Temporary Wife

Temporary Wife
Sebuah Ancaman ?



"Kenapa ? Kau merasa terkejut melihatku ada disini ?" Tatapan matanya tajam seperti ingin membunuh. Berbeda dengan pertama kali Anya melihatnya sebagai wanita yang anggun. Kini lebih terlihat seperti wanita yang menyimpan seribu kelicikan didalam matanya.


"Ada perlu apa Anda kesini ?" suaranya tenang namun tidak dipungkiri Anya merasa tertekan.


"Tenang saja, hari ini aku tidak berniat untuk mengganggumu. Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku ingin menemui calon mertuaku, dia pasti sangat merindukanku," ucapnya sinis. Calista melangkahkan kakinya pergi menjauh dari hadapan Anya. Wanita itu berjalan sangat anggun hingga semua mata yang berada disekitarnya tertuju padanya, mengagumi parasnya yang indah.


"Apa maksudnya ? Siapa calon mertuanya ? Apa yang ia rencanakan ?" batinnya.


Anya berusaha menepis pikiran buruknya. Dia percaya bahwa suaminya tidak ada perasaan lagi untuk Calista, jadi kalaupun Calista mengusik rumah tangga mereka akan percuma saja. Anya tidak mau ikut campur dengan hubungan mereka berdua, ia yakin Reyhan bisa menyelesaikannya. Ia percaya penuh dengan suaminya.


Malam hari tiba, sudah pukul 8 malam tetapi Reyhan belum pulang juga. Reyhan mengatakan bahwa dia sedang di jalan saat tadi jam 7 mengabarinya. Anya yang sedang duduk di ruang tamu mendadak gelisah. Bayang-bayang Calista terngiang-ngiang di kepalanya.


Ponselnya bergetar diatas meja, ia memang sengaja meletakkannya disitu. Dengan semangat ia meraih ponselnya namun ternyata bukan nama suaminya yang tertera dilayar.


"Mama ... " ucapnya lirih. Tidak biasanya mama mertuanya menghubunginya malam-malam seperti ini.


"Hallo Ma ..."


"Anya, suamimu akan menginap di rumah. Kau tidak perlu menunggunya. Mama hanya ingin mengatakan itu saja."


"Ada apa, Ma ? Tadi Kak Reyhan mengatakan akan pulang sebentar lagi," Anya merasa bingung. Bukankah tadi suaminya mengatakan akan pulang dan sedang di jalan. Kenapa tiba-tiba harus menginap di rumah ?


"Papa dan Mama ada perlu sebentar dengan Reyhan. Daripada harus pulang larut malam tentu sangat berbahaya di jalan. Tidak usah khawatir Anya, segeralah istirahat."


Panggilan terputus setelah Anya mengiyakan. Namun entah kenapa perasaannya tidak enak. Ia menduga bahwa ada sesuatu yang sudah terjadi.


Langit sudah sepenuhnya gelap, bahkan bintang-bintang yang seharusnya menemani bulan tidak terlihat sama sekali. Dengan kecepatan tinggi Anya melajukan mobilnya dijalanan yang cukup sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Tidak menghalangi sedikit pun jalan mobilnya untuk berpacu cepat agar cepat sampai ke tempat tujuannya.


Walaupun dia tahu tidak seharusnya bertindak seperti ini, namun hati kecilnya berkata bahwa dia harus menyusul suaminya. Tidak peduli jika mertuanya menganggapnya bukan menantu yang penurut. Sekalipun mertuanya mengatakan untuk jangan khawatir apapun tentang suaminya, namun sebagai istri tentu akan selalu khawatir jika suaminya tidak berada disisinya.


"Malam Nyonya Anya, tumben malam-malam datang kemari," sapa Pak Satpam, pria paruh baya itu membukakan gerbang dengan lebar lalu menghampiri Anya.


"Apa suami saya baru saja datang ke rumah ?"


"Tuan Reyhan sejak siang memang sudah disini, Nyonya."


"Dari siang ? Ngapain ?"


"Tidak tahu, Nyonya. Setelah kedatangan seorang wanita lalu tidak berapa lama Tuan Reyhan datang."


Tiba-tiba dadanya mendadak sesak. Ia bahkan kesulitan untuk bernapas. Pikiran-pikiran buruk dengan cepat berputar dikepalanya membuatnya pusing sampai tubuhnya hampir saja roboh namun dengan segera ia menyeimbangkan tubuhnya. Ia tidak mau terlihat lemah.


"Terima kasih, Pak."


Anya dengan kepercayaan diri yang penuh melangkah ke pintu utama rumah mertuanya. Berharap kedatangannya tidak menganggu istirahat mereka, kalaupun mereka sudah istirahat. Ia hanya ingin menemui suaminya. Maksudnya apa dia mengatakan akan pulang segera dan sudah berada di jalan tetapi ternyata sejak siang dia sudah disini ? Ia kira suaminya seharian ini berada di kantor.


Anya tidak melarang jika suaminya ingin mengunjungi orang tuanya, namun kenapa tidak mengajak dirinya dan Qilla ? Kalaupun ini masalah perusahaan, seharusnya bertemu di kantor.


"Calista ..."


Satu nama melintas dikepalanya. Panas menjalar diseluruh tubuhnya, hawa dingin pada malam hari bahkan tidak berhasil menembus kulit lengannya yang telanjang.


Tok!


Tok!


Anya sengaja tidak membunyikan bel rumah takut mengganggu. Ia berharap Bibi mendengar ketokan pintu dan segera membuka.


Ceklek.


"Ma-Mama ..."


Wajah Anya mendadak pucat, ia merasa tidak enak dengan Mama mertuanya. Tentu Mama akan berpikir kalau dia bukan menantu yang penurut. Dengan kedatangannya tentu akan menimbulkan sesuatu yang sensitif, Reyhan akan menginap di rumah orang tuanya tapi malah dihampiri istrinya. Padahal sang istri sudah diberitahu untuk jangan mengkhawatirkan suaminya, tentu suaminya akan baik-baik saja di rumah orang tuanya. Lalu apa alasan menantunya harus menyusul kesini ?


"Anya ... Kenapa malam-malam kesini ? Bukankah sangat berbahaya, seorang wanita menyetir pada malam hari."


Terlihat Mama seperti tidak menyukainya yang tiba-tiba datang ke rumah. Bukan tidak menyukai akan hadirnya di rumah, tapi waktunya yang tidak tepat.


"Anya ..." Reyhan berjalan mendekat dengan muka kusut dan wajahnya yang penuh luka.


"Kak Rey ... Kau kena--"


"Masuklah Anya, jangan di pintu. Mama akan istirahat di kamar," ucapnya tanpa memandang Anya. Mama berbalik badan dan langsung berjalan pergi. Sedangkan Papa terlihat masih duduk di sofa.


"Kita lanjutkan besok, Reyhan." Papa tidak mengatakan apapun kepada Anya, ia hanya tersenyum singkat kepada menantunya dan membuat Anya tambah dibuat bingung akan sikap mertuanya tersebut.


"Kak Rey, apa yang terjadi ?"


Terlihat beberapa luka lebam dipipinya juga sudut bibirnya yang luka. Anya langsung berlari menuju dapur, mengambil kompres dan obat-obatan.


Saat Anya berjalan menuju dapur, tidak sengaja ia mendengar isakan tangisan dari kamar mertuanya. Tapi ia mencoba untuk tidak menghiraukannya, mungkin ada masalah pribadi. Yang terpenting saat ini mengobati luka yang ada diwajah suaminya dulu.


"Anya ..." Reyhan tiba-tiba menggenggam tangannya.


"Kak lepasin dulu, ini harus segera diobatin." Anya tahu Reyhan ingin mengatakan sesuatu namun apapun itu yang terpenting adalah mengobati lukanya dulu. Wanita itu memang sangat penasaran apa yang sudah terjadi, namun jika itu menyangkut Calista tentu Anya harus menyiapkan hatinya untuk menerima kenyataan yang akan terjadi.


Dia bahkan menyadari sikap mertuanya yang berbeda, tidak sehangat dulu. Bahkan kedatangannya tidak disambut dengan baik. Ia menyembunyikan rasa sakitnya, didepan suaminya ia berusaha tetap tenang dan bersikap baik-baik saja.


"Anya ... Kau kesini tidak memakai jaket ? Kau bisa sakit keluar malam tidak memakai jaket." Reyhan menatap istrinya dengan jarak yang begitu dekat, merasakan napas yang istrinya hembuskan dari hidung mungilnya.


"Aku tidak sempat pakai jaket, Kak. Tidak apa-apa lah kan naik mobil, bukan naik motor."


Reyhan mencubit hidungnya dengan gemas, ia merasa senang saat istrinya tiba-tiba menyusulnya ke rumah. Apalagi jika bukan mengkhawatirkan suaminya yang tampan itu. Reyhan memeluk istrinya dengan erat, tidak mau melewatkan momen berdua seromantis ini. Ia seperti mendapatkan kekuatan baru karna kedatangan istrinya, istri yang ia cintai. Tidak pasti cinta itu datang saat kapan, tapi cinta itu semakin bertambah setiap hari.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ya para readers...


Salam hangat untuk kalian semua...