
"Maaf Nyonya kalau saya lancang ,sepertinya anda terlihat bersedih?"
"Saya hanya teringat dengan putri saya yang belum juga mau menikah ,padahal usianya sudah masuk kepala tiga," Nyonya Natalie mengusap sudut air matanya yang basah.
"Maaf Nyonya ,saya tidak bermaksud-----"
"Tidak apa-apa," ucapnya sambil mengusap lengan Anya. "Dia putriku satu-satunya. Namun ia terlalu memikirkan karirnya sampai belum mau menikah. Ia memilih ber-karier diluar negeri. Padahal saya kesepian ,saya tinggal di rumah sendirian hanya dengan para pembantu."
Anya reflek mengelus telapak tangan Nyonya Natalie ,sedikit memberikan kekuatan untuk bersabar.
"Anda hanya punya satu orang anak saja , Nyonya?"
"Saya sebenarnya mempunyai dua orang anak ,tapi yang satu sudah meninggal sewaktu kecil," air mata Nyonya Natalie menetes. Anya merutuki dirinya sendiri yang terlalu banyak bertanya.
Aku tidak seharusnya bertanya seperti itu (dalam hati Anya)
Nyonya Natalie merasa tidak enak ,ia harus terlihat menyedihkan seperti ini didepan orang lain.
"Maafkan saya ,saya membuat anda merasa iba terhadap saya," ucap Nyonya Natalie.
"Saya hanya kagum kepada Anda ,yang masih tegar menghadapi semuanya."
Mereka pun tersenyum.
"Oh ya ,saya kesini ingin memesan gaun untuk putri saya yang sebentar lagi akan kembali ke Indonesia."
"Syukurlah. Apa putri anda akan menetap disini?"
"Sepertinya ,saya dengar ia sudah lama mempunyai kekasih. Tapi ia belum pernah memperkenalkan kepada saya."
"Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian berdua," ucap Anya mendoakan.
**
Jam makan siang ternyata sudah terlewat 15 menit yang lalu. Ia tak menyadari bahwa mengobrol dengan Nyonya Natalie sangat lama.
"Kenapa lama sekali" Reyhan yang sudah tidak sabar menunggu Anya ,kini terlihat kesal.
"Maaf tadi ada pelanggan ingin memesan gaun."
"Aku tidak bertanya." Reyhan langsung bergegas keluar dari Butik.
Tadi kan kamu tanya ,kenapa lama sekali? Terus aku jawab ,tadi ada pelanggan. Kenapa kau malah jawab tidak bertanya? Dasar cowok aneh.
Didalam mobil ,suasana menjadi tak nyaman. Kekesalan Reyhan sepertinya belum memudar. Anya diam-diam melirik Reyhan.
"Aku minta maaf sudah membuatmu menunggu lama. Hmm...," Anya berpikir ,apa lagi yang harus ia katakan.
Suara dering ponsel berbunyi. Yang jelas bukan ponsel milik Anya ,karna Anya tidak membawa ponsel bahkan ia tidak membawa tasnya.
"Iya.. ada apa?"
"Bukankah ini jam makan siang? Tak bisakah menunggu jam makan siang berakhir?"
"Baiklah ,tunggu."
Anya hanya bisa mendengar suara dari suaminya saja. Ia tak tahu dengan siapa suaminya itu berbicara.
"Aku harus kembali ke kantor ,kau ikut saja. Kita makan siang disana."
"Tapi---" Anya ingin mengatakan jika ia ingin kembali saja ke Butik. Dengan seperti itu ,ia bisa makan siang sambil mengerjakan pekerjaannya yang masih menumpuk. Namun tatapan tajam Reyhan layangkan kepada Anya. Seolah lelaki itu tidak ingin adanya penolakan.
"Baiklah," ucap Anya kemudian setelah mengerti arti tatapan tersebut.
Sesampainya di kantor ,Reyhan terlihat sangat tergesa-gesa. Ia berjalan sangat cepat ,sampai tidak menyadari bahwa istrinya ketinggalan jauh dibelakang.
Anya pun berdecak sebal ,melihat Reyhan seperti tidak memperdulikannya.
"Siang ,Bu Anya. Perkenalkan saya Doni ,sekretaris Pak Reyhan." Reyhan dengan segera memerintahkan Doni untuk menemani Anya. Doni ditugaskan untuk menjaga istrinya. Sedangkan ia sudah terlebih dahulu memesankan makanan untuk istrinya.
"Iya ,siang juga. Suami saya kemana? Kenapa dia sangat tergesa-gesa sekali?"
"Pak Reyhan sedang kedatangan rekan bisnisnya ,Bu. Mari saya antar ke ruangan Pak Reyhan." Anya mengikuti langkah sekretarisnya yang berjalan mendahului.
"Tak bisakah kau keluar? Aku ingin beristirahat." Anya hanya beralasan ,sebenarnya ia penasaran dengan isi ruang kerja suaminya.
"Baik Bu ,saya akan keluar. Kalau butuh apa-apa ,tinggal panggil saya. Permisi."
Setelah pintu benar-benar tertutup rapat. Anya menghampiri meja kerja suaminya. Diatas mejanya hanya terdapat laptop dan beberapa berkas.
Biasanya kan terdapat foto gitu ya ,kalau di film-film pasti kaya gitu. Mejanya para direktur pasti terdapat foto orang paling dicintainya bertengger di meja.
Anya berkeliling ,melihat apa yang ia lihat. Memegang apa yang bisa ia pegang. Vas bunga yang indah ,perabotan mahal , hanya bisa ia temukan disini.
Dan laci yang terdapat disalah satu meja panjang disudut ruangan ,membuatnya merasa penasaran. Ada salah satu laci yang masih tergantung kunci. Ia berpikir mungkin laci itu isinya penting dan kuncinya lupa dicabut.
Ceklek...
"Anya....." langkah Anya terhenti saat ingin menghampiri laci itu. Ia terkejut melihat suaminya sudah kembali keruangan.
"Kata Doni kau sedang bertemu rekan bisnis ,kenapa cepat sekali?"
"Itulah pria ,tidak suka basa basi. Tak perlu butuh waktu lama untuk segera menyepakati perjanjian bisnis. Tidak seperti wanita ,harus bergosip dulu."
Anya memanyunkan bibirnya merasa tersindir. Reyhan yang melihat hanya bisa dibuat gemas oleh tingkah istrinya tersebut.
"Ayo.. makan. Aku sudah membelikanmu makanan," ajak Reyhan sambil membawa kantong plastik berisi makanan.
Anya pun merasa lapar.
"Kenapa Kakak tidak makan?" Anya dengan lahapnya menyantap makanan yang ada didepannya. Namun ia melihat Reyhan hanya diam saja memandangnya sedang makan.
"Aku ingin disuapi."
"Hah?"
Selain aneh ,dia sekarang kenapa jadi manja?
"Kau tidak mau?" Tanya Reyhan dengan suara tidak ramahnya.
"Iya ,iya. Sini..." pasrah Anya.
Suap demi suap ,Anya pun menyuapi suaminya. Beberapa kali pandangan mereka pun bertemu. Tak pungkiri ,Anya merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Anya seperti mengenal sosok Reyhan yang berbeda dari awal bertemu dengannya.
Anya bagai terhipnotis melihat wajah suaminya dari dekat. Matanya yang indah juga alisnya yang tebal ,hidung yang mancung juga bibir yang.....menggoda.
Cup..
Reyhan tiba-tiba mengecup bibir istrinya.
"Aku sudah kenyang," katanya sambil berdiri. "Terima kasih sudah mau menyuapiku," katanya lagi sambil tersenyum.
Serasa badan Anya meremang ,merasakan hal yang berbeda. Kata-katanya sangat sejuk didengar ,suaminya terlihat manis. Bahkan bukan seperti Reyhan yang ia kenal.
"Aku mau ke toilet dulu ,kau habiskan makananmu." Anya yang tersadar dari diamnya ,kini menggelengkan kepala.
Kau tidak boleh terhanyut ,Anya....
Wanita itu melanjutkan makan siangnya. Berusaha melupakan apa yang terjadi barusan. Ia menyentuh bibirnya yang baru saja dikecup suaminya ,rasanya sangat sulit dijelaskan.
Anya tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya ,setelah diperlakukan suaminya sangat manis seperti tadi. Walaupun ia berusaha menolak ,tapi hati kecilnya tak bisa berbohong. Ia terus saja tersenyum sambil memakan habis makan siangnya.
"Permisi Bu Anya ,Pak Reyhan akan meeting bersama rekan bisnisnya lagi. Saya disuruh mengantarkan anda ke Butik," ucap sekretaris yang bernama Doni.
Apa??? Kenapa dia sangat sibuk sekali. Baru saja membuatku bahagia ,sekarang sudah tak memperdulikan aku lagi. Menyebalkan.
.
.
.
.