Temporary Wife

Temporary Wife
Tentang Qilla



Malam yang begitu dingin, tidak membuat sepasang suami istri itu segera masuk kedalam kamar. Mereka berdua masih betah duduk di depan televisi. Anya dengan nyamannya bersender di bahu suaminya. Wanita itu juga sibuk memasukan cemilan kedalam mulutnya.


"Sayang, apa kau tidak mengantuk?"


"Tidak. Aku masih ingin menonton tv," jawab Anya dengan mulut yang penuh. Dia mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat wajah sang suami, nampaknya Reyhan sudah mengantuk. Tapi Anya benar-benar belum merasa mengantuk sama sekali.


"Sayang, sebaiknya kamu cepat istirahat saja. Ini sudah malam, tidak baik untuk kesehatan kamu dan juga calon anak kita." Reyhan membujuk. Pria itu merasa khawatir dengan kondisi Anya.


"Aku mau tidur kalau kamu jawab dulu pertanyaanku." Anya terlihat serius. Dia bangun dari posisi bersendernya dan menatap serius Reyhan. Bahkan dia menggeser duduknya agar leluasa menghadap Reyhan. Begitupun lelaki itu yang juga menggeser posisi duduknya. Mereka saat ini saling berhadapan.


"Mau tanya apa, sayang?" tanyanya lembut. Tangannya bergerak merapikan rambut istrinya yang sedikit berantakan. Tatapan memuja pada wajah sang istri yang menurutnya bertambah cantik setiap harinya.


"Bee, kenapa dulu kamu memutuskan untuk mengadopsi Qilla? Disaat kamu masih sendiri. Maksudku biasanya orang akan mengangkat anak jika mereka sudah berkeluarga dan susah mempunyai keturunan. Kenapa lelaki sepertimu yang masih lajang malah mengangkat seorang anak?"


Itu pertanyaan yang sudah lama bersarang di kepala Anya. Tapi dia tidak berani bertanya, karna tentu itu sangat sensitif. Dia tidak mempermasalahkan tentang status Qilla yang hanya anak angkat. Anya sangat sangat menyayangi Qilla, dia anak yang manis dan sangat penurut. Bahkan gadis kecil itu mampu membuatnya tersenyum setiap hari dengan tingkah lucunya dan juga tingkah gemasnya. Tapi dia juga ingin tahu alasan dibalik Reyhan kenapa bisa mengadopsi seorang anak.


Reyhan menelan salivanya dengan berat. Tidak ada yang salah dengan pertanyaan Anya. Siapa pun pasti akan merasa heran jika ada seorang pria lajang yang tiba-tiba mengangkat seorang anak.


"Sayang ...." panggilnya dengan lembut.


"Iya, Bee ...." Anya tidak sabar mendengar penjelasan Reyhan. Dia tampak serius menatap Reyhan yang sedang menatapnya dalam-dalam. Mereka berdua terdiam sesaat. Hingga pada akhirnya Reyhan mengajak Anya untuk kedalam kamar. Dia berjanji akan menjelaskan semuanya nanti didalam kamar.


Reyhan dengan mesranya menggandeng tangan Anya. Walaupun wanita itu sebenarnya was-was juga, karna takutnya bukan penjelasan yang keluar dari mulut suaminya tapi sebuah permintaan. Permintaan atas keinginan hasrat.


"Bee, kau akan menjelaskan semuanya, kan?" Setelah sampai didalam kamar Anya langsung menagih janji suaminya. Dia harus bergerak cepat, sebelum Reyhan berubah pikiran.


"Iya sayang, kenapa kau terlihat ketakutan?"


"Hah, tidak."


"Apa kau takut aku akan memintamu untuk--"


"Ssssttt ...." Anya menutup mulut suaminya dengan cepat. "Cepat jelasin, Bee," tagihnya tidak sabar.


Reyhan menarik napasnya dalam-dalam. Ini memang bukan sebuah rahasia. Tapi Reyhan tidak mau mengingat hal yang sangat menyesakkan dadanya.


"Qilla itu anak dari temanku."


"Lalu teman kamu dimana?" Anya tambah penasaran.


"Dia sudah meninggal. Qilla anak yatim piatu. Sebenarnya aku tidak ada niat untuk mengadopsi Qilla awalnya. Tapi entah kenapa gadis kecil yang waktu itu masih berumur 1 tahun menangis terus menerus saat orang tuanya meninggal karna kecelakaan. Waktu itu dia sedang dalam gendongan saudaranya, tapi gadis kecil itu masih juga menangis. Lalu aku mencoba untuk menggendongnya. Entah sebuah keajaiban atau bagaimana, anak kecil itu diam. Dia menatapku terus menerus dan akhirnya tertidur dalam pelukanku. Hal yang sepele, mungkin bisa juga itu hanya sebuah kebetulan. Tapi saat aku ingin pulang, anak kecil itu bangun dan menangis. Menangis lebih hebat dari pada tadi, aku yang tidak tega akhirnya mencoba untuk menenangkannya kembali lalu aku pulang," jelasnya panjang lebar.


"Lalu? Bagaimana akhirnya kamu bisa mengadopsi Qilla, Bee?"


"Hmm ... tiga hari kemudian ada yang menelfonku, dia mengatakan bahwa Qilla sakit. Anak kecil itu sering bergumam ingin bertemu aku walaupun suaranya tidak jelas."


"Bee ... lanjutin jangan putus-putus."


"Dan aku mulai merasa nyaman dengan anak kecil itu. Lalu ada sanak saudara yang mengusulkan agar aku membawa Qilla. Karna Qilla juga tidak ada yang mengurus di rumah. Pada akhirnya aku membawa Qilla ke apartemen dan anak kecil itu sekarang tumbuh menjadi gadis yang pintar dan cantik," ucapnya dengan mata berkaca.


"Bee ... apa hanya itu alasannya? Hanya karna Qilla tidak ada yang mengurus dan dia bisa diam jika bersamamu?" Anya tidak yakin itu sebuah jawaban.


"Apa itu terdengar tidak masuk akal, sayang?"


"Bukan seperti itu. Kenapa keluarga mereka sangat mudah memberikan seorang anak kepada orang lain?"


"Mereka dari keluarga tidak mampu. Dan aku juga tidak keberatan mengurus putri kecilku Qilla. Bahkan saat dia hadir dalam hidupku, aku merasa menjadi sosok pria yang lebih bertanggung jawab. Karna ada seorang gadis kecil yang harus aku jamin kebutuhan masa depannya juga sekarang ada kamu dan calon adik untuk Qilla yang akan menjadi tanggung jawabku kedepannya. Aku tidak patah semangat untuk terus mencari rejeki."


CUP!


Reyhan mencium kening Anya. Lelaki itu mengelus perut istrinya dengan lembut, juga meninggalkan ciuman di perutnya.


"Sayang, apa kau puas dengan jawabanku tadi?"


Anya tersenyum dan mengangguk. Wanita itu sebenarnya masih penasaran dan ingin bertanya lebih lanjut. Tapi tangan nakal Reyhan sudah mulai menyelusup dibalik piyamanya. Membuat wanita itu mendesah kecil untuk kesekian kalinya akibat perbuatan nakal Reyhan yang sudah membuat hasratnya bergejolak. Tidak butuh lama untuk Reyhan menguasai Anya yang hasratnya sudah diujung tanduk.


Belum sempat mengeluarkan umpatan kenikmatan. Reyhan sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan ciuman panasnya. Ciuman yang membuatnya ketagihan setiap hari.


Tubuhnya tidak dapat menolak setiap sentuhan suaminya yang membuatnya merasa terbang ke awan. Lagi-lagi umpatan yang harusnya dia keluarkan malah lenyap begitu saja bersamaan kenikmatan yang tak ada duanya.


Anya memejamkan matanya sesaat setelah apa yang diperbuat Reyhan membuatnya tidak bisa berkata-kata. Tubuh mereka saling menyatu, menebarkan rasa cinta yang luar biasa. Cinta yang hanya bisa mereka rasakan berdua.


Reyhan, lelaki yang sangat perkasa disaat usianya sudah menginjak kepala tiga. Kegagahannya tidak dapat dikalahkan. Tubuhnya yang kekar membuat Anya menelan salivanya beberapa kali. Memang bagian fisik yang Anya sukai dari suaminya adalah dada bidangnya yang hangat. Sehangat adegan ranjangnya bersama sang suami.


Juga tubuh Anya yang membuat Reyhan candu. Tubuhnya yang mungil namun sangat berisi. Segala bentuk lekuk tubuhnya sangat indah. Reyhan menciumi wajah Anya berkali-kali saat mereka berdua telah selesai melepaskan seluruh hasratnya. Melihat Anya yang kelelahan, Reyhan beranjak dan mengambilkan minum.


"Sayang, minumlah dulu."


Setelah minum, Anya pun segera tidur. Reyhan membantu Anya untuk memakai bajunya kembali dan membalutkan selimut ke tubuhnya.


"Selamat tidur, istriku," ucapnya dan mencium keningnya lama.


.


.


.


.


.