Temporary Wife

Temporary Wife
Calista Tidak Buruk



Langkah kaki seorang wanita cantik terhenti saat suara maskulin memanggil dirinya. Dia menoleh kearah belakang, melihat seorang pria berwajah asia berjalan mendekat kearahnya. Wajah pria itu nampak terkejut, mendapati wanita cantik itu ternyata sudah kembali.


"Kapan kau pulang, Cal?"


"Kemarin," jawab wanita cantik itu yang bernama Calista. Dia sesaat tersenyum namun dengan cepat mengubah wajahnya menjadi sendu.


"What happened, Cal? Bukankah kau akan segera menikah?"


"Tidak jadi, Ramon." Pria itu sangat terkejut. Dia ikut bersedih namun jauh dilubuk hatinya, ada perasaan lega didalamnya.


"Tidak perlu bersedih, Cal. Masih ada aku," ucapnya dengan penuh ketulusan. Calista menatap Ramon, wajah pria keturunan indo itu memang sangat tampan. Bahkan bisa dibilang lebih tampan dari mantannya Reyhan. Tapi Ramon, pria itu yang telah membuat dirinya merasa terhina atas satu kesalahan yang tidak sengaja dilakukan.


Calista ingin pergi, tapi Ramon dengan cepat menahan langkahnya. Dia menarik tangan Calista dengan lembut. Wanita itu sudah sering mendengar perkataan Ramon yang seperti itu. Beberapa waktu yang lalu, dia sempat menjauhi pria itu tapi karna kegigihan Ramon untuk memperbaiki hubungannya dengan Calista akhirnya wanita itu mau berteman lagi dengannya.


"Cal, lihat aku. Kenapa kamu tidak bisa terima aku? Seharusnya tidak ada pilihan lain untuk kamu. Aku yang harusnya jadi suami kamu. Aku yang telah merebut mahkota kamu, aku--"


"Cukup! Aku tidak mau bahas itu." Calista melangkahkan kakinya pergi setelah tangannya terlepas dari Ramon.


Beberapa waktu yang lalu, saat Calista pulang dari pemotretan. Ada seseorang yang ingin berbuat curang kepadanya, mencampurkan sesuatu pada minumannya. Dan hal yang tak terduga telah terjadi pada hidupnya. Ramon yang harusnya datang sebagai pahlawan tapi nyatanya dia tak bisa menahan gejolak nafsunya. Dia ikut terbuai akan reaksi dari efek minuman yang dikonsumsi Calista. Wanita itu sempat menjauh dari kehidupannya, hingga pada akhirnya dia kembali menjadi seorang Calista. Tapi dengan kepribadian yang berbeda. Dia melampiaskan amarahnya dengan sering berkencan dengan para pria, pria yang berusaha mendekatinya namun selalu ditolaknya. Dengan alasan, Calista sangat mencintai Reyhan.


"Aku tahu sesuatu tentang kekasihmu," ucap seorang pria yang tiba-tiba menghampirinya disalah satu meja cafe. Calista mendongak, melihat lebih rinci wajah pria tersebut. Dengan ucapannya barusan, berarti pria ini mengenal Reyhan.


"Kau siapa?"


"Aku Darel," jawabnya seraya mengulurkan tangannya dan disambut acuh oleh wanita itu. "Reyhan. Kekasihmu bernama Reyhan, bukan?" ucapnya lagi.


Kali ini wanita itu penasaran. Dia berdiri dari duduknya dan menatap pria asing itu. "Kau siapa? Dan ada perlu apa?"


"Santai saja, Nona cantik. Aku hanya ingin membagikan kabar yang membuatmu terkejut berkali-kali. Bahkan jika aku boleh berangan, kau bisa saja pingsan. Tapi aku akan bersedia menolongmu." Pria itu tersenyum menyeringai membuat Calista memutar bola matanya.


"Maaf Tuan, saya tidak punya cukup waktu."


"Tunggu," tahannya seraya memegang lengan wanita cantik itu. Dengan kasar dia menepis sentuhan pria itu pada lengannya. "Lupakan Reyhan. Dia sudah menikah."


Mata mereka saling bertemu. Calista ingin tertawa atas lelucon dari pria asing itu tapi dia tidak ingin terlihat gila dengan tertawa sendirian.


"Nama Reyhan banyak. Kau pasti salah orang." Lagi-lagi Calista akan pergi meninggalkan. Tapi Darel menyentuh lengannya kembali. Dia memperlihatkan foto Reyhan yang memang sudah menikah dengan calon pengantin perempuan disebelahnya. Sejak saat itu, Calista mengetahui bahwa Reyhan sudah menikah dengan Anya. Tapi karna belum pernah berjumpa secara langsung dengan Anya, Calista tidak menyadarinya sejak awal bertemu dengan Anya.


"Untuk apa kau memberitahuku soal ini?" Calista hampir menangis. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Lupakan dia." Darel yang sudah menyukai Calista sejak lama, merasa ini adalah kesempatan emas baginya. Dia mengetahui banyak hal tentang Calista, yang sudah menjadi model di negara ini. Banyak yang merasa kagum atas prestasi dan juga kegigihannya.


Hingga Darel yang buta cinta mencoba menghalalkan segala cara. Dia membuat Reyhan menjadi membenci Calista dan juga berusaha membuat Calista tidak bisa pergi dari sisinya. Hingga Darel membuat rencana untuk bisa meniduri Calista. Tapi sayang rencananya gagal, Ramon lah yang sudah membuat rencananya gagal.


Calista yang angkuh bertindak menjadi wanita yang tidak tahu diri. Dia sudah merendahkan harga dirinya sendiri pada keluarganya juga Reyhan dan orang tuanya. Dia tidak bisa melupakan begitu saja kenangan bersama Reyhan tapi saat mengingat bahwa mahkotanya telah direbut oleh temannya sendiri membuat Calista merasa muak dengan hidupnya.


Hingga hari itu, membuatnya tersadar.


"Jadilah wanita yang berkelas, anggun dan juga berpendidikan. Kamu sudah memiliki segalanya, tidak mungkin tidak ada yang mau denganmu. Bahkan cinta yang tidak kamu harapkan sekalipun, akan hadir untuk menyambut hatimu. Yang harus kamu lakukan adalah bersihkan hatimu dari segala masa lalu dan juga kebencian," kata Mama Natalie.


"Kita sama-sama kehilangan. Kita sama-sama mengundur rencana bahagia. Kita sama-sama terbuai akan ambisi. Kita bisa memutuskan segala sesuatu dengan cepat tapi kita tidak bisa membuat sesuatu yang sudah terjadi menjadi tidak terjadi apa-apa. Semuanya sudah terlambat dan bahkan hati kita sudah sama-sama terbuang. Jangan kembali ke masa lalu atau bahkan memaksa membawa masa lalu ke masa depan kita. Bukan move on yang harus kita lakukan tapi ikhlas," kata Radit.


Calista meraih ponselnya dari atas nakas lalu mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya.


Ramon, kita perlu bicara. Jam 8 malam, aku tunggu di cafe biasa.


Sambil menunggu pukul 8 malam, Calista memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak.


Di dalam Cafe yang begitu lengah. Calista tidak menyangka bahwa Ramon akan datang terlebih dahulu.


"Apa kau terlalu bersemangat saat aku mengatakan ingin bertemu denganmu?"


"Sangat. Aku sangat bersemangat dan bahagia," ucapnya dengan senyuman yang lebar. "Ada apa, Cal? Kau ingin bertemu denganku,"" tanyanya tidak sabar.


"Bantu aku," ucapnya.


"Kau membutuhkan bantuan apa, katakan!" Ramon terlihat khawatir.


"Bantu aku. Bantu aku untuk bisa mencintai kamu."


Ramon yang mendengar perkataan dari Calista merasa terkejut. Dia tidak menyangka bahwa wanita yang dicintainya, hari ini hatinya sudah luluh untuk bisa menerimanya.


"Are you serious?" tanyanya dengan berbinar.


"Yes. I'm very serious."


.


.


.


.


Jangan pada suudzon lagi ya sama Calista, hehe.