
Malu. Itu yang Anya rasakan ,handuknya tidak diikat dengan benar. Tentu masih sedikit terlihat bagian dalamnya. Reyhan berjalan mendekat. Tatapan kagum terpancar dari bola matanya. Tiba-tiba lelaki itu memeluk Anya. Mencium aroma khas wanita setelah mandi. Baunya seperti candu.
Reyhan mengendurkan pelukannya. Lelaki itu mengamati tubuh Anya dari atas sampai ke bawah. Kimono yang baru setengah ia ikat ,menampak belahan dadanya yang menyembul ,lalu pusarnya juga terlihat ,dan bagian bawahnya ia sampai menelan ludah. Dibalik kimononya, tubuh Anya polos tak memakai apapun.
Hasratnya semakin memuncak. Reyhan menginginkannya. Sedangkan Anya hanya bisa diam. Wanita itu nyaman akan pelukan suaminya ,pelukan yang sangat menghangatkan baginya.
Tok.. Tok.. Tok
"Tuan.. ada Nyonya besar," suara Bi Nah menganggu suasana romantic yang telah mereka bangun.
"Cepat pakai baju," kata Reyhan setelah melepaskan pelukannya. Tangannya juga merapatkan kimono milik istrinya yang belum tertutup rapat.
**
"Anya... cantiknya menantu Mamah," Anya menghampiri mertuanya di ruang makan. Mereka bertukar rindu sebelum mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Mamih..." Qila berlari memeluk Anya.
"Sayang.... muah muah." Anya menghadiahi ciuman bertubi-tubi ke wajah gadis mungil itu.
"Mamih... Qila kangen," ucap Qila dengan polosnya.
"Mamih juga kangen sama kamu sayang ,maafin Mamih ya jadi ninggalin kamu."
"Tidak masalah Mamih ,Qila mengerti kok," ucapnya dengan sikap dewasanya.
"Hey... kenapa kata-kata itu terdengar seperti anak Mamih ini sudah beranjak dewasa?"
Qila menahan tawanya. "Aku bukan anak kecil lagi Mamih," ucapnya dengan senyuman melebar.
"Hmm.. baiklah." Anya mengalah.
Mereka berempat pun sarapan bersama.
"Mama kira saat mau kesini nganterin Qila ,kau berdua sudah berangkat kerja. Eh ternyata masih didalam kamar," kata-kata Mama terdengar seperti meledek. Namun Anya bersikap biasa aja. Tapi tidak dengan Reyhan.
"Hmm apaan sih Mama ,kita masih lelah Ma."
"Oh... masih lelah," jawab Mama lagi seperti menekankan.
"Mama...." Reyhan merasa terganggu dengan ucapan Mamanya.
"Kenapa Rey?" jawab Mama santai.
Reyhan hanya menghela nafas.
"Anya.. kamu hari ini mau ke Butik?" tanya Mama.
"Iya Mah ,banyak yang harus Anya urus."
"Tidak bisakah kamu berhenti bekerja dan tetap di Apartemen mengurus Qila ,Anya?" Setelah mereka selesai sarapan ,tiba-tiba Mama melontarkan pertanyaan tersebut ke Anya. Sedangkan Qila sudah kembali ke kamar , seperti biasa akan bermain bersama Mbak Ratna.
Anya kurang nyaman atas pertanyaan yang terlontar dari mulut mertuanya. Anya sadar ,saat menikah dengan Reyhan bukan hanya siap saja menjadi istri tapi juga harus siap juga sebagai ibu. Anya juga paham akan posisinya ,ia yakin bisa membagi waktunya dengan baik.
Walaupun terkadang ia pulang larut malam ,tapi ia masih menjaga komunikasi yang baik dengan Qila. Wanita itu juga menyayangi Qila ,sangat menyayangi. Qila seperti obat kesepiannya selama ini. Gadis mungil itu hadir disaat ia merasa menjadi orang asing didalam Apartemen ini ,tapi dulu. Saat ia baru saja menginjakkan kakinya disini.
"Maaf Ma ,tapi Anya harus tetap mengurus Butik," jawab Anya dengan hati-hati. Ia berusaha menjaga perasaan mertuanya.
"Kamu suruh orang aja untuk mengurusnya ,kamu hanya perlu mengecek saat-saat tertentu saja," usul Mama kemudian.
"Anya belum bisa mempercayakan Butik diurus orang lain ,Ma. Anya bisa kok membagi waktu ,untuk mengurus Qila juga."
"Ya sudah Anya ,tidak apa-apa kalau kamu gak mau nurut sama Mama. Tapi suatu saat, kalau kamu hamil. Tolong berhenti kerja."
Anya melirik ke Reyhan. "Iya ,Ma," jawab Anya pasrah.
**
"Berangkatlah denganku."
"Apa?" Anya menoleh ke arah suaminya. Mereka saat ini sedang berjalan beriringan menuju parkiran.
"Aku yang akan mengantar kamu ke Butik ,mulai sekarang."
"Hah?" Anya merasa kaget. Sejak kapan suaminya ini menjadi peduli dan perhatian seperti ini.
"Aku kan ada mobil sendiri ,Kak."
"Oke ,mulai sekarang mobil kamu akan aku beli." Reyhan menarik tangan Anya. Wanita itu pun mau tidak mau mengikuti langkah suaminya menuju mobil miliknya.
"Kak ,jangan cepat-cepat," keluh Anya yang merasa langka Reyhan dua kali lebih cepat dari langkahnya. Anya pun seperti terseret-seret.
"Kau lambat sekali," Reyhan pun sedikit melambatkan langkahnya. "Masuk," perintah Reyhan setelah membuka pintu mobilnya.
Anya pun hanya mendengus kesal. "Ini mah namanya pemaksaan," gerutu Anya.
"Kau bilang apa barusan?"
"Aku punya sopir pribadi sekarang ,syukurlah," ledek Anya dengan muka angkuhnya membuat Reyhan merasa gemas.
"Jadi aku ini dianggap sebatas sopir?" tanya Reyhan kembali.
"Sepertinya."
"Sepertinya bagaimana maksudmu?"
"Ya ,kau mau aku anggap apa? Kau mau mengantarkan aku ke Butik kan? Berarti sopir ,itu kan tugas seorang sopir."
"Tapi aku suamimu" Reyhan merasa tidak terima. Walaupun ia tahu ,Anya hanya sedang meledeknya namun ia merasa tidak suka.
"Suami ? Tapi aku gak pernah liat kamu melakukan tugas seorang suami."
Kata-kata Anya seperti pedang yang menusuk hatinya. Saat mendengarnya sungguh sakit bukan main. Tapi memang kenyataannya seperti itu. Selama ini berarti Anya merasa tidak dianggap sebagai seorang istri. Namun Reyhan juga merasa seperti itu.
Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Reyhan. Padahal Anya menunggu jawaban dari suaminya. Ia telah mengumpulkan keberanian untuk membuat suaminya sedikit mengerti.
Tas berwarna hitam polos yang besarnya seperti layar komputer ,Anya lemparkan begitu saja ke arah sofa yang berada di ruangannya. Bersamaan itu sang asisten bernama Mira , menghampirinya.
"Maaf Bu ,saya mau ngasih ini," tangan Mira memegang beberapa kertas. Mira melihat wajah atasannya yang terlihat kurang bersahabat.
"Taruh saja di meja ,aku mau ke toilet."
Anya berlalu meninggalkan Mira yang masih mematung disana.
Dipertengahan jalan hendak kembali ke ruangan setelah selesai dari toilet ,Anya mendengar sayup-sayup suara para karyawannya yang sepertinya sedang membicarakan seseorang. Ia berbalik dan mencari sumber suara ,ternyata suara itu berasal dari meja resepsionis.
Anya berjalan menghampiri para karyawan yang sedang berkumpul bergosip.
"Kalian kenapa pada ngumpul disini?"
Mereka langsung kebingungan mencari alasan. Karna ini masih jam kantor ,tentu Anya akan marah.
"Maaf Bu ,kami minta maaf," ucap salah satu karyawan.
"Kembali ke meja masing-masing." Mereka pun langsung lari terbirit-birit.
"Bu Anya ,ada yang ingin bertemu dengan anda," ucap resepsionis.
"Siapa?"
"Pak Reyhan ,Bu. Tadi barusan datang ,sekarang berada di lobby."
Semua karyawan Butik memang sudah tau kalau Anya sudah menikah. Menikah dengan Reyhan ,kakak dari Radit. Walaupun mereka tidak diundang Anya ke pesta pernikahan ,tapi Anya tetap memberitahukan.
Anya seperti mimpi ,bukankah tadi Reyhan baru saja mengantarkannya ke Butik. Kenapa dia kembali lagi kesini?
"Kak Rey," panggil Anya dengan wajah bingungnya sedangkan Reyhan hanya tersenyum menatapnya. "Ada apa kakak kesini ?Kakak gak ke kantor?" tanya Anya beruntun.
"Sebentar lagi jam makan siang ,aku mau ngajak kamu makan siang bersama. Bukankah seorang suami harus seperti itu?"
Memang saat mereka berangkat tadi, hari sudah menjelang siang. Pukul 10 mereka baru berangkat. Tapi alasan Reyhan sungguh membuatnya heran. Hanya ingin makan siang ,ia sampai kembali kesini ? Kenapa tadi gak sekalian ngomong aja.
.
.
.