
Seorang pria dengan wajah iba terus menatap pintu ruangan yang masih tertutup rapat. Apa yang telah terjadi hari ini, memang sudah dia perkirakan sebelumnya. Dia merasa marah sekaligus kecewa tapi jauh di lubuk hatinya perasaan sedih yang lebih mendominasi. Tangannya tidak lepas untuk menggenggam jari jemari istrinya yang terlihat sangat kacau.
"Sayang ... apa yang kau tangisi? Apa kau merasa menyesal sekarang?"
Anya menoleh pada sang suami. Pria itu menatapnya dengan dalam. Ada sesuatu hal yang membuat dirinya merasa sangat bersalah kali ini. Wanita itu secara tidak langsung membuat perasaan suaminya menjadi kecewa. Suaminya melihatnya sedari tadi yang tak berhenti menangis sejak kedatangan mantannya itu. Tentu Reyhan sangat cemburu, untuk apa istrinya menangisi orang yang sudah membuatnya kecewa.
"Kau bicara apa, Bee? Aku bukan menangisi Radit. Aku hanya ... aku---"
Anya tidak sanggup menjawab. Terlalu banyak yang dia fikirkan.
"Kau masih menyimpan perasaan untuknya?"
"Jangan bicara omong kosong!" sergahnya cepat. "Aku hanya takut jika semua orang nanti akan marah kepadaku. Membuat kedua saudara yang akan bertengkar gara-gara seorang wanita. Aku--" lagi-lagi Anya tidak bisa melanjutkan perkataannya. Dia sangat terpukul hari ini. Apalagi melihat Radit yang tidak sadarkan diri. Dia takut pria itu kenapa-kenapa. Bukan rasa takut sebagai orang yang terkasih tapi takut sebagai kakar ipar yang baik.
"Siapa yang akan marah? Ini semua karna keputusan Radit sendiri. Tentu bukan kamu yang salah." Reyhan mengusap sisa air mata di pipi istrinya dengan lembut. Membawanya dalam pelukan yang hangat. Wanita itu mengangguk, ucapan Reyhan ada benarnya.
"Jangan memikirkan yang tidak penting. Yang harus kau fikirkan sekarang adalah calon bayi kita," tunjuknya pada perut Anya. Wanita itu akhirnya bisa tersenyum kembali saat mengingat calon bayi yang ada di dalam kandungannya. Dan pintu ruangan pun terbuka. Reyhan menghampiri sang dokter dan menyuruh istrinya untuk duduk saja.
"Bagaimana dok, adik saya kenapa?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tuan Radit hanya kelelahan saja dan sekarang sudah sadar. Dia ingin bertemu dengan Nona Anya, apa dia ada disini?" Kepalanya menoleh pada sang istri yang duduk agak jauh dari tempatnya berdiri. Reyhan ragu-ragu untuk memanggil istrinya. Dan pada akhirnya dengan kelapangan dadanya dia membiarkan istrinya bertemu dengan adik iparnya.
Senyuman yang sama, senyuman yang selalu dia lihat saat mereka masih bersama. Radit menyambut kedatangan Anya dengan senyuman yang merekah. Sejenak melupakan bahwa Anya sedang hamil anak dari kakaknya sendiri.
"Kau habis menangis? Menangisi aku?" tanyanya dengan percaya diri. Anya menggeleng cepat. Wanita itu berjalan menghampirinya dan berhenti agak jauh dari ranjang Radit. Pria itu terlihat kecewa saat Anya tidak mau lebih dekat dengannya.
"Anya ...." terlalu canggung saat memanggilnya dengan sebutan nama. Radit sudah lama tidak memanggilnya dengan sebutan itu. Pria itu selalu memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.
"Anya, aku ingin kau mendengarkan perkataanku saja. Kau tidak mau meresponku tidak apa-apa."
Dengan ragu-ragu Anya mengangguk. Anya juga merasa canggung. Wajahnya menunduk tapi sesekali melirik ke arah adik iparnya yang terlihat lemas di atas ranjang.
Radit menarik napasnya dalam-dalam. Bayangan saat masih bersama Anya dulu melintas di kepalanya. Ditatapnya wanita itu yang sekarang bertambah cantik tapi terlihat sedikit gemuk. Walaupun begitu, malah cantiknya bertambah.
"Anya ... aku minta maaf." Radit beranjak duduk, Anya ingin membantu tapi dirinya urungkan. "Apa aku terlihat menyedihkan hari ini?" ucapnya kembali.
Anya memberanikan diri untuk menatap Radit. Wajahnya terlihat sangat pucat. Dia sangat merasa kasian dengan mantannya itu. Tapi dengan cepat-cepat menepis semua rasa iba itu. Anya tidak boleh larut dalam kesedihan lagi. Apa yang sudah terjadi tidak pernah dia sesali.
"Radit, apa yang ingin kau katakan. Cepatlah. Aku tidak nyaman berada dalam satu ruangan denganmu. Ini tidak baik, apalagi aku sudah mempunyai seorang suami."
DEG.
Hati Radit mendadak sangat sakit. Tidak pernah terfikirkan kalau Anya wanita pujaannya telah benar-benar melupakan dirinya. Melupakan bahwa mereka pernah menjalin sebuah kisah cinta bersama. Melupakan tentang impian masa depan yang sudah tersusun rapi.
"Apa kau benar-benar sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadapku?" Dengan mata yang berkaca-kaca Radit menatap Anya yang mengalihkan pandangannya pada sisi pintu. Wanita itu terlihat gelisah. Takut-takut jika suaminya tidak sabar menantikan dirinya untuk segera keluar.
"Maaf Radit, aku tidak bisa lama-lama. Kau istirahat saja. Semoga cepat sembuh." Anya ingin beranjak pergi tapi dengan sigap Radit menahan tangannya. Dia turun dari ranjang dan membuat pergerakan Anya terhenti.
Braakkkhh...
Pintu ruangan dibuka dengan kasarnya. Reyhan yang sedari tadi menunggu istrinya keluar, sudah tidak sabar lagi. Dia tidak tenang saat istrinya sedang bersama Radit.
Reyhan mengepalkan tangannya saat melihat mereka berpegangan tangan. Anya langsung melepaskan tangannya dengan kasar, dia menghampiri sang suami sebelum dirinya berfikiran yang tidak-tidak.
Radit hanya bisa diam berdiri di tempat. Air matanya langsung menetes dengan dramatis.
Langkah mereka berdua berhenti saat berpapasan dengan Papa dan Mama. Sejenak Reyhan mengatur napasnya yang memburu, dia tidak mau terlihat seperti sedang marah.
"Bagaimana keadaan adik kamu, Rey?"
Mama terlihat begitu khawatir. Walaupun apa yang dilakukan putra keduanya membuatnya kecewa, tapi Radit tetaplah anaknya.
"Dia cuma kelelahan sekarang sudah sadar. Reyhan mau pulang dulu, kasian Anya dia harus banyak istirahat."
"Baiklah. Anya jaga kesehatan kamu ya, jaga juga kesehatan calon cucu Mama."
Anya hanya mengangguk. Sedangkan Papa hanya diam saja, raut wajahnya susah ditebak.
Saat Papa dan Mama masuk ke ruangan dimana Radit dirawat, mereka mendapati putranya sedang menangis. Mama langsung memeluknya dengan erat. Tentu seorang ibu tahu bagaimana perasaan putranya saat ini.
"Jangan menangis Radit. Tidak ada gunanya," kata Papa dingin.
Radit menatap Papa yang juga sedang menatapnya. Rasa kesal juga rasa iri kini semakin sangat dirasakannya.
"Semua gara-gara Papa!" seru Radit dengan lantang.
Papa menatapnya dengan tajam. Tidak percaya bahwa putranya telah berani berbicara tidak sopan dengannya.
"Radit, apa yang kamu katakan." Mama berusaha membuat Radit tenang. Membawa Radit dalam pelukannya kembali. Membuat emosi putranya mereda.
"Tidak ada gunanya kamu menyalahkan Papa terus," jawab Papa.
"Papa lebih menyayangi Kak Reyhan dari pada aku. Selalu membandingkan aku dengannya. Dan selalu memberikan fasilitas yang lengkap buatnya tapi tidak denganku!"
"Radit! Apa yang kau katakan tidak benar. Papa tidak pernah membandingkan kamu dengan kakak kamu. Kamu salah paham."
"Papa membantu dia untuk memiliki perusahaan sendiri. Tapi aku? Papa gak pernah peduliin aku. Papa bilang aku terlalu manja!"
"Ini yang Papa gak suka dari kamu. Kamu selalu gegabah dalam membuat keputusan. Kamu belum bisa mengontrol emosi kamu. Maka dari itu Papa belum bisa percaya sepenuhnya sama kamu dalam mengembangkan bisnis. Kamu masih harus banyak belajar dari kakak kamu."
Radit melengos kesal saat lagi-lagi Papa lebih membela kakaknya. "Radit, jangan dengarkan Papa kamu. Kalian semua anak kesayangan Papa dan Mama. Tidak ada orang tua yang pilih kasih," ucapnya setelah Papa keluar dari ruangan.
Semuanya sudah berakhir. Radit yang mengira Anya akan selalu mencintainya ternyata salah. Wanita itu bahkan bisa berpaling dengan cepat. Padahal dulu dia mendekati Anya dengan susah payah. Anya yang tertutup dan tidak mudah percaya dengan orang, sangat sulit ditaklukkan. Maka dari itu, Radit sangat percaya bahwa saat Anya menikah dengan kakaknya dia tidak mungkin jatuh cinta dengan Reyhan yang terkenal cuek dan dingin. Tapi nyatanya, semua salah. Anya telah jatuh cinta lagi dengan laki-laki lain dan melupakannya.
Terlalu sakit saat harus melihat Anya bersama lelaki lain yang sangat dekat dengannya. Anya akan jadi kakak iparnya selamanya. Hanya bisa melihatnya bersanding dengan kakaknya setiap hari dan tidak ada kesempatan lagi untuk memilikinya.
.
.
.
.
.