Temporary Wife

Temporary Wife
Bunda dan Ayah Menginap



Pada saat itu, Anya pun tidak bisa menolak keputusan dari Bunda untuk menerima bahwa Reyhan-lah yang akan menikahinya. Ayah pun pasrah ,daripada beliau harus menghadapi kekacauan yang terjadi kalau pernikahan anaknya batal.


Lagi pula umur Anya juga sudah matang 25 tahun ,Ayah dan Bunda juga ingin segera bisa menggendong cucu.


Anya pun mengingat saat pertama kali melihat seorang Reyhan. Untuk kesan pertama ia merasa terpukau. Tubuhnya yang tegap ,tinggi dan juga pembawaannya yang sangat berwibawa.


Dan untuk pertama kalinya juga Anya bertemu dengan Qila. Awalnya ia terkejut ,karna katanya Reyhan belum menikah kenapa dia sudah menggandeng anak? Dan orang tua dari Reyhan menjelaskan.


**


Hari pun berganti sore. Anya dan Bunda sepakat untuk memasak bareng buat makan nanti malam. Dan Bi Nah pun sudah Anya suruh untuk pulang lebih awal.


"Anya ,si Reyhan itu makanan kesukaannya apa?" tanya Bunda tanpa menoleh ke Anya.


Anya pun dibuat bingung setengah mati.


"Hmm ,semua makanan Kak Rey makan kok Bun," jawab Anya ngasal.


"Iya kan pasti ada lah satu yang paling ter-favorit."


"Gak tau Bun," jawab Anya sambil terkekeh.


"Kamu ini harus perhatian sama suami kamu , sering ngobrol ,sering sharing tentang masalah ,tukar pikiran ,sekalipun hal yang gak penting deh ,yang penting komunikasi tuh benar-benar harus lancar," cerocos Bunda tanpa henti.


"Iya iya Bun ,siap."


"Oh ya Anya ,kalau Ayah dan Bunda mau menginap disini boleh?" tanya Bunda. Setelah tadi berdiskusi dengan Ayah untuk menginap disini.


"Gak boleh ,gak boleh sebentar nginapnya. Harus lama. Hehe," jawab Anya sambil tertawa.


"Dasar kamu ini. Ya udah Bunda mau pinjam baju kamu ya sayang ,nanti Ayah pinjamin baju Reyhan juga yang agak besaran."


Anya pun masuk kedalam kamar untuk mengambil baju buat Bunda. Bunda pun mengikuti.


"Ini kamar kamu dengan Reyhan ,sayang?" tanya Bunda sambil matanya berkeliling mengamati seluruh ruangan kamar.


"Iya Bun."


Saat Anya sedang memilih pakaian ,tiba-tiba ponselnya berbunyi. Bunda pun berinisiatif untuk mengambilkan ponsel Anya yang berada diatas nakas. Karna Anya sedang sibuk memilah-milah pakaian.


"Siapa Bun?" tanya Anya tanpa menoleh.


"Radit."


Anya pun langsung berbalik badan. Dengan segera mengambil ponselnya dan ia langsung merijectnya.


"Kamu masih berhubungan dengan Radit ? Kamu tidak bo----" perkataan Bunda terpotong.


"Tidak Bun ,aku sudah gak berhubungan lagi dengan Radit," jawab Anya dengan cepat.


"Kenapa dia masih berani menghubungimu? Apa dia masih mengharapkanmu?" tanya Bunda beruntun.


"Entahlah Bun," jawab Anya cuek.


"Anya....."


"Bunda...., aku sudah tidak ada perasaan untuk Radit. Aku sudah kecewa dengannya. Jadi Bunda jangan khawatir," ucap Anya meyakinkan.


Dan lagi-lagi ponselnya Anya berbunyi. Anya dan Bunda pun saling menatap.


"Sini Bunda aja yang angkat," Bunda mencoba merebut ponsel Anya dari genggaman tangannya.


"Jangan ,Bun. Biarkan aja ,aku blokir aja nomernya."


**


Setelah menunggu Reyhan pulang dari kantor ,mereka berempat pun makan malam bersama. Diselingi canda tawa.


Ayah dan Bunda menempati kamar tidur yang biasa dipakai oleh Reyhan. Sedangkan Reyhan sekarang berada dalam satu kamar dengan Anya. Dan Reyhan memutuskan untuk tidur dilantai dengan beralaskan selimut yang tebal.


Anya sudah bermimpi indah diatas ranjang tidurnya. Wanita itu memang mudah sekali untuk tertidur saat sudah menempel dengan bantal , kecuali jika banyak pikiran dia akan sulit tidur.


Sedangkan Reyhan ,lelaki itu merasa tidak nyaman dengan kondisi tidurnya yang seperti ini. Badannya sulit menerima jika harus tidur dalam keadaan saat ini. Selimut ini memang tebal ,namun tidak se-empuk dan senyaman diranjang.


Sudah tidur dia ,cepat sekali. Dasar manusia bantal. (dalam hati Rey)


Di kamar sebelah ,Bunda yang sudah sangat mengantuk terganggu tidurnya dengan Ayah yang berusaha membangunkan Bunda.


"Bun ,jangan tidur dulu. Ayah mau ngomong," Ayah menggoyangkan badan Bunda.


"Hooamm, ada apa sih Yah?" tanya Bunda dengan malas.


"Ayah kepikiran dengan Anya ,putri kita bahagia tidak dengan pernikahan ini?"


"Ngomong apa sih Ayah ,jelas bahagia," jawab Bunda sambil merem.


"Hiishhh Bunda apa gak ngerasain ,sikap Rey dan Anya itu kaya masih canggung satu sama lain," Ayah mengingat saat mereka sedang bersama ,tidak ada tatapan ataupun konteks fisik yang terjadi diantara mereka berdua. Seperti saling acuh satu sama lain.


"Mungkin mereka malu karna ada kita ,siapa tau dibelakang kita mereka saling uwu-uwuan," Bunda pun menjawil Ayah dengan terkekeh.


"Tapi Bun , sepertinya mereka berdua tidak saling mencintai."


"Bukan tidak mencintai tapi belum. Bunda percaya ,cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Contohnya Bunda sama Ayah."


"Maksud Bunda?," tanya Ayah dengan serius.


"Iya kalau boleh jujur ,Bunda dulu waktu nerima lamaran Ayah sebenarnya belum ada rasa cinta," Bunda meringis.


"Terus ?"


"Terus... setelah Bunda menjalani rumah tangga sama Ayah ,Bunda mulai cinta sama Ayah karna Ayah tuh ternyata orangnya sangat perhatian ,sangat pekerja keras dan sangat bucin. Hahaha."


"Bunda........" Ayah pun memeluk Bunda sekencang-kencangnya. Wajar sih ,dulu Ayah dan Bunda tidak melewati proses pacaran. Mereka dikenalin oleh keluarga dan langsung mempersiapkan pernikahan.


**


Mentari pagi yang menyembul disela-sela jendela kamar yang menghubungkan dengan kolam renang pun kini berhasil membangunkan Anya.


Wanita itu merasa silau ,matanya terasa penuh dengan sinar cahayanya. Dengan malas dia pun bangun. Ia tidak mau orang tuanya berpikiran dia istri yang malas. Anya harus terlihat bahwa ia bisa jadi istri yang berbakti. Sebisa mungkin dia menyiapkan segala keperluan suaminya.


Bruugghhh...


Anya terjatuh saat turun dari ranjang. Bukan karna ranjangnya terlalu tinggi. Namun ia baru tersadar kalau ada orang yang tidur dibawah.


Wanita itu kaget saat tidak sengaja menginjak kaki dari orang yang tidur dibawah. Ia mengaduh kesakitan saat jatuh ditubuh orang itu yang tak lain Reyhan.


"Aduh...."


Lelaki itu pun terbangun saat tiba-tiba ia merasa tubuhnya dihantam benda besar. Reyhan langsung membuka mata dan melihat Anya menumpu tubuhnya.


Sekian detik mereka menatap satu sama lain. Rasa kaget ,malu dan sakit itulah yang dirasakan Anya. Wanita itu berusaha bangun dari tubuh lelaki itu ,namun cukup sulit.


"Kau..." Reyhan baru membuka suara saat nyawanya sudah benar-benar terkumpul.


Anya sudah berhasil bangun. "Maaf Kak Rey ,aku lupa Kak Rey tidur disini," Anya menunduk ,dia merasa bersalah dan sangat malu tentunya.


Reyhan menghela nafas dan merasa sakit pada kakinya. Ia sedikit meringis dan memegang kakinya yang baru saja diinjak Anya.


"Sakit ya Kak Rey," Anya tiba-tiba memegang kaki Reyhan ,bersamaan tangan mereka berdua bersentuhan.


Anya langsung menarik tangannya kembali.


"Sudahlah tidak apa-apa," jawab Reyhan tanpa memandang Anya.


.


.


.


Sebelumnya terima kasih ya untuk kalian semua para readers ,udah mau buang-buang waktu baca karyaku yang masih recehan ini. Hehe


Makasih atas dukungan juga semangatnya ☺️


Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan juga rejeki yang berlimpah. Aamiin 🤲