
Setelah pagi dan siang tadi perilaku Anya yang dianggapnya tidak seperti biasanya, malam ini pun sama ada hal yang tidak biasa. Anya melakukan sesuatu yang membuatnya tambah keheranan. Wanita itu memakai sebuah lingerie berwarna merah menyala yang beberapa waktu lalu dibelikan oleh Reyhan. Anya jelas menolak untuk mengenakan itu saat suaminya memintanya. Sebenarnya Reyhan juga hanya iseng saja memberikan itu, entah Anya mau mengenakan atau tidaknya dia tidak merasa kecewa.
Tapi tanpa disuruh wanita itu sudah berbaring diatas ranjang mengenakan lingerie yang terlihat sangat sexy itu. Reyhan yang baru saja dari dapur pun menelan salivanya dengan susah payah. Dia segera mengunci pintu dan menghampiri istrinya bersamaan dengan tubuhnya yang mulai terasa panas.
"Sayang ..." panggilnya dengan suara seraknya. Reyhan menarik tangan Anya untuk bangun. Dia memeluk Anya seerat mungkin hingga tubuh mereka saling menempel. "Kau lagi-lagi menggodaku."
"Siapa yang menggodamu ?"
Reyhan tidak memperdulikan ucapan dari istrinya, dia menyelusuri lehernya yang jenjang. Sentuhan lembut dari suaminya membuat Anya semakin terbuai. Dia menginginkan lebih tapi Reyhan tiba-tiba saja melepaskan pelukannya dan berlari ke kamar mandi.
"Bee ... Kau kenapa ?"
Anya berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. "Sayang ... Perutku sakit sekali."
"Kau kenapa ? Apa salah makan ?"
Anya merasa khawatir. Bahkan hasratnya untuk bercinta sepertinya sudah hilang saat melihat suaminya dengan wajah pucatnya keluar dari kamar mandi. Anya segera ke dapur untuk membuatkan minuman hangat.
"Sayang ... Tolong kamu ganti pakaian itu dengan baju tidur biasa. Aku takut tidak kuat melihatmu pakai pakaian transparan itu," pintanya dengan memohon.
Anya yang baru saja kembali dari dapur segera mengganti bajunya setelah memberikan minuman hangat pada suaminya. Saat Anya berganti baju pun Reyhan tidak mau melihatnya. Dia takut akan tergoda sedangkan perutnya sangat tidak bisa diajak kerja sama.
"Kau salah makan apa ? Kenapa tiba-tiba sakit perut begini ?"
Reyhan menatap istrinya yang sepertinya tidak tahu atau mungkin dirinya pura-pura tidak tahu.
"Sayang, apa kau tidak ingat ? Tadi siang kau memesan ketoprak dipinggir jalan meminta level yang paling pedas. Tapi kau baru satu suap malah nyuruh aku untuk habisin," ucapnya sebal.
"Apa mungkin gara-gara itu ?" Tanyanya dengan raut wajah biasa saja.
Reyhan memutar bola matanya jengah. Selain hari ini istrinya sangat aneh, dia juga sangat menyebalkan. Karna saat perjalanan ke apartemen entah kenapa tiba-tiba istrinya ingin ketoprak.
"Kalau bukan ketoprak level setan itu terus apa lagi ?"
"Ya mungkin saja ada masalah dengan pencernaanmu. Jangan menyalahkan ketopraknya."
Reyhan geleng-geleng kepala. "Aku tidak menyalahkan. Hanya menjawab sesuai fakta yang ada."
"Terserahlah Bee. Kalau kau menyalahkan ketopraknya, berarti secara tidak langsung kau menyalahkan aku juga !" serunya. Reyhan tambah frustasi melihat istrinya yang merasa tersinggung. Saat dirinya akan membujuk sang istri, perutnya kembali sakit dan berlari ke dalam kamar mandi lagi.
Malam ini mungkin sudah lebih dari 5x Reyhan bolak balik ke kamar mandi. Dia merasa lemas. Anya dengan setianya masih menemani suaminya yang sedang menahan rasa sakit di perutnya.
"Bee ... Maafin aku," ucapnya sedih. Melihat Reyhan kesakitan, Anya tidak tega. Memang benar, karna dirinya meminta Reyhan untuk menghabiskan ketoprak itu akhirnya suaminya harus seperti ini.
***
Pagi ini tidak secerah hari kemarin. Langit yang mendung disertai angin yang kencang menyapa Anya yang baru saja terbangun dari tidur singkatnya. Wanita itu tidak bisa tidur karna Reyhan yang terus-terusan bolak-balik kamar mandi hingga tengah malam.
Reyhan pun sama, dirinya baru bisa tertidur saat perutnya sudah agak mendingan. Anya melirik suaminya yang masih memejamkan matanya, dia lihat jam di dinding yang menunjukan pukul 8 pagi. Sudah terlalu siang untuk Reyhan berangkat ke kantor.
Anya pun berinisiatif mengabari sekretaris Reyhan sebelum Doni menelfon suaminya. Ini kali pertamanya Anya menyentuh ponsel suaminya. Perlahan Anya mendekati Reyhan untuk meminjam jarinya untuk membuka kunci ponselnya.
Sambungan telfon pun tersambung. Tidak butuh waktu lama Anya menunggu.
"Hallo Pak."
"Hallo Doni. Maaf hari ini Pak Reyhan tidak bisa ke kantor dulu. Hari ini tolong kau yang handle semua kalau ada masalah atau ada pertemuan penting tolong diundur. Suami saya sedang sakit."
"Wah ... Ternyata Bu Anya sangat perhatian sekali. Saya sudah tahu, Bu. Pak Reyhan semalam sudah mengirimkan pesan bahwa hari ini tidak berangkat. Katanya gara-gara Bu Anya yang membuat Pak Reyhan sakit."
"Apaaa !!!!!! Suami saya bilang apa ? Gara-gara saya ?" Anya melirik kesal pada suaminya yang masih terlelap. Disebrang telfon Doni memukul mulutnya yang tidak bisa mengontrol perkataannya.
"Doni ! Bilang sama saya, apa benar suami saya bilang seperti itu kepadamu ?"
"Maaf Bu. Silahkan lihat saja chat Pak Reyhan yang dikirimkan ke saya. Selamat Pagi Bu."
Doni dengan terpaksa menutup sambungan telfonnya. Teriakan Bu Anya membuat telinganya sedikit sakit.
'Don, besok saya tidak berangkat. Tolong atur ulang semua jadwal saya. Saya tidak kuat.'
'Kau lemah sekali. Masa masih muda sudah tidak kuat.'
'Hey ! Kau tidak tahu apa yang aku rasakan !'
'Memang tidak. Kau kenapa ?'
'Aku sakit perut.(emot nangis) Gara-gara makan ketropak yang di pesan istri gua. Dia mesan ketoprak level iblis tau gak !'
'Hahhaa. Lu dikerjain sama Bu Anya ? Bagus deh. Itu karma buat Lu yang suka nyusahin hidup gua. Yang dengan seenaknya main batalin, main undurin rapat dan dengan gampangnya bilang gak berangkat.'
'Setan Lu !'
Bukannya marah Anya yang membaca chattingan suaminya dengan Doni malah tertawa terbahak-bahak. Dia merasa terhibur dengan percakapan mereka. Sampai Reyhan yang sedang nyenyak tidur jadi terbangun karna mendengar suara tawa dari sang istri.
Dia menoleh ke arah Anya yang sedang berdiri dengan memegang ponselnya. "Sayang ... Kau kenapa tertawa ?"
"Kau mau tahu Bee ?"
"Itu ponselku. Apa yang sedang kau lihat ?"
"Aku habis melihat isi percakapan Iblis dan Setan. Hahaha. Mereka sangat lucu."
Anya tertawa terbahak-bahak. Reyhan hanya mengernyit heran. Tapi melihat istrinya yang sampai tertawa lepas seperti itu membuatnya merasa bahagia. Bahkan tertawanya menular kedirinya yang dengan ketidaktahuannya malah ikut tertawa lepas karna melihat Anya sampai membungkukkan tubuhnya karna perutnya kram tertawa terus-menerus.
Tapi tiba-tiba Anya terdiam, membuat Reyhan pun ikut terdiam. Wanita itu berjalan mendekati Reyhan. Sorot matanya seperti ingin membunuh membuat sang suami sedikit ketakutan.
"Bee ... Aku lapar," rengeknya dengan suara manja.
Reyhan menghembuskan nafasnya dengan lega. Entah kenapa dirinya merasa sang istri dari kemarin sangat aneh. Dia tidak bisa menebak apa pun yang akan dilakukan istrinya atau pun apa yang diinginkannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat Pagi dan Selamat beraktivitas...
Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan juga rejeki yang berlimpah. Aamiin....
.