baik, tentu saja Kakak tak pernah melakukan hal-hal buruk. Kenapa aku malah kayak gitu, sih?'


'Itu beda cerita. Mereka kan emang jahat. Wajar, dong, kalau Kakak kayak gitu. Hmph, bodoh' ketus pemuda itu.


Sudahlah, balik ke topik.


Casilda sekarang sudah membeli jasuke dengan rasa yang wow itu. Bahkan pejualnya pun sampai melongo. Apalagi saat si penjual melihat Casilda menambahkan gula dan bubuk merica di atasnya.


"Emangnya itu enak, Kak?"


"Enak, kok! Mau coba?"


Si penjual pun seketika merasa tertekan. 'Kayaknya aku harus bilang ke Bos kalau aku akan resign dari pekerjaan ini, deh.'


Sementara itu, kedua kakak beradik berbeda darah itu berjalan tanpa menggubris orang-orang yang sibuk menatap mereka. Tentu saja, memangnya siapa yang tak akan menatap orang yang membawa banyak barang di punggungnya?


"Pst, hey, lihat cowok itu!" bisik salah satu gadis pada temannya. Ia melirik ke arah Charles dengan wajah merona.


"Yang mana? Yang bawa banyak barang itu??"


"Iya, yang itu!!"


"Kyaa! Ganteng banget!!"


"Bener! Dia tipeku banget!!"


"Apalagi ada banyak barang di punggungnya! Dia kuat banget!! Apalagi wajahnya bener-bener cool! Keren abis!!"


"Matanya cantik banget!! Kok warnanya bisa beda sebelah gitu, sih?? Aku pengen!!"


"Eh iya! Aku baru sadar kalau warna matanya beda sebelah!"


"Eh, tapi.. Cewek yang ada di sampingnya itu siapa?" Mereka melirik ke arah Casilda yang sedang berbincang dengan Charles sambil tertawa kecil.


"Apa dia pacarnya?"


"Jangan gitu, lah! Mungkin aja dia saudaranya."


"Tapi, mereka nggak mirip, tuh."


"Masak dia beneran pacarnya, sih?.." Mereka pun mendadak lesu.


"Mereka bicarain apa, sih?" heran Casilda sambil memakan jasukenya.


"Tak usah dihiraukan, Kakak. Lebih baik kita terus berjalan saja" ketus Charles yang merasa terganggu dengan suara perempuan-perempuan tadi.


"Kyaa!! Ternyata dia masih jomblo!!"


"Bener, kan? Dia itu kakaknya!!"


"Asikk!! Aku punya kesempatan!!"


"Heyy!! Jangan ambil, dia punyaku!!"


Mood Charles yang sudah down pun semakin down lagi. 'Dasar cewek anj—astaga, ucapanku... Jangan diulangi lagi, Charles. Jangan diulangi lagi... Nanti Kakak malah marah padamu... Jangan..'


Pemuda bermanik heterokrom itu sibuk menenangkan dirinya, sementara sang kakak keheranan menatapnya.


'Charles kenapa, sih? PMS?' batin Casilda dengan heran.


"Hai cantik~"


"Hah?" Casilda menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya. "Saha?"


"Kenalan, dong~" goda seorang preman dengan bekas luka di wajahnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Di belakangnya terdapat beberapa preman lainnya yang sibuk bersiul menggoda.


Casilda mengerjabkan matanya. "Om bicara sama aku?" tunjuknya pada diri sendiri.


"Iya, dong~" sahut preman itu. 'Anj*ng! Aku dipanggil "Om"!! Untung aja dia cantik, kalau nggak, udah aku geprek dari tadi!!'


"Huh? Kau bilang apa?" tanya Charles dengan kedua mata yang menyala-nyala. "Kau mau memukul kakakku?!"


"A-apa apaan bocah ini?!" Preman itu terjengkit, ia mundur beberapa langkah. Temab-temannya yang berada di belakangnya pun ikut mundur karena aura yang Charles keluarkan begitu menakutkan.


"Aku tanya padamu, Om-Om Genit! Apa kau tadi ingin memukul kakakku?!" tanya Charles sambil meletakkan barang-barangnya di tanah. Jangan lupakan auranya yang benar-benar wow itu.


"Ja-jangan fitnah!!" elak preman itu. "Aku—"


BRAKK


"HIYY!!" Preman itu melotot horor ketika kaki Charles berhasil membuat tembok yang berada di belakangnya rusak parah.


"Kau tak ingin mengaku?!"


"A-aku.... Aku tidak...."


'Wih, tontonan bagus, nih' ujar Casilda sambil terus memakan jasukenya yang entah mengapa belum habis-habis. 'Salah sendiri melawan Charles yang Lagi dalam mode PMS. Sukurin.'


"Cepat jawablah dengan jujur!!"


"Su-sudah kubilang aku tak melakukannya!!" Preman itu masih mengelak walau keringat sudah membanjiri wajahnya.


Kemana perginya teman-temannya? Ah, mereka sudah kabur dari tadi.


"Dasar syaland!!"


BRAKK


BUAGHH


DUGH


BRAK BRAKK


"A-AMPUNI AK—AAAARRGGGHHH!!!


"TAK AKAN AKU AMPUNI!! BERANINYA KAU INGIN MEMUKUL KAKAKKU!!!"


BUGH BUGH


BRAKK


SYUUTT.... TRAK


BRAGHHH


Dan preman itu pun berakhir dengan tragis. Tak ada yang tahu apakah dia mati atau berhasil bertahan hidup dari [Charles Mode PMS]


'Kasian banget... Nih, aku kasih wadah jasuke. Yang tenang di dunia sana, ya..' batin Casilda sambil meletakkan wadah bekas makanannya di sana.


"Ayo kita pergi sekarang, Kakak." Setelah mengangkat barang-barang yang bejibun banyaknya itu, Charles pun langsung menarik tangan Casilda untuk pergi dari sana.


'Tak akan kubiarkan siapapun melakukan hal yang buruk pada Kakak!'


TBC.