Temporary Wife

Temporary Wife
Calista Kembali



.


Deg


.


Jantung Anya seketika mencelos. Kepalanya seketika berputar penuh dengan nama wanita yang baru saja keluar dari mulut wanita yang ada dihadapannya. Tenggorokannya terasa kaku , lidahnya mendadak kelu ,bahkan tangannya seperti tak bernyawa untuk menyambut uluran dari tangan wanita anggun itu.


Calista merasa bingung dan sakit hati karna tangannya yang sudah terulur tak juga menerima sambutan pada wanita yang berpenampilan jauh berbeda dengannya. Calista menarik kembali tangannya ,wajahnya kesal ,dia merasa diinjak harga dirinya. Calista berdiri ,wajahnya mendadak merah padam.


Calista menunjuk wajah wanita dihadapannya dengan jari telunjuknya yang lentik. "Hey.. sombong sekali kau ,tidak menyambut baik uluran tanganku." Calista melengos ,wanita itu benar-benar marah. Saat tak mendapat jawaban apapun dari wanita berpenampilan biasa yang hanya diam membisu.


"Ma-ma-af ,a-ku minta maaf," Anya berusaha mengeluarkan suaranya yang mendadak hampir hilang.


"Calista..." semua kepala menoleh kesumber suara. Reyhan yang baru saja dari kamar ,menyusul sang istri yang tidak juga kembali. Ia merasa penasaran akan siapa sosok tamu yang datang ke apartemennya.


"Darling...." Calista melangkahkan kakinya ingin mendekat ke Reyhan. Namun sebuah tangan mencekalnya ,mencekal lengan Calista yang sangat putih. Anya menahan Calista agar tidak mendekat ke suaminya. Calista melirik lengannya yang dengan kurang ajarnya dipegang oleh seorang bawahan.


"Berani sekali kau..." Calista menepis kasar lengan yang dipegangnya. Memberi tatapan tajam.


Reyhan tiba-tiba langsung menarik Calista keluar. Tidak ingin terjadi keributan didalam ,takut jika Qilla melihatnya. Anya mengekori langkah suaminya yang menyeret Calista keluar.


Anya bersembunyi dibalik dinding. Saat Reyhan berhenti dilorong yang berada dilantai apartemen.


"Kau kenapa kesini ,tidak memberitahuku dulu?" ucapnya dengan suara membentak. Reyhan sudah mengabaikan Calista selama ini. Tapi ,Calista malah kembali dan tiba-tiba datang ke apartemennya.


"Surprise Darling... Aku sangat merindukanmu," Calista ingin memeluk Reyhan ,namun lelaki itu menghindar.


"Pulanglah.." Calista merasa terkesiap atas pengusiran yang secara halus keluar dari mulut kekasihnya.


"Kenapa kau mengusirku? Harusnya aku yang marah ,kau sekarang berubah. Dan--- ," kalimatnya terputus. Calista tiba-tiba menangkap sesuatu yang aneh. "Siapa wanita itu ?"


"Kita bicarakan nanti ,sekarang kau pulanglah. Pulang dulu ke rumahmu ,ibumu pasti sangat merindukanmu," lelaki itu berbicara tanpa memandang Calista. Membuat wanita anggun itu berkaca-kaca. Ia memutuskan untuk kembali ke negara asalnya ,namun respon dari orang yang paling ia cintai tidak sesuai ekspektasinya.


"Baiklah ,aku tunggu penjelasanmu." Calista sangat menghargai keputusan Reyhan ,dia berharap ada kabar baik menantinya. Calista sangat yakin ,Reyhan sangat mencintainya. Ia menepis semua pikiran negatifnya dan soal wanita berpenampilan biasa itu , Calista tidak menghiraukannya.


Calista berlalu meninggalkan Reyhan yang masih berdiam diri ditempat. "Apa kau tak ingin mengantarku sampai kebawah?" Calista memohon namun Reyhan menggeleng. Ia beralasan akan segera ke kantor.


"Kak Rey," Anya yang memang menunggunya dibalik tembok ,seketika menghampiri lelaki itu. Mereka saling tatap. Beribu macam pertanyaaan terkumpul dikepala Anya. Hingga ia bingung ,mana dulu yang harus ia tanyakan kepada suaminya.


"Anya.. kau tenang saja ,jangan berpikiran yang macam-macam," Reyhan seperti menenangkannya. Namun ketakutan kini menyergap Anya ,ia takut lelaki itu akan meninggalkannya setelah kekasihnya kembali.


"Kak... dia sudah kembali. Sepertinya aku harus mempersiapkan diri mulai sekarang," ucapnya dengan nada bergetar. Dadanya sesak ,walau belum tau keputusan apa yang akan Reyhan ambil. Namun Anya sadar diri ,dirinya tidak sebanding dengan Calista.


"A--" perkataan Reyhan terpotong saat gadis kecil itu menghampiri mereka.


"Mamih..." suara Qilla menghentikan pembicaraan mereka. Gadis kecil itu berlari ke arah Anya.


"Sayang.. kau sudah bangun," Anya meraih badan mungilnya dan menggendongnya.


"Sedang mencari angin saja ,sayang. Ayo kita masuk." Reyhan mengajak istri dan anaknya untuk kembali ke apartemen.


***


Anya sedang duduk merenung diatas ranjang. Setelah menidurkan Qilla ,ia kembali ke dalam kamar. Ia berniat ingin tidur siang juga ,namun ia kembali terpikirkan akan Calista. Ia tahu ,ini pasti akan terjadi. Namun ,ia rasa ini terlalu cepat saat hatinya belum siap untuk melepaskan suaminya.


Anya memang tidak pernah menginginkan pernikahan ini ,namun karna bujukan orang tuanya akhirnya ia mau. Setelah pernikahan ini terjadi ,ia sudah berjanji akan mempertahankan. Walau saat itu hatinya belum untuk suaminya. Dan saat ini sepertinya hatinya sudah sepenuhnya berpindah tuan. Anya memandangi cincin yang melingkar dijari manisnya ,cincin yang dipasangkan Reyhan saat hari pernikahan. Juga sebaliknya ,ia memasangkan cincin yang sama dijari manis Reyhan. Tapi Anya tidak pernah sadar ,apakah Reyhan selama ini memakai cincin pernikahan mereka atau tidak.


"Aku harus melihatnya nanti saat dia pulang," ucapnya dalam hati. Besar harapannya jika Reyhan selalu memakai cincin pernikahan mereka. Seulas senyuman yang berupa harapan kini terukir manis dibibirnya.


Ponselnya berbunyi ,ada pesan masuk.


Anya ,Kakak akan pulang terlambat nanti. Jangan menungguku ,makan malamlah dulu bersama Qilla dan juga tidur duluan.


Anya tidak membalas pesan dari suaminya. Ia langsung berpikir ,mungkin Reyhan akan menemui Calista. Dadanya mulai sesak kembali saat pikiran negatif itu mulai bersarang lagi dikepalanya.


Sampai malam hari tiba ,Anya masih menunggu suaminya didalam kamar. Meskipun jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam. Namun ia tak merasa mengantuk sedikitpun. Melihat suaminya pulang dengan selamat , itu hal yang ia harapkan. Apalagi bisa melihat wajah tampannya yang selalu membuat dirinya mabuk.


Pintu apartemen terbuka. Anya turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya.


"Kau belum tidur?" tanya Reyhan yang terlihat sangat letih.


"Bagaimana aku bisa tidur ,sedangkan suamiku saja belum pulang," tangannya bergerak mengambil tas kantor suaminya dan meletakkan pada tempatnya. Tanpa disuruh Anya juga membantu melepaskan dasi suaminya yang sudah sedikit berantakan. Reyhan tak henti menatap wajah Anya dari jarak yang lumayan dekat ,bibirnya ,matanya ,hidungnya sangat minimalis namun terlihat manis.


Tidak biasanya Anya melakukan hal semanis ini. Bahkan ia tanpa malu melepaskan kemeja suaminya sampai badan bagian atasnya terlihat sempurna tanpa penutup.


"Apa kau ingin juga membantuku membuka celana?" tanya Reyhan saat Anya sedang meletakkan kemejanya pada kranjang kotor dipojok kamar.


"Buka sendiri ,aku mengantuk," Reyhan tidak melepaskan Anya ,ia menarik Anya yang ingin naik keranjang.


"Nanggung ,cepat buka," pipi Anya merah merona. Ia tak mengira suaminya akan meminta hal seperti itu. Reyhan tertawa dalam hati ,melihat Anya seperti malu-malu.


Tangan Anya tidak bergerak sedikitpun ,ia hanya menunduk sedari tadi.


Reyhan mengarahkan tangan Anya ke ikat pinggangnya ,namun dengan cepat Anya melepaskan tangannya yang sudah menempel ke ikat pinggangnya.


"Aku tidak mau !" seru Anya. Dan langsung naik ke ranjang , menutupi seluruh badannya dengan selimut.


.


.


.


.


.