
SELAMAT PAGI PARA READERS ....
SEMOGA KALIAN SEHAT SELALU DAN DIBERIKAN REJEKI YANG BERLIMPAH ....
AAMIIN ....
Yang sudah Rinduu dengan karyaku, boleh mampir ya ke ceritaku di aplikasi lain
Aplikasi : NOVEL LIFE
Judul : Istriku Yang Berkuasa
Nama Pena : P.Putrie
Aku kasih cuplikan dari BAB 3
Bab 3
Seorang pria dengan tubuh tegap berjalan sangat angkuh, tidak menyapa balik karyawannya yang sudah tersenyum lebar memberikan sapaan. Asisten pria paruh baya yang selalu berada disisinya menatap heran bosnya. Selama dirinya bekerja menjadi pengabdi setia Dranatha Group, sifat yang dimiliki Edzard sangat bertolak belakang dengan Papanya. Sebelum dirinya menjadi asisten Edzard, dia lebih dulu menjadi asisten Ramli Ramos Dranatha.
"Mohon maaf Tuan, Anda harus segera ke ruang rapat. Karna sebentar lagi rapat akan dimulai."
Edzard hanya menatap acuh kepada asistennya, hatinya benar-benar buruk sekarang. Melly, kekasih yang sangat dicintainya ternyata menduakannya dan selama ini hanya mengincar hartanya saja.
"Wanita matre!!!!" Edzard melemparkan kasar berkas-berkas yang tersusun rapi di atas mejanya. Grace, sekretaris Edzard hanya menatap sebal ke arahnya tanpa diperlihatkan. Brade menyuruh Grace untuk segera membersihkan ruangan Edzard setelah bosnya keluar dari ruangan.
Brughhh ...
Tanpa sengaja Edzard menabrak seorang cleaning servis wanita, dia jatuh tersungkur. Dengan sigap Brade membantu wanita itu berdiri, sedangkan Edzard sudah melenggangkan kakinya masuk ke dalam ruang rapat.
"Maaf Nona, Tuan Edzard sedang terburu-buru," ucapnya sambil membantunya berdiri. Brade tidak sengaja menyentuh lengan bagian atas wanita itu, terdapat sedikit memar. "Nona maaf tangan Anda memar, saya akan bawa Anda ke--"
"Ini bukan memar Tuan, ini tanda lahir saya. Permisi." Petugas cleaning servis itu berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Tanda lahir," batin Brade.
Hanya seorang Brade yang mampu mensejajarkan langkah Edzard yang cepat dan angkuh. Pria berwajah tampan dan gagah itu tidak pernah peduli dengan siapa pun. Dia melihat bawahannya hanyalah seperti benalu, yang secara tidak langsung menumpang hidup dengan bekerja di Dranatha Group.
"Tuan, Anda tadi pagi telah menabrak seorang petugas cleaning servis wanita. Kenapa Anda tidak meminta maaf?" Lagi-lagi hanya seorang Brade yang mampu berbicara seperti itu. Dia nampak tidak takut dengan bosnya itu. Sekalipun bosnya sedang suasana hati yang buruk.
"Apa aku harus minta maaf? Apa dengan minta maaf aku menjadi manusia yang penuh rasa kasian? Dia tidak dipecat dan masih tetap bekerja disini, itu sudah lebih dari cukup."
Walaupun Edzard dan Brade sering berselisih. Tapi Edzard tetap mempercayakan Brade untuk selamanya menjadi asistennya. Dia sudah nyaman dengan Brade yang tegas. Pria paruh baya itu sudah seperti temannya walaupun usianya jauh di atasnya.
"Brade, apa mama akan terus mendesakku untuk menikah ?"
"Tentu Tuan, nyonya Fellicia menginginkan keturunan dari Anda begitu pun tuan Ramli."
"Aku sudah muak dengan wanita, Brade!" Serunya membuat Brade sedikit paham tentang perasaan Tuannya.
"Jika Nona Melly bukan yang terbaik untuk Tuan, masih banyak wanita yang menginginkan Anda bukan?"
Brade benar, wanita mana yang tidak mau dengannya. Tapi, dia sungguh tidak mau dengan wanita-wanita yang bermuka dua. Bukan hanya Melly saja yang telah mematahkan hatinya. Rose, Angel dan terakhir Melly semuanya sama. Wanita-wanita itu secara fisik sangat cantik dan menggoda tapi sifatnya sangat buruk.
"Aku tidak mau wanita di kota ini!"
Brade menghela napasnya.
"Jika begitu, Tuan bisa berkenalan dengan gadis desa saja," usulnya asal-asalan.
"Bravo!!!! Ya, benar. Gadis desa yang masih polos bahkan lebih baik daripada wanita modern," ucapnya seraya tersenyum lebar.
"Anda yakin, Tuan? Gadis desa tentu berasal dari kalangan rendah, Tuan."
Senyuman Edzard memudar. Itu tidak mungkin dia lakukan, menikah dengan gadis desa dari kalangan rendahan. Tentu keluarganya tidak akan setuju.
Tok!
Tok!
Brade membuka pintu, seorang petugas cleaning servis wanita dengan wajah yang ketakutan mencoba memberanikan mengetok pintu ruangan calon pemilik perusahaan yang katanya terkenal angkuh.
"Nona yang tadi pagi?" Brade masih mengenal baik wajah wanita tadi pagi yang ditabrak oleh Edzard.
"Iya Tuan, saya ditugaskan mengantarkan ini."
Dua cangkir coffe panas di atas nampan dengan sangat hati-hati diletakkan di atas meja Edzard. Tangannya gemetar saat meletakkan cangkir itu.
Tiba-tiba Edzard memegang tangan wanita itu, menghentikan pergerakan tangannya. "Apa kau terbiasa bekerja dengan tangan bergetar seperti ini?"
Petugas cleaning servis wanita yang bernama Aminah itu menjadi semakin ketakutan, setelah tangannya dipegang oleh bos besarnya. Matanya berkaca-kaca karna ketakutan yang teramat sangat. Ini hari pertama dia bekerja, tapi sepertinya dia telah melakukan kesalahan sehingga bos besar yang berwajah tampan itu terganggu dengan tangannya yang gemetar.
"Ma-maaf Tuan," Aminah perlahan menarik tangannya. Kedua tangannya disatukan dan diremas kuat-kuat. Dia berusaha menghentikan gemetar di tangannya, tapi sangat sulit. Apalagi melihat bos besarnya yang menatapnya dengan tajam.
"Nona, Anda boleh pergi sekarang." Brade memberikan nampan kosongnya. Dengan langkah tergesa Aminah langsung keluar dari ruangan. Air matanya mengalir deras. Ini pertama kalinya dia merasakan hal menakutkan seperti ini. Saat di tempat kerjaan dulu, tak pernah pakdhe Mar memarahinya.
"Apa aku akan dipecat?" batinnya. Dia sungguh bingung jika dirinya dipecat. Saat teman ayahnya berkata bahwa gajinya disini ternyata 4x lipat dari gajinya di konveksi pakdhe Mar, dia sangat senang. Juga peluang naik gaji yang pasti ada, jika dia sudah menjadi karyawan lama. Itu artinya dia bisa membuat kehidupan keluarganya menjadi lebih baik. Ibu tirinya juga pasti akan bangga terhadap dirinya.
"Apa itu wanita yang tadi pagi aku tabrak?"
"Benar, Tuan."
"Berasal dari mana dia?"
"Aku akan cari tau informasi Nona tadi, Tuan."
Tanpa banyak bicara, Brade langsung tau maksud Tuannya. Itulah yang membuat Edzard merasa nyaman dengan Brade.
Aminah segera mengemasi barangnya saat supervisornya menyuruhnya untuk pulang. Dengan langkah tergesa, dia menghampiri Pakdhe Dar. Teman ayahnya yang membantu dirinya bisa diterima kerja disini.
"Gimana Minah, apa kamu betah bekerja disini?"
Aminah mengangguk. Tentu dia harus dibetah-betah. Kapan lagi pendidikannya yang hanya tamatan SMP bisa bekerja di perusahaan sebesar ini.
Sesampainya disebuah kontrakan kecil, Aminah harus membiasakan hidup mandiri. Dia jauh dari keluarganya juga Pakdhe Dar yang letak tempat tinggalnya lumayan jauh dari kontrakannya. Pakdhe Dar sudah tinggal bersama temannya yang lain, jadi Aminah dicarikan sebuah kontrakan yang letaknya tidak jauh dari perusahaan. Tapi Pakdhe Dar akan terus mengawasinya, karna Johan telah menitip pesan untuk menjaga putrinya.
Gadis itu merasakan lelah, mungkin lelahnya 2x lipat dari bekerja di konveksi Pakdhe Mar. Setelah membersihkan badannya yang terasa lengket, dia merebahkan badannya di kasur yang lumayan empuk. Dia sejenak memejamkan matanya, menghirup oksigen untuk membuat dirinya menjadi lebih hidup. Tiba-tiba bayang-bayang dari wajah bos besarnya melintas di kepalanya. Wajah yang sangat tampan dengan pahatan sempurna di wajahnya. Pemuda di desanya tentu tidak ada yang setampan bosnya itu.
Dia memegang bagian tangannya yang disentuh olehnya tadi, benar-benar serasa mimpi merasakan sentuhan dari seorang pria selain ayahnya. Walaupun di desanya ada yang menyukai dirinya, namun Aminah tidak pernah merespon. Di dalam hidupnya yang dipikirkan adalah bekerja, bekerja dan bekerja.
****
Kalau ada waktu sempatkan untuk mampir ya sayang ....
Heheh
Thank You ....
Selamat beraktifitas .....