
"Ayoo...," tangan Anya ditarik Reyhan yang kala itu nomor antriannya dipanggil. Seketika lamunan Anya pun buyar ,melihat wanita muda yang tengah hamil membuatnya iri.
"Siapa yang ingin diperiksa?" tanya dokter wanita sambil membenarkan posisi kacamatanya.
"Ini istri saya ,Dok."
"Keluhannya apa ,Bu?" tanya ramah sang dokter.
"Saya gak ada keluhan apa-apa ,Dok" jawab Anya santai.
"Lhoo..." Dokter pun bingung. Reyhan langsung menyenggol lengan Anya.
"Sebenarnya gini ,Dok. Kemarin istri saya jatuh lalu pingsan dan lututnya terluka. Barangkali ada sesuatu didalam tubuhnya yang rusak akibat terbentur."
"Hey ,apa-apaan. Kau menyumpahiku?" Anya merasa tidak terima ,bisa-bisanya Reyhan berkata demikian.
"Makanya kalau ditanya ya jawab," seru Reyhan.
"Kan aku memang tidak kenapa-kenapa. Kamu aja yang berlebihan," lawan Anya.
"Ya aku khawatir sama kamu."
"Hah..." Anya kaget mendengar jawab Reyhan.
"Mari saya priksa ,silahkan Ibunya berbaring." Dokter pun menghentikan perdebatan mereka berdua. Namun tatapan sengit tetap dilayangan mereka berdua. Anya menatap Reyhan dengan sebalnya. Sedangkan Reyhan menjulurkan lidahnya meledek wanita yang sedang terbaring itu.
"Posisi saat terjatuh bagaimana ,Bu? Telentang kah? Miring kah ? Atau tengkurap?"
"Hmm.. sepertinya tengkurap. Saya lupa ,karna saya langsung pingsan."
"Berarti bagian perutnya tertindih ya, Bu. Maaf ya saya angkat rok Ibu untuk memeriksa bagian perut."
Anya saat ini memakai dress panjang semata kaki. Ia kesulitan untuk memakai celana panjang karna lututnya terluka. Dressnya pun hanya terdapat kancing 3 diatas. Tentu tak ada cara lain untuk tetap menyingkap roknya sampai keatas perut.
"Maaf Dok ,boleh ditutup aja tirainya?" Anya meminta untuk menutup tirainya. Tidak mungkin Reyhan harus melihatnya menggunakan dalaman lagi ,belum hilang rasa malunya tadi kini masa harus ditambah lagi.
Asisten Dokter pun langsung menutup tirainya setelah Dokter memerintahkan. Reyhan pun merasa acuh.
Siapa juga yang mau lihat ,sudah pernah lihat juga tadi. (Reyhan menggerutu dalam hati)
"Kondisi Bu Anya baik-baik saja kok Pak. Tidak ada luka dalam ataupun memar dibagian tubuhnya." Dokter memberi resep dan juga kwintasi pembayaran. Reyhan pun bisa bernapas lega kalau istrinya baik-baik saja.
**
Cemilan berjejer rapi diatas meja. Dengan kaki berselonjor dan toples dipangkuannya. Juga acara film yang ditampilkan dilayar televisi ,tidak membuat wanita yang bernama Anya itu terhibur.
Ah... membosankan
Wanita itu merasa bosan atas aktivitasnya hari ini. Ia tak boleh banyak bergerak , tak boleh jalan-jalan keluar ,harus tetap didalam villa. Sedangkan suaminya itu malah pergi ke danau sendirian. Walau mungkin Anya diperbolehkan keluar dengannya ,namun Anya masih merasa canggung.
Kangen Qila...
Saat melihat anak kecil seumuran Qila muncul dilayar televisi ,membuat wanita itu menjadi rindu akan sosok Qila. Si gadis mungil yang menggemaskan.
"Hallo.. sayang.." sapa Anya setelah ia memutuskan untuk video call dengan Qila yang berada di rumah Mama.
"Mamih... Mamih kapan pulang?" Qila memasang wajah cemberut.
"Mamih pulangnya kalau sudah bawa calon adik untuk Qila." Terdengar suara Mama menjawab pertanyaan Qila. Namun wajahnya tidak terlihat di kamera. Mungkin berada agak jauh dari Qila.
"Adik ? Adik untuk Qila ya Omah?" tanya Qila kembali. Gadis itu pun menengok ke arah Omahnya.
"Iya Qila."
"Mamih beneran pulangnya nanti bawa adik ya buat Qila," pintanya sambil tersenyum lebar.
Anya hanya mengangguk dan mengiyakan. Padahal dalam hatinya itu tidak mungkin.
"Haiii... Qila sayang," suara Rey tiba-tiba muncul dari arah belakang Anya.
"Papih , Qila kangen Papih. Tapi Papih jangan pulang sebelum bawa adik," ucap Qila dengan polosnya.
"Yang ngajarin ngomong kaya gitu siapa sayang?"
"Mama..."
"Kenapa Rey, apa salah Mama berkata seperti itu? Kamu ini kaya anak kecil saja." Mama pun mengambil alih ponsel yang dipegang cucunya.
"Qila tidak sepantasnya diajarin kaya gitu Mah."
"Baiklah Mama yang salah. Semoga cepat isi ya Anya. Mama pingin gendong cucu lagi."
Isi air kali Ma. Anya udah kenyang. Mau hamil gimana kita aja gak pernah bersentuhan.
Setelah selesai percakapan diantara mereka ,telfon pun terputus. Anya masuk kedalam kamar karna merasa mengantuk. Walau hari sebentar lagi sore. Reyhan pun menyusul.
Ditatapnya lamat-lamat wanita yang saat ini sudah menjadi istrinya. Tak ada yang salah tentang pernikahan ini. Ini murni karna keputusan yang mereka setujui sendiri. Tanpa memikirkan dampak panjangnya.
Mata Anya mengerjab ,merasa ada bayangan yang melintasinya. Benar saja , Reyhan sedang berada di jendela. Pandangan lelaki itu entah kemana ,Anya menangkap bahwa Reyhan tengah memikirkan sesuatu. Kini kepala lelaki itu menunduk kebawah dengan tangan yang berpangku pada kusen jendela.
Reyhan memijit pelipisnya pelan ,menetralkan rasa pusingnya yang tiba-tiba muncul. Reyhan menengok ke arah belakang ,memandang wajah Anya yang sedang tertidur pulas. Anya memang saat ini sudah tertidur setelah memperhatikan Reyhan sebentar.
**
Jam dinding menunjukan pukul 8 malam. Mereka berdua baru saja menyelesaikan makan malam. Anya saat ini sedang sibuk mengemasi pakaiannya juga milik Reyhan. Esok hari mereka akan kembali ke Apartemen. Karna pekerjaan yang menumpuk telah menanti mereka. Apalagi sekretaris Reyhan ,tiada hari tanpa menelpon bosnya. Tentu dengan malam ini.
"Ada apa?" Reyhan dengan malas menjawab telfon dari Doni.
"Rey ,kapan kau berangkat ke kantor?" tanya Doni. Karna ini bukanlah jam kerja ,ia bebas memanggil bosnya dengan sebutan nama.
"Tidak tahu ,kau yang harus handle semuanya."
"Jangan gitu dong Rey ,aku pusing nih. Cepat pulanglah ,sudah dong enak-enaknya."
"Apanya yang enak?"
"Ya itu sih. Hemm.. sudah berapa ronde?" tanya Doni dengan menahan tawa.
"Gilaa...." Reyhan langsung mematikan telfon. Menyebalkan jika mendengar Doni terus mengejeknya.
"Kak Rey ,besok kita akan pulang jam berapa?" tanya Anya yang sudah selesai berkemas. Wanita itu duduk diatas ranjang.
"Jam 9 saja ,setelah sarapan."
Tak ada jawaban dari Anya , wanita itu malah sibuk memainkan ponselnya.
"Anya.."
"Hem.."
"Bagaimana hubunganmu dengan Radit?" Anya meletakkan ponselnya. Matanya lurus menatap Reyhan. Hatinya mendadak tidak bersahabat. Pertanyaan yang sangat memuakkan baginya.
"Dan bagaimana hubunganmu dengan Calista? Kapan ia akan kembali?"
Pandangan mereka saling terkunci. Menghadirkan perasaan yang sama-sama menyakitkan. Anya tidak nyaman dengan pertanyaan itu begitupun Reyhan, ia tidak nyaman ada yang mencampuri urusannya.
"Calista? Sejauh apa kau tau tentang Calista?" tanya Reyhan meneliti.
"Tidak ada yang ku tahu tentangnya ,hanya---"
"Hanya apa?"
"Hanya dia wanita yang kau cintai," saat mengatakannya entah mengapa hati Anya sakit. Sesak di dadanya tak dipungkiri lagi. Dan melihat tak ada respon dari Reyhan ,menandakan lelaki itu secara tidak langsung mengiyakan.
*Apa yang kau harapkan dari seorang Reyhan ,Anya? (dalam hati Anya)
Kau tidak tahu banyak tentang hubunganku dengan Calista ,Anya. Berhenti berpikir kalau aku mencintainya. (dalam hati Reyhan*)
.
.
.