The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Surat dari Louise



Cklek..


Pintu kamar itu terbuka, menampilkan seorang gadis berambut safir yang sedang masuk ke dalam ruangan itu. Di lehernya terdapat handuk kecil dan tubuhnya sedikit berkeringat. Pada pinggang kirinya terdapat sebuah pedang yang memiliki bilah cukup besar nan panjang dengan gagang berwarna hijau muda.


Dapat disimpulkan jika ia baru saja selesai berlatih berpedang. Ia menaruh handuknya di sandaran kursi dan meletakkan pedangnya di atas mejanya. Setelahnya, ia merebahkan dirinya ke atas kasur yang tak begitu luas namun cukup empuk itu.


'Aku sudah berlatih bersama Charles dan anggota Jade Assassin yang lainnya. Aku juga telah menyiapkan perbekalan dan memasang mantra pelindung pada hutan ini. Kira-kira, apa yang harus aku lakukan lagi, ya?' pikirnya sambil menerawang langit-langit kamarnya.


Matanya perlahan mulai menutup. Beberapa helai rambutnya turun dari pipinya menuju ke kasur. Cahaya matahari yang muncul dari sela-sela dedaunan di dekat jendelanya tak menyurutkan niatnya untuk menutup kedua matanya.


'Selain rencana yang aku buat mengenai Kediaman Emerald, kurasa tak ada hal lain yang aku lupakan. Tapi, kenapa hatiku merasa sedikit gundah? Pasti aku melupakan sesuatu. Tapi..... Apa?' pikirnya kembali tanpa membuka kedua matanya.


Walau matanya tertutup seolah tengah tertidur, otaknya tetap bekerja untuk mengingat apa yang ia lupakan. Sial! Ia tak mengingat apapun!


Tanpa sadar ia menyeritkan alisnya saat tak menemukan hal yang ia coba ingat. 'Aaarrgghh!! Apa yang aku lupakan, sih?! Aku jadi nggak tenang!!'


Lalu tiba-tiba..


Tok tok...


"Nona, ini saya" kata seorang pelayan yang mengetuk pintu kamar Casilda.


Gadis itu pun membuka kedua matanya sambil menoleh ke arah pintu kamar. "Masuklah" ucapnya tanpa repot-repot mendudukkan dirinya di kasur.


Tepat setelah Casilda mengatakannya, pelayan itu pun memasuki kamarnya. "Saya membawakan surat untuk Anda, Nona" katanya.


Casilda mengangkat sebelah alisnya sambil menatap pelayan itu dengan heran. Ingin sekali ia bertanya pada pelayan itu, siapa yang mengirimkannya, namun ia bahkan terlalu malas untuk bergerak apalagi berbicara.


Seolah mengerti, pelayan itu pun mengatakan, "Pengirim surat ini tak memberitahu saya siapa identitasnya. Namun, dia mengatakan, 'Katakan pada Casilda bahwa itu dari kakaknya yang tampan!'. Begitu, Nona."


Casilda menyeritkan alisnya dengan heran. "Kakakku yang tampan? Emangnya ada?"


"Tentu ada, Nona!!" balas pelayan itu yang mendadak menjadi antusias. "Orang yang memberikan ini memang sangat tampan!! Dia seperti seorang bangsawan yang elegan dan glamor!! Kurasa dia adalah kakak Anda. Tapi, kalau dia bukanlah kakak Anda, pasti kakak Anda yang sesungguhnya sangatlah tampan! Saya ingin sekali bertemu dengannya! Kyaaa!!"


Casilda menjadi sedikit takut pada pelayannya ini. Mendadak gadis yang ada di depannya ini bertingkah di luar nalar sambil ber-fangirl ria. Memangnya siapa yang tak ketakutan jika berada di posisi Casilda?


Menggelengkan kepalanya pelan, Casilda mengambil surat yang disodorkan oleh pelayan yang masih ber-fangirl ria itu. Gadis bersurai safir itu membaca tulisan yang ada di amplop surat.


'Dari kakakmu tersayang~'


Casilda tertawa hambar. Ia tahu siapa yang mengirim surat itu. Louise-lah orangnya. Hahaha, sejak kapan kakaknya ini menjadi narsis seperti ini?


Kemudian, gadis itu pun menoleh pada pelayan yang berada di depannya. 'Buset, sampai kapan dia bertingkah absurd kayak gini? Nggak capek apa?' herannya. "Ekhem!!"


Seketika pelayan itu tersentak dan melihat Casilda yang menatapnya dengan jengah. Keringat pun bercucuran dengan derasnya. 'Duh, apa yang aku lakukan, sih?!' pekiknya di dalam hati. "A-anu, No-Nona.. Ma-maafkan sa—"


"Sudahlah, aku maafkan. Sekarang, lanjutkan pekerjaanmu yang lainnya" potong Casilda dengan cepat sebelum pelayan itu menyelesaikan ucapannya.


Setelahnya, Casilda men-[Teleportasi]-kan pelayan itu ke luar kamarnya. Ia kemudian kembali berbaring di kasurnya sambil membaca surat itu.


Kepada satu-satunya adikku, Casilda.


Hai, Casilda, gimana kabarmu? Pasti kau baik-baik saja, kan? Aku dan ibuku baik-baik saja di sini, jadi kau tak perlu khawatir UwU.


Casilda tersentak kecil. Bagaimana Louise bisa tahu?!


Tentu saja aku tahu, hahaha. Aku kan kakakmu! Aku tahu segala sesuatu yang ada di sekitarmu!! Hahahaha!!


Nggak, sih. Aku bo'ong :v


Sebenarnya, aku juga berada di perpustakaan waktu itu. Aku melihatmu bersama dengan seorang pemuda tengah berbincang-bincang bersama dua orang penjaga ruangan khusus.


Saat itu, sebenarnya aku ingin mengajakmu masuk ke dalam ruangan khusus itu, tapi jika dilihat dari sifatmu, kau pasti tak akan mau.


Casilda tersenyum kecil. 'Tentu saja, Kak Lou. Aku ingin membalas dendam dengan caraku sendiri. Aku tak ingin berhantung secara berlebihan pada orang lain' batinnya.


Maafkan kakamu ini, ya....(╥_╥)


Tapi, aku jamin, aku akan membantumu untuk membalas dendam. Aku janji!!


Oh iya, mengenai Ujian Knight, aku sarankan kau berhati-hati. Bukannya aku meremehkan kekuatanmu, namun ada sebuah babak yang disiapkan untuk para peserta agar dapat saling membunuh. Kau harus berhati-hati pada babak itu.


Lalu, lebih baik kau membawa pil-pil dan ramuan yang kau buat itu untuk berjaga-jaga. Kau juga harus memiliki ruang penyimpanan khusus yang memiliki kapasitas besar, ya.


Pokoknya, apapun yang kau lakukan, tetaplah berhati-hati dan jangan sampai ceroboh!


Aku menunggu kedatanganmu dengan identitas barumu, Casilda.


Kakakmu yang sangat amat tampan,


Louise Citrine.


Gadis berambut safir itu menggelengkan kepalanya dengan pelan sembari menghela napas kecil. 'Tak kusangka Kak Lou menjadi lebih narsis dari sebelumnya' pikirnya sambil tersenyum kecil.


Matanya kemudian terpaku pada apa yang ditulis oleh Louise mengenai saran yang harus ia lakukan saat mengikuti Ujian Knight. Kemungkinan Louise telah mengikutinya, oleh karenanya pemuda itu memberi sedikit bocoran pada Casilda.


Terlebih lagi Louise adalah penerus Citrine, yang membuatnya harus terlibat dalam Ujian Knight. Ada kemungkinan pula Louise-lah yang menyusun babak-babak penentuannya.


'Punya orang dalam itu enak, ya. Muehehehe' batin Casilda dengan nista. Gadis itu kemudian melangkahkan kakinya menuju jendela kamarnya. 'Tapi, saran dari Kak Lou saja belum cukup. Aku masih memerlukan perbekalan serta beberapa hal lainnya yang dapat kugunakan untuk mencari uang.'


Gadis itu menatap hamparan padang rumput dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi dari kamarnya. Seketika senyum miring nan mengerikan terulas di bibirnya. '....Untuk itu, aku harus melakukannya. Ihihihihi....'


••Charles•• panggil Casilda menggunakan [Telepati]


Sang adik pun datang menggunakan [Teleportasi] dan berdiri di belakang Casilda. "Apa Kakak memanggilku?"


"Ya." Casilda berbalik badan dan menghadap pada Charles. "Kita akan melakukan sesuatu yang menyenangan, Wahai Adikku Satu-Satunya." Ia kembali mengulas senyum miring.


Charles yang melihat senyum Casilda pun ikut menyeringai. "Aku akan ikut kemanapun Kakak pergi, dan akan selalu membantu Kakak walau harus dibenci seluruh dunia" ucapnya penuh tekad.


"Kalau begitu..." Casilda menutup matanya dengan mempertahankan senyumannya. Ia kemudian berjalan dan menyampirkan jubahnya ke bahunya. "..Ayo kita pergi sekarang!"


"Baik, Kak!"


TBC.