Temporary Wife

Temporary Wife
Hadiah dari Radit



Setelah Radit pulih dari sakitnya, pria itu memutuskan untuk kembali ke Singapura. Dia berusaha mengikhlaskan apa yang sudah terjadi walaupun itu sangatlah sulit. Papa yang merasa kecewa dengan Radit, membuat pria itu tidak betah lama-lama di rumah. Tidak ada yang berada dipihaknya. Hanya Mama yang selalu perhatian dengannya, tapi tetap saja semua tidak akan merubah apa pun yang sudah terjadi. Juga perasaannya untuk Anya yang mungkin akan abadi walaupun tidak bisa memilikinya.


Radit merebahkan tubuhnya yang sangat lelah diatas ranjang yang besar. Dia memejamkan matanya singkat dan saat membuka mata dia sangat terkejut. Chen yang merupakan sahabat baiknya disini ternyata sudah berada di apartemennya. Lelaki keturunan indo-chinese itu menatapnya dengan heran. Radit yang malas berbicara, tidak menghiraukan kehadirannya.


"Radit, apa yang terjadi? Bukankah harusnya kamu lebih lama lagi di Indonesia? Kenapa pulang secepat ini?"


Pertanyaan dari Chen membuatnya semakin frustasi. Dia mendecak sebal. "Apa kau bisa diam? Aku sedang tidak baik-baik saja. Aku ingin sendiri dulu. Bisakah kau keluar dari kamarku?" ucapnya dengan suara tidak bersahabat.


Chen menatap sebal kearahnya. Tapi karna tidak mau membuat suasana hati sahabatnya menjadi semakin buruk, akhirnya Chen beranjak keluar.


Radit menatap bingkai foto yang tergantung di dinding. Potret Anya yang manis seakan tersenyum kearahnya. Sebegitu cintanya pada Anya, Radit sampai memajang fotonya di dinding kamarnya yang gelap. Setiap hari dia memandangi Anya lewat foto itu. Walaupun dirinya sudah tahu bahwa Anya sudah memblokir nomernya sejak lama, tapi dia tetap yakin bahwa wanita itu tidak mungkin mudah melupakannya begitu saja. Ternyata ... kekhawatirannya menjadi kenyataan. Anya benar-benar sudah jatuh pada pelukan pria lain. Bukan pria lain, tepatnya pada kakaknya sendiri.


***


Sepasang suami istri sedang berjalan bersama menuju sebuah rumah mewah yang tanpa penghuni tapi sangat terawat. Rumah dengan desain modern yang mereka kunjungi saat ini adalah rumah yang dulu dibeli oleh Radit. Rumah yang sejatinya akan ditempati Anya dan Radit setelah mereka berdua menikah.


Reyhan menatap istrinya yang masih memandangi seisi rumah. Anya pernah kesini satu kali, tapi waktu itu rumah ini masih kosong. Tapi sekarang, perabotan bahkan sudah lengkap juga tata letaknya yang sangat rapi.


"Apa kau suka? Ini pemberian dari adik iparmu," kata Reyhan seraya berjalan ke arah sofa yang kosong. Dia menepuk sisi sofa disebelahnya, menyuruh istrinya untuk duduk.


"Apa ini tidak berlebihan? Seharusnya Radit tidak perlu memberikan rumah ini kepada kita," ucap Anya dengan perasaan tidak enak. Wanita itu tidak menyangka bahwa Radit akan memberikan rumah impian ini kepada mereka. Hati pria itu tentu sangat hancur, tapi dia masih berbaik hati.


"Aku pikir, mungkin ini diberikan khusus untukmu sebagai hadiah." Reyhan terlihat masih sangat cemburu sejak kedatangan adiknya.


"Bee ...." Anya menggenggam tangan suaminya lalu bersandar di pundaknya. "Jangan berpikir yang macam-macam. Aku sungguh tidak memiliki perasaan apa pun lagi terhadapnya."


"Tapi dia masih memiliki perasaan terhadapmu," ucapnya.


"Yang terpenting disini, perasaan aku atau perasaannya? Aku sudah denganmu dan aku sedang mengandung anakmu. Apa yang harus kau khawatirkan lagi?" Anya bangun dari sandarannya. Dia menatap suaminya dalam-dalam.


Reyhan yang ditatap Anya seperti itu akhirnya luluh juga. Dia tidak meragukan perasaan istrinya tapi dia takut jika suatu saat Radit akan mencoba merebut Anya dari sisinya.


Karna Reyhan tahu karakter adiknya yang sangat ambisius dalam menginginkan sesuatu. Walaupun dirinya sangat menyayangi Radit, tapi jika adiknya mengusik kehidupan rumah tangganya maka Reyhan tidak tinggal diam.


"Sayang, apa kau tidak keberatan jika kita pindah ke rumah ini? Walaupun ini sungguh memalukan tapi kita harus menghargai pemberian Radit."


Reyhan sebenarnya menolak saat Radit memberikan rumah ini kepadanya. Karna tentu Reyhan bisa membeli rumah sendiri. Tapi karna Reyhan sudah nyaman tinggal di apartemen jadi tidak pernah berpikir untuk mencari rumah. Dan kebetulan saat ini Anya sedang hamil, tidak mungkin mereka akan terus tinggal di apartemen yang kecil. Tentu mereka akan membutuhkan sebuah rumah untuk tempat tinggal mereka dan anak-anak.


"Iya Bee. Aku tidak keberatan jika harus tinggal disini. Lagi pula rumah ini juga dekat dengan rumah Papa dan Mama, jadi kita mudah jika ingin berkunjung," ucap Anya kemudian. Mungkin Reyhan yang harus mengalah kali ini, karna rumah ini cukup jauh dengan lokasi kantornya. Tapi mau tidak mau dia harus menyingkirkan egonya untuk kepentingan keluarga kecil mereka nanti. Jarak tempuh yang jauh untuk sampai ke kantor tidak membuat semangatnya patah untuk mencari rejeki. Dia harus bertanggung jawab menghidupi keluarga kecil mereka nanti.


Rumah yang memiliki dua tingkat ini memang sangat luas. Walaupun Bi Nah dan Mbak Ratna ikut tinggal di rumah tapi terasa masih sangat sepi. Untuk sementara lantai dua tidak ditempati terlebih dahulu. Karna kondisi Anya yang tengah hamil jadi tidak diperkenankan untuk sering naik turun tangga.


Semua akan tidur di lantai bawah. Juga si kecil Qilla yang akan tidur dengan Mbak Ratna karna gadis itu merasa takut jika tidur sendirian di tempat yang masih asing menurutnya.


"Bee ...."


"Hmmm ...." Reyhan hanya bergumam. Lelaki itu baru saja terlelap setelah selesai melakukan ritual panas yang terbilang singkat itu. Karna ingat kata dokter bahwa tidak boleh sering-sering melakukan hubungan suami istri saat hamil muda dan juga tidak boleh terlalu lama. Anya harus banyak istirahat melihat kondisinya yang kadang lemah.


"Bee ...." Anya menggoyangkan tubuhnya kembali. Reyhan dengan sekuat tenaga mencoba bangun, dia beranjak duduk.


"Kenapa sayang? Kau minta lagi?"


Anya menatapnya dengan tajam lalu memukul dada suaminya dengan pelan. "Ihhh tidak. Dasar mesum!" serunya dengan kesal. Reyhan menaikkan alisnya. "Aku ingin ...." Anya menautkan jari jemarinya, dia ragu-ragu untuk mengatakannya.


"Ingin apa sayang?" tanya sang suami dengan lembut. Reyhan beberapa kali menguap membuat Anya tidak enak untuk merepotkan suaminya yang terlihat sangat mengantuk dan kelelahan.


"Hmm tidak. Aku ingin tidur ... sambil dipeluk," ucapnya menjeda.


Reyhan tersenyum senang. Dia padahal sempat berpikir kalau Anya akan meminta yang aneh-aneh. Tapi ternyata tidak. Saat Reyhan sudah mulai melingkar tangannya untuk memeluk Anya, wanita itu malah terlihat sangat gelisah. Tubuhnya bergerak-gerak terus membuat Reyhan tidak bisa tertidur kembali.


"Sayang, ayo tidur. Kenapa kau tidak bisa diam."


"Hm iya," ucap Anya dan mencoba untuk memejamkan matanya berharap keinginannya akan segera hilang. Tapi nyatanya sulit, dia melihat suaminya yang sudah memejamkan matanya kembali. Tapi baru beberapa detik, kelopak matanya terbuka. Reyhan menatap Anya yang sedang menatapnya juga.


"Kenapa sayang? Ada apa? Apa kau menginginkan sesuatu? Katakan saja."


Anya memainkan jari jemarinya dengan sesekali menatap Reyhan yang tidak memalingkan wajahnya sama sekali padanya. "Aku ingin ... makan bubur ayam."


"APAAHHH????" batin Reyhan menjerit.


Dia langsung menengok jam dinding di kamar mereka. Jam dinding telah menunjukkan pukul 11 malam. Memang ada yang jualan bubur ayam saat malam hari tapi apa jam segini masih ada yang jual?


.


.


.


.


Terima kasih Putrie ucapkan untuk para readers yang masin setia berada disini. Kesetiaan kalian sangat Putrie hargai, hehee


.I Love You So Much.


Terima kasih juga yang sudah mau memberikan vote, like, dukungan, saran atau pun komen yang membangun.


Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan juga rejeki yang berlimpah ya.. Aamiin