Temporary Wife

Temporary Wife
Berita Baik



Malam yang dingin ini, berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Reyhan yang biasa menyiksa istrinya dengan kenikmatan-kenikmatan yang tiada terkira nyatanya malam ini lelaki itu tidak menyentuh Anya sedikit pun.


Akhirnya wanita itu bisa tidur dengan pulas malam ini. Tapi tepat pukul 12 malam, Reyhan dengan pelan-pelan memindahkan tangan Anya yang menumpu diatas tubuhnya untuk disingkirkan.


Perlahan Reyhan melangkahkan kakinya keluar kamar, menyusun sebuah rencana yang sudah jauh-jauh hari dia rancang sendiri dengan matang. Sebuah kue berbentuk love juga lilin yang menancap diatasnya, dengan perlahan dia letakkan pada atas meja. Dia mengambil sebuah korek api untuk menyalakan lilinnya.


Reyhan kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa kue diatas tangannya. Pria itu menarik selimut yang membalut tubuh istrinya, membuat wanita itu mengerjapkan matanya.


"Happy Birthday to You, Happy Birthday to You, Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday to You ...."


Matanya belum sepenuhnya terbuka, lampu kamar yang masih padam baru Reyhan nyalakan setelah selesai bernyanyi.


"Selamat ulang tahun Istriku tercinta ...."


Anya terkejut. Matanya berbinar-binar karna merasa bahagia sekaligus terharu. Bahkan dirinya sendiri tidak ingat bahwa hari ini dirinya ulang tahun.


"Bee ... kok kamu tahu?"


"Tiup lilinnya, sayang. Dan jangan lupa untuk meminta permohonan."


Anya memejamkan matanya dan meminta sebuah permohonan lewat hatinya.


"Fuuuhhhh ...."


Lilin pun padam. Reyhan mencium kening istrinya.


"Apa kau merasa terkejut, sayang?"


"Sangat, sangat terkejut."


Anya memeluk suaminya dengan erat. Ulang tahun kali ini terasa berbeda. Statusnya yang sudah menjadi istri juga sebagai orang tua. Anya bersyukur atas apa yang sudah Tuhan berikan padanya.


"Apa kau ingin memakan kue ini?"


"Hmm ... tidak. Aku masih mengantuk, Bee," ucapnya. Reyhan meletakkan kembali kuenya di dapur.


"Mau tidur lagi?" tanya Reyhan setelah kembali.


Anya mengangguk cepat. Tapi dengan cepat Reyhan menarik Anya dan berhasil membuat istrinya terperangkap di bawah tubuhnya.


"Bee ...."


"Aku tidak mau melepaskanmu. Aku menginginkannya sekarang," ujarnya dengan wajah penuh damba.


"Aku kira malam ini aku bisa bebas," ucap Anya dengan pasrah. Dia tidak bisa melawan saat tangan nakal Reyhan melucuti pakaiannya satu persatu. Tapi tiba-tiba tangan Reyhan terhenti.


"Kau datang bulan lagi, sayang?" Dengan raut wajah kecewa Reyhan merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur.


Anya segera meraih pembalut dan berjalan ke kamar mandi. Wanita itu tertawa saat melihat suaminya tidur membelakangi dirinya.


"Bee ... hadap sini. Kenapa kau membelakangiku?"


Tak ada jawaban dari suaminya. Dia pun melingkarkan tangannya memeluk suaminya dari belakang.


Pagi pun tiba, wanita itu meraba-raba tempat disebelahnya yang sudah kosong. Dia kemudian membuka matanya dan benar saja sang suami tidak ada disampingnya. Saat dia melihat jam dinding ternyata masih jam 6 pagi. Reyhan bangun sepagi ini, Anya pun langsung beranjak.


Suaminya tidak ada di dalam kamar mandi, lalu dimana? Saat dirinya ingin membuka pintu kamar, tiba-tiba dia merasa pusing. Kepalanya terasa berputar-putar. Tangannya berpegangan pada dinding tembok dengan satu tangan memegangi kepalanya.


Bruukkhh ....


Anya kehilangan kesadaran.


***


Di sebuah ruangan serba putih, seorang wanita sedang terbaring dengan wajah yang pucat. Seorang dokter sedang memeriksa pasien itu dengan seksama. Sedangkan seorang pria dengan wajah cemas sedang berdiri di depan pintu ruangan dengan ditemani orang tua juga mertuanya.


"Dok, kenapa dengan istri saya?" tanya Reyhan sangat khawatir. Semua orang juga ikut menyimak dengan penasaran.


Dokter itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari suami pasien. "Selamat Tuan, istri Anda saat ini sedang hamil."


Orang tua dan mertuanya merasa sangat bahagia, mereka mengucapkan rasa syukur atas kabar bahagia ini. Sebenarnya mereka pagi ini ingin memberikan kejutan pada Anya karna dirinya ulang tahun tapi belum sempat memberikan kejutan malah mereka yang terkejut karna mendapati Anya pingsan di dalam kamar.


Reyhan masih diam. Dia tidak langsung percaya. "Tapi Dok, semalam istri saya datang bulan."


Dokter itu tersenyum kembali. "Itu hanya flek, Tuan. Itu memang terjadi saat awal-awal kehamilan."


"Benarkah istri saya sedang hamil?"


"Benar, Tuan. Silahkan temani istri Anda di dalam."


Reyhan langsung masuk ke dalam dan hanya ditemani Bunda karna harus bergantian.


"Sayang ...."


Anya yang baru saja sadar terkejut melihat sosok Bunda yang ada di depan matanya. "Bunda ...." ucapnya lirih.


"Iya Anya ...." Bunda mengecup kening putrinya. Matanya berkaca-kaca. Beliau sangat terharu saat mendengar bahwa putrinya sedang mengandung. Kekhawatirannya selama ini ternyata tidak menjadi kenyataan. Bahkan Anya bisa cepat hamil dibanding dirinya yang dulu butuh bertahun-tahun untuk mendapatkan momongan. "Selamat ulang tahun putriku. Di hari ulang tahunmu harusnya Bunda yang memberikanmu hadiah, tapi kenapa kau yang memberikan Bunda sebuah hadiah yang sangat berharga."


"Maksud Bunda?" Anya merasa bingung. Dia menoleh pada sang suami yang sedari tadi tak melunturkan senyumannya.


"Sayang, apa kau tahu? Bahwa disini telah tumbuh calon bayi kita?" Reyhan mengelus pelan perut Anya yang rata. Wanita itu masih tidak mengerti.


"Kamu sedang hamil, Anya. Sebentar lagi kamu akan memiliki anak yang kedua. Qilla akan memiliki adik."


Mata Anya langsung berkaca-kaca. Dia menatap Bunda dan suaminya bergantian. Wanita itu beralih menatap perutnya, merasakan adanya calon bayi di dalam tubuhnya. Perasaan yang sulit digambarkan.


Karna kondisi Anya yang tidak terlalu mengkhawatirkan, wanita itu pun diijinkan langsung pulang ke rumah. Hanya perlu makan makanan yang bergizi dan juga rutin minum vitamin agar kondisinya tidak lemas.


"Mamih ... Mamih kenapa? Tadi Mamih tiduran di lantai. Apa Mamih sakit?"


Qilla langsung menghampiri Anya yang baru saja pulang dari rumah sakit. Gadis itu terlihat sangat khawatir bahkan bekas air matanya masih tersisa di pipinya yang chubby. "Tidak sayang. Mamih baik-baik saja. Mamih ada kabar baik untukmu."


Anya mengajak Qilla untuk duduk. "Kabar baik apa, Mih?"


"Qilla katanya mau minta adik?"


Gadis itu mengangguk.


"Mamih sebentar lagi akan memberikan adik untuk Qilla. Tapi Qilla harus sabar ya, karna adik Qilla masih ada di perut Mamih."


"Disini Mamih?" tunjuk Qilla pada perut Anya.


"Iya Sayang, disini."


Qilla bersorak senang. Gadis itu melompat-lompat seraya mengucapkan adik bayi adik bayi. Mbak Ratna dan Bi Nah yang mendengar pun langsung memberi selamat. Hari ini hari ulang tahun Anya yang paling membahagiakan.


Semua berkumpul di apartemen. Ada Papa, Mama, Bunda dan Ayah. Dan hari ini sepakat untuk mengadakan syukuran kecil-kecilan. Makan bersama untuk merayakan ulang tahun Anya juga hadirnya calon bayi yang ada di kandungan Anya.


Reyhan menjadi lelaki paling bahagia hari ini. Dia tidak menyangka bahwa dirinya akan memiliki dua anak. Saat semua sibuk di dapur. Reyhan menghampiri Anya yang sedang bermain dengan Qilla, karna Anya tidak diperbolehkan bantu-bantu.


"Sayang ... kau ikut aku sebentar yuk ke kamar." Reyhan menggandeng mesra tangan istrinya.


.


.


.


.