
Malam pun tiba, seorang wanita paruh baya sedang duduk sendirian disebuah sofa panjang. Satu cangkir teh yang baru saja dibuatkan oleh menantunya belum ia sentuh sama sekali, karna masih mengepulkan uap panas.
"Ma, gak mau nginep saja ?"
Putranya datang menghampirinya setelah membersihkan tubuhnya.
"Mama mau nunggu Papa jemput aja."
Menantu kesayangannya pun berjalan mendekat setelah menemani putrinya untuk tidur.
"Qila sudah tidur ?"
"Sudah, Ma."
"Anya ... Sini duduk dekat Mama."
Anya berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya. Dia ingin sekali akrab lagi dengan mertuanya.
"Kamu sudah isi belum ?"
Pertanyaan dari Mama membuat Anya bingung untuk menjawab.
"Mama kenapa bertanya seperti itu ?"
"Kenapa Rey ? Apa Mama salah tanya seperti itu ? Jika belum, ya sudah tinggal jawab saja."
"Iya belum dikasih, Ma."
"Iya sudah, Anya. Mama hanya bertanya."
Mereka berdua aja baru berhubungan badan beberapa hari yang lalu. Mungkin benih yang ditanam Reyhan masih berproses.
"Mama senang akhirnya kamu mau meninggalkan pekerjaan kamu dan memilih mengurus keluarga. Mungkin awalnya sangat sulit, tapi lama kelamaan akan terasa menyenangkan bukan ?"
Anya mengangguk. Memang benar dirinya sekarang jauh lebih merasa bahagia. Bisa setiap hari melihat putri kecilnya, melihat tumbuh kembangnya dan juga selalu ada untuk suaminya. Dan juga hubungan mereka menjadi lebih baik.
"Iya Ma. Anya mengerti sekarang."
"Syukurlah."
Bel apartemen berbunyi. "Itu pasti Papa."
Anya ingin membuka pintu tapi Reyhan mencegahnya.
Senyuman Reyhan mengembang seraya membuka pintu, tidak sabar menyambut sang Papa. Tapi dirinya terkejut saat melihat siapa yang berada di hadapannya.
"Kau ..." Reyhan mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar sudah habis akal dengan jalan pikiran wanita itu.
Seorang wanita berdiri dengan anggunnya. Pakaian yang dia kenakan bahkan terlihat lebih terbuka dari biasanya. Bagian dadanya yang rendah memperlihatkan dua gundukan yang saling menempel satu sama lain. Juga bagian bawah yang terlalu pendek, mengekspos bebas pahanya yang putih. Pakaian seperti itu lebih cocok dipakai untuk pergi ke club.
"Rey ..." Wanita cantik itu ingin meraih tangannya namun dengan segera Reyhan menghindar. Bahkan dirinya mengacungkan tangan untuk mengusir wanita itu agar pergi dari sana tanpa bicara.
"Kau kenapa seperti ini ? Aku Calista, kau tidak ingat. Bagaimana dirimu dulu sangat mencintaiku ? Bahkan berkali-kali kau mengajakku menikah tapi dengan sabarnya kau mau menunggu sampai aku siap. Dan sekarang aku siap. Aku juga akan bersabar sampai kau menceraikan wanita itu."
Anya dan Mama merasa penasaran, karna Reyhan tak kunjung kembali.
"Rey ... Kenapa Papa tidak disuruh masuk ?"
Mama berjalan mendekati Reyhan yang berdiri di pintu. Tidak tau bahwa tamu yang datang bukan Papa. Karna pintu yang tidak dibuka sepenuhnya.
Reyhan menoleh ke belakang. Calista yang tidak tahu malu langsung masuk dan menyalami Mama Reyhan.
"Malam ... Tante," sapanya lembut.
Anya memutar bola matanya jengah. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Wanita masa lalu Reyhan sepertinya sangat terobsesi dengannya. Bahkan lelaki yang jelas-jelas sudah mempunyai istri masih saja diganggu.
"Hai ... Istrinya Reyhan yang---sementara ..." Ucapnya sinis.
"Kenapa Rey ? Bukankah benar ? Tante juga sudah tahu itu kan ?"
Mama menatap Calista dengan pandangan yang sulit ditebak. Dia tidak tahu apakah mertuanya akan membela dirinya atau bahkan Calista.
"Calista ... Tante mohon dengan sangat hormat. Lupakan putra, Tante."
Calista tersenyum menyeringai. Dia bahkan masih bersikap tenang. "Tante ... Mereka tidak benar-benar mencintai, apa Tante mau memaksakan hubungan mereka ?"
Mama menatap putranya dan menantunya bergantian. Mencari kebenaran di kedua pasang mata mereka. Lalu pandangannya beralih pada sosok Calista yang masih tersenyum kepadanya.
"Saya tidak peduli atau pun tidak mau tau apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga anakku. Saya menyerahkan semuanya pada putraku yang sekarang menjadi pemimpin keluarganya. Dan sebagai Mama yang baik, tentu saya sangat menyayangkan yang namanya perpisahan."
Calista tidak menyerah. Dia terus memprovokasi calon mertuanya tersebut.
"Dan jika mereka tidak bahagia dengan pernikahan mereka apa Tante gak menyesal ? Mereka bisa saja berpura-pura saling mencintai hanya untuk tidak menyakiti hati Tante."
" Calista !" Seru Reyhan. Pria itu menatap Mamanya, berharap beliau tidak mempercayai ucapan Calista. "Ma, Reyhan benar-benar mencintai Anya. Reyhan tidak---"
"Reyhan sangat mencintaiku, Tante. Tapi posisinya dia sekarang sulit. Reyhan bingung bagaimana mengatakan bahwa dia ingin meninggalkan Anya."
PLAK !
Dengan rasa emosi yang sedari tadi beliau tahan, akhirnya lepas juga tangannya untuk menampar Calista.
"Ta-tante ..."
"Saya tidak tahu bagaimana orang tuamu mendidikmu. Saya sangat menyayangimu Calista. Tapi melihatmu seperti ini, sangat menjijikan !"
Calista memegangi pipinya yang terlihat memerah. Wanita itu tidak percaya bahwa yang dia harapkan menjadi mertuanya itu malah dengan beraninya menampar dirinya dihadapan mereka semua.
Anya yang berdiri disebelah Mama hanya bisa menutup mulutnya, tidak percaya bahwa Mama yang terlihat tenang ternyata sudah menyimpan emosi sedari tadi.
"Putra saya sudah tidak mau denganmu bukan karna dia sudah mempunyai istri. Tapi karna rasa cintanya kepadamu sudah hilang. Sudah sangat lama, setelah Reyhan tahu kalau kau dibelakangnya bermain hati saat berada di luar negeri. Semoga penjelasan saya sudah cukup membuatmu melangkah mundur dan pergi dari kehidupan putraku dan menantuku."
Calista terpolongo bahkan dirinya tidak menyangka semua kebusukannya akan dibongkar oleh calon mertuanya sendiri. Wanita itu beralih menatap Reyhan yang terlihat tersenyum menang.
"Ta-tante ..." Calista berusaha mendekati Mama, tapi Mama malah beranjak pergi kedalam apartemen. Reyhan menarik tangan Calista dengan lembut, dia tidak mau kasar karna Calista juga seorang perempuan.
"Pulanglah Calista. Aku tidak membencimu. Tapi aku harap kau segera menata hidupmu untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi."
Tiba-tiba Calista mendorong tubuh Reyhan. "Kau ! Kau yang membuatku begini. Ya. Aku memang bermain cinta diluar sana. Ya. Aku memiliki banyak kekasih disana. Itu semua karna kau ! Kau yang terlalu sibuk hingga tidak pernah perhatian lagi denganku !" Teriaknya menggebu-gebu.
Anya yang dari tadi tidak mengeluarkan suara akhirnya beranjak pergi untuk menyusul Mama. Dirinya tidak mau ikut campur dengan permasalahan mereka. Tentu yang lebih tau tentang masalah hubungan antara mereka adalah mereka sendiri.
"Kau juga sibuk Calista. Tapi aku tidak berpikiran untuk bermain hati."
"Tapi kau malah menikahi perempuan lain !"
Dengan rasa kesalnya Calista beranjak pergi dan melangkah menjauh darinya. Tapi tepat diambang pintu dirinya menoleh, "Aku akan kembali suatu saat nanti."
Wanita itu benar-benar ingin menghancurkan Reyhan. Dirinya bahkan tidak mau menyerah untuk mendapatkannya kembali. Reyhan tidak peduli apa pun yang diucapkan wanita itu. Baginya segigih apa pun Calista menginginkannya, tidak akan merubah perasaannya terhadap istrinya.
.
.
.
.
Selamat pagiiiiiiiii
......heheh