Temporary Wife

Temporary Wife
Kembali Ke Apartemen



Setelah beberapa hari menginap di rumah Papa dan Mama. Hari ini mereka berkemas untuk kembali ke apartemen. Reyhan merasa kesulitan jika terus di rumah orang tuanya , karena jarak kantor dan rumah orang tuanya lumayan jauh. Sangat menguras waktu dan juga tenaga.


"Mamih.. buatin susu," rengek Qila yang sudah mulai mengantuk. Ritual sebelum tidur memang Qila harus minum susu ,sudah kebiasaan saat ia kecil. Mereka tiba di apartemen saat jam menunjukkan pukul 8 malam.


"Iya sayang ,sebentar ya." Anya langsung pergi ke dapur ,membiarkan kopernya tergeletak diatas lantai.


"Mamih.. kok Papih lama sih."


"Papih lagi beli makanan ,sayang. Bentar lagi juga kesini," ucapnya lembut sambil membelai rambut Qila.


Reyhan terlihat menenteng beberapa kantong plastik. Ia memberikan kepada Mbak Ratna untuk disajikan.


"Qila mau langsung tidur? Gak mau makan dulu?" tanya Reyhan yang melihat segelas susu dihadapannya.


"Iya Pih , Qila sudah mengantuk," ucapnya dengan mata sayu. Setelah menunggu sebentar sampai susunya tidak terlalu panas ,Qila lantas langsung meminumnya. Dan segera masuk kamar dengan Mbak Ratna.


"Kau makan dulu ,Kakak mau ke toilet." Anya yang memang sudah merasa lapar akhirnya melahap makanan yang tersaji. Tanpa menyadari banyak saos yang menempel disekitar bibirnya.


Reyhan merasa terkejut saat melihat Anya makan dengan rakusnya. "Kau sangat kelaparan?"


"Hah? Tidak." Anya mengelak. Jelas saja dia kelaparan ,ia terakhir makan tadi siang itu pun sedikit karna tiba-tiba Mira menelfon dirinya karna ada masalah soal Butik.


"Belepotan," Reyhan menarik tisu dan memberikannya kepada Anya.


"Oh ,benarkah?" Anya menerima tisu pemberian Reyhan dan perlahan diusapkan ke sekitar bibirnya. Benar saja ,banyak saos yang tersapu oleh tisu itu.


"Pelan-pelan makannya." Reyhan pun duduk dihadapan Anya. Saat ini Anya merasa malu sekali , tidak berani menatap Reyhan. "Besok mulai berangkat ke Butik?" tanya Reyhan saat ia baru saja menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


Anya terlihat berpikir namun akhirnya ia menggeleng.


"Kau serius untuk mempercayakan orang mengurus butikmu?" tanya Reyhan dengan saksama.


Anya mengangguk. Namun terlihat anggukannya terasa berat.


"Jangan memaksakan," ucap Reyhan. Lelaki itu meletakkan sendoknya dan menatap erat-erat wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut. "Aku tidak mau kau merasa tidak nyaman dengan keputusanmu sendiri. Pikirkanlah lagi."


Kali ini Anya memberanikan diri untuk menatap Reyhan. Mereka saling pandang sekian detik. Namun Reyhan dengan cepat mengakhirinya. Lelaki itu merasa lemah jika ditatap Anya.


"Aku ingin jadi ibu yang baik dan.... istri yang baik." Reyhan mengangkat kepalanya kembali saat baru saja ia menunduk. Ia terkesiap mendengar ucapan dari Anya.


Anya terlihat tenang saat mengucapkannya. Tidak ada paksaan ataupun beban. Bahkan ia masih melanjutkan makannya. Sedangkan Reyhan seketika menghentikan aktivitas makannya.


**


Anya tiba-tiba terbangun tengah malam dari tidurnya. Ia melihat Reyhan sedang berdiri ditepi jendela. Pandangannya mengarah ke luar jendela ,entah apa yang sedang ia lihat.


"Kak Rey ,kau sedang apa ?" Anya bangun dan menghampiri suaminya. Ia juga penasaran apa yang sedang dilihatnya.


"Kau kenapa terbangun?" Reyhan segera menutup jendela ,karna udara malam sangat tidak bagus.


"Kakak sedang melihat apa?"


"Aku tidak sedang melihat apapun ,aku hanya iseng aja. Aku tidak bisa tidur."


"Kenapa?"


"Entahlah.." Reyhan mengajak Anya untuk kembali ke ranjang. Ia menyuruh wanita itu untuk tidur kembali. Namun Anya menolak , karna suaminya juga sedang tidak bisa tidur ,bagaimana ia bisa tidur dengan nyenyak. "Tidurlah ,apa kau ingin aku tidurkan?"


"Kau ingin tidur sendiri atau aku tidurkan?" tanyanya dengan senyuman yang Anya anggap mematikan.


"A-ku ti-dur sendiri saja.." Anya menarik selimut dan langsung memejamkan mata. Posisi tidurnya membelakangi suaminya. Belum lama menutup mata ,tiba-tiba sebuah tangan melingkar kebadannya.


"Diam ,aku hanya butuh ketenangan untuk tertidur," belum sempat Anya menghindar ,suara Reyhan sudah lebih dulu mengancamnya.


Reyhan memeluk Anya dari belakang. Menghirup aroma tubuh istrinya membuatnya candu.


Hingga pagi menjelang ,tangan Reyhan masih betah dalam posisi memeluk istrinya. Lelaki itu belum juga terbangun. Padahal Anya sudah sedari tadi membuka matanya ,namun ia kesulitan melepaskan pelukan suaminya. Ia takut membangunkan suaminya yang kurang tidur. Karna baru tertidur saat tengah malam.


Tok! Tok! Tok!


"Tuan ,Nyonya, diluar ada tamu."


Berkat suara Bi Nah yang cukup keras ,Reyhan akhirnya terbangun. Perlahan lingkaran tangannya terlepas dari tubuh Anya. Namun saat Anya akan turun dari ranjang ,Reyhan menarik tubuhnya. Saat ini tubuh mereka berhadapan ,Reyhan masih memejamkan matanya sedangkan Anya masih dibuat terkesiap atas perlakuan Reyhan.


"Kau mau kemana?" Reyhan memeluk Anya dengan erat. Menarik kepala wanita itu ke dada bidangnya. Anya merasakan hangat sekaligus nyaman. Jantungnya berdegup sangat cepat. Namun ,Anya tiba-tiba teringat ucapan Bi Nah.


"Kak ,lepasin. Kata Bi Nah ,diluar ada tamu."


"Kau jangan mencari-cari alasan. Tamu siapa pagi-pagi begini." Reyhan tidak melepaskan pelukannya. Ia bahkan memainkan rambut Anya yang harum.


"Aku tidak berbohong ,Bi Nah berkata seperti itu tadi." Anya juga penasaran ,siapa yang bertamu sepagi ini. Tidak mungkin orang tua Anya ataupun Reyhan. Jika iya mereka ,Bi Nah tidak mungkin menyebutkan sebagai tamu.


"Bilang saja kalau kau tidak mau aku peluk. Sudahlah sana pergi." Anya berjalan keluar kamar ,tidak menghiraukan Reyhan yang terus mengoceh.


Anya berjalan ke arah ruang tamu ,tapi sebelumnya ia bertanya kepada Bi Nah yang berada dapur bahwa siapa yang bertamu. Namun Bi Nah juga tidak tahu ,ia tak pernah melihatnya sebelumnya.


Dari kejauhan Anya merasa asing dengan sosok yang sedang duduk dengan anggunnya di sofa. Penampilannya sangat berkelas. Rambutnya tergerai sangat indah tanpa hiasan kepala ,wajahnya cantik dengan polesan make up yang tipis ,kulitnya putih bersih ,badannya ramping sangat terawat ,wanita cantik itu memakai dress diatas lutut berwarna biru soft. Tanpa memakai kalung hingga terlihat lehernya yang indah ,hanya memakai anting berbentuk mutiara kecil yang terlihat mahal.


"Maaf anda cari siapa?" tanya Anya yang saat ini dengan percaya dirinya masih menggunakan piyama tidur dengan rambut yang sedikit berantakan. Tidak menyangka jika tamunya adalah wanita yang super anggun. Anya kira yang bertamu orang-orang yang ia kenal. Jika begini ,ia malah malu terlihat sangat memalukan. Seperti 1 dibanding 100 ,soal penampilannya dengan wanita cantik itu.


"Kau siapa? Apa kau baby sitternya Qilla?" tanya wanita cantik itu yang melihat penampilan Anya seperti pembantu. Siapa lagi ada seorang wanita di apartemen ini kalau bukan seorang bawahan.


Anya merasa aneh dengan wanita cantik itu ,bahkan ia mengenal Qilla. Itu artinya ia memang kenal dengan keluarga ini. Anya sempat berpikir kalau tamunya ini mungkin salah masuk ruangan. Tapi dugaannya salah.


"Maaf ,anda siapa ya?"


"Jadi benar kau baby sitternya Qilla ?" wanita cantik itu akhirnya bisa tersenyum. "Kenalin ,aku Calista...Kekasihnya Reyhan." Wanita cantik itu mengulurkan tangannya dengan ramah.


.


.


.


.


.


.


.