The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Masih di Kediaman Onyx



"Jadi, Hector, bagaimana ujianmu?" tanya seseorang yang sedang duduk di ruang kerjanya.


"Semuanya berjalan lancar" balas Hector.


"Lalu, apa ada yang menarik di sana?" tanya orang itu lagi.


"Saya menemukan dua orang yang memiliki kekuatan hebat, namun bukan berasal dari Keluarga Utama."


Alis orang itu terangkat. "Bukan berasal dari Keluarga Utama? Siapa mereka?"


"Mereka adalah Casilda dan Charles. Mereka berdua merupakan saudara" sahut Hector.


"Saudara, ya?" monolog orang itu. "Dan apa kau bilang? Ada perempuan yang hebat? Hm.... Ini menarik.." Bibir orang itu terangkat, menyunggingkan sebuah seringaian.


"Lalu, apalagi yang kau temukan di sana?"


"Menurut pandangan saya, Pewaris Onyx, Eden Onyx begitu dekat dengan mereka. Ada kemungkinan kalau Pewaris Onyx begitu tertarik dengan potensi yang mereka miliki, dan ingin menjadikan mereka sebagai salah satu orang didikan Pemimpin Onyx" jelas Hector.


"....Atau mungkin Eden menyukai perempuan itu..." gumamnya sambil menaruh dagunya di atas tangannya. "Baiklah, sudah cukup. Kau boleh pergi. Fokuslah pada latihanmu untuk menjadi Knight Pengelana."


"Dimengerti." Hector membungkuk. "Pewaris Ruby."


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


"Bagaimana dengan ujiannya? Apa itu berjalan dengan lancar?" Seorang pemuda berwajah lembut tengah bertanya pada lawan bicaranya sembari menyesap tehnya.


"Berjalan lancar, Tuan Muda Louise" balas Gale yang menjadi lawan bicaranya.


Louise tersenyum teduh. Ia meletakkan cangkir tehnya ke atas meja. "Ada berapa orang yang berhasil lolos?"


"Enam orang, termasuk saya."


"Oh ya? Siapa saja mereka?"


"Mereka adalah Hector Spinel, perwakilan Klan Ruby, Lenoir Hermatite dari Klan Onyx, Pewaris Onyx—Eden Onyx, lalu sepasang kakak beradik yang tak diketahui dari klan mana, Charles dan Casilda."


Louise tersentak kecil. "Siapa kau bilang? Casilda?"


"Ya, itu benar" angguk Gale. "...Apa Anda mengenal perempuan itu?"


Louise tersenyum lembut. "Bagaimana mungkin aku tak mengenalnya, dia kan adikku."


Gale tercekat. Matanya melotot sempurna. "Casilda adalah... Adik Anda?!"


"Ya.." Louise mengalihkan pandangannya ke arah hamparan taman yang membentang dari balik jendelanya. "Dia adalah satu-satunya adik yang kusayangi..."


Gale terdiam, membisu. Walau ia tak tahu bagaimana Louise bisa menganggap Casilda sebagai adiknya, ia tetap menghargai perasaan Tuan Mudanya ini.


"Bagaimana keadaannya? Apa dia sehat? Apa dia bahagia? Apa ada yang mengganggunya?"


"Tentu saja dia sehat, Tuan Muda. Kalau dia tak sehat, mana mungkin mengikuti Ujian Knight."


"Ahaha, kau benar juga, ya." Louise tertawa. "....Hey, Gale. Apa aku boleh meminta bantuanmu?"


"Tentu saja, Tuan Muda" angguk Gale.


"Kau berada di bagian Knight yang sama dengan Casilda, kan?" Louise sepenuhnya menghadap ke arahnya. "Gale Heliodor, tolong jaga adikku selama kalian menjalankan misi."


"...Akan saya laksanakan, Pewaris Citrine."


Louise mengangguk. "Terima kasih" ucapnya sambil tersenyum. "Kau boleh pergi."


"Baik."


Kriiietttt


Blamm


Gale pun pergi dari ruangan Louise, meninggalkan Sang Pewaris Citrine di sana sembari menyesap tehnya yang masih tersisa.


'Kira-kira, Casilda berada di mana, ya? Aku kangen, mau ketemu sama dia....'


"Loh? Tumben galau, Louise" komentar sang ibu yang tiba-tiba bersandar pada pintu ruangannya.


"I-Ibu?! Sejak kapan Ibu ada di sana?!" kaget Louise.


"Baru saja" sahut sang ibu. "Kenapa galau? Tumben banget." Ia menghampiri anaknya.


"Ibu..."


"Hm?"


"Apa Ibu tahu dimana Casilda berada?" tanya Louise sambil menatap ibunya.


"Ibu rasa Ibu tahu, deh. Kamu kenapa? Kangen sama dia?" tanya wanita itu sambil duduk di kursi yang sebelumnya digunakan oleh Gale.


"Banget" lirih Louise yang dapat didengar oleh sang ibu. "Aku mau ketemu sama Casilda sekarang."


"...." Sang ibu terdiam sesaat. "Oke" putusnya.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


"Eeh? Lagii?" kaget Ellen.


"Kamu terlalu banyak melakukan kesalahan yang fatal, ulangi" titah gadis bersurai safir itu.


"Baik...." lirih Ellen dengan lesu.


Charles yang sedang memakan makanan sembari menatap mereka hanya menyimak saja, dengan sesekali menyemangati sang kakak.


"Mangat, Kakak" ujar Charles.


"Kenapa malah aku? Seharusnya kamu menyemangati Ellen, Charles."


"Menyemangati dia? Ogah."


"Syaland!!💢💢" umpat Ellen.


"Ellen, kamu tak fokus. Ulangi lagi" kata Casilda. "Charles juga, jangan ganggu orang lain" tegurnya pada sang adik.


"B-baik...." lirih mereka berdua secara bersamaan.


'Ini semua salah elo! Gara-gara elo, Kakak jadi marah sama gue!' protes Charles di dalam hati.


'Hilih, lo yang salah! Kok bisa, sih, Kak Casilda malah jadiin lo sebagai adiknya? Gue lebih cocok jadi adiknya Kak Casilda dibanding lo!' sahut Ellen dengan wajah mengejek.


'Anj*ng... Cewek jadi-jadian ini💢💢.....' Charles mengepalkan tangannya dengan kesal. 'Nyebelin!!'


'Lo yang nyebelin!!'


"Ekhem."


Mereka berdua mematung sembari menoleh ke arah Casilda dengan gerakan patah-patah.


"Siapa yang suruh kalian buat berantem, huh?" tanya Casilda penuh penekanan.


"M-maaf, Kakak!" pekik mereka berdua secara bersamaan.


Casilda menghela napas dengan lelah. 'Kenapa, sih, Charles nggak akur sama oranh-orang dari Klan Onyx? Aku heran, deh' jengahnya.


(Charles kan memang tak akur dengan semua orang kecuali dirimu, Casilda....)


Nyonya Onyx—Sonya Onyx—terkekeh geli dari sudut kediaman yang dapat melihat ke arah arena. Sang suami yang berada di sampingnya juga terkekeh kecil.


"Sayang, Eden benar-benar pandai memilih calon istri, ya" kekeh Sonya. "Sudah cantik, baik, pintar, pemberani, kuat lagi. Beuh, perfect!"


Deirn mengangguk setuju. "Tentu saja dia pandai memilih, dia kan anak kita" ucapnya bangga.


"Aih, kau ini bisa aja."


"Ekhem." Eden yang dari tadi diabaikan pun berdehem kesal. "Kalau kalian hanya berbicara satu sama lain seolah dunia hanya milik kalian, lebih baik aku pergi saja" dengusnya.


"Eeh, jangan gitu, dong~ Ibu sama Ayah kan cuma bercanda~" ucap Sonya.


"Huh" dengus Eden. "Jadi, ada apa? Kenapa memanggilku?" tanyanya. 'Padahal aku mau sama Casilda. Mumpung dia dipaksa sama Ibu buat tinggal di sini untuk sementara.'


"Ayah tahu kau ingin segera menemuinya, Eden" dengus Deirn. 'Anak muda jaman sekarang memang selalu mabuk dalam cinta, ya..'


"Eden, apa kau yakin akan menjadikan Casilda sebagai istrimu?" tanya Sonya dengan lembut.


"Tentu saja, memangnya kenapa? Ibu tak merestui kami?" kesal Eden dengan alis menukik.


"Bukan itu, justru ini karena Casilda." Sonya menoleh ke arah dimana mereka dapat melihat arena, lokasi Casilda mengajari Ellen.


"Menurut pandangan Ibu, Casilda adalah orang yang melakukan segala sesuatu berdasarkan instingnya, asalkan ia dapat bebas. Ibu takut, jika ia menjadi Nyonya Muda Onyx, kebebasannya akan terenggut" jelas Sonya.


Eden terdiam. 'Ucapan Ibu.. Ada benarnya' batinnya. "Tapi, aku tetap akan menjadikan Casilda sebagai istriku."


"Hoo~ Sepertinya kau sangat yakin" komentar Deirn sambil tersenyum miring.


"Tentu saja. Karena dengan keyakinan itu, Ayah bisa memiliki Ibu, kan?" balas Eden dengan senyum miring juga.


Sonya memerah kecil, membayangkan masa lalu dimana Deirn menyatakan perasaannya pada dirinya. 'I-itu memalukan...' cicit wanita itu.


"Dan aku pun juga sama. Aku yakin, Casilda akan menjadi milikku" lanjut Eden sembari berlalu pergi.


Deirn mendengus kesal. "Siapa yang ngajarin dia kayak gitu, sih?"


"..Kan itu karena gen-mu, Sayang.." Sonya speechless.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


"Nggak mau!! Pokoknya Kak Casilda nggak boleh balik!!" tolak Ellen.


"Harus!! Kakak harus pulang ke rumah kami!!" protes Charles.


"Nggak boleh!!"


"Boleh, dan kami akan pulang!!"


"Pulang aja sendiri, biar Kak Casilda tetap tinggal di sini!" Ellen menjulurkan lidahnya, mengejek Charles.


"Nggak mau! Aku sudah berjanji untuk terus bersama Kakak dan melindunginya!"


"Kak Eden bisa melindungi Kak Casilda, tahu!!"


"Nggak! Iblis itu nggak bisa!!"


"Bisa!!"


"Nggak!!"


"Bisa!!"


"Nggak!!"


Casilda menghela napas frustasi. Mereka kenapa lagi, sih?


Memilih untuk menonton drama pertengkaran ini, Casilda pun duduk sambil memakan camilan yang diberikan Sonya pada mereka.


"Lagi nyantai, ya?" tanya Eden sembari menghampiri Casilda.


"Nggak, lagi mandi" ceplos gadis itu dengan wajah datar.


"Hehe.." Eden nyengir bak kuda. Kemudian, matanya melihat ke arah adiknya dan Charles yang sedang bertengkar. "Mereka kenapa?"


"Biasa, masalah rumah tangga."


"Hah?" Eden menoleh ke arah Casilda yang hanya memasang wajah datar.


"Emang kenapa? Mereka kan emang cocok" celetuknya.


Charles dan Ellen berhenti mendadak, mereka menatap Casilda dengan tatapan horor, begitu pula Eden.


"Kenapa? Aku bener, kan?"


"KAKAAAAAKKKKK!!!"


TBC.