Temporary Wife

Temporary Wife
Bulan Madu 1



Reyhan dan Anya saat ini sedang berada didalam mobil. Kepulangan Papa dan Mama dari Bandung lalu mengantarkan Qila ke Apartemen membuat mereka para orang tua saling bertemu. Ayah dan Bunda yang saat itu masih di Apartemen pun menyambut baik besannya.


Hal yang tak pernah terpikirkan oleh Reyhan dan Anya ,bahwa mereka para orang tua telah merencanakan bulan madu untuk keduanya. Tak ada penolakan diantara mereka berdua. Mereka menuruti kemauan dari masing-masing orang tuanya.


Mereka berdua akan bulan madu di puncak ,kebetulan Papa Reyhan mempunyai villa disana. Karna ini juga musim panas ,jadi tidak terlalu dingin cuaca disana. Reyhan sudah sering berlibur di villa tersebut ,tentu sudah sangat membosankan baginya.


Anya ,wanita itu sibuk menatap pemandangan dari luar kaca mobil. Ia merasa sedih , menurutnya ini bukanlah bulan madu yang diharapkan orang tua maupun mertuanya. Ia tahu ,Reyhan juga tidak pernah menginginkan bulan madu ini.


Anya melirik kesamping ,tepat Reyhan sedang sibuk menyetir. Hanya sebentar ,ia hanya melihatnya sebentar memastikan seperti apa raut wajah suaminya itu. Tentu sangat datar ,wajahnya tanpa senyum sedikitpun.


Perlahan wanita itu memejamkan matanya ,merasakan lelah atas perjalanan yang sangat menjenuhkan. Walaupun hari masih tergolong pagi ,namun rasanya ia menjadi mengantuk kembali. Mungkin karna suasananya yang sepi ,senyap ,tentu siapapun yang berada diposisi Anya akan merasakan hal yang sama.


3 jam sudah perjalanan dari Apartemen menuju puncak. Jalanan cukup lengah ,karna hari ini bukanlah hari weekend. Reyhan yang menyadari Anya tertidur ,hanya bisa menghela nafas. Ia bingung harus membangunkannya atau menunggu ia bangun sendiri.


"Pagi Tuan Reyhan," sapa Pak Sodik ,si penjaga villa milik keluarganya. Pak Sodik membukakan pintu mobil dari anak majikannya, walaupun Reyhan tidak menginginkan diperlakukan seperti itu.


"Pagi juga Pak Sodik ," balas sapaan dari Pak Sodik.


"Itu istrinya Pak Reyhan ya? Saya dengar Pak Reyhan sudah menikah ,selamat ya Pak," Pak Sodik menunjuk Anya yang masih berada didalam mobil.


"Hoaaammm..." mulutnya mengaga mengikuti rasa kantuk yang sebenarnya masih ada. Anya terbangun dan matanya berpendar mengelilingi suasana yang ada dihadapannya saat ini. Ia langsung turun dari mobil ,setelah Reyhan turun terlebih dahulu.


Dilihatnya Reyhan sedang mengobrol dengan seorang lelaki tua ,yang Anya yakini adalah pasti penjaga villa.


"Kau sudah bangun? Masuklah dan istirahat. Pak Sodik akan mengantarkanmu ke kamar," perintah Reyhan. Dan lelaki itu pun berlalu pergi. Entah kemana. Yang wanita itu ketahui ,Reyhan berjalan menuju sebuah danau kecil. Danau itu terlihat karna letaknya agak dibawah dari bangunan villa ini.


"Mari Nona ,saya antar," ajak sang penjaga villa.


Anya berjalan mengikuti Pak Sodik. Wanita itu memang lelah ,entah apa yang membuatnya lelah. Padahal ia hanya duduk manis dijok mobil.


"Saya ucapkan selamat ya Nona atas pernikahannya dengan Tuan Reyhan," Pak Sodik tiba-tiba memberi ucapan selamat kepada Anya. Wanita itu sedikit terkejut ,karna sedari tadi ia sibuk melihat isi dari bangunan villa ini.


"Oh ya Pak , terimakasih."


"Ini kamarnya Non ,sudah saya bersihkan. Kalau Nona butuh apa-apa panggil saya saja. Saya biasanya berada didapur atau dihalaman belakang. Permisi Nona," ucap Pak Sodik dan berlalu pergi. Anya pun hanya mengangguk.


Wanita itu berniat untuk melanjutkan tidurnya kembali. Namun pemandangan yang terlihat dari jendela kamar kini mengalihkan pandangannya. Membuatnya penasaran ,pasti sangat indah.


Dia perlahan berjalan menuju jendela kamar ,betapa terkejutnya saat melihat pemandangan yang tercipta dari sini. Dari sini ,ia bisa melihat danau kecil itu. Juga beberapa tanaman bunga juga pohon yang sepertinya dibuat sengaja untuk menghiasi danau itu.


"Kak Rey."


Bahkan Anya bisa melihat Kak Rey dari sini. Lelaki itu sedang duduk dibangku yang berada disekitar danau. Anya tanpa henti memandangnya ,melihatnya tanpa ada seorang pun mengetahui. Entah mengapa ,lelaki itu semakin dilihat semakin tampan saja.


Rasa kecewa pun menyelimuti perasaan Anya ,lelaki itu berdiri dan beranjak meninggalkan danau. Tidak bisa melihatnya lebih lama lagi.


Anya pun keluar kamar karna merasa haus ditenggorokannya. Ia akan menuju dapur namun ia berpapasan dengan Pak Sodik.


"Ke dapur Pak ,ambil minum. Haus."


"Biar saya ambilkan ,Nona tunggu di kamar saja," ucap Pak Sodik.


"Tidak usah Pak ,biar saya saja." Anya pun melanjutkan berjalan menuju dapur. Ia sudah tau letak dapur ada disebelah mana ,Pak Sodik telah memberi sedikit penjelasan tentang ruangan di villa ini saat tadi mengantarnya ke kamar.


Pak Sodik pun mengalah ,jika menantu majikannya ini tidak mau ia layani. Ia menilai menantu majikannya ini orangnya sangat mandiri. Buktinya aja tadi Anya yang membawa kopernya sendiri masuk ke dalam kamar. Walaupun berkali-kali ia sudah menawarkan bantuan.


"Pak ,mau kemana?" tanya Anya saat melihat Pak Sodik membawa benda tajam yang tidak ia ketahui namanya , seperti pisau tapi lebih besar ,runcing dan melengkung.


"Saya mau ke kebun dulu Nona ,cari rumput untuk ternak saya. Sebentar aja Nona ,nanti istri saya yang gantian kesini."


"Jauh gak Pak?" tanya Anya kembali.


"Ya lumayan Non ,sekitar 700 meter dari sini."


"Jauh ya," Anya terlihat berpikir.


"Permisi Non."


"Tunggu-tunggu Pak ,saya ikut. Saya mau melihat-lihat pemandangan di desa ini."


Anya pun memohon. Walau terlihat wajah Pak Sodik yang penuh akan penolakan. Tidak mungkin ia membawa menantu majikannya ini panas-panasan mencari rumput. Apalagi sebentar lagi masuk jam makan siang. Bagi dia ,melewatkan makan siang pun sudah biasa ,tapi bagaimana dengan menantu majikannya ini?


Pak Sodik pun mengalah ,dengan berat hati ia menyetujui untuk Anya ikut dengannya. Namun ia menunggu sampai Anya makan siang terlebih dahulu. Sementara Reyhan ,ia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur. Ia pun tak mempermasalahkan jika Anya ikut dengan Pak Sodik.


Barangkali wanita itu ingin jalan-jalan disekitar desa. Dia bukanlah anak kecil ,yang tidak diperbolehkan main kesana kemari karna takut terjadi apa-apa. Wanita itu sudah besar ,terserahlah mau ngapain.


Karna Pak Sodik merasa kasihan dengan Anya ,ia pun pulang ke rumah untuk mengambil sepeda motor bututnya. Memang dari covernya sangat jelek motor ini ,namun mesin dan tarikan gasnya masih sangat bagus.


Pak Sodik sebenarnya sudah terbiasa jalan kaki ke kebun ,namun tidak mungkin ia mengajak Anya untuk berjalan kaki juga. Perlahan Pak Sodik melajukan motor bututnya dengan Anya yang sudah duduk dibelakang jok motornya.


Saat tiba di kebun ,Anya pun merasa gembira. Walau siang hari ini cukup panas ,namun kebun ini banyak terdapat pohon-pohon yang besar dan tinggi ,jadi cukup membuat hawa sekitar kebun menjadi sejuk.


Anya pun duduk dibawah pohon besar ,sambil menunggu Pak Sodik mencari rumput. Kebun ini seperti kebun yang sudah tidak ditanami tanaman lagi. Terlihat banyak ranting yang jatuh ,juga daun yang berserakan juga rumput yang menjulang tinggi.


Tiba-tiba pandangan Anya teralihkan akan bangunan anak tangga yang dicat warna-warni. Ia berdiri dan penasaran sebenarnya tangga itu menuju kemana.


Hmm.. penasaran. Siapa tau diatas sana ada pemandangan yang lebih indah.(dalam hati Anya)


.


.


.