
Malam ini Anya kesulitan untuk tidur. Perut yang semakin membesar membuat Anya sedikit tidak nyaman. Berbagai posisi sudah dia coba, tapi tetap saja tidak bisa terlelap. Matanya masih terjaga saat jam dinding menunjukkan pukul 12 malam. Tengah malam yang terasa sunyi. Saat dia ingin beranjak turun dari ranjang, Reyhan tiba-tiba terbangun. Pria itu menyadari bahwa istrinya akan pergi.
"Sayang ... kau mau kemana?"
"Tidak tahu."
Reyhan yang mendengar jawaban sang istri langsung beranjak bangun. Walaupun matanya masih sangat mengantuk.
"Kenapa tidak tahu. Kau membutuhkan apa, sayang? Biar aku ambilkan," tawarnya lembut.
"Tidak tahu."
Jawaban itu yang selalu dia dikatakan. Reyhan masih terlihat sabar. Dia kemudian bertanya kembali.
"Apa kau kesulitan untuk tidur, sayang?"
"Iya."
Akhirnya Reyhan bisa tahu istrinya kenapa. "Ya sudah. Aku bikinkan teh hangat, mau?"
"Tidak. Aku hanya ingin jalan-jalan saja, biar badanku terasa lelah dan bisa langsung tidur."
"Sayang ... kau tidak boleh sampai kelelahan."
Reyhan mengikuti istrinya yang sudah berjalan keluar. Anya tidak menghiraukan perkataannya. Bahkan dia nekat berjalan ke halaman belakang dengan bertelanjang kaki saat tengah malam begini.
"Sayang ... hentikan. Ini sudah tengah malam, tidak baik angin malam jika mengenai tubuhmu. Kau bisa kedinginan."
"Aku tidak apa-apa. Bahkan aku sangat menyukai. Mungkin anak kita juga menginginkannya," ucapnya seraya mengelus perutnya.
"Tidak boleh. Ayo kita kembali kedalam. Kau boleh berjalan-jalan tapi didalam rumah. Sayang ... lihatlah, malam ini gelap sekali. Bukankah sangat menakutkan?"
"Kau takut?"
"Tidak sayang. Tapi--"
"Sudahlah tidak apa-apa. Kau kembali saja ke kamar. Aku akan baik-baik saja."
Anya yang keras kepala tetap saja tidak mau mendengarnya. Perilaku ibu-ibu hamil memang diluar kendali. Reyhan pun hanya bisa mengikuti Anya dari belakang dengan sesekali mengusap lengannya yang telanjang. Hawa dingin terasa menembus kulitnya. Angin yang berhembus dengan bebasnya membuat dirinya sedikit menggigil. Tapi Anya terlihat biasa saja, padahal istrinya hanya mengenakan daster pendek.
"Sayang ... ayo kembali ke kamar," bujuknya lagi.
Anya menatap suami dengan sebal. Dan pada akhirnya dia menurut untuk kembali ke kamar. Anya masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci kakinya.
"Apa kau sudah merasa lelah? Ayo kita tidur. Kau harus banyak istirahat," perintahnya. Kali ini Reyhan dengan memaksa membalutkan selimut ke tubuh istrinya. Membuat tubuhnya menjadi hangat. Dia juga memeluknya dan menciumi puncak kepalanya berkali-kali.
"Besok aku mau ke Butik."
Saat Reyhan hampir saja terlelap, perkataan Anya membuatnya membuka matanya kembali.
"Baiklah, besok aku akan mengantarmu, sayang."
Memang sudah lama, Anya tidak mengunjungi butiknya. Walaupun dia selalu mengontrolnya dari rumah. Email laporan yang dikirimkan Mira selalu dia cek. Tidak perlu diragukan bahwa Mira melakukan pekerjaannya dengan baik.
Semua mata tertuju pada sosok wanita cantik yang sedang berbadan dua. Dia berjalan dengan anggunnya bersama sang suami yang tampan. Mereka tersenyum ramah dengan sesekali menyapa pemilik butik yang menjadi sumber penghasilan mereka. Tampaknya mereka sangat kagum dengan owner butik itu, walaupun beliau sudah lama tidak mengunjungi butik tapi mereka masih sangat menghormatinya.
"Bu Anya ...." Mira berlari memeluk bosnya itu. Sudah lama Anya tidak berkunjung ke butiknya sendiri. Dia sangat merindukan bosnya yang baik dan ramah. Tak lupa juga dia memberi salam pada Reyhan yang berada disisi bosnya.
"Mira ... apakah kau merasa kesulitan selama ini?"
"Tidak. Tidak sama sekali, Bu. Dalam satu bulan terakhir ini, banyak pelanggan baru yang datang kemari untuk memesan baju. Mereka tertarik dengan koleksi butik kita karna melihat model bernama Calista yang memakai produk butik ini," ucapnya bangga. Mira terlihat bersemangat sangat mengatakan itu. Bahkan gara-gara putri dari Nyonya Natalie itu, pelanggan baru hampir setiap hari berdatangan untuk membeli baju atau pun memesan baju disini.
Anya yang mendengar penjelasan dari Mira, merasa bingung. Apakah Calista justru memamerkan dress buatan butiknya? Apakah dia sebaik itu hingga membuat semua orang merasa penasaran dengan butiknya? Bukankah wanita cantik itu bisa saja menjelekkan kualitas butiknya dengan menebar kebohongan? Ah ... Anya terlalu bernegatif thinking.
"Sayang ... aku tahu apa yang kau pikirkan. Tapi setidaknya ini kabar baik bukan? Banyak pelanggan baru yang datang kemari. Itu artinya butik kamu sudah terkenal luas. Kau harus syukuri itu. Tidak peduli lewat siapa butik kamu jadi terkenal, setidaknya ini juga berkat kerja kerasmu juga," ucap Reyhan. "Aku bangga padamu," bisiknya membuat sang istri tersenyum malu.
Anya berjalan menuju sebuah ruang. Ruang yang dikhususkan untuk bertemu para pelanggan. Untuk kali ini, Anya yang akan menemui pelanggan. Mendengarkan apa yang ingin mereka sampaikan. Entah tentang sebuah pemesanan baju atau pun bisa saja sebuah komplain.
"Nona Anya ...."
Ternyata Nyonya Natalie, wanita paruh baya itu tersenyum sangat lebar saat melihat dirinya yang datang menemuinya. Anya merasa canggung saat bertemu dengan Nyonya Natalie, setelah dari kejadian yang sangat memalukan waktu itu.
"Selamat pagi, Nyonya Natalie. Senang bertemu Anda," ucapnya berbasa-basi. Anya harus bersikap ramah dengan pelanggan lamanya itu. Menyembunyikan kecanggungannya. Walaupun begitu, ternyata respon dari Nyonya Natalie diluar dugaannya. Dia bahkan merespon Anya dengan hangat.
"Pagi juga, Nona Anya. Saya juga senang bertemu dengan Anda, Nona. Wah ... Anda rupanya sedang hamil?" Nyonya Natalie melihat perutnya yang sedikit membesar, juga wajah-wajah dari ibu hamil yang tentu sangat beliau pahami.
"Iya, Nyonya."
"Pantas saja, Anda sudah lama tidak berkunjung ke Butik. Ah Nona, maaf. Sejak kejadian itu, bahkan saya belum meminta maaf kepada Anda secara pribadi. Mewakili putri saya Calista juga saya sebagai ibunya, memohon maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan putri saya yang sudah tidak sopan dengan Anda waktu itu," ucapnya sambil tangannya mengatup.
"Tidak perlu seperti itu, Nyonya." Anya menurunkan tangan Nyonya Natalie yang mengatup memohon maaf kepadanya. Ini terlalu berlebihan. "Saya sudah memaafkan semua dari dulu, Nyonya."
"Terima kasih, Nona. Anda orang baik."
"Ah ... biasa saja." Mereka tertawa ringan.
"Oh iya, Nona. Saya datang kemari untuk memesan sebuah gaun pernikahan, apakah bisa dibuatkan segera? Kira-kira untuk bulan depan."
"Siapa yang akan menikah, Nyonya?" tanya Anya penasaran.
"Siapa lagi, kalau bukan putri saya," ucapnya seraya matanya berbinar senang.
"Benarkah? Calista akan menikah. Saya ikut senang mendengar itu, Nyonya. Selamat atas rencana pernikahan putri Anda, semoga semuanya berjalan lancar."
Hari ini Anya mendengar dua kabar baik. Butiknya yang semakin ramai pelanggan juga Calista yang akan segera menikah. Dia tidak perlu khawatir lagi soal Calista yang akan mengganggu rumah tangganya. Kabar dari Calista yang akan segera menikah juga dia sampaikan pada Reyhan. Lelaki itu juga tampak sangat bahagia mendengarnya.
.
.
.
.
Maaf ya kalau updatenya lama. Terima kasih yang masih stay disini. Semoga kalian selalu diberikan kesehatan juga rejeki yang berlimpah. Aamiin ...