
"Alergi dingin?" pertanyaan Anya menuntut penjelasan dari Mbak Ratna.
"Iya Nyonya ,Nona Qila alergi dingin. Jika ia terlalu lama mandi badannya akan panas sekalipun mandi pakai air hangat ,tentu dengan tubuhnya yang tanpa pakaian akan membuat hawa dingin ditubuhnya ,juga ketika hawa dingin saat malam hari. Makanya Tuan Reyhan tidak pernah mengajari Nona Qila berenang ,walaupun Nona Qila terkadang memintanya. Tuan Reyhan hanya menjanjikan tanpa menepati."
Oh Tuhan ,aku baru sadar. Pantas saja tadi pagi aku juga merasa dingin.
"Apa Qila sering kambuh seperti ini?"
"Jika Non Qila sedang mengkonsumsi obat ,tidak masalah jika terkena hawa dingin. Nona Qila hanya kambuh saat musim seperti ini saja ,Nyonya."
"Kau lebih banyak mengenal Qila daripada aku ,Mbak" ucap Anya dengan mata sendu.
"Tidak Nyonya ,Nyonya orang yang bisa mengambil seluruh hati Non Qila. Setiap saya bermain dengan Qila ,ia sering membicarakan tentang Nyonya. Dan selama saya dengan Non Qila ,ia tak pernah manja dengan saya. Tapi dengan Nyonya ,ia tak malu untuk manja dengan Nyonya," ucap Mbak Ratna menenangkan Anya.
"Apa Qila pernah merasa kesepian saat aku dan Kak Rey pergi bekerja?"
Mbak Ratna terlihat kebingungan untuk menjawab. Ia mengalihkan pandangan.
"Jawab Mbak Ratna" Anya mengguncang lengan Mbak Ratna. Anya merasa ada sesuatu yang disembunyikan Mbak Ratna.
"Iya Nyonya" Mbak Ratna menahan air mata yang sudah menganak dibola matanya. Ia menghela nafas ,mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan menjawab. "Nona Qila sering bersedih----" Mbak Ratna tidak bisa menahan tangisnya. Air matanya luruh. Jawabannya tersendat oleh sesegukan tangisannya.
Air mata Anya juga jatuh tanpa permisi. Terus menetes bahkan tanpa henti. Ia tak melanjutkan percakapannya dengan Mbak Ratna. Ia sudah cukup mengerti. Disaat Mbak Ratna ijin ke toilet ,Anya dengan leluasanya meluapkan tangisannya.
Ibu macam apa aku ,yang terlalu memikirkan karirku. (ucapnya pilu)
Dari kejauhan terlihat Reyhan berjalan menghampirinya. Dengan cepat Anya menghapus sisa-sisa air matanya. Walaupun tetap pasti terlihat , sudahlah dia tidak peduli. Tidak mungkin ia harus membersihkan wajahnya ke toilet. Ia sedang menunggu dokter yang sedang memeriksa Qila ,Anya ingin cepat-cepat melihat keadaan Qila.
"Belum selesai dokter yang memeriksa Qila?" tanya Reyhan saat ia baru saja sampai. Lelaki itu duduk disampingnya. Sedangkan Anya memalingkan muka ke arah berlawanan.
"Belum, Kak."
"Mbak Ratna kemana?" tanya Reyhan kembali saat sadar disebelah istrinya tidak ada Mbak Ratna.
"Lagi ke toilet."
Pintu ruangan pun terbuka. Dokter dan satu perawat pun keluar.
"Bagaimana keadaan anak saya ,Dok?" tanya Reyhan tanpa sabar.
"Hanya alerginya kambuh tapi demamnya cukup tinggi. Sudah saya kasih suntikan antibiotik dan obat penurun panas. Silahkan diperhatikan lagi pola makannya. Kami permisi."
Setelah perginya Dokter dan suster ,Reyhan dan Anya pun masuk ke dalam ruangan. Ruangan dengan serba putih ,bersih dan bau khas dari obat-obatan yang tercium. Qila sedang tidur dengan pulasnya. Bibir mungilnya terlihat pucat. Anak seusianya harus masuk rumah sakit ,dengan tangannya yang kecil harus dipaksa masuk sebuah jarum infus. Sungguh menyakitkan jika dipandang. Anya hanya bisa menahan sesak didadanya. Terlebih Reyhan ,ia tak tega melihat putri angkatnya menderita seperti ini.
Reyhan menggenggam jari mungilnya ,berusaha menyalurkan kekuatan. Anya hanya bisa memohon kepada Sang Kuasa ,agar Qila segera diberikan kepulihan , kesehatan juga keceriaannya kembali.
"Qila....cucu Omah." Mama yang baru saja datang langsung merebut posisi Reyhan yang berada disisi kanan Qila. Mama menciumi puncak Qila dengan lembut.
"Ma... Qila sedang istirahat. Jangan mengganggunya," Reyhan berusaha membuat Mamanya mengerti.
"Mama hanya khawatir Rey ," perlahan Mama lepaskan pelukan dari tubuh Qila. "Qila sakit apa Rey?"
"Biasa ma ,alerginya kambuh."
Mama hanya bisa menghela nafas ,melihat cucu kesayangannya terbaring lemah.
"Rey ,Anya ,nanti kalau Qila sudah sembuh bawa ke rumah Mama aja ya. Biar Mama yang merawat Qila saat kalian berdua bekerja. Biar Mama bisa mengawasi Qila terus," ucapan Mama seperti belati yang menusuk relung hati Anya. Seperti tubuhnya ikut dicambuk berkali-kali. Seperti tamparan keras baginya. merawat ,menjaga ,mengawasi ,bukankah tugas orang tua?
Tidak , tidak boleh. Qila harus tetap tinggal denganku. Aku tidak mau kehilangan banyak moment dengan Qila (dalam hati Anya)
"Kamu serius Anya?" Reyhan bertanya ,lelaki itu tidak percaya. Anya akan mengorbankan karirnya demi Qila ,walaupun ia hanya mengatakan untuk sementara waktu. Tapi bagi Reyhan ,Anya termasuk wanita yang ambisius terhadap sesuatu. Buktinya wanita itu sering pulang malam dan berangkat pagi-pagi sekali.
Mama hanya tersenyum mendengar perkataan dari menantunya. Syukurlah ,sekarang Anya bisa menurunkan sedikit egonya ,pikirnya.
"Mama senang akhirnya kamu bisa menomersatukan keluarga ,Mama hanya bisa berharap agar keluarga kalian selalu harmonis," ucap Mama dengan senyum tulus. Anya pun lega , ucapannya bisa diterima mertuanya.
**
Disebuah bangku taman yang terdapat didalam halaman rumah sakit ,Reyhan mengajak Anya untuk duduk.
"Anya... kau serius dengan keputusanmu? Berhenti sejenak dengan pekerjaanmu? Itu sangat merepotkan bukan? Ditinggal berapa hari saja saat bulan madu ,kerjaanmu sangat menumpuk."
"Tidak apa-apa ,Kak. Ada Mira ,aku mulai sekarang harus selalu mempercayai pekerjaan Mira."
"Aku tidak mau jika kamu terpaksa melakukannya."
Anya menatap Reyhan dengan tidak suka. Ia merasa tersinggung dengan perkataan suaminya. "Terpaksa untuk apa? untuk kebaikan putriku apa aku salah?" ucapnya dengan suara berat.
"Tidak salah ,tapi aku tidak mau jika kau merasa tidak nyaman saja."
"Dengan Qila aku sangat merasa nyaman ,tapi jika denganmu terkadang aku merasa tidak nyaman," ucapnya sambil berdiri dan akan melangkah pergi. Namun Reyhan dengan cepat menarik tangan Anya ,hingga wanita itu tidak bisa pergi.
"Apa yang membuatmu merasa tidak nyaman denganku?" ucapnya dan berdiri tepat didepan Anya. Mereka saling menatap. Mencoba membaca pikiran masing-masing.
"Banyak hal yang membuatku tidak nyaman," ucap Anya dengan berani.
"Apa saja?" tantang Reyhan.
"Sikapmu ,perilakumu , sifatmu dan semuanya."
"Sikapku yang seperti apa?"
"Ya seperti orang aneh , terkadang cuek , terkadang menyenangkan , terkadang diam ,dan banyak lagi."
"Dan perilaku yang seperti apa yang membuatmu terkadang merasa tidak nyaman? Apa perilaku yang seperti ini?"
Cup .
Reyhan mengecup bibir Anya ditempat umum. Walaupun taman ini sepi ,tapi ada saja orang yang lewat. Pipi Anya merona menahan malu. Malu yang berkali lipat ,malu dilihat orang ,malu dilihat para suster ,malu karna ini ditempat terbuka. Sungguh tidak etis!
Reyhan menahan tawa sambil dirinya berlari meninggalkan Anya yang masih berdiam diri ditempat. Anya menengok ke kanan ,kiri ,sepi... Tapi dibeberapa ruangan yang tertutup ,ia bisa melihat banyak orang yang mengintip dibalik jendela. Anya berlari sambil menutupi wajahnya.
.
.
.
.
.
.
.