The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
End Season 1



.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Cahaya matahari memasuki celah-celah jendela, membuat seorang pemuda tampan bersurai hijau terbangun. "Engghh.." erangnya.


"Sudah pagi?" gumam pemuda itu sambil meregangkan tubuhnya.


"Baru tahu?" tanya Casilda yang berada di belakangnya. "Tumben baru bangun, kecapekan, ya, Charles?"


"Eh?" Charles menoleh. "K-Kakak?! Sejak kapan Kakak di situ?!" paniknya.


"Hm? Emangnya kenapa?" tanya Casilda tak paham. Omonh-omong, saat ini ia sedang pemanasan di dalam kamar sementaranya.


"Kemarin Kakak tiba-tiba pingsan saat memakai kalung itu" kata Charles dengan menunjuk kalung yang terpasang di leher Casilda.


"Eh? Masak, sih?" beo gadis itu.


"Iyaa" angguk sang adik. "Apa Kakak baik-baik saja? Kakak nggak kenapa-napa, kan?"


"Kakak baik, kok. Tenang aja" kata Casilda sambil menepuk kepala sang adik.


"Beneran?" Charles menunjukkan keraguannya.


"Iyaaa."


Pemuda itu menghela napas. "Syukurlah..." Ia kemudian melihat ke arah Louise yang masih tertidur. "Kak Louise masih tidur, kayaknya kecapekan. Eh, iblis itu juga."


"Iblis siapa?"


"Tuh, Si Eden" tunjuk Charles watados.


Casilda menghela napas. "Jangan mengejek orang lain, Charles" helanya. "Tapi kalau Eden sih gpp, dia orangnya bully-able soalnya." Ia mengacungkan jempolnya.


Sang adik pun membalasnya dengan mengangkat jempolnya. Mereka pun tertawa bersamaan sembari keluar dari kamar itu.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


"CASILDAAAA!!!" Sonya menerjang calon menantunya dengan suara melengking. "AKHIRNYA KAMU BANGUN JUGAAA!!! KAMU NGGAK KENAPA-NAPA, KAN? NGGAK ADA KELUHAN SAKIT, KAN? BENERAN, KAN?"


Casilda yang tengah diperiksa—disiksa—Sonya pun mengangguk lemah. "I-Ibu.. Sesak..." rengeknya.


"AH! MAAFKAN IBU!! MAAFKAN IBUU!"


Deirn mendengus. "Jangan berteriak, Sayang. Kamu membuatku malu di depan calon menantu kita."


"Ah! Maafkan aku, Sayang! Maafkan aku!!"


Casilda termenung. Apa tadi? Calon menantu? Emangnya, calon menantunya Deirn siapa? Charles?


'Paman Deirn kayaknya menyetujui kalau Charles berjodoh dengan Ellen. Hmm, omoshiroi....' batin Casilda nista.


"Ah, nggak papa, Paman, hehe" kata Casilda cengengesan.


Deirn mengerutkan alisnya. "Paman? Jangan panggil aku seperti itu. Panggil aku Ayah, oke?"


Casilda speechless. Cobaan apa lagi ini?


Charles mendengus. 'Hmph, nggak suami nggak istri, semuanya sama aja' sinisnya.


"KAK CASILDAAAAA!!!" Ellen berteriak dari sebuah sudut rumah. "AKU KANGENNNN!!!!" Setelah mendekati Casilda, ia pun memeluk gadis itu dengan erat. "Kakak nggak kenapa-napa, kan? Beneran, kan?"


"Aku nggak papa..." gumam Casilda frustasi. Kenapa orang-orang Onyx suka memeluknya, sih? Untung aja Deirn dan Eden tidak.


"Hey! Lepaskan tanganmu dari Kakak!" protes Charles.


"Apaan, sih? Kak Casilda aja nggak masalah, kok. Bawel!" Ellen menjulurkan lidahnya pada Charles.


Pemuda itu berkedut kesal. "Ce-cewek ini..💢💢" geramnya.


Casilda yang dipeluk setengah mati speechless sendiri. Hey, seharusnya yang absurd itu dia, bukan orang lain, apalagi Klan Onyx yang terdengar dingin itu!


'Tenang, Casilda. Ini belum seberapa. Instingmu mengatakan, penderitaan ini belum seberapa, karena masih ada lagi selain ini.' Gadis itu menenangkan dirinya sendiri.


Dan benar saja, sesuai instingnya, ada dua orang yang berlari menghampirinya dengan kecepatan yang tak main-main.


'Oke, bahaya akan muncul dalam tiga..... Dua... Satu...'


"CASILDAAAA!!!!" Kedua orang itu memekik bersamaan. Mereka seolah-olah sedang melakukan lomba lari.


Hug


"CASILDAA!! KAKAK KHAWATIR PADAMU!!!" pekik Louise sambil melompat dan memeluk sang adik.


Apa yang dilakukan oleh Louise membuat pelukan Ellen terlepas. Charles mengangkat jempolnya. 'Nice, Kak Louise' batinnya.


'Yoi 👍🏻' Louise pun juga mengangkat jempolnya.


Sementara itu, sepasang kakak beradik dari Klan Onyx tampak sedang menahan kekesalan mereka. 'Aku kan juga mau memeluknya...' batin mereka bersamaan.


Ingin protes, namun apa daya, Louise adalah kakak Casilda. Bisa-bisa hubungan antara Eden dan Casilda tak akan direstui karena protes.


"Casilda, kamu nggak kenapa-napa, kan?" tanya Louise khawatir.


"Ya.. Aku baik..." jawab Casilda dengan senyun frustasi. 'Itu adalah pertanyaan kesekian yang mereka layangkan padaku..'


.


.


.


.


.


Slurp....


Casilda memejamkan matanya. Teh yang ia minum ini sangat enak! Jauh lebih enak dari teh herbal yang sering dibuatnya.


"Ini enak" komentar Casilda, membuat Sonya merona malu.


"Aih, kamu bisa aja~" ujar Nyonya Onyx itu.


'Oh, Kakak benar. Ini enak' batin Charles kaget.


'Huh, kau lihat, kan? Ini adalah salah satu dari sekian banyaknya barang yang dihasilkan di wilayah kami' sombong Eden dan Ellen pada Charles.


'Syaland kalian💢' umpat pemuda bersurai hijau itu pada mereka.


"Oh ya, Ibu belum pernah melihat kalung itu sebelumnya" kata Sonya dengan pandangan yang tertuju pada kalung itu.


"Ah, ini? Kak Lou yang memberikannya" balas Casilda, membuat Louise tersenyum. "Ini adalah satu-satunya peninggalan Ibu.."


Sonya dan Deirn tersenyum sendu. Mereka paham, betapa sulitnya menjadi Casilda yang sejak kecil sudah dibuang dan harus bertahan hidup seorang diri.


"Ah ya, maaf mengatakannya mendadak. Saya dan Charles akan pergi ke suatu tempat setelah ini" kata Casilda.


Para Onyx terkejut. "Apa?! Kok mendadak?!" kaget Sonya.


"Kak Casildaaa... Jangan tinggalin Ellen..." rengek Ellen sembari memeluk calon kakak iparnya itu.


"Dih, najis" sinis Charles.


'Anj*ng lu' umpat Ellen dengan tatapan tajam pada Charles.


"Kenapa?" tanya Eden dengan sedih.


"Maaf karena tak bisa menemanimu, Eden, tapi aku harus melakukannya untuk dapat mencari Reruntuhan Sapphire" sesal Casilda.


"Reruntuhan Sapphire? Dimana itu?"


Casilda tersenyum getir. "Maaf, tapi ini adalah rahasia kami."


"Begitu, ya..."


"Apa Charles sudah tahu tentang ini?" tanya Deirn.


Casilda mengangguk. "Sudah, kami sudah berbincang tentang masalah ini saat sebelum bertemu Pam—maksudku Ayah."


Deirn mengangguk sedih. "Begitu rupanya..." Impiannya untuk dapat menyatukan Eden dan Casilda sepertinya harus ditunda.


"Sayangnya tak bisa, Ibu." Casilda menggelengkan kepalanya dengan sedih.


Sonya menunduk sendu. Rencananya untuk mengajak Casilda berkeliling kediaman harus ditunda entah sampai kapan.


"Kak Casilda... Apa Kakak akan kembali ke sini?" tanya Ellen dengan wajah memelas.


"Kemungkinan tidak. Aku hanya akan singgah di Pelabuhan Utama beberapa hari lagi."


"Yaahh...." Ellen ikut sedih. Keinginannya untuk berbincang dengan Casilda pun pupus.


"Apa aku boleh ikut, Casilda?" tanya Eden dengan wajah memelasnya.


'Najis' komentar Charles dan Louise.


'Biarin.'—Eden.


Casilda menggeleng. "Sayangnya, menurut instingku, tempat itu hanya bisa dimasuki oleh Klan Sapphire dan Tourmaline saja. Maaf.."


Eden murung seketika. Rencana PDKT-nya langsung buyar.


Diam-diam Charles dan Louise tertawa senang. 'Sukurin!!'


Deirn menghela napas. "Kalau begitu, apa boleh buat" helanya. "Kapan kamu akan pergi?"


"Rencananya hari ini."


"Apa tak bisa menginap satu malam saja?" bujuk Sonya.


Casilda menggeleng lemah, membuat wanita itu tak bisa berbuat apa-apa.


"Kami berterima kasih pada kalian, karena telah memperbolehkan kami menginap." Casilda menundukkan kepalanya, begitu pula Louise dan Charles.


Deirn menggeleng. "Tak apa, itu sudah menjadi kewajiban kami" ucapnya dengan senyum.


'Yang terpenting sekarang, kita harus membuat rencana agar Casilda mau tinggal di sini dan menjadi istrinya Eden' batin Deirn sambil melirik ke arah Sonya.


Wanita itu mengangguk. 'Itu pasti!'


Kemudian, mereka semua mengantar ketiga kakak beradik itu hingga ke gerbang terluar.


"Kak Casildaa!! Jangan lupa mampir ke sini, yaa! Mau tinggal di sini juga nggak masalah!!" seru Ellen.


Casilda hanya mengangguk sambil speechless. Ia semakin speechless karena Sonya menangis histeris hingga perlu ditenangkan oleh Deirn.


"Hiks... Calon menantuku... Hiks..."


"Sudah, relakan saja.." hibur Deirn.


'Wah, aku baru tahu kalau orang-orang penting di Keluarga Utama bisa melawak' komentar Casilda dengan speechless.


Casilda menatap Eden yang sedang sedih. 'Kita akan bertemu lagi, tenang saja.'


Mau tak mau, Eden mengangguk, walau hatinya sakit.


'Cih, baperan'—Louise & Charles.


.


.


.


.


.


Di sinilah mereka berpisah. Louise harus kembali ke kediamannya yang berada di Dataran Barat.


"Kalian yakin tak perlu diantar?" tanya Louise khawatir. Auranya mencerminkan sikap seorang kakak.


Charles mengangguk membenarkan. "Kakak tak perlu khawatir, aku bisa melindungi Kak Casilda dengan baik."


Louise menghela napas sambil tersenyum. "Ya sudah, hati-hati, ya."


"Ya.." Ditatapnya punggung sang kakak yang mulai menjauh. "Ayo, Charles."


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Perjalanan sepasang kakak beradik itu tak begitu lama. Tentu saja, Casilda kan dapat melakukan [Teleportasi] ke tempat yang sudah pernah ia kunjungi. Sehingga, mereka berdua langsung pergi ke pulau itu tanpa menunggu lebih lama lagi.


Kini, mereka berdua berada di depan sebuah lorong yang gelap. Letaknya berada di dekat mansion tua, tempat pertama mereka tiba di pulau ini saat menjalankan Ujian Knight dulu.


'Kata Ibu, orang yang akan memanduku ada di sini. Dan menurut instingku, tempat ini adalah jalan menuju Reruntuhan Sapphire. Kalau memang benar ini tempatnya, maka...' Mata Casilda memicing sempurna. 'Dia pasti adalah pemanduku.'


Charles terdiam termangu. Bukannya Casilda bilang kalau mereka akan pergi ke Reruntuhan Sapphire? Kenapa mereka malah pergi ke sini?


"Kakak, kenapa kita datang ke tempat ini?" tanya Charles dengan heran.


"Karena ini adalah tempatnya, begitu kata instingku" balas Casilda sambil merogoh sesuatu di sakunya.


Charles hanya mengangguk. Kalau itu menurut insting sang kakak, maka pasti terbukti kebenarannya. 'Kakak itu selalu benar!' begitu pikir pemuda ini.


"Nih, makan" sodor Casilda pada sang adik. Ia memberikan sebuah pil pada Charles.


"Pil apa ini?"


"E... Aku tak tahu namanya, hehe" sahut sang kakak. "Tapi intinya, pil itu bisa membuat kita bernapas di tempat apapun. Jangan lupa memakannya, karena bagian dalam lorong ini sangat lembab dan dapat membawa penyakit pada paru-paru." Casilda pun memakan pilnya.


Pemuda bersurai hijau itu kembali mengangguk. Apa yang dikatakan Casilda adalah sesuatu yang sangat mutlak baginya.


Setelah memakannya, mereka berdua pun melangkahkan kaki ke dalam lorong itu. Sangat gelap dan lembab, tempat ini juga terbilang sempit karena banyaknya akar pohon yang tumbuh sembarangan.


Baru beberapa langkah berjalan, Casilda menghentikan kakinya. Matanya bersinar, warna biru cerah mengkilap terpancar dari sana.


Charles tersentak kecil. Walau samar, ia dapat merasakan keberadaan seseorang di sini. Tapi... Ini tak seperti aura manusia...


Sama seperti Casilda, mata kanannya yang berwarna biru pun menyala dalam gelapnya lorong. Seketika, ia terhenyak kaget. Dari pengelihatannya, ia melihat seseorang datang mendekati mereka.


'T-tapi.. A-apa apaan aura itu?!' Entah mengapa, Charles merinding mendadak. 'D-dia tak seperti orang yang pernah kutemui selama ini. S-siapa dia?!'


Pemuda itu mengambil jarum beracunnya untuk berjaga-jaga. Namun, karena melihat Casilda hanya diam menatap dengan santai tanpa terpengaruh aura yang dikeluarkan sosok itu, Charles menurunkan jarum beracunnya.


'Kakak sepertinya pernah bertemu dengannya' batin Charles sembari melihat kemunculan sosok itu. 'Tapi, kenapa aku tak tahu? Kapan mereka bertemu? Apa jangan-jangan saat ujian itu?'


"Sesuai ramalan, kau benar-benar datang lagi" kata sosok itu dengan suara yang sangat aneh di telinga Charles. Suara yang mengandung banyak aura kuat nan pekat di dalamnya.


"....Apa benar kau adalah pemandu yang Ibu katakan?" tanya Casilda.


"Pemandu? Pfft, itu tak sepenuhnya benar." Sosok itu menahan tawanya. "Tapi, aku lebih suka kalau kau menyebutku sebagai penunggu tempat ini."


"Itu sama saja" dengus Casilda.


"Terserah apa katamu, lah..." Sosok itu menghela napas.."Casilda Sapphire.."


Charles tersentak, matanya melotot melotot tajam. 'Bagaimana dia bisa mengetahui identitas Kakak?!' kagetnya.


Sosok itu tersadar akan kehadiran Charles di sana. "Wah wah, Pewaris Tourmaline juga ada di sini.... Kebetulan sekali, Sapphire dan Tourmaline sangat akrab seperti saudara. Ah, apa kalian adalah kakak adik? Ini sangat menakjubkan~"


Kedua bola mata Charles bergetar. Siapa dia?! Kenapa dia juga mengetahui tentang Tourmaline?! Seharusnya, hanya sedikit orang yang tahu tentang klan itu. Selain itu, kenapa dia juga tahu kalau Charles adalah Pewaris Tourmaline?!


"Tenanglah, Charles. Dia bukan orang jahat. Bisa dibilang, dia berada di kubu kita.." Casilda menenangkan sang adik. Ia paham, sangat paham akan keterkejutan dan kepanikan Charles karena hal mendadak ini.


Charles menghela napas lega. Setidaknya, informasi tentang identitas asli mereka tak diketahui oleh musuh mereka.


"Eeh?~ Kau menganggap diriku yang suci ini sebagai musuhmu? Musuh Sapphire dan Tourmaline? Haha~ Lucu sekali~" Sosok itu terkikik kecil. "Mana berani aku melakukan itu, tahu. Itu sama saja dengan membuatku mati dua kali~"


Casilda mendendengus. "Sudahlah, cepat tuntun kami menuju Reruntuhan Sapphire sekarang."


Sosok itu pun juga mendengus. "Buru-buru banget, sih. Santai aja, lah."


Casilda menghela napas, mencoba untuk sabar. "Aku ingin membalas dendam secepatnya....." Gadis ini menjeda ucapannya.


".....Hayaleth."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


End S1.