
Hari ini rencananya Reyhan akan mengajak Anya ke klinik terdekat. Reyhan tentu khawatir dengan kondisi Anya semalam. Karna di desa ini tidak ada klinik yang buka 24 jam , jadi terpaksa pagi ini Reyhan akan memeriksakan kondisi Anya.
Wanita itu tengah mandi sedangkan Reyhan sudah selesai mandi dengan memakai kamar mandi luar. Reyhan merasa khawatir karna Anya sangat lama sekali di dalam kamar mandi.
"Anya... kau lama sekali ,kau tidak apa-apa kan?" tanya Reyhan seraya mengetok pintu kamar mandi.
"Iyaaa.. tidak apa-apa ,bisakah Kakak keluar kamar?" teriak Anya dari dalam kamar mandi.
"Apa?? kau mengusirku? Baiklah aku akan keluar. Jangan terlalu lama ,kita akan ke klinik." Reyhan pun berlalu keluar kamar.
Perlahan Anya membuka pintu ,masih di balik pintu kamar mandi ,Anya mengecek apakah benar Kak Rey sudah keluar.
"Aman..." leganya Anya. Saat ini Anya hanya memakai handuk yang dibalutkan ditubuhnya. Panjang handuknya hanya sebatas setengah pahanya. Ia lupa untuk membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.
Perban yang ada di lututnya hampir terlepas. Anya pun mengganti perbannya dulu sebelum ia memakai baju. Cukup sulit mengganti perbannya sendiri ,apalagi dengan ia masih memakai handuk. Lilitan handuk bagian atas pun sering melorot karna ia banyak bergerak. Masih lumayan sakit luka yang ada di lututnya.
Anya pun inisiatif memakai pakaian dalamnya dulu ,lalu melanjutkan memperban lukanya. Handuk ia taruh begitu saja diatas kasur ,ia beralih ke sofa dengan kaki berselonjor.
Ceklek. Pintu terbuka. Menghadirkan Reyhan yang terkejut dengan apa yang ia lihat ,matanya membola penuh. Anya yang menyadari kehadiran Reyhan pun langsung berteriak histeris.
"Aaaaa....... " tangannya berusaha menutup bagian sensitifnya. Tidak ada yang bisa ia pakai untuk menutupi tubuhnya karna handuknya berada di kasur , jangkauannya jauh.
"Nih.. pakai" Reyhan mengambil handuk yang tergeletak diatas kasur dan memberikannya kepada Anya.
"Kau..." pipi Anya memerah ,ia tentu sangat malu saat Reyhan melihatnya hanya memakai pakaian dalam.
"Apaa... kau kenapa memperban kakimu sendiri." Reyhan pun berlutut mengecek lutut Anya. Lelaki itu tidak sabar menunggu Anya ,ia kira wanita itu sedang berdandan makanya lama sekali dan akhirnya ia putuskan masuk kedalam kamar.
"Kan sudah ku bilang ,tunggu diluar." Anya tidak menjawab pertanyaan Reyhan ,ia masih mempermasalahkan kenapa Reyhan menyelonong masuk kedalam kamar saat ia belum berpakaian lengkap.
"Kau lama sekali ,aku kira kau sedang berdandan. Lagi pula kenapa pintunya tidak kau kunci. Dasar ceroboh." Anya pun merasa perkataan Reyhan ada benarnya ,mengapa ia tidak mengunci pintunya saja. Dia tidak berpikir sampai kesitu.
Tidak dipungkiri Reyhan pun menelan ludah saat melihat Anya hanya memakai pakaian dalamnya saja. Ia lelaki normal bukan? Ia juga punya nafsu. Melihat wanita seperti itu saja sudah membuat pikirannya berfantasi.
Reyhan mengambil kotak obat dan melanjutkan memperban lutut Anya. Tentu dengan posisi Anya yang berada diatas sofa dan hanya memakai handuk ,membuat pahanya terekspos bebas. Terdapat celah sedikit diantara kedua paha Anya ,Reyhan bisa melihat warna dalaman Anya yang berwarna peach.
"Tidak-tidak ,apa yang kau pikirkan Reyhan. Dia hanya menggodamu." (dalam hati Reyhan)
Kepala Reyhan mendadak pusing. "Sudah ,kau cepatlah pakai baju ,aku tunggu di ruang makan," Reyhan pun berdiri dan berjalan keluar setelah menaruh kotak obatnya di tempat semula.
Anya menghentak-hentakkan kakinya sambil menutup wajah. Rasa malu masih mengalir ditubuhnya. Tak ada lelaki manapun yang pernah melihat tubuhnya hanya dibungkus pakaian dalam. Pada saat ia kecil mungkin orang tuanya yang melihat. Namun setelah dewasa ,ia sangat menjaga attitude-nya sekali. Dengan Radit pun ,tak pernah membawa nafsu didalam hubungannya. Hanya pernah berciuman ,itupun hanya sekali.
**
"Harusnya gak perlu ke klinik Kak. Aku sudah merasa baikkan." Anya mulai membuka obrolan ,sesudah kecanggungan yang cukup lama terjadi diantara mereka.
Reyhan hanya diam saja ,ia sibuk menyetir karna jalanannya sangat rusak ,belum lagi banyak para warga yang berjalan disepanjang pinggir jalan. Harus terus konsentrasi ,karna jalannya pun sempit.
"Kak.." Anya berasa dicueki.
"Hem" jawab Reyhan acuh.
"Sudahlah diam ,atau kau mau aku turunin disini?"
Anya memasang wajah sebalnya. Kejadian kemarin saja sudah membuatnya sedikit trauma ,ia tak mau lagi berjalan-jalan di desa ini sendirian. Bisa-bisa ia tak bisa pulang.
"Oh yaa.. kau belum cerita. Apa yang terjadi kemarin? Kenapa kau bisa sampai ditempat itu dengan keadaan tak sadarkan diri?" tanya Reyhan dengan sesekali melirik Anya.
"Oh itu... Hm aku iseng aja."
"Iseng apa ? Kau jelaskanlah lebih rinci," Reyhan pun tak sabar mendengar penjelasan Anya.
"Iya aku gak tau."
"Apanya yang gak tau? Kau kan yang mengalaminya," Reyhan rasa Anya sangat berbelit-belit.
"Iya tiba-tiba pingsan aja gitu."
"Ya maksudnya sebelumnya ada kejadian apa ,kenapa kau bisa pingsan?" Reyhan merendahkan suaranya ,berharap Anya mau memberitahu lebih jelas.
"Sudahlah Kak ,tak perlu dibahas. Intinya aku baik-baik aja sekarang."
Anya tidak mau menceritakan sebenarnya apa yang terjadi padanya kemarin. Cukuplah itu menjadi pengalaman dan pelajaran bagi Anya. Agar tidak berkeliaran di suatu tempat yang belum pernah dikunjungi ,apalagi sendirian.
Walaupun Reyhan masih penasaran ,tp ya sudahlah. Memang benar ,yang penting Anya sekarang dalam keadaan baik-baik saja.
**
Matahari semakin memancarkan sinarnya. Pertanda hari sudah semakin siang. Keadaan yang memang ingin Reyhan hindari.
"Gara-gara kau lama ,jadi ngantrinya panjang begini," Reyhan dibuat kesal karna klinik satu-satunya di desa itu sudah ramai pasien. Harusnya pagi-pagi sekali mereka kesini ,agar antrian tidak sepanjang ini.
Dan fasilitas tempat duduk yang tersedia pun sangat sedikit ,banyak para pasien yang harus mengantri sambil berdiri. Tak terkecuali Reyhan dan Anya.
"Kita pulang aja yuk ,Kak," rengek Anya sambil mengayunkan jaket yang dipakai Reyhan. Sudah hampir 1 jam mereka mengantri. Sesekali Anya mengeluh kakinya yang pegal. Walaupun saat ini mereka sudah mendapatkan kursi duduk ,namun Anya merasa jenuh.
"Antrian nomor 37." Terdengar panggilan untuk pasien dengan nomor antrian 37. Artinya tinggal 2 pasien lagi , mereka akan dipanggil.
"Sabarlah sedikit , sebentar lagi." Reyhan menenangkan Anya. Lelaki itu harus memastikan bahwa Anya dalam keadaan baik-baik saja dan juga luka dilututnya haruslah mendapatkan pengobatan yang benar oleh dokter.
Anya menyandarkan punggungnya dikursi sambil mengamati beberapa orang yang lalu lalang didepan matanya. Ada seorang kakek-kakek yang jalannya sudah bungkuk dan dibantu jalan oleh anak ataupun cucunya ,juga anak kecil yang menangis ,bahkan juga ada anak remaja yang wajahnya berseri dan terlihat perutnya sedikit buncit. Hamil? Anak seusia dia sudah menikah?
Lalu apa kabarnya denganku ? (dalam hati Anya)
.
.
.