
"Mamih, sakit ?" Gadis kecil itu menghampiri Anya yang baru saja keluar dari kamar.
"Tidak sayang, Mamih baik-baik saja," tangannya terulur merapikan rambut anaknya kebelakang. Bau harum khas bedak bayi memenuhi indera penciumannya.
"Kenapa Mamih pakai itu ? Mamih kedinginan ?" tanyanya menunjuk sebuah syal yang dililitkan di lehernya. Anya tersenyum dan mengajak putrinya untuk duduk.
"Ini hanya accecories, sayang," jawabnya lembut sambil mengelus puncak kepala putrinya.
Reyhan yang baru keluar dari kamar, terlihat wajahnya sangat bersemangat hari ini. Lelaki itu tersenyum lebar dan menghadiahi ciuman diwajah Qilla dengan gemasnya.
"Papih ... hentikan. Qilla geli," rengeknya.
"Kenapa anak Papih semakin besar dan cantik," pujinya.
Sesaat pandangan suami istri itu bertemu. Tapi malah saling tersenyum malu-malu. Anya tidak menyangka tentang apa yang sudah terjadi semalam dengan Reyhan. Reyhan pun merasakan hal yang sama.
"Selamat sarapan Tuan, Nyonya dan Nona Qilla."
"Terima kasih, Bi."
"Bi Nah ayo ikut sarapan sini duduk bareng. Mbak Ratna juga."
Reyhan memang sudah sering mengajak mereka untuk sarapan bersama tapi selalu penolakan yang ia dapat. Namun hari ini Reyhan tidak mau adanya penolakan dari mereka berdua.
Disela-sela makan, Reyhan tak hentinya curi-curi pandang kearah istrinya. Anya menyadari itu namun ia pura-pura tidak tahu saja.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Reyhan segera pamit untuk ke kantor. Ia menghadiahi ciuman dikening Qilla namun tidak bagi Anya. Sebenarnya ia ingin mencium keningnya namun masih terasa canggung, Anya hanya mencium punggung tangannya saja.
"Dah ... Papih," ucap Qilla dengan lambaian tangannya yang mungil. Anya tak melepaskan pandangannya sampai sang suami keluar dari pintu apartemen.
Hati Anya masih merasakan debaran yang hebat terlepas dari peristiwa semalam. Dia merasa senang sekaligus malu, namun ia bersyukur fitrahnya sebagai istri tidak sia-sia. Bahkan atas kesabarannya selama ini, ia bisa seutuhnya menjadi seorang istri dari laki-laki yang baik.
Bel apartemen berbunyi. Anya yang sedang bermain bersama Qilla didepan ruang tv segera beranjak berdiri, ia takut jika itu Calista.
"Mamih mau kemana ?"
"Bentar ya sayang, ada tamu. Main dulu sama Mbak Ratna ya ?" Qilla pun mengangguk. Anya melangkahkan kakinya dengan tegas, ia harus siap menghadapi jika itu benar Calista.
"Siapa Bi ?" tanyanya saat berpapasan dengan Bi Nah.
"Orang tua Nyonya Anya," jawab Bi Nah dengan senyuman yang lebar. Tentu bisa ditebak betapa senangnya Anya saat ini. Ia sudah lama tidak bertemu dengan Ayah dan Ibu.
"Ayah, Bunda ..." Mereka saling berpelukan melepaskan rindu yang sudah lama terpendam. Ibu melepaskan pelukannya dan beralih mencium kening putri satu-satunya itu.
"Apa kabar, Nak. Ayah dan Bunda sangat merindukanmu," ucap sang Ayah yang mencoba menahan tangisnya. Ia beralih menatap Ayah. Lelaki pertama yang sangat ia cintai. Anya merasa berdosa karna sudah lama tidak menjenguk orang tuanya, ia terlalu sibuk dengan dunia pekerjaannya dulu dan juga mengurus rumah tangganya. Alasannya karna ia tidak mau membawa Reyhan dan Qilla berkunjung ke rumah orang tuanya, karna ia takut mereka akan curiga dengan sikap dirinya dan Reyhan yang tidak selayaknya sebagai suami dan istri. Tapi sekarang, ia sudah cukup percaya diri bahwa rumah tangganya dengan Reyhan baik-baik saja.
"Baik, Yah. Maaf Anya belum sempat menjenguk Ayah dan Bunda," ucapnya dengan perasaan bersalah.
"Tidak apa-apa. Kami mengertikan kamu, sayang. Suamimu sudah berangkat ke kantor ?"
Anya duduk disamping Bundanya. "Sudah, Bun."
"Dimana cucu Bunda ?"
Anya mengajak Ayah dan Bunda menemui Qilla.
"Cucu Nenek yang cantik ..." dipeluknya dengan erat Qilla. Gadis itu merasa senang akan kehadiran Kakek dan Neneknya.
"Qilla sedang mewarnai apa ini ?"
"Bunga, Kek. Kakek mau ikut mewarnai ?"
"Mau, " jawab Ayah dan segera meraih pensil warna.
Pemandangan yang membuat haru siapa pun yang melihat. Tidak pernah menyangka bahwa nasib Anya akan seperti ini. Mempunyai suami yang tidak ia cintai awalnya dan memiliki anak yang bukan darah dagingnya ataupun suaminya. Tapi Qilla seperti memberi warna baru bagi hidupnya.
"Anya, apa kau belum isi ?" Pertanyaan dari Bunda bagai tamparan keras baginya. Tidak ada yang tahu bagaimana hubungan rumah tangga mereka berdua kecuali mereka sendiri. Selama mereka menjalani rumah tangga selama berbulan-bulan, baru semalam Reyhan berani menyentuh Anya seutuhnya. Benih yang baru sekali lelaki itu tanam dalam rahimnya mungkin belum tumbuh didalam sana.
"Bun, jangan terlalu memaksakan Anya. Mungkin mereka mau menikmati masa-masa awal pernikahan. Baru beberapa bulan menikah." Ayah yang sedang duduk disebelah Bunda mencoba memberi pengertian pada istrinya. Ia tentu tidak mau putrinya merasa tertekan.
"Bunda hanya takut jika kau seperti Bunda yang susah memiliki anak."
Memang benar, pernikahan Ayah dan Bunda dulu cukup lama untuk memiliki buah hati. Tentu ada kecemasan sendiri didalam benak Bunda.
"Sssttt ... Tidak boleh berucap yang buruk, Bun. Kita doakan saja," kata Ayah.
Tidak dipungkiri Anya pun merasakan hal yang sama. Ada sebuah kekhawatiran dilubuk hatinya.
"Anya ... Jangan dipikirkan perkataan Bunda." Bunda menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan putrinya. Diusap lembut rambut putrinya yang terurai panjang, tidak menyangka putri satu-satunya telah menjadi milik orang lain. Sejujurnya, mereka sangat kesepian saat Anya tidak lagi tinggal di rumah.
"Tidak, Bun. Semua sudah di atur oleh Tuhan. Kita tidak boleh berprasangka buruk." Senyuman menenangkan yang bisa ia lihatkan pada orang tuanya. Anya menyenderkan kepalanya pada bahu Bundanya, merasakan nyaman saat tangan yang sangat tulus terulur mengusap punggungnya dengan lembut.
"Jadilah istri yang berbakti dan Ibu yang baik untuk anak-anakmu, Anya. Ayah dan Bunda telah mendidikmu dengan sangat baik selama ini bukan ? Kami tidak mau kamu menjadi orang lain, tetaplah jadi Anya, Anya yang penurut." Satu kecupan mendarat dikening Anya. Ia hanya bisa menahan haru atas ucapan dari Bundanya. Dulu, saat ia belum menikah, Bunda adalah satu-satunya tempat mencurahkan segala keluh kesahnya. Tapi sekarang, tidak ada tempat lain selain pada suaminya.
"Anya sekarang bahagia, Bun." Dengan mata terpejam Anya mengutarakan isi hatinya dengan masih bersender pada bahu sang Bunda. Bunda mengernyitkan dahinya merasa bingung dengan ucapan putrinya.
"Maksudmu ? Dulu kamu tidak merasa bahagia ?"
"Hah ?" Anya bangun dari posisi bersendernya.
"Kamu mengatakan sekarang bahagia, lalu dulu kamu tidak merasa bahagia ?"
"Ah ... Maksudku sekarang aku jauh lebih bahagia," ujarnya dengan tersenyum lebar. Ayah dan Bunda pun ikut tersenyum bahagia.
Anya memeluk Bundanya sekali lagi, saat mereka berkata ingin kembali pulang ke rumah.
"Kenapa harus sekarang, Ayah dan Bunda tidak mau menunggu Kak Reyhan pulang ?"
"Tidak, Nak. Pekerjaan Ayah sedang banyak."
"Ya sudah. Anya janji nanti akan ke rumah."
"Bersama suamimu dan Qilla," pinta sang Bunda.
Anya mengantarkan Ayah dan Bunda sampai lantai bawah. Sedangkan Qilla sedang tidur siang jadi tidak ikut. Anya melambaikan tangan sampai mobil Ayah hilang dari pandangannya.
"Kau merasa senang sekarang ?" suara wanita dengan sepatu hak tingginya mengagetkan Anya saat akan naik lift. Anya menoleh ke asal suara tersebut. Sepatu hak tinggi yang dipakai wanita itu beradu pada lantai dan menggema ditelinganya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya upnya lama... Selamat membaca para readers..
Semoga kita semua selalu diberi kesehatan ya..
Aamiin....