
Reyhan tidak bertanya lebih lanjut tentang hal-hal yang berkaitan dengan perkebunan ini. Menurutnya , tidaklah penting. Yang terpenting saat ini adalah Anya. Semoga Anya bisa cepat ditemukan.
Reyhan dan para warga pun berteriak memanggil-manggil Anya. Berharap suaranya terdengar sampai ke telinga wanita yang sedang dicari.
"Apa benar istri aden kesini? Hampir setengah jam kita mengelilingi perkebunan ini namun tidak ada tanda-tanda ada orang."
Reyhan pun semakin bingung. Anya tidak membawa ponselnya , sulit untuk menemukan wanita itu.
"Tunggu... ini seperti jejak kaki," ucap salah satu warga. Terdapat beberapa jejak kaki pada tanah yang basah ,menandakan ada orang yang melewatinya.
"Iya betul , berarti kemungkinan memang ada yang kesini," warga yang lain ikut menimpali.
Saat mereka sibuk mengamati jejak-jejak kaki tersebut ,tiba-tiba ada suara berisik disalah satu tanaman bunga yang terlihat lebat.
"Apa itu...." ucap salah satu warga.
Warga pun mulai ketakutan ,tapi tidak dengan Reyhan.
"Tenang-tenang biar saya saja yang cek," ucap sang pemilik kebun. Dengan tangan yang sedikit gemetar ia pun mulai menyibak tanaman bunga tersebut. Tidak dipungkiri ,hari semakin gelap ,suasananya pun semakin mencekam diperkuat dengan tak adanya cahaya sedikit pun kecuali dari senter yang dibawa oleh para warga.
Deg. Deg. Deg
Jantung mereka pun saling berpacu satu sama lain ,mengalirkan rasa ketakutan yang luar biasa. Yang ada dipikiran mereka adalah adanya makhluk tak kasat mata.
"Astaghfirullah..." teriak sang pemilik kebun. Serentak para warga berteriak dan memundurkan tubuhnya. "Kelinci rupanya," para warga pun bernapas lega.
"Itu kan kelinci milik anak saya yang sudah hilang 2 hari ini," ucap salah satu warga. Ia meyakini bahwa kelinci yang ditangkap sang pemilik kebun adalah milik anaknya.
"Astaga ,ini kaki siapa?" semua pandangan mengarah ke arah pantulan senter salah satu warga yang menangkap sebuah kaki. Letaknya tidak jauh dari seekor kelinci yang bersembunyi ditanaman lebat.
Reyhan mencoba mendekat karna seperti mengenali kaki tersebut. "Anya ,Anya.. istri saya ini" semua warga pun mendekat ,karna kaki itu ternyata milik seorang manusia. Tidak dipungkiri ,banyak hal-hal mistis yang terjadi ditempat itu. Saat Pak Sodik meminta bantuan pun sebenarnya mereka semua tidak mau karna takut ,namun karna kasian dengan Pak Sodik akhirnya mereka semua mau membantu.
Reyhan menepuk pipi Anya berkali-kali namun mata Anya masih terpejam. Entah apa yang telah terjadi dengan istrinya. Namun ia merasa lega telah menemukan istrinya.
"Aden , sepertinya mbak ini pingsan. Lihat itu ada luka di lututnya , kemungkinan jatuh dan pingsan. Langsung dibawa pulang aja terus di obati biar tidak infeksi."
Reyhan pun mengangguk ,ia segera menggendong Anya. Walaupun berat karna harus menuruni tangga ,namun Reyhan harus kuat. Tidak mungkin istrinya ini digendong oleh para warga. Reyhan tidak mau.
Butuh perjuangan sekali untuk sampai dibawah. Pak Sodik pun langsung membukakan pintu mobil saat Tuannya ini ingin memasukkan Anya ke jok belakang.
Sesampainya di villa ,Reyhan langsung mengobati luka Anya. Tidak lupa ia juga mengoleskan minyak angin disekitar wajahnya agar cepat sadar. Tak lupa juga Reyhan menyuruh istri dari Pak Sodik untuk mengganti pakaian Anya.
Awalnya istri Pak Sodik bingung , kenapa harus ia yang menggantinya. Bukankah mereka suami istri? Namun Reyhan beralasan ingin segera membersihkan badannya. Jadi istri Pak Sodik pun menurut.
Anya akhirnya terbangun. Matanya menyipit menyesuaikan cahaya lampu yang sangat terang. Dilihatnya sesosok laki-laki yang sedang membelakanginya.
"Kak Rey," panggil lirih suara wanita itu.
"Anya ,kau sudah sadar. Mana yang sakit?" tanyanya penuh dengan perhatian. Lelaki itu langsung menghampiri Anya.
"Sshhhh.. lututku. Siapa yang mengobatinya?" tanya Anya seraya memegang lututnya.
"A-ku."
"Oh terima kasih Kak. Eh tunggu bajuku ,kenapa----"
"Tadi istrinya Pak Sodik yang menggantinya. Sungguh." Reyhan pun mengacungkan kedua jarinya.
"Oh," Anya pun mengangguk.
Anya langsung meraih gelas itu dan meneguk airnya hingga habis tak tersisa. Ia merasa haus yang teramat sangat. Reyhan sebenarnya penasaran dengan apa yang telah terjadi pada istrinya tersebut ,namun ia tak mau gegabah untuk menanyakannya karna melihat kondisi Anya yang masih lemah.
"Sudah ,Kak. Aku kenyang," jawabnya. Padahal ia hanya meminum satu gelas saja.
"Bagaimana kenyang. Kau hanya minum satu gelas ,makanannya belum kau sentuh sedikit pun."
Reyhan berusaha membujuknya agar mau makan walaupun sedikit. Ia berniat ingin menyuapi ,namun rasa malu mengalahkan keinginannya tersebut.
"Baiklah kalau kau tidak mau makan ,kau tidur saja. Aku akan tidur di sofa." Saat Reyhan baru saja mendaratkan bokongnya diatas sofa yang berada di kamar ,tiba-tiba saja lampu padam.
"Aaa.... Kak Rey ,Kak Rey," Anya langsung berteriak histeris ketakutan. Reyhan pun langsung menghampirinya. Dan ia langsung menelfon Pak Sodik.
Tangan Anya bergelayut dibaju Reyhan. Wanita itu memang sangat takut dengan gelap. "Sudah tenang saja ,Pak Sodik sebentar lagi bawa penerangan kesini."
"Kenapa bawa penerangan ,apa lampunya tidak bisa menyala kembali?" tanya Anya.
"Tidak ,karna ini pemadaman serentak ,kata Pak Sodik ini biasa terjadi, besok siang akan nyala kembali."
"Apa tidak ada Genset?"
"Tidak ada Anya ,sudahlah istirahat. Hanya malam ini saja. Besok sudah menyala kembali." Tak butuh lama Pak Sodik pun datang membawa penerangan berupa lilin yang ditaruh semacam vas kecil yang bertingkat.
Anya tidak bergerak sedikit pun dengan posisinya saat ini. Tangannya masih mencengkeram kuat kaos yang dipakai Reyhan.
"Mau berapa lama kau seperti ini terus?" katanya sambil melirik kaosnya yang terus dipegang Anya. Namun wanita itu malah memandang Reyhan dengan muka cemberut.
Anya tidak bisa tidur dengan keadaan seperti itu. Tempat yang asing dan juga ia belum bisa melupakan kejadian saat di kebun tadi. Rasanya sulit untuk ia terlelap malam ini.
"Kau ini ,kenapa? Lepasin. Aku mengantuk ingin tidur juga," Reyhan berusaha melepaskan kaos yang dipegangi Anya dengan perlahan. Saat akan terlepas ,Anya malah semakin kuat memegang kaosnya bahkan ia tarik-tarik.
"Gak mau, gak mau," rengek Anya.
"Lalu aku harus tidur berdiri seperti ini?" Mereka pun saling tatap. Perlahan Anya melepaskan tangannya dari kaos Reyhan. Reyhan pun bernapas lega.
"Kak Rey tidur disini saja."
"Hah?"
Anya pun meminta Kak Rey untuk tidur dengannya. Ia memberi usul kasih batas saja dengan guling ,jadi mereka tidak bisa saling bersentuhan. Reyhan pun yang merasa kasian dengan Anya ,akhirnya menurut.
Tidak terasa ,pagi pun menjelang. Anya akhirnya bisa tertidur lelap begitupun Reyhan. Mungkin karna rasa lelah yang teramat ,jadi mereka bisa cepat tertidur.
Lutut Anya yang terluka tentu membuatnya harus tidur terlentang ,jika tidurnya dengan kondisi miring tentu akan sakit. Reyhan terbangun duluan ,matanya perlahan terbuka. Pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah wajah Anya.
Wajah Anya yang bisa ia lihat dari samping karna wanita itu tidur dengan posisi telentang. Ia menyadari bahwa tidak ada pembatas lagi diantara mereka. Gulingnya entah kemana perginya. Saat menyadari Anya akan terbangun ,Reyhan dengan cepat menutup matanya.
.
.
.
.
Maaf ya reviewnya lama ,makasih yang udah mau nunggu...