The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Ujian Knight: Tahap 3²



Tap.... Tap... Tap....


Langkah kakinya menggema di lorong gelap nan sunyi itu. Matanya melirik sekeliling, kosong dan sepi. Jangan lupakan kelembaban tempat itu yang begitu tinggi.


Kali ini, Casilda tak bersama Charles maupun Eden. Tahap ketiga ini membuat seluruh peserta bekerja secara mandiri dengan menyelesaikan 6 buah quest yang telah ditentukan sebelumnya.


Casilda mendapat 6 buah quest dengan kesulitan yang berbeda. Ia yakin, di antara keenam quest itu, pasti ada yang kesulitannya mencapai rank-S.


Ia tak takut. Lagipula, persiapannya sudah cukup matang.


Langkahnya yang tegap nan berani terus menggema di sana. Tak terasa ini sudah mencapai quest ketiganya. Quest pertama dan kedua sudah ia selesaikan dan dirinya berhasil mendapatkan barang yang diperlukannya.


Quest ketiga ini cukup unik dan aneh. Di kertas yang Casilda dapatkan dari sang butler tertulis 'Air mata wanita bergaun hitam'.


Masalahnya, Casilda tak paham. Apa maksudnya? Memangnya ada makhluk hidup lain yang berada di pulau ini? Kok ia tak merasakan keberadaannya?


Karena tak paham, Casilda hanya mengandalkan instingnya saja. Dan instingnya menyuruh dirinya untuk memasuki lorong lembab nan gelap ini.


Lorong yang ia masuki berada di dekat bangunan tua tempat mereka berkumpul sebelumnya. Kemungkinan, lorong ini adalah bagian dari bangunan tua itu.


Lorong yang gelap ini tingginya sekitar 2 meter. Bagi Casilda, langit-langit lorong ini cukup dekat dengan kepalanya. Tentu saja, ia memiliki tinggi 175 cm, jauh lebih tinggi dari perempuan lain.


Bagian dalam lorong ini dipenuhi lumut dan rumput. Tak ada penerangan sama sekali. Bahkan tak ada hewan lain di sini. Padahal biasanya ada banyak hewan liar yang tinggal di tempat tak terurus seperti ini.


'Apa jangan-jangan karena hewan-hewannya pada takut sama aku, ya?' pikir Casilda ngawur. 'Kayaknya nggak, deh. Au, ah, serah.'


Ia pun melanjutkan perjalanannya. Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak pula akar-akar pohon yang menembus dinding serta langit-langit lorong.


Akar-akar pohon itu dengan tidak sopannya telah menggeser letak batu bata yang telah disusun rapi sejak dulu.


'Gini nih, kalau pohon-pohon pada nggak punya tata krama' batin Casilda absurd.


Setiap kali Casilda melangkahkan kaki, hawa aneh semakin merayap mendekatinya. Tempat itu pun menjadi lebih lembab dari sebelumnya.


Untuk berjaga-jaga, Casilda pun meminum sebuah pil yang sudah ia bawa. Pil yang membantu jalannya pernapasan dalam keadaan apapun dan dimanapun.


'Untung aja Kak Lou pernah nyuruh aku buat bawa pil-pil ini. Makasih, Kak Lou! Aku sayang Kakak, deh.. Hehe...'


.


.


.


.


.


Degg


Gerakan tangan pemuda bersurai kuning keemasan itu berhenti seketika. Pandangannya kemudian menuju ke arah bagian luar jendela, memandang jauh ke sana.


"Ada apa, Tuan Louise? Kenapa Anda tak fokus?" tanya seorang wanita berkacamata dengan tegasnya.


"Ah, maafkan saya, Profesor. Saya merasa kalau adik saya sedang membicarakan saya" balas Louise sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.


Profesor wanita itu mengangguk sembari menghela napas. "Baiklah, lain kali jangan sampai konsentrasi Anda buyar seketika, Tuan Louise. Bila itu terjadi, saya tak akan segan memberi Anda sanksi yang berat."


"Baik, maafkan saya, Profesor" kata Louise. 'Kira-kira, kenapa Casilda membicarakanku, ya? Apa dia mau berterima kasih tentang saranku di surat itu?'


Louise meletakkan telunjuknya di dagu dengan pose berpikir. 'Hmm... Kurasa iya.'


"Pst, pst, Louise!" bisik teman sebangku Tuan Muda Citrine itu. "Sejak kapan kau punya adik?"


"Sejak aku bertemu dengannya" balas Louise singkat, tak berniat membicarakan Casilda pada lelaki lain.


"Huh?"


"Diamlah. Kau berisik."


"Ma-maaf..."


.


.


.


.


.


Kembali lagi pada Casilda yang sekarang sedang bersin-bersin kecil.


"Hatsyii!!" Gadis itu mengelap hidungnya. "Kayaknya Kak Lou bicarain aku, deh. Ngapain? Apa dia nyadar kalau aku lagi mikirin dia?"


"Ah, udahlah. Mending lanjutin quest aja." Ia kemudian kembali berjalan setelah beberapa saat tertunda.


Bagian dalam lorong itu semakin gelap dan memiliki aura aneh. Udaranya mendadak berubah menjadi dingin dan mencekam. Namun, dinginnya tidak normal seperti udara dingin biasanya.


Seperti... Ada makhluk halus yang membuat udara dingin ini.


'Makin lama makin ngeri, cuy. Tapi... Ini juga semakin menantang!' batin Casilda sambil tersenyum miring, lebih tepatnya menyeringai sangat lebar.


'Di sini ada penunggunya, kan? Ayo, sini, datanglah padaku!!' tantang Casilda masih dengan seringaiannya.


Ia berjalan dengan senyum mengerikannya. Sama sekali tak takut dengan ancaman yang akan menghampirinya.


Tiba-tiba saja..


BRAKK


Dinding lorong yang berada di samping kiri Casilda hancur karena suatu tekanan. Dinding itu berlubang sampai mengenai dinding yang berada di samping kanan gadis itu.


Casilda dapat menghindari serangan dadakan itu berkat instingnya yang sangat hebat. Ditolehkannya kepalanya ke arah dinding kirinya sambil tersenyum seringai.


"Ooh? Kau sudah datang, ya? Ihihihi" kata Casilda penuh semangat.


Sesosok wanita dari balik dinding nampak menatap Casilda dengan wajah dingin, datar, namun tajam dan menusuk.


Wajahnya pucat bak mayat. Rambutnya panjang tergerai agak berantakan. Di sekeliling matanya terdapat lingkaran hitam yang tebal. Gaunnya yang berwarna hitam sedikit terkoyak dan penuh dengan tanah serta debu.


Di tangan kanannya terdapat sebuah pisau tajam yang berkarat, dengan darah segar yang mengalir hingga menetes ke kakinya yang tak mengenakan alas kaki sama sekali.


Dengan wajah yang datar nan tajam itu, ia berjalan mendekati Casilda yang semakin menyeringai.


Sriinggg


Beberapa partikel atom melayang-layang di sekitar tangan kanannya. Partikel-partikel yang berterbangan itu kemudian membentuk sebuah pedang dengan gagang berwarna hijau pucat.


Pedang itu memiliki ukuran yang cukup besar dan cukup panjang. Aura yang pedang itu keluarkan berwarna hijau pucat. Itu adalah Pedang Pemakan Aura yang ditemukannya di goa yang terletak di Hutan Keramat.


Sosok itu tak terpengaruh sama sekali saat melihat Casilda mengeluarkan pedangnya. Ia masih berjalan menghampiri gadis itu dengan sorotan tajamnya.


Casilda bersiap melakukan kuda-kuda, diarahkannya ujung pedang itu ke arah si sosok yang masih berjalan ke arahnya. Lalu kemudian...


"Apa kau punya makanan? Aku lapar."


Ujung pedang Casilda yang berada di depan leher sosok itu langsung terhenti begitu saja.


"Heh?" beo gadis bersurai safir itu.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


"Hiks.. Hiks... Dia sangat kejam!! Hiks... Hiks..." rengek sosok bergaun hitam itu sambil tersedu-sedu.


Casilda yang mendengar dan melihatnya pun menghela napas dengan lelah. Ekspresinya begitu datar saat sosok bergaun hitam itu curhat padanya.


'Kenapa malah jadi kayak gini? Tak kira mau war, eh malah mau curhat...' dengus Casilda dengan lelah. 'Eh, tapi kalau kayak gini, aku bisa menyelesaikan quest-ku, sih.'


Kemudian, Casilda mengambil sebuah toples kecil kosong yang biasanya ia pakai untuk menaruh pil-pilnya. Diangkatnya toples kecil itu di bawah pipi sosok itu hingga air matanya masuk ke dalamnya.


'Nice, aku bisa nyelesaiin quest lebih mudah, nih.' Casilda tertawa nista, mengabaikan sosok yang menangis di sampingnya.


Sosok itu bernama Hayaleth, dia adalah wanita bergaun hitam yang sangat terkenal karena kengeriannya. Dulunya, ia adalah salah satu anggota keluarga yang tinggal di pulau ini.


Pada suatu hari, pemimpin keluarga itu meninggal dunia. Mereka melakukan pemakaman, Hayaleth ditusuk oleh seseorang tanpa diketahui anggota keluarganya yang lain.


Oleh karenanya jasadnya memakai gaun berwarna hitam.


Setelah ditusuk, Hayaleth dikurung di sebuah tempat yang tidak diketahui lokasinya. Ia kelaparan dan kedinginan di sana. Tak ada yang menolongnya sama sekali.


Bahkan sampai mati pun ia masih kelaparan dan kedinginan. Lalu, Hayaleth melihat Casilda di sini. Wanita itu pertama kali melihat sosok yang begitu pemberani seperti Casilda.


Padahal biasanya perempuan adalah sosok yang lemah. Tapi Casilda berbeda. Buktinya, gadis itu malah menantang Hayaleth yang selalu ditakuti oleh orang-orang.


Awalnya, Hayaleth tak begitu tertarik pada Casilda. Tapi, begitu ia melihat gadis bersurai safir itu memakan sebuah pil, ia langsung tertarik.


Tertarik untuk memakan sesuatu.


Ia kelaparan.


Makannya, Hayaleth mendekati gadis itu dengan membawa sebuah pisau yang digunakan si pelaku yang menusuknya dulu. Untungnya, Casilda tak takut padanya, sehingga ia bisa meminta makanan kepada gadis itu.


Casilda pun harus merelakan pil-pil yang ia punya untuk memuaskan nafsu makan Hayaleth. Dan entah mengapa, Hayaleth malah curhat pada Casilda tentang masa lalu dan kehidupan percintaannya.


'Hadeh... Perempuan itu memang rumit, ya...' batin Casilda sambil menghela napas.


"Terus, apa kau tahu apa yang dia katakan?!" tanya Hayaleth dengan menggebu-gebu. "Dia malah menyukai orang lain!! Padahal selama ini aku yang selalu berada di sisinya!! Kenapa cowok itu selalu kejam?! Semua cowok sama saja!!"


Casilda kembali menghela napas. 'Haahh.. Kapan ini selesai? Aku mau cepat-cepat masuk di-[Teleportasi]-kan ke tempat lain...'


"Lalu dia—"


SYATT


"Ah." Casilda mengerjabkan kedua matanya. Ia sekarang berada di tempat yang berbeda dari sebelumnya.


"Akhirnya aku bebas."


TBC.