![The Heiress Of The Legendary Family [S1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-heiress-of-the-legendary-family--s1-.webp)
"Hey...." Casilda memanggil, namun orang yang dipanggil tak menjawab. "Kenapa kau diam aja, sih?" Orang itu tetap tak menjawab, membuat Casilda menjadi sedikit kesal.
Gadis berambut safir itu menghela napas. "Haaahhh.... Kau ini kenapa, sih, Charles? Kenapa diem gitu, dah?" herannya.
Orang yang sedari tadi diam—Charles—pun tak menjawab. Lelaki itu sibuk memalingkan wajahnya ke arah lain, menghindari tatapan mata Casilda.
Gadis itu mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Adiknya ini kenapa, sih? Gaje banget. Tumben agak miring otaknya.
"Kau kenapa, dah? Jangan gaje ngapa." Sayangnya, Charles masih diam. "Kalo kau nggak mau bilang, aku nggak bakal masakin makanan buatmu lagi" ancam Casilda.
Charles seketika menoleh. "Jangan!! Aku bisa mati kalau tak memakan masakannya Kakak walau hanya sekali!!!" rengeknya.
Casilda memandang sang adik dengan raut wajah datar penuh rasa frustasi. "Makannya, bilang, dong. Kau ini kenapa, sih?"
".....Aku sedih..." lirih Charles yang masih bisa didengar oleh Casilda.
"Hah?"
"Kenapa Kakak sama sekali tak mengajakku ikut pergi ke sini?! Kenapaaa?!" Ternyata Charles tengah menangis bombay. Ia terlihat begitu konyol sekarang.
"Hah?" beo Casilda sekali lagi.
"Kupikir Kakak sangat menyayangiku, sampai-sampai Kakak akan membawaku kemana-mana. Tapi ternyata, Kakak meninggalkanku. Kenapa, Kakak? Kenapa?!" Charles kembali menangis bombay.
Casilda sweatdrop di tempatnya. 'Cuma kayak gitu? Bener-bener absurd.'
"Apa Kakak tak sayang padaku lagi? Kenapa, Kak? Kenapa?" tanya Charles yang sepertinya sedang mencoba berlatih drama.
Casilda menepuk keningnya sendiri, merasa tertekan dengan keabsurdan adiknya ini. "Gini, lho. Aku itu bukannya nggak sayang kamu, aku sayang banget malah. Aku cuma...... Nggak mau kau kenapa-napa.." gumam Casilda di akhir kalimat sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Eh?" Charles mengerjabkan kedua matanya, membuatnya terlihat sangat imut. "Y-yang bener?" tanyanya dengan ragu.
"Iya, beneran" angguk Casilda. 'Akwbdkelslwjdsj!! Imoed beud!!!'
"Begitu, kah? Syukurlah... Kupikir Kakak tak sayang lagi padaku, tapi ternyata Kakak begitu mengkhawatirkanku..." Charles berucap dengan lega. "Omong-omong, terima kasih, Kakak! Aku juga sayang banget sama Kakak!!"
Sebuah cahaya yang sangat menyilaukan terpancar jelas dari wajah Charles yang sangat rupawan, membuatnya menjadi semakin menawan. Senyumnya yang sangat jarang ia tunjukkan itulah yang membuat senyumannya semakin berkesan.
'Tuhan.... Kenapa kau menyinariku dengan cahaya-Mu?'—Casilda.
"Kakak? Kakak kenapa? Apa Kakak tak enak badan?" tanya Charles dengan khawatir, hal itu terlihat jelas di wajahnya.
Pertanyaan Charles membuat Casilda tersentak kecil dan kesadarannya kembali ke tubuhnya. "Hah? Apa? Apa?"
"Kakak terlihat linglung. Apa Kakak baik-baik saja?" tanya Charles kembali.
"Hah? Oh, nggak, kok. Tenang aja" balas sang kakak yang masih agak linglung.
"Aah, syukurlah..." Charles kembali menghela nafas lega.
Tanpa membalas perkataan sang adik, Casilda menoleh ke samping kanan dan kirinya. Mayat dimana-mana dan darah berceceran di segala tempat. Casilda kemudian teringat, Charles baru saja membunuh mayat-mayat yang berada di depannya ini.
"Anu, Kakak.. Maafkan aku.... Karena kesalahanku, Kakak tak bisa mengorek informasi tentang perbuatan jahat mereka. Maafkan aku...." lirih Charles dengan murung, membuatnya terlihat sangat amat imut.
'Imoed beud, sih!! Kyaaa!!!' pekik Casilda di dalam hati. Tersadar dari pikirannya yang terlalu random, Casilda pun menggeleng-gelengkan kepalanya guna menghilangkan pemikiran itu. "Tak masalah, Charles. Kan aku yang menyuruhmu untuk membunuh mereka. Lagipula, aku masih bisa mengorek informasi dari mereka, kok."
"Eh? Bagaimana caranya?"
"Gampang, lihat betul-betul, ya." Gadis dari Klan Sapphire itu mengangkat tangannya—yang berada di atas kepala Tuan Muda Peridot—setinggi dada. "[Atom: Pencerminan Ingatan]!"
Partikel-partikel cahaya muncul dari tubuh para mayat itu dan melayang di udara. Perlahan, partikel-partikel itu bergabung menjadi sebuah layar yang menyerupai hologram 2D yang menampilkan beberapa reka adegan disertai suara.
"Hey, kenapa kita harus membawa tumpukan-tumpukan karung ini sih?" tanya seseorang pada orang lain.
"Mana kutahu. Sudahlah, daripada terus bertanya, lebih baik kita segera melanjutkan pekerjaan kita agar bisa lebih cepat mendapatkan uang." Temannya itu pun berjalan lebih cepat lagi, meninggalkannya berdiri—sembari membawa sebuah karung—sendirian di sana.
Kedua orang itu berjalan beriringan. Hanya ada keheningan di antara mereka. Kedua orang itu memakai pakaian yang sama, seragam pelayan yang berwarna hitam dan kemeja berwarna putih.
Mereka berdua adalah pelayan dari Kediman Peridot. Entah mengapa mereka diberi sebuah tugas untuk menggotong beberapa buah karung aneh yang jumlahnya terbilang banyak.
Karung-karung itu berukuran kecil dan terbilang mudah untuk diangkat. Itu adalah karung goni yang diperintahkan oleh Kepala Pelayan Kediaman Peridot untuk dipindahkan ke dalam kediaman. Entah apa tujuannya.
Tiba-tiba karung yang dibawa oleh salah seorang dari mereka bergerak sendiri. Sontak pergerakan tiba-tiba dari karung itu membuat orang yang memegangnya menjadi terkejut hingga menjatuhkannya ke tanah tanpa sadar.
BRUKK
Ukh!!
Orang yang membawa karung tadi menyeritkan alisnya dengan heran. Kenapa ada suara aneh dari dalam karung itu? Suaranya seperti tak asing di telinganya.
"Hey, apa yang kau lakukan? Ayo cepat! Kita harus membawa karung-karung ini ke Kepala Pelayan!" tegur temannya yang sudah jauh di depannya.
Orang itu sama sekali tak menggubris teguran temannya. Ia dengan penasaran mendekati karung goni itu dan membukanya.
"A-APA INI?!" Sebuah pekikan terkejut ia ucapkan begitu saja saat dirinya melihat seorang anak perempuan berada di dalam karung yang ia bawa tadi.
Anak perempuan itu memiliki rambut berwarna hijau pucat yang cenderung mirip dengan warna abu-abu terang. Matanya berwarna hitam legam, seolah-olah dirinya telah menjalani kehidupan yang memilukan hingga tak ada lagi cahaya yang terpancar dari matanya.
Air mata anak perempuan itu berderai, ia menangis. Mulutnya yang tersumpal mengeluarkan isakan kecil. Ia ingin berteriak, tapi tak bisa. Ia ingin kabur, tapi tak bisa juga. Ia ingin mati untuk mengakhiri penderitaan ini, tapi juga tak bisa.
"Apa yang kau lakukan di sini, Pelayan Baru?"
"HAH!! KE-KEPALA PELAYAN?!" Orang yang membawa karung tadi adalah seorang pelayan baru di Kediaman Peridot. Ia nampak terkejut dengan kemunculan Kepala Pelayan yang tiba-tiba berada di belakangnya dengan raut wajah datar.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau hanya berdiam di sini tanpa bekerja sama sekali? Kenapa kau melihat anak itu?" tanya Kepala Pelayan secara beruntun.
"A-anu... Sa-saya....." Pelayan baru itu gugup, tak tahu harus menjawab apa. Terlebih lagi tatapan Kepala Pelayan yang terlampau menyeramkan membuat nyalinya ciut seketika.
".....Aku mengerti. Kau terkejut karena karung yang kau bawa tiba-tiba bergerak sendiri, kan? Lalu, kau membukanya karena penasaran, dan kau melihat semua ini. Apa perkataanku itu benar?" tebak Kepala Pelayan dengan tepat.
Pelayan baru itu cengo seketika. Ia kemudian mengangguk cepat. "Da-darimana Anda tahu?" tanyanya.
"Hanya menebak" balas Kepala Pelayan dengan cuek. Setelahnya ia menghampiri anak perempuan yang masih meringkuk di tanah dengan isak tangis kecil. Tangannya ia gunakan untuk menggendong anak perempuan itu bak karung beras. "Tak ada waktu lagi. Kita harus segera menghadap pada Tuan Peridot sebelum terlambat."
"E-eh? Kenapa?"
"Karena anak yang kubawa ini begitu penting untuk keperluan penelitian" balas Kepala Pelayan tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
"....Penelitian?" tanya Pelayan Baru sekali lagi.
"Ya, benar. Itu adalah penelitian yang———"
"Arg!! Sial!! Kenapa ingatan mereka hanya terhenti sampai di sini?!" kesal Charles sambil mengacak-acak rambutnya. Padahal, sedikit lagi ia dan sang kakak dapat mengetahui apa yang dibicarakan orang-orang pada ingatan itu.
'Penelitian?' pikir Casilda sambil meletakkan tangannya di dagu. 'Penelitian apa itu? Dan juga, kenapa ingatannya cuma sampai di sini saja?' Matanya menelisik mayat-mayat yang ada di depannya, hingga ia menemukan sesuatu.
"Ah! Ini adalah penyebabnya!" kata Casilda sambil menunjuk sesuatu yang ia temukan.
"Apa itu, Kakak?" tanya Charles yang juga melihat sesuatu yang ditunjuk oleh Casilda.
"Itu adalah sebuah rune terlarang yang dapat membuat ingatan seseorang akan menghilang jika orang itu mati. Inilah yang menjadi alasan kenapa kita tak melihat ingatan selanjutnya" jelas Casilda.
"Cih!! Sial!!" decih Charles dengan kesal.
'Masalahnya, orang yang dapat mengaktifkan rune terlarang itu hampir tak ada lagi. Kecuali mereka yang memiliki akses untuk melakukannya. Dan yang memiliki akses hanyalah Keluarga Utama serta keluarga kekaisaran.' Casilda berpikir lagi.
'Apakah kalian adalah dalang dari penelitian anonim ini, Emerald?'
TBC.