
Hari-hari Anya dipenuhi dengan tangisan baby Gavin juga Qilla yang sering merengek minta sesuatu kepadanya. Saat Gavin sudah tertidur, Qilla langsung bereaksi. Dia langsung menghampiri sang Mamih untuk sekedar minta disuapkan makanan atau pun mengajaknya bermain sebentar. Mbak Ratna yang selalu menjadi teman bermainnya kini lebih sibuk untuk menjaga Gavin. Takut-takut jika bayi itu terbangun, dia yang akan menggendong untuk menenangkannya. Dia akan memanggil majikannya jika tangisan Gavin tidak kunjung mereda.
Siang hari ini cukup panas. Ventilasi yang terbuka dibeberapa sisi tidak membuat udara didalam rumah itu menjadi sejuk.
"Mamih, Qilla haus." Anya langsung beranjak bangun. Saat dia akan ke dapur, dia mendengar tangisan Gavin. Dia menoleh ke belakang, putrinya pun ikut memandang kearahnya. Paham akan maksud dari tatapan Mamihnya.
"Mamih mau ke adik Gavin?" Mata mungilnya terlihat kecewa. Tapi tiba-tiba putrinya itu tersenyum. "Adik Gavin pasti haus, sama seperti Qilla," ucapnya dengan suara imut.
"Nona Qilla, ini Bi Nah buatin jus strawberry kesukaan Nona." Kedatangan Bi Nah membuat Anya merasa lega untuk meninggalkan Qilla.
"Terima kasih, Bi."
"Iya Nona. Cuacanya memang sedang panas ya. Bibi juga dari tadi merasa haus terus."
Bi Nah berusaha mengajak Qilla berbincang. Mengalihkan perhatian dari putri majikannya. Walaupun mata gadis kecil itu tak hentinya memandang ke arah Anya yang berjalan tergesa.
"Gavin sayang ... cup cup. Haus ya, sayang?" Mbak Ratna langsung memberikan Gavin yang sedang digendongnya.
"Mbak Ratna temenin Qilla dulu. Nanti kalau dia sudah capek bermain, ajak dia tidur siang."
"Baik, Nyonya."
Tangisan Gavin berhenti saat Anya memberikan ASI. Biasanya Gavin akan tertidur kembali, tapi kali ini dia tidak tertidur. Saat Gavin dibaringkan di ranjangnya pun, dia terlihat sangat tenang. Memang benar kata Mama, Gavin ini seperti Reyhan kecil. Garis wajahnya sangat mirip dengan Reyhan.
"Gavin ... gak mau bobo ya, sayang?"
Tiba-tiba perut Anya keroncongan. Dia bahkan melupakan dirinya yang dari tadi belum makan siang. Dia hanya memakan roti saat tadi pagi. Bi Nah sudah menawarkan untuk mengambilkan makanan tapi Anya selalu menolak.
"Gavin ... Mamih lapar. Sama Mbak Ratna dulu ya?"
Saat Anya akan keluar kamar, si kecil Qilla ternyata sudah berdiri didepan pintu.
"Sayang, kok disini. Kenapa gak masuk?"
"Qilla baru saja sampai kok, Mih." Qilla melirik Gavin yang sedang digendong Mamihnya. "Mamih mau kemana?"
"Mau ke Mbak Ratna. Mamih mau makan dulu. Jadi, Gavin sama Mbak Ratna dulu. Qilla juga boleh ajak main Gavin. Lihat nih, Gavin gak nangis."
"Qilla mau cium Gavin," pintanya. Anya sedikit menunduk untuk memudahkan Qilla mencium pipi Gavin.
CUP!
Qilla bersorak senang saat berhasil mencium adiknya. Tapi tiba-tiba Gavin pun menangis. Senyuman Qilla pun memudar. Dia kesal, dan langsung berlari. Dia berpikir bahwa Gavin tidak ingin diciumnya.
"Qilla ...." Anya berusaha memanggil putrinya juga menenangkan Gavin yang tiba-tiba menangis.
"Cup ... cup ... Gavin, Gavin sayang." Anya mengayunkan Gavin sambil menepuk-nepuk badannya. Anya memang harus banyak belajar untuk mengurus baby Gavin. Saat Gavin masih berumur 1-2 minggu, Bunda memang tinggal disini. Tapi setelah itu, Bunda sudah kembali ke rumah. Dengan sesekali hanya Mama yang mengunjunginya. Dan adanya Mbak Ratna juga sangat membantu Anya dalam mengurus baby Gavin.
"Nyonya ... maaf saya baru saja dari toilet. Nona Qilla kemana ya, Nyonya? Saat saya kembali ke ruang tengah, Nona Qilla sudah tidak ada." Mbak Ratna terlihat kebingungan.
"Qilla mungkin ke kamarnya, Mbak. Coba cari kesana."
Saat Mbak Ratna akan beranjak pergi, tiba-tiba saja dia memundurkan langkahnya. "Maaf Nyonya. Gavin menangis, mungkin saja diapersnya penuh."
Sambil mengganti diapers baby Gavin, Anya teringat dengan Qilla. Putrinya pasti akan salah paham. Ketidaktahuannya tentang tangisan baby, membuatnya merasa bodoh sendiri.
"Nyonya ... Anda belum makan siang. Gavin biar saya saja yang gendong."
Bi Nah memang penyelamat. Tadi saat tidak tega meninggalkan Qilla, Bi Nah tiba-tiba datang mengalihkan perhatian Qilla. Dan saat ini, dia yang sudah menahan lapar sejak tadi akhirnya bisa mengisi perutnya yang kosong.
"Terima kasih, Bi," ucapnya disela-sela makan. Bi Nah mengantarkan makanan ke kamarnya. Karna dia tahu bahwa majikannya pasti lapar. Wanita yang sedang menyusui harus banyak makan agar produksi asinya lancar.
"Nyonya tidak perlu berterima kasih, ini sudah tugas saya. Nyonya kalau lapar bilang saja. Ini tidak baik untuk kesehatan Nyonya juga Gavin. Mengurus dua anak memang sangat sulit, Nyonya. Apalagi satunya balita yang satunya seorang bayi."
"Iya, Bi."
***
Malam hari berikutnya. Kejadian yang sama terulang. Qila datang ke kamar Papih dan Mamihnya untuk sekedar memegang tangan Gavin yang sudah tertidur. Qilla tidak lagi tidur dengan mereka berdua. Dia sudah cukup mengerti untuk tidak merepotkan atau pun mengganggu istirahat Papih dan Mamihnya. Walaupun Reyhan dan Anya senang jika Qilla tidur bersama mereka.
"Qilla, mau tidur bareng Mamih?"
Gadis kecil itu menggelang. "Tidak, Mih," ucapnya kemudian.
Tiba-tiba Gavin terbangun dan menangis. Qilla memundurkan tubuhnya untuk memberi jalan Mamihnya. "Cup ... cup. Gavin sayang ... lihat nih ada kakak Qilla."
Anya duduk diatas ranjang, dan perlahan Qilla menghampiri Mamihnya. "Hai ... Gavin," sapanya hangat. Tangisan Gavin memang tidak terlalu kencang. Hanya merengek pelan. Tapi saat mata Gavin bertemu dengan mata Qilla, baby Gavin tiba-tiba terdiam. Mereka seperti saling menatap satu sama lain. Qilla menggenggam tangan baby Gavin dan tersenyum hangat.
"Mamih, adik Gavin sudah tidak menangis. Apa dia suka kehadiran Qilla?"
"Baby Gavin sepertinya ingin bermain dengan kakak Qilla," ucap Reyhan.
"Gavin, cepatlah besar. Kakak akan mengajakmu bermain."
Anya merasa terharu. Bahwa keluarga kecil mereka akan berakhir bahagia seperti ini. Dia pikir pernikahan yang mereka jalani tidak akan bisa sampai sejauh ini. Tidak pernah terpikirkan bahwa dirinya bisa mempunyai suami seperti Reyhan. Putri secantik Qilla. Juga baby Gavin yang sudah dia lahirkan hasil dari pernikahan mereka berdua. Pernikahan yang dia harapkan akan terjadi sekali seumur hidupnya, nyatanya terkabul. Anya sangat bersyukur sekarang. Buah kesabaran juga keteguhan hatinya untuk menjaga pernikahan mereka.
***
Seorang pria dengan setelan jas yang rapi melangkah ke sebuah gedung bertingkat dengan wajah yang datar. Tak ada senyuman yang menghiasi wajahnya kali ini. Bahkan ditatap orang-orang di gedung itu dengan heran. Bagaimana mungkin pria itu tidak tersenyum di hari bahagianya?
"Selamat, Tuan."
"Selamat."
"Selamat, Tuan Radit."
Seluruh orang yang menghadiri acara itu, memberikan ucapan selamat.
.
.
.
.