The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Kediaman Onyx (Selesai)



"CASILDA!!"


"Loh? Eden?" kaget Casilda.


Eden menghampiri gadis itu dengan tergesa-gesa. Nafasnya memburu, ia seperti sedang lari marathon karena dikejar oleh hewan buas. Kilas balik seketika melintasi kepalanya.


"I-itu... Bi-Bibi...." Lenoir sedikit ragu untuk mengatakannya.


"Ada apa? Apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Deirn.


"Bi-Bibi menyuruh Casilda untuk bertanding dengan Komandan!"


"!?" Eden tersentak. "APA?!"


"Huh? Siapa itu Casilda?" beo Deirn.


"Bagaimana kau tahu?" tanya Eden dengan panik.


"Ta-tadi aku ingin memberitahumu kalau Casilda sudah datang di sini. Tapi tiba-tiba pelayan-pelayan di belakangku pada heboh. Kata mereka Casilda dan Komandan sedang bertarung di arena" jelas Lenoir.


"Ayah! Urusan kita akan kubicarakan nanti!! Aku harus pergi!" teriak Eden lalu berlari keluar dari ruang kerja Deirn.


"Ada apa dengan anak itu?" tanya Deirn yang masih belum paham.


"Om, aku juga pergi dulu!! Takutnya Eden malah ngamok! Dadah!!" Lenoir pun berlari mengikuti Eden.


Sang Pemimpin Klan Onyx yang ditinggal sendirian pun menghela napas kecil. "Anak jaman sekarang pada kenapa, sih? Lebih baik aku cari tahu." Ia pun berjalan santai keluar dari ruangannya.


.


.


.


.


.


"Lenoir! Darimana pelayan-pelayan itu tahu kalau Casilda dan Komandan sedang bertarung?" tanya Eden disela-sela larinya.


"Mereka habis dari arena, wajar aja kalau tahu" balas Lenoir yang juga tengah berlari.


"Ck, bedeb*h!" umpat Eden, ia kemudian meningkatkan kecepatannya. "Kalau Casilda sampai kenapa-napa, kubunuh kau, Komandan Brengshake!"


'Wuih, ngeri, cuy..' batin Lenoir di dalam hati.


.


.


.


.


.


"Casilda, apa kamu tak kenapa-napa?!" tanya Eden sembari memegang kedua bahu gadis yang dicintainya.


"Kau bisa lihat sendiri, kan?" dengus Casilda.


Eden menghela napas lega. "Haahh.. Syukur—huh? Apa ini?!" tunjuk Eden pada luka sayat yang berada di pipi Casilda.


"Ah, ini? Tadi nggak sengaja kena" sahut gadis itu.


"Siapa yang melakukannya? Apa ini adalah ulah dari Komandan Brengshake itu?"


"Iya, emang kenapa?" Casilda yang tak peka pun menjawab dengan jujur.


"Mana orang itu?" tanya Eden dengan wajah yang sangat mengerikan.


"Tuh, di sana" tunjuk Casilda.


"Jadi kau di sana, dasar Komandan Breng—" Eden tertegun seketika. "Casilda, apa kamu yang melakukannya?"


"Yep."


"Apa kamu yang meretakkan dinding arena itu?"


"Yep."


"Apa kamu yang mengalahkan Komandan Brengshake itu?"


"Yep."


"Hm, hm, aku bangga padamu" angguk Eden sembari menepuk pundak Casilda.


"Woy, jauh-jauh dari kakak gue💢💢" usir Charles.


"Dih, ogah."


Mereka yang melihatnya melongo hebat, termasuk Deirn yang baru saja datang. Apa-apaan ini?! Kenapa Eden malah bersikap OOC?! Kemana Eden yang cool dan berwibawa itu?!


"Le-Lenoir...." panggil Deirn pada Lenoir yang nampak biasa saja. "Ke-kenapa Eden bertingkah seperti itu?"


"Wajar aja, Om. Namanya juga masa remaja" sahut pemuda bersurai abu-abu tua itu sembari tersenyum maklum.


'E-Eden... Apa dia.. Benar-benar Eden?!' kaget Nyonya Onyx sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena shock.


'Di-dia benar-benar Kakak?! Kakak yang itu?! Beneran?!' Ellen pun ikut shock.


'Tu-Tuan Muda?!' Bahkan Liam pun ikut shock.


Para prajurit yang melihatnya pun juga shock. 'A-apa dia benar-benar Tuan Muda kita?!' pikir mereka.


"Casilda, kenapa kamu sampai melawan Komandan?" tanya Eden dengan lembut.


'HAH?! DIA BERBICARA DENGAN LEMBUT?! SIAPA DIA?! DIA PASTI BUKAN EDEN YANG KAMI KENAL!!'


"Karena aku pengen."


"...." Eden terdiam sesaat. "Ah, ini pasti ulah Ibu, kan?" tanya Eden sambil menoleh ke arah ibunya.


'Duh, ketahuan' batin Nyonya Onyx sembari tersentak kecil.


"Bukan, kok. Aku yang mau" bela Casilda. "Mereka sudah bilang agar aku tak memaksakan diri untuk melawannya, tapi aku tetap mau bertanding. Itu bukan salah ibumu."


"...." Eden menatap Casilda untuk mencari kebenaran. Tapi, bukannya mendapat kebenaran, ia malah semakin terpikat dengan pesona gadis itu.


"Haahh.. Iya, deh.. Iya..." hela Eden pasrah.


Nyonya Onyx, Ellen, dan Deirn terdiam membatu. Mata mereka terbelalak. Apa dia benar-benar Eden?!


"Nah, nah, ayo masuk ke kediaman kami" ajak Eden sambil menarik tangan Casilda.


"E-eh?! Nggak usah" tolak Gadis itu. "Kami cuma mau mengembalikan barangmu doang, kok!"


"Ayolah, gak papa~"


"Woy!!💢💢 Lepasin kakak gua!!💢💢" protes Charles.


Eden tersenyum simpul saat Casilda mengatakan akan mengembalikan barangnya. "Coba mana? Barang apa?" tanyanya dengan senyuman.


"Nih." Casilda menyodorkan barang Eden yang berupa kotak kecil itu dengan heran. 'Kenapa dia senyam-senyum kayak gitu?' pikirnya.


"Kufufu~ Makasih~"


"!?" Mereka yang melihatnya langsung terkejut, termasuk anggota Klan Onyx dan Lenoir. "Ba-barang itu...."


Nyonya Onyx menangis terharu. Ellen memeluk ibunya sambil menangis terharu juga. Deirn mengangguk puas. Lenoir masih nge-lag. Liam melotot kaget. Para prajurit bersorak senang.


"WOOOOO!!!!"


"AKHIRNYA!!! TUAN MUDAAAA!!!"


"Hiks.. Tuan Muda... Hiks.. Sangat pintar memilih... Hiks..."


"MASA DEPAN ONYX AKAN CERAH!!!"


"KAMI SETUJU DENGAN PILIHAN TUAN MUDAA!!"


Casilda dan Charles terjengkit kaget. Kenapa mereka heboh sendiri, sih?


'Mereka kenapa? Pada lapar, kah?' batin Casilda dengan heran. 'Ah, aku yang lapar.'


Sama herannya dengan sang kakak, Charles menutup telinganya agar tak mendengar teriakan gaje itu. 'Kenapa, sih? Pasti ada hubungannya sama kotak itu. Isinya apa, sih?'


Grepp


Tiba-tiba lengan kanan Casilda dipeluk oleh Nyonya Onyx, dan lengan kirinya dipeluk oleh Ellen.


"Eh? Eh?" Casilda nge-lag. Mereka mau ngapain?


"Ayo cepat! Kita harus membawa mereka masuk ke dalam!!" seru Nyonya Onyx dan Ellen bersamaan. Mereka pun menarik—menyeret—Casilda yang masih tak paham situasi.


"Kakaaakkk!!" Charles berlari mengejar mereka, diikuti Eden dan Deirn yang berjalan santai.


"...Kenapa kau tak ikut mereka?" tanya Liam pada Lenoir yang masih santai.


"Ngapain ngikutin mereka, Kakek? Aku kan nggak ada hubungannya sama mereka~" balas Lenoir sambil memakan camilan yang entah mengapa ada di sana.


Liam mendengus kesal saat mendengar jawaban dari cucunya itu. Kemudian ia menatap ke arah pintu arena, tempat para Onyx dan sepasang kakak beradik itu keluar.


"...Masa depan Onyx akan cerah..."


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


"Nah, ayo dimakan!" seru Nyonya Onyx dengan riang.


Casilda dan Charles saling melirik. Kenapa sifat Nyonya Onyx berkebalikan dengan sebelumnya? Apa dia punya dua wajah?


Mereka berdua yang masih ragu hanya duduk diam sembari menunduk dengan gugup. Drein dan Nyonya Onyx berada di depan mereka. Ellen di kursi yang berbeda, berdekatan dengan Charles. Eden yang juga duduk di kursi yang berbeda berada di samping Casilda sambil menatap pujaan hatinya dengan lembut.


'A-apa apaan aura aneh ini?' gugup Casilda dengan keringat dingin yang bercucuran.


••Kakak, aku takut...•• rengek Charles.


••Aku juga...••


Mereka berdua seperti sedang ditatap oleh predator puncak. Ini menyeramkan!


"Anu, Casilda. Ibu minta maaf, ya.. Soal kejadian tadi..." Nyonya Onyx menggaruk pipinya yang tak gatal sembari tersenyum getir.


"A-ahaha.. Nggak papa, kok, Bibi.. Haha..." balas Casilda dengan gugup.


"Ibu."


"Eh?" Casilda membeo.


"Panggil aku Ibu, oke?" bujuk Nyonya Onyx.


"Ta-tapi..."


"Ibu" titah wanita paruh baya itu dengan wajah serius.


"Ba-baik.. I-Ibu..."


Aura menyenangkan seketika keluar dari para Onyx. MEREKA TERSENYUM!! Ini adalah hal yang sangat langka, Pemirsa!!


"Nama Kakak Casilda? Tak ada marga?" tanya Ellen dengan antusias.


"Itu...." Casilda melirik ke arah Eden, dan dibalas anggukan oleh pemuda itu. Casilda kemudian menatap Charles yang juga menatapnya, ia mengangguk. "Sebenarnya, aku punya marga. Adikku juga."


"Eeh? Benarkah? Kenapa disembunyikan?" tanya Ellen lagi.


"Mereka punya privasi, karena itu akan sangat berbahaya jika disebarluaskan." Eden mewakili Casilda untuk menjawab.


"Selain itu.. Wajahmu mirip kakak kelas kami saat di akademi, Casilda" kata Nyonya Onyx. "Benar, kan, Sayang?"


Deirn mengangguk. "Aku juga merasa familiar dengan wajahnya. Terutama warna rambut Casilda dan adiknya" balasnya.


"Apa kakak kelas Bibi-maksudku Ibu bernama Iris?" tanya Casilda.


"Ya! Itu benar! Darimana kamu tahu?"


"Sebenarnya...." Casilda menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Beliau adalah ibuku."


"!?" Para Onyx tersentak. "Apa?!"


"Nama ibuku adalah... Iris Sapphire."


Mata mereka terbelalak. "Ja-jadi... Namamu adalah..."


"Benar, namaku Casilda Sapphire. Dan adikku..." Ia menoleh ke arah Charles.


"Charles Tourmaline" sambung sang adik.


"Maafkan kami karena merahasiakan identitas kami dari kalian." Casilda dan Charles membungkuk kecil.


Shock, itulah yang mereka alami sekarang. Eden juga shock, karena ternyata ibu dari gadis yang ia cintai adalah kakak kelas orang tuanya.


"Sapphire... Tourmaline.... Be-benarkah itu?" Deirn yang terkenal selalu berkepala dingin dan berwajah datar kini menunjukkan keterkejutannya.


"Itu benar. Kami adalah anggota terakhir kedua klan yang sudah punah itu" angguk Casilda.


"Pa-pantas saja.. Aura kalian berbeda dari orang lain.." ucap Ellen terbata-bata.


"Berbeda?"


Ellen mengangguk. "Mereka yang merupakan pewaris dari Keluarga Utama memiliki aura yang berbeda dari orang lain. Auranya begitu kuat, pekat, dan membara. Dan aura kalian mirip dengan Kakak."


Nyonya Onyx juga mengangguk. "Pantas saja hawa kalian terasa sangat familiar, ternyata aura kalian mirip dengan Eden."


"Tapi.. Kenapa marga kalian berbeda?" tanya Deirn menunjukkan keheranannya.


"Karena aku adalah adik tiri Kakak" balas Charles cuek. "Ayah membuangku, dan Ibu pergi setelah melahirkanku."


Nafas mereka tercekat. Begitu terkejut.


"Tapi, itu tak masalah, karena aku punya Kakak." Charles memeluk Casilda dengan erat. "Kami memang berbeda ibu, tapi kami memiliki ayah yang sama."


"Si-siapa ayah kalian?"


Mereka berdua menghela napas. "Mungkin kalian tak percaya, tapi ini adalah kenyataan."


Gulp..


Mereka meneguk ludah kasar.


"Ayah kami adalah Samuel Emerald."


BRAKK


"APAA?!" Drein menghancurkan meja yang berada di depan mereka dengan keras.


"Samuel... Dia melakukannya?!" Nyonya Onyx kembali tercekat.


Casilda mengangguk. "Ya, apa yang dia lakukan pada Ibu dan ibunya Charles sama persis. Dan perlakuannya padaku dan Charles juga sama persis. Kami sama-sama dibuang setelah ibu kami meninggal. Dengan kata lain, kami adalah anak haram yang tak diakui dari Klan Emerald."


Mata Ellen berkaca-kaca. Ia tak menyangka akan mendengar cerita seperti itu. Eden mengepalkan tangannya dengan erat, berusaha menyalurkan amarahnya yang terlampau meluap.


Deirn juga mengepalkan tangannya dengan wajah menggelap. Charles semakin mengeratkan pelukannya pada Casilda.


"....Mungkin, kalian akan jijik dengan kami. Tapi, memang itu yang terjadi. Kalian boleh saja menghina kami karena darah kotor yang mengalir ini, kami tak masalah." Casilda mengatakannya dengan perasaan sesak.


'Hiks... Kakak...' Charles terisak kecil sambil terus mengeratkan pelukannya pada Casilda.


••Maaf, Charles.. Kakak harus mengatakannya.. Maaf..•• Casilda membalas pelukan Charles sambil menahan air matanya yang hampir keluar.


Merasa tak tahan, Nyonya Onyx berdiri dari duduknya dan memeluk sepasang kakak beradik itu.


"Tenanglah.. Kami tak jijik pada kalian.. Sama sekali tidak... Pria Bedeb*h itu yang salah... Bukan kalian..." Wanita paruh baya ini mencoba menenangkan mereka.


Ellen juga berdiri dan memeluk mereka. "Kakak tak usah takut, kami akan berada di sisi Kakak.. Hiks.. Tenang saja..." ucapnya dengan isak tangis.


'Casilda.. Tak kusangka kamu diperlakukan tak adil oleh mereka. Bahkan Charles juga..' Eden menatap mereka dengan lirih. Kepalan tangannya kembali menguat.


'Tenang saja, aku akan terus mendukung kalian dan membalas dendam pada Bedeb*h itu! Aku berjanji atas nama Pewaris Onyx.'


TBC.