
Setelah mendengar permintaan Anya yang sangat membuatnya kebingungan, Reyhan sampai tidak merasakan kantuk kembali. Matanya langsung terjaga dan dengan serius menyelusuri tiap pinggiran jalan barangkali menemukan abang-abang yang jualan bubur ayam.
Sayang sekali, jalanan di kota ini terlihat sangat sepi. Lapak makanan dipinggir jalan sudah mulai menutup dagangannya dan sedang sibuk berkemas. Hampir satu jam Reyhan menyelusuri jalanan tapi tetap tidak ketemu penjual bubur ayam.
Reyhan sempat menyerah dan berniat ingin ke supermarket untuk membeli bubur instan, walaupun rasanya agak berbeda. Saat lelaki itu akan putar balik, nasib baik berpihak padanya. Dari kejauhan dirinya melihat penjual bubur menggunakan motor melintas disamping mobilnya. Dia langsung menghentikan penjual bubur itu yang berjalan sangat lambat dengan motor tuanya.
"Maaf Bang, apa buburnya masih ada?" tanyanya pada penjual bubur yang terlihat masih muda itu.
Abang itu kebingungan awalnya dan perlahan menggeleng.
"Sisa sedikit saja tidak ada, Bang? Buat istri saya yang sedang hamil, dia minta bubur ayam. Saya sudah muter-muter dari tadi tapi tidak ketemu." Reyhan memohon.
Abang bubur ayam itu paham. Dia turun dari motor dengan ragu. "Masih ada sisa sedikit mas. Tapi sepertinya tidak sampai satu porsi," jawabnya setelah sekian lama diam. Abang itu terlihat sangat kelelahan.
"Tidak apa-apa, Bang."
Abang penjual itu membungkuskan bubur yang masih tersisa dengan topping seadanya juga kuah yang tinggal sisa sedikit.
"Abangnya jualan sampai tengah malam begini?" tanyanya saat melihat jam dipergelangan tangannya sudah menunjukkan tengah malam.
"Tidak, Mas. Tadi motor saya mogok."
Reyhan mengangguk. Setelah bubur selesai dibungkus Reyhan memberikan uang yang cukup banyak sebagai tanda terima kasih. Abang penjual itu tidak percaya akan mendapat rejeki yang berlimpah hanya karna bubur dengan porsi ala kadarnya.
Reyhan pulang dengan senyuman lebar. Dia tidak sabar memberikan bubur ayam ini kepada istri tercintanya. Saat membuka pintu kamar, Anya terlihat sedang bersandar di ranjang. Wanita itu menatap suaminya yang sudah pulang setelah sekian lama pergi.
"Lama sekali, Bee," keluhnya. Dia turun dari ranjang dan membantu melepaskan jaket pada tubuh suaminya.
"Aku sudah membelikanmu bubur ayam, tapi ini juga sisaan. Porsinya hanya sedikit."
"Tidak apa-apa." Anya langsung membuka bungkus buburnya dan memakan satu suap. Buburnya sangat enak, seperti bubur yang sering dia makan. Tapi karna Anya sudah keburu mengantuk, dia tidak menghabiskannya. Mungkin hanya tiga suap saja yang masuk ke dalam mulutnya
"Kau mau tidur?"
Anya mengangguk. Dia menarik selimutnya dan memejamkan matanya.
"Kenapa tidak dihabiskan?" Reyhan menatap bubur ayam itu yang masih tersisa. Padahal porsinya sedikit tapi terlihat masih tersisa banyak. Dia mendecak sebal, saat mengingat bagaimana usahanya untuk mencari penjual bubur. Tapi lagi-lagi dia lemah saat melihat istrinya tertidur pulas. Dia harus sabar menghadapi istrinya yang sedang hamil. Memang orang hamil itu banyak maunya dan sedikit menyebalkan jika meminta yang aneh-aneh.
***
Pagi menjelang. Anya yang semalam tidur duluan belum juga terbangun dari tidur cantiknya. Sang suami yang sudah bersiap pergi ke kantor hanya bisa menatap istrinya yang masih tertidur pulas. Dia ingin membangunkannya tapi tidak tega.
"Papih ..." Suara Qilla memanggil dirinya. Reyhan sedang berjalan ke arah meja makan. Qilla yang sudah mandi terlihat sangat menggemaskan pagi ini, gadis kecil itu berlari kecil menghampiri sang papih. Rambutnya yang dikuncir dua terlihat bergoyang mengikuti gerak tubuhnya. Dia tersenyum sangat lebar. Nampaknya gadis itu sangat bahagia sekali pagi ini.
"Anak Papih sudah cantik," cubitnya gemas pada pipi putrinya. Tak lupa satu kecupan singkat mendarat di keningnya.
"Mana Mamih, Pih?" Putri kecilnya bahkan lebih tertarik mencari Mamihnya.
"Begitu ya, Pih. Berarti Qilla gak boleh ajak main mamih?" tanyanya dengan wajah sendunya.
Reyhan mengusap puncak kepala putrinya. "Tidak begitu juga, sayang. Qilla boleh ajak main mamih tapi gak boleh sampai mamih kecapean ya."
Gadis kecil itu mengangguk, paham akan perkataan dari papihnya.
Anya terbangun, saat Reyhan sudah berangkat ke kantor. Wanita itu membuka matanya dan mengedarkan pandangan keseluruh ruangan kamarnya. Sepi. Tidak ada siapa pun disana. Bahkan suara berisik dari luar pun nampak tidak terdengar. Rumah yang diberikan Radit memang cukup luas, bahkan jarak dari kamarnya ke kamar Qilla juga cukup jauh. Yang biasanya di apartemen Anya bisa mendengar suara berisik dari dapur, kini tak lagi dapat dia dengar.
Setelah membersihkan diri, dia keluar dari kamar. Mencari putri kecilnya yang pasti sedang bermain. Pesan yang dikirimkan Reyhan sudah dia baca, kalau suaminya memang sudah berangkat ke kantor. Anya meminta maaf karna tadi pagi tidak bisa menemaninya.
Hari ini, badan Anya terasa sangat tidak enak. Tubuhnya lemas. Memang pagi ini, Anya belum memakan apa pun. Belum ada makanan yang masuk ke dalam perutnya. Tapi melihat lauk yang tersaji di meja makan, dia mendadak tidak selera untuk makan. Padahal masakan Bi Nah sangat enak.
"Nyonya, kenapa tidak jadi sarapan?" Bi Nah yang baru saja dari luar menghampiri Anya yang telah beranjak dari meja makan. Dia melihat majikannya yang hanya melihat makanan yang tersaji lalu segera beranjak pergi lagi.
"Saya sedang tidak ***** makan, Bi," ucapnya tanpa bersemangat.
"Nyonya ingin makan apa? Biar saya buatkan." Bi Nah paham akan kondisi orang yang sedang hamil. Pasti akan susah menerima makanan dan sangat pilah pilih makanan.
"Hmm ...." Anya berpikir sejenak. Dia membayangkan roti panggang dengan selai strawberry rasanya sangat lezat. "Apa Bibi bisa membuatkanku roti panggang dengan selai strawberry?" tanyanya dengan mata berbinar.
Bi Nah tersenyum lalu mengangguk. Tanpa berlama Bi Nah membuatkannya. Tidak perlu membeli bahan, karna semuanya sudah ada stok di dapur.
Sambil menunggu Bi Nah membuatkan roti panggang, Anya pun melanjutkan untuk mencari Qilla.
"Sayang ... kamu disini rupanya? Mamih cari-cari kamu dari tadi." Anya menghampiri Qilla yang sedang bermain di halaman belakang. Halaman yang tidak terlalu luas tapi banyak tanaman bunga disana. Rumah ini dibeli Radit sudah sangat lama, tapi tanaman yang tumbuh disini terlihat sangat terawat. Kemungkinan saat Radit pergi ke luar negri, rumah ini ada yang merawatnya.
Anya ingat betul bahwa ada satu jenis tanaman yang dibelikan khusus untuknya dan tanaman itu masih tumbuh dengan baik didalam pot yang lumayan besar. Banyak sekali kenangan bersama mantannya itu, tapi rasa cintanya sama sekali tidak ada sisa untuknya. Bahkan rasa yang saat ini dia rasakan, hanyalah rasa ... kasian.
.
.
.
.
.
Maaf ya jarang update. Semoga kalian masih bisa bersabar ya . Hehe
Semoga kalian sehat selalu dan diberikan rejeki yang berlimpah. Aamiin
Yang lagi berjuang mencari cuan diluar sana, tetap semangat ya..... Hehe kayak aku...
Karna aku sedang ada kerjaan diluar menulis jadi aku usahain update.nya pas libur ya..