
Mereka berdua sedang berada didalam kamar. Anya menatap sedih melihat wajah suaminya yang penuh luka.
"Kenapa melihatku seperti itu ? Apa ketampananku berkurang gara-gara luka ini ?" tanyanya dengan nada kesal.
Anya tertawa. "Iya ... Kau tidak setampan kemarin," ucapnya membuat Reyhan mendengus kesal. Ia menarik Anya kedalam pelukannya. Rasanya rindu sekali padahal baru sehari tidak bertemu.
"Kau mengejekku, tidak akan lepasin sampai besok."
"Baiklah seperti ini saja sampai besok," Anya menempelkan kepalanya didada sang suami. Reyhan yang mendengar jawaban Anya tentu itu bukan sebuah keuntungan baginya. Itu bahkan sebuah ancaman untuknya. Artinya dia akan terus memeluknya tanpa melakukan hal yang lain.
"Tidak, aku akan lepasin pelukan ini. Aku mau minta yang lain." Reyhan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Anya, namun ia tersadar bahwa bibirnya sedang ada luka.
Cup.
Anya tiba-tiba mengecup bibirnya yang luka, walaupun terasa sedikit sakit tapi Reyhan merasa senang. Mereka saling tatap, tidak pernah menyangka kalau cinta akan hadir diantara keduanya. Anya mengelus lembut pipi suaminya, perlahan sampai pada sudut bibirnya yang luka.
"Siapa yang telah melakukan ini semua kepada suamiku ?" Anya menatap Reyhan dengan sendu, walaupun dalam hatinya merasa penasaran tapi ia juga takut mendengar kebenarannya.
"Papa, Papa yang telah memukuliku."
DEG.
Reyhan menundukkan kepalanya kebawah. Merasa bingung harus menjelaskan dari mana. Lelaki itu takut bahwa Anya akan terluka.
"Apa alasannya ? Kenapa Papa memukulimu ?" Tanyanya tidak sabar. Dia menatap suaminya yang terus menunduk kebawah seperti tidak mau menatapnya.
FLASBACK ON
Seorang wanita dengan kaki jenjangnya yang putih dengan angkuhnya melangkah kesebuah rumah mewah yang dulu sering dia kunjungi. Tidak ada rasa malu atau pun takut didalam dirinya. Tidak peduli akan disambut baik atau pun tidak. Dia hanya ingin mengatakan sesuatu yang mungkin saja akan jadi masalah baru dikeluarga itu. Dia tersenyum menyeringai sebelum tangannya yang lentik menekan tombol bel.
Hanya satu tekan saja, pintu sudah siap dibuka. Dia tersenyum ramah pada seorang pembantu di rumah itu, dia menanyakan dimana pemilik rumah itu. Pintu dibuka sangat lebar, mempersilahkan wanita cantik itu untuk duduk. Matanya mengitari keseluruh ruangan, tidak ada yang berubah. Hanya saja yang berubah cuma satu yaitu hati kekasihnya.
"Calista ..." Wanita paruh baya yang terlihat penyayang itu menyambut tamunya dengan sangat baik.
"Tante, apa kabar ?" Calista melepaskan pelukannya sembari mendudukkan kembali tubuhnya disofa.
"Tante baik, kamu pulang kapan ?" Wanita paruh baya itu terlihat tidak terkejut sama sekali. Seperti sudah mengetahui akan kepulangan dari wanita cantik itu.
"3 hari yang lalu, Tante," ucapnya menjeda. "Tante, aku sudah tau kalau Reyhan sudah menikah. Tapi aku mau menunggunya," ucapnya tanpa basa-basi. Dia tidak ingin membuang-buang waktu. Baginya ini sudah saat yang tepat untuk mengatakannya.
Mama Reyhan terlihat kaget mendengar perkataan dari Calista.
"Maksudmu apa Calista ?" Mama Reyhan membenarkan posisi duduknya agar lebih leluasa memandang Calista. Calon menantunya yang gagal.
"Iya Tante, aku mau menunggu sampai Reyhan menceraikan istrinya. Dan ini aku bawain oleh-oleh buat Tan--" Mama Reyhan menghentikan tangannya saat akan memberikan sebuah bingkisan. "Kenapa Tante ?" tanyanya saat melihat perubahan raut wajah Mama Reyhan yang terlihat dingin.
"Kau bicara apa ? Kenapa kau mendoakan anak dan menantu saya bercerai ? Dengar ya Calista, saya memang menyukaimu dari dulu. Saya bahkan berharap kamu bisa bersanding dengan putraku, tapi saat ini sudah tidak bisa. Dia sudah mempunyai istri dan saya minta maaf sama kamu atas segala yang sudah terjadi. Mungkin ini menyakitkan buat kamu, semoga kamu bisa mengerti," jelasnya panjang lebar. Mama Reyhan merasa tidak nyaman. Beliau membuang muka, merasa tidak pantas seorang wanita masih mengharapkan laki-laki yang sudah beristri.
Calista membalas dengan senyuman, tidak ada rasa kekhawatiran sedikit pun. Dia malah tidak peduli dengan kata-kata yang diucapkan Mama Reyhan.
"Gini ya, Tante. Mereka berdua itu tidak saling mencintai dan mereka akan bercerai setelah Radit kembali," ujarnya seraya tersenyum kembali. Dia merasa menang saat wanita paruh baya itu merasa kaget atas ucapannya. Mama Reyhan menggeleng.
"Tidak, tidak mungkin seperti itu. Ini pernikahan yang sakral tidak mungkin mereka main-main dengan sebuah ikatan pernikahan," jawabnya tidak percaya.
"Kalau Tante tidak percaya sama saya tidak apa-apa. Silahkan Tante tanya sendiri sama anak dan menantu Tante," lagi-lagi wanita itu tersenyum, seperti tidak ada beban sama sekali. Dia berdiri setelah menaruh bingkisan yang ia bawa diatas meja. Masih dengan sikap sopannya, ia mencium punggung tangan Mama Reyhan.
Setelah wanita itu keluar dari rumahnya dengan tangan bergetar Mama menelfon Papa dengan suara terisak. Papa yang khawatir langsung pulang ke rumah.
Mobil Reyhan sampai di rumah terlebih dahulu, ia mendapat telfon dari Bibi kalau Mama ingin berbicara dengannya. Tidak lama kemudian, mobil Papa juga sampai.
"Rey, kau kenapa ke rumah siang-siang begini ?" Papa yang baru saja keluar dari mobil langsung menegur putranya yang sengaja berdiri untuk menunggunya keluar dari mobil.
Mereka berdua dengan langkah tergesa segera masuk ke dalam rumah. Baru saja membuka pintu, Papa yang melihat Mama sedang menangis segera memeluknya.
"Ma, apa yang terjadi ? Kenapa menangis ?"
Reyhan pun berjongkok didepan Mama yang sedang menangis. Tidak sengaja lelaki itu melihat bingkisan yang bertuliskan paris.
"Apa ini dari Calista, Ma ? Dia kesini ?" Matanya menatap sang Mama dalam-dalam.
"Apa yang telah kamu sembunyikan selama ini dari Papa dan Mama, Rey ?" Reyhan merasa bingung. Dia memandang Mamanya dengan kebingungan yang luar biasa.
"Maksud Mama apa ?"
"Apa benar waktu itu kamu mau menikahi Anya karna permintaan adik kamu ? Dan menyuruhmu untuk bercerai jika dia kembali ? Apa benar Rey ?" Mama Reyhan mengguncang tubuh putranya. Wanita paruh baya itu terus saja mengeluarkan air mata. Reyhan hanya bisa diam saja, dia bahkan tak mampu membuka bibirnya. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran kedua putranya yang sangat ia sayangi. Bahkan pernikahan menjadi bahan lelucon untuk keduanya. Padahal ia telah mendidik mereka dengan adat, agama juga kasih sayang yang cukup.
Papa Reyhan tidak mempercayai apa yang dikatakan istrinya. Dia meminta Reyhan untuk keruangan kerjanya yang berada diatas, dia ingin berbicara empat mata dengan putranya. Namun saat ingin melangkah keatas, ponselnya berdering dan dengan terpaksa Papa Reyhan harus kembali ke kantor.
Malam harinya, Papa Reyhan pulang. Reyhan yang memang tidak kembali ke kantor sejak tadi siang, ia menggunakan waktunya untuk istirahat di kamarnya sendiri sambil ia memikirkan jawaban yang tepat saat nanti Papanya menginterogasinya. Mama yang masih terpukul sedih, sejak siang tidak mau keluar dari kamar, ia keluar saat suaminya sudah pulang.
Setelah mendengar pengakuan dari Reyhan. Papa Reyhan menjadi geram. Dia mengepalkan tangannya erat-erat.
BUG.
BUG.
Dua pukulan keras mendarat diwajah putranya. Reyhan yang tidak menyangka akan mendapat pukulan dari sang papa menjadi tersungkur ke lantai. Dia meringis kesakitan sambil memegang wajahnya yang baru saja dipukul.
"Kau laki-laki macam apa yang dengan gampangnya mempermainkan sebuah ikatan pernikahan ?"
PLAK!
Belum cukup dipukul Papa, Mama pun menampar Reyhan dengan keras. Hatinya telah terluka karna putranya melakukan hal yang bodoh.
"Tapi sekarang aku mencintai Anya, Pa, Ma. Aku tidak akan menceraikannya," ucapnya lantang sembari menahan sakit dibagian wajahnya.
Tok!
Tok!
Mama Reyhan segera mengusap air matanya yang masih tersisa, dia berjalan menuju pintu utama.
FLASBACK OFF
.
.
.
.
.
Selamat membaca para readers... Semoga masih sabar menunggu up.nya ya...
Yang sabar dan yang gak sabar, aku selalu doakan semoga kalian sehat selalu. Aamiin..
Hhee... Salam hangat dari Putrie....