
Hari-hari pun berlalu. Reyhan masih dengan sikap anehnya. Terkadang cuek ,aneh dan juga manis. Anya sudah terbiasa akan sikap suaminya tersebut. Namun ada yang berubah dari Reyhan. Sekarang ia memilih tidur bersama Anya. Hanya tidur ,mereka berdua tidak pernah beradegan romantis diranjang. Malah mereka berdua sering ribut untuk hal-hal sepele.
"Kau serakah sekali sih," Reyhan menarik selimut yang hampir semuanya dipakai Anya.
"Aku tidak bisa jika tidur tidak pakai selimut," Anya menarik selimutnya kembali.
Karna jarak mereka berjauhan jadi selimut tidak bisa terbagi dengan rata. Mereka hanya kebagian selimut sedikit saja.
"Kau tidak kasihan dengan suami kamu? Aku hanya kebagian sedikit , badanku belum semuanya tertutup selimut," Reyhan seperti memohon belas kasihan.
"Kamar sebelah mempunyai selimut yang tidak dipakai ,kau bisa memakainya," ucap Anya santai.
"Aku tidak mungkin tidur di kamar sebelah lagi ,lambat laun pasti Qila tau. Aku tidak mau putriku berpikiran yang tidak-tidak tentang hubungan kita."
"Berpikiran apa? Hubungan kita memang seperti ini," jawab Anya dengan dada yang sedikit sesak.
"Seperti ini apa maksudmu?"
"Sudahlah lupakan ,aku mau tidur."
Reyhan memandangi tubuh Anya dengan tatapan sendu. Sesungguhnya ia bingung dengan perasaan Anya. Wanita itu masih mengharapkan Radit atau tidak? Sedangkan Radit , anak itu masih saja menghubunginya menanyakan soal Anya. Apa aku harus melepaskannya saat Radit kembali?
Kak ,bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja? Lalu bagaimana kabar Anya? Apa kau menjaganya dengan baik? Aku sangat menyayangi Anya ,tolong jangan sakiti dia.
Radit sering mengirimkan pesan kepada Reyhan. Terkadang ia membalas ,tapi terkadang tidak. Jika Radit membahas soal Anya ,dia tidak membalas.
**
Pagi ini ,terasa dingin sampai menusuk ke seluruh badan padahal selimut tidak lepas darinya.
Anya terbangun dan melirik kearah samping ,tepat suaminya masih tertidur. Hidungnya yang mancung terlihat jelas ,juga matanya yang masih terpejam tetap terlihat indah dengan bulu mata yang panjang.
Tok.. Tok.. Tok..
Baru saja Anya akan turun dari ranjang ,suara ketokan pintu membuatnya sedikit terkejut.
Ceklek..
"Ada apa Mbak Ratna?" tanya Anya setelah membuka pintu. Terlihat jelas wajah Mbak Ratna seperti sedang dirundung kecemasan. Tangannya mengepal erat dibagian roknya ,menyalurkan rasa gugup.
"Itu Nyonya ,Nona Qila tiba-tiba badannya panas," ucapnya sedikit gemetar. Mbak Ratna tentu merasa sangat khawatir dengan gadis kecil itu. Ia sudah menyayangi Qila seperti anaknya sendiri. Usia Mbak Ratna lebih tua sedikit dari Reyhan ,dia seorang janda tanpa anak.
Saat mendengar Qila badannya panas ,ia tak memperdulikan suaminya yang masih terlelap. Ia bahkan keluar dengan rambut berantakan.
"Sayang... " Anya melihat Qila yang terbaring. Ia mengecek suhu badan Qila dengan termometer.
"Ya Tuhan ,tinggi sekali panasnya."
"Mamih..." lirih Qila dengan mata terpejam.
"Iya sayang ,sebentar ya. Mamih akan bawa kamu ke rumah sakit ,Mamih bangunin Papih dulu."
Mbak Ratna segera menyiapkan segala keperluan Qila yang akan dibawa ke rumah sakit ,untuk berjaga-jaga jika Qila harus rawat inap.
Anya dengan langkah tergesa menuju kamar. Menarik selimut yang Reyhan pakai dengan kasar.
"Kak ,bangun." Reyhan hanya mengerjap membuat Anya kesal.
"Kak ,kita harus bawa Qila ke rumah sakit. Qila demam."
"Apa?" Dengan kesadaran penuh ,Reyhan langsung bangun.
Anya menarik lengan Reyhan yang ingin keluar kamar. "Tidak ada waktu lagi ,Kakak segera ganti pakaian saja."
Diperjalanan menuju rumah sakit ,Qila yang sedang dipangku Anya hanya bisa diam. Tubuhnya lemas ,serta sering mengigau. Reyhan panik ,walaupun ia sudah sering mengalami hal serupa namun tetap ia merasa khawatir.
"Qila... sabar ya sayang." Reyhan tak henti-hentinya mengelus puncak kepala Qila. Anya yang melihat pemandangan itu hanya bisa tersenyum dalam hati. Wanita itu kembali melihat sosok Reyhan yang ternyata sangat penyayang.
"Kak ,aku gak tahan ingin buang air kecil," ucapnya sedikit berbisik.
"Dasar kau ini ,ya sudah sana." Reyhan mengambil alih Qila dari gendongan Anya. Sebelum Anya berlalu pergi ke kamar mandi, tak lupa ia memberi usapan lembut kepada Qila.
"Kakak duluan ,nanti aku menyusul." Reyhan pun mengangguk.
Brughh...
Tidak sengaja Anya menabrak seseorang. Mungkin karna dia terlalu terburu-buru.
"Maaf-maaf ,saya tidak sengaja," ucapnya dengan tertunduk.
"Nona Anya?"
Anya mendongak ,melihat wajah yang memanggil namanya.
"Nyonya Natalie? Maaf Nyonya saya tidak sengaja ,saya terburu-buru."
"Tidak masalah ,sedang apa Nona di rumah sakit. Apa anda sakit?"
"Tidak ,bukan saya. Tapi anak saya. Maaf Nyonya, saya sedang terburu-buru. Permisi." Entah akan dianggap tidak sopan atau apapun ,Anya tidak peduli. Dia harus secepat mungkin ke toilet dan menyusul suaminya.
Nyonya Natalie merasa ada yang aneh.
Anak ? Bukankah dia baru saja menikah? Oh ,apa dia menikah dengan seorang duda? Mungkin saja. Gadis secantik dia juga masih muda ,mau saja dengan duda. Bagaimana dengan putriku yang sudah kepala tiga? Apakah ada pria yang masih lajang seumuran putriku?
Nyonya Natalie terlihat bersedih ,memikirkan masa depan putri satu-satunya.
Suara dering ponsel yang berasal dari dalam tasnya ,membuat wanita yang tengah mencuci tangannya diwastafel terburu-buru mengangkat ponselnya setelah tisu ia alaskan untuk memegang ponsel.
"Hallo Kak" jawabnya dan langsung keluar dari toilet.
"Qila harus dirawat ,kau ke ruang Melati B2 saja."
Anya hampir meneteskan air matanya. Wanita itu sangat bersedih atas apa yang telah menimpa putrinya. Bagaimana bisa ia lalai menjaga Qila sampai jatuh sakit begini.
"Qila masih diperiksa dokter spesialis anak ,tadi baru diperiksa dokter umum. Kau duduklah dulu ,aku ingin mengabari Mama."
Mama ?
Wanita itu tiba-tiba teringat perkataan mama waktu itu ,agar ia berhenti bekerja dan bisa fokus mengurus Qila. Apa jadinya jika beliau tau, bahwa cucunya masuk rumah sakit. Dan Anya sebagai ibunya tidak tau apa yang menyebabkan putrinya sakit.
Saat Reyhan sudah berjalan jauh dari tempatnya untuk menghubungi orang tuanya. Anya beralih menatap Mbak Ratna ,pengasuh Qila. Mbak Ratna juga terlihat bersedih dengan kepalanya yang terus menunduk.
"Mbak ?" pelan memanggil Mbak Ratna dengan menepuk pundaknya.
"Iya Nyonya," jawab Mbak Ratna. Ia berusaha mengangkat wajahnya ,menghargai sang Nyonya yang sedang mengajaknya berbicara.
"Akhir-akhir ini Qila pernah mengeluh sakit apa ,Mbak?" sebenarnya Anya malu ,ia harus bertanya demikian. Seharusnya sebagai orang tua ,ia harus lebih tau segalanya dibanding orang lain. Tapi Anya memang hanya melihat keceriaan Qila saja selama ini. Ia tak pernah menanyakan tentang kegiatan Qila selama ia bekerja ,tak pernah bertanya apa yang membuatnya tidak nyaman ,ia hanya bertanya sudah makan atau belum ,ia hanya bertanya sudahkah tidur siang, ia hanya menghampiri saat pagi hari sebelum ia berangkat dan juga setelah ia pulang. Anya belum banyak mengetahui tentang anak kecil itu.
"Nona Qila alergi dingin ,Nyonya."
.
.
.
.
.
.