![The Heiress Of The Legendary Family [S1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-heiress-of-the-legendary-family--s1-.webp)
"Hey" panggil Casilda, membuat para peserta kubu penyerang menoleh ke arahnya. "Bukankah ini terlalu berlebihan?" ucapnya sambil melirik ke arah orang-orang kubu pecundang yang tengah dilanda amarah.
"Hey, ayolah, masak cuma kayak gitu dibilang berlebihan, sih?" Orang yang berargumen dengan Charles mendengus kecil.
"Ini memang pantas untuk mereka, kok" ucap seseorang yang membagi para peserta menjadi kedua kubu.
"Walau begitu, bukankah ucapanmu itu terlalu menyakitkan, Tuan Tertawa?" sinis Casilda.
"Hmmm, Tuan Tertawa, ya.... Julukannya bagus juga" komentar si 'Tuan Tertawa' sambil mengangguk.
"Oy, aku seriusđ˘đ˘"
"Sudahlah, biarkan saja" kata seorang lelaki yang memiliki wajah dingin tak tersentuh.
Casilda mendengus. "Iyain, deh. Mending kita siap-siap, bentar lagi kita bakal di-[Teleportasi]-kan." Untuk sesaat, ia melihat seseorang yang dicibir oleh 'Tuan Tertawa' sedang berjalan perlahan ke arah mereka.
'Hm? Dia ngapain?' heran Casilda di dalam hati.
TAKK
SYATT
Untuk ketiga kalinya, mereka di-[Teleportasi]-kan ke tempat berbeda. Namun, ada yang janggal di sini.
"Kenapa tempat yang kita pijaki ini seolah terpotong oleh tanah lain?" tanya salah seorang dari kubu penyerang. Memang aneh, tempat yang mereka pijaki itu seolah terpisah dengan tanah lain.
Mereka seperti menginjak sebuah tanah berbeda yang berbentuk lingkaran tak sempurna.
"!?" Casilda menyadari sesuatu. "KALIAN SEMUA, CEPATLAH LOMPAT KE LUAR LINGKARAN!!"
Segera, para peserta dari kubu penyerang yang memiliki refleks cukup bagus pun melompat keluar dari lingkaran itu.
KRAK... KRAK... KRAK...
BRUAAGHHH
Tepat sesaat setelah mereka melompat, tanah yang mereka pijaki tadi langsung hancur dan terjatuh ke bawah. Kini, terlihatlah jurang sangat dalam yang mengaga lebar di bawah mereka.
GREPP
Tiba-tiba kaki si 'Tuan Tertawa' dipegang oleh seseorang yang tadi disinisi olehnya.
"Kau.... Harus aku bawa ke neraka!!" teriak orang itu dengan suara berat yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Di sebelahnya terdapat beberapa peserta dari kubu pecundang yang juga ikut terjatuh ke dalam jurang itu.
"Hah!" 'Tuan Tertawa' terkejut hingga tak dapat merespon. Kakinya ia gerakkan agar dapat terlepas dari cengkeraman orang itu, tapi tak berhasil. 'Ukh, cengkeramannya terlalu kuat!'
Melihat si 'Tuan Tertawa' kesulitan, orang itu pun tertawa lebar. "Hahaha!! Rasakan itu!! Ini adalah balasanmu karena telah membuat masalah denganâ"
BUAGHH
"UKH!"
Tanpa kenal ampun, Casilda yang awalnya sudah menapak di tanah pun menendang wajah orang itu hingga menimbulkan suara yang sangat ASMR.
Tendangan Casilda yang begitu kuat itu membuat kesadaran orang itu menjadi hilang seketika. Orang itu pun terjatuh, masuk ke dalam jurang beserta para peserta lain.
Grepp
Sebelah tangannya yang paling dekat dengan 'Tuan Tertawa' langsung mencengkeram lengan kiri pemuda itu. Lalu, sebelah tangan Casilda yang lain ditarik oleh Charles agar gadis itu dan 'Tuan Tertawa' tidak terjatuh ke dalam jurang.
Upaya penyelamatan dadakan itu berhasil dengan dramatis. Kini Casilda dan 'Tuan Tertawa' duduk terengah-engah di atas tanah yang asli.
"Kakak!! Kakak tak apa?!" Charles menghampiri sang kakak dengan sangat khawatir.
"Ah, ya... Aku gpp, tenang aja" balas Casilda. "Apa kau baik, Tuan Tertawa?"
"....A-aku.... Baik..." jawab 'Tuan Tertawa' yang masih agak linglung.
"Makannya, jangan ngeroasting orang lain. Kena karma, kan" tegur Casilda. "Kau juga jangan kayak gitu, Charles."
"Eh? Kok aku?" kaget sang adik.
"Hey! Apa yang kau lakukan?! Itu sangat nekad, tahu!" protes salah satu peserta kubu penyerang.
"Benar! Kau juga telah membunuh peserta lain! Kau bisa didiskualifikasi!" imbuh peserta kubu penyerang lain.
"Hm? Kata siapa aku membunuh peserta lain?" tanya Casilda sambil berdiri. Ia menjulurkan tangannya untuk membantu 'Tuan Tertawa' berdiri, dan tentunya pemuda itu meraih uluran tangannya.
'Ck, dia menyentuh Kakak!'
"Hah? Apa maksudmu?"
"Memangnya, sejak kapan dia jadi peserta ujian ini?" tanya Casilda balik.
"Hah?" Peserta lain masih belum mengerti.
"Ck, kalian masih belum paham juga? Dasar bodoh" cibir Charles dengan roastingannya yang mantap jiwa.
"Dia bukan peserta, tapi salah satu makhluk penunggu hutan di pulau itu. Aku benar, kan?" Seorang pemuda berambut hitam menimpali pembicaraan mereka. Ia berasal dari kubu penyerang.
".....Ya, itu benar" angguk Casilda. 'Cowok ini... Dia yang membicarakanku tadi.. Auranya begitu pekat, apa dia adalah salah satu anggota Keluarga Utama?'
"Be-berarti... Selama ini kita bersama dengan makhluk lain?!" pekik peserta lainnya.
"Baru nyadar? Hmph, bodoh" sinis Charles sekali lagi.
"Tapi, kenapa makhluk seperti itu ada di sekitar kita?"
"Kurasa, mereka berada di sekitar kita untuk menyesatkan para peserta. Buktinya, ada banyak peserta yang gugur dari awal datang ke pulau sampai saat ini" kata Casilda.
"Yang Nona katakan memang benar." Sebuah suara tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Eh?!" Para peserta kaget.
"Bersiaplah, kita akan di-[Teleportasi]-kan saat ini jugâ"
CTAKK
SYATT
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, mereka sudah di-[Teleportasi]-kan kembali ke mansion lama tadi.
Prok prok prok....
"Selamat atas keberhasilan kalian melewati tahap 1 tadi.." Butler yang memindahkan mereka pada awal tahap pertama bertepuk tangan dengan gaya menyerupai seorang bangsawan.
"Sesuai dengan apa yang dikatakan Nona Rambut Biru itu, ada beberapa makhluk bukan manusia yang bersama kalian saat menjalankan tahap pertama" imbuh butler itu.
"APAAA?!" Seluruh peserta kecuali Casilda, Charles, dan pemuda berambut hitam menganga kaget.
"Hmph, gitu aja nggak tahu. Bodoh" decih Charles sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.
"La-lalu, sekarang bagaimaâ"
"Tenang saja, mereka semua telah mati" potong butler itu. "...Karena kelakuan Nona Rambut Biru itu."
Sontak, seluruh peserta menoleh ke arah Casilda yang pura-pura tak tahu apa-apa.
"Jangan menatap kakakku dengan tatapan seperti itu, brengshake!!" amuk Charles seketika.
"Kalian jangan lupa berterima kasih pada nona itu, ya..." kata sang butler lagi.
"Sama-sama" ucap Casilda.
"Oke, karena tahap pertama sudah dilalui, sekarang saatnya menuju tahap kedua." Butler itu menepukkan tanganya sekali dan terdapat 25 kotak di sekelilingnya.
"Tahap kedua kali ini adalah ujian berkelompok. Setiap kelompok terdiri atas 3 orang peserta. Kalian bebas menentukan kelompok masing-masing. Totalnya ada 25 kelompok."
"Di sekelilingku ini terdapat 25 kotak yang berbeda. Kalian berhak memilih salah satu dari 25 kotak ini. Di dalamnya terdapat 3 buah teka-teki yang berbeda. Kalian harus mengetahui jawaban dari teka-teki itu dan mendatangi tempat yang ditujukan pada teka-teki itu."
"Kalian harus mengambil benda yang disebutkan dalam teka-teki itu. Jumlah bendanya ada 3 dan kalian harus membawa semuanya dalam waktu 7 jam. Apa kalian mengerti?"
"Kami mengerti!" balas para peserta serempak.
"Oke, sekarang, carilah kelompok masing-masing!!"
Para peserta berhamburan demi mencari anggota kelompoknya. Di saat peserta lain ribut seperti angin topan, Casilda dan Charles hanya diam menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Kayak kawanan semut" komentar Casilda.
"Yang bodoh" lanjut Charles.
"Hey, kalian belum dapat seorang anggota lagi, kan?" tanya pemuda berambut hitam dari kubu penyerang.
Casilda dan Charles menoleh ke arahnya.
"Ah, kau cowok yang tadi membicarakanku" celetuk Casilda tanpa sadar. 'Akh! Aku keceplosan!!'
'Apa?! Darimana.. Darimana dia tahu?!' kaget pemuda itu.
Charles langsung menatap pemuda itu dengan tatapan super mengerikan. "Kau membicarakan Kakak?! Apa maumu, ha?! Kau ingin mati di tanganku?!"
"Nggak, kok, haha... Aku cuma... Cuma kagum sama kakakmu saja, kok. Soalnya, dia tadi membela makhluk jadi-jadian yang dihina sama si siapa tadi? Tuan Tertawa?"
Charles menatap pemuda itu dengan penuh selidik, alisnya ia naikkan sebelah. "...Hmm, meragukan. Tapi oke, aku percaya, karena kau telah memuji kakakku yang sempurna ini."
"Charles, kau berlebihan." Casilda sweatdrop dengan kelakuan sang adik.
"Tapi, kau tak boleh terlalu kagum pada Kakak, karena hanya aku yang boleh melakukannya, kau mengerti?!" kata Charles dengan penuh penekanan.
"O-oke..." Pemuda itu sweatdrop. 'Dia aneh banget. Apa dia sister complex?'
"Sabar, yah. Charles emang kayak gitu" hibur Casilda. "Btw, kau ke sini mau ngapain? Gabung sama kami?"
Pemuda itu mengangguk. "Ya, itu benar."
"Kau tak bersama kubu penyerang lainnya?"
"Tuh, mereka udah punya kelompok sendiri" tunjuk pemuda itu ke arah kubu penyerang yang sedang melambaikan tangan mereka pada Casilda dan Charles.
"Oh, oke. Aku sih setuju aja" angguk Casilda sambil membalas lambaian kubu penyerang. "Bagaimana denganmu, Charles?"
"Kalau Kakak setuju, maka aku juga sama."
"Oke, deal. Kau masuk ke kubu kami."
"Terima kasih" kata pemuda itu sambil tersenyum. "Omong-omong, namaku Eden."
"Salam kenal. Aku Casilda, dan ini adikku, Charles."
"Hm." Charles membalas dengan anggukan kecil. Matanya masih memantau Eden seolah mengatakan, 'Awas kalau kau sok asik pada Kakak!'
"Salam kenal juga." Eden juga mengangguk. 'Mereka memiliki aura dan hawa keberadaan yang unik. Aku harus terus memantau mereka, terutama perempuan ini.'
Seolah menyadarinya, Casilda tersenyum miring tanpa diketahui siapapun. 'Kau ingin terus memantauku? Hmph, tak semudah itu. Kau bahkan tak sadar kalau aku sudah tahu identitasmu yang sebenarnya. Apa kau terlalu naif, atau memang sengaja?'
'Hm, ini akan menjadi sesuatu yang menarik...' imbuh gadis itu lagi.
TBC.