
"Kok Bunda bisa tau sih,"
"Kamu itu sudah bareng Bunda dari kamu masih gumpalan darah ,masa Bunda gak bisa ngerasain sih kalau kamu sedang kenapa-kenapa,"
"Iya iya Bun ,tapi Anya sudah diperiksa dokter kok tadi ,Kak Rey yang memanggil dokter kesini," kataku mencoba menenangkan Bunda.
Bunda tiba-tiba menelfonku tadi ,dia mengatakan perasaannya sedang tidak enak. Bunda kepikiran dengan keadaanku saat ini.
"Benar begitukah , syukurlah sayang ,suamimu memang sangat perhatian ,Bunda senang mendengarnya."
Hah. Suami. Iya Suami sementara.
"Ya sudah Bun ,aku mau makan siang dulu ya."
"Baiklah sayang ,makan yang banyak dan jangan lupa diminum obatnya ,i love you sayang."
"Love you too Bunda."
Setelah tadi makan roti panggang buatan Kak Rey dan minum obat ,badanku langsung berasa enakan.
Manjur sekali sih.
Ini yang manjur obatnya atau rotinya sih?
Hahaha.
Aku memang lelah bekerja akhir-akhir ini. Gara-gara ada masalah sedikit di Butik ,tiba-tiba aku kehilangan semua data costumer yang memesan baju di Butikku. Ini karna kelalaian seorang karyawanku ,namun berkat bantuan semuanya aku berhasil mendapatkan datanya kembali.
"Aku lapar... kira-kira di dapur ada makanan apa ya.."
Saat aku keluar kamar ,aku lihat sekeliling sepi. Bi Nah ijin gak masuk ,Qila dan Mbak Ratna sedang ke Bandung.
Sepi. Cuma ada si Kak Rey.
Lelaki yang sulit ditebak.
Aku berjalan menuju dapur. Ada beberapa makanan berjejer rapi di atas meja makan. Siapa yang masak semua ini? Kak Rey tidak mungkin ,aku dari tadi tidak mendengar ada orang masak di dapur.
Ahh.. ini semua Kak Rey yang membelinya. Saat aku lihat ada bungkus makanan terlihat di tempat sampah yang berada di dapur.
Disela-sela aku menyantap makanan ini ,aku teringat Kak Rey. Dia sudah makan siang atau belum.
Hmm ,dia kemana sih. Di kamar mungkin ya.
Ceklek. Terdengar suara pintu terbuka.
Kak Rey dengan muka kusutnya keluar dari kamar ,ia melewatiku begitu saja saat melihatku sedang makan. Ia menuju ruang belakang ,tepatnya di kolam renang.
Dia kenapa jadi cuek lagi sih.
Tadi perhatian ,buatin roti panggang ,panggil dokter ,beliin obat ,beliin makan.
Terus jadi kembali dingin lagi ,cuek lagi.
Uhhh..Menyebalkan.
Saat aku selesai makan ,aku iseng ngintip dia yang saat ini sedang duduk dikursi pinggir kolam.
Lagi apa sih dia ,melamun gitu.
Kesurupan baru tahu rasa deh.
"Kau sedang apa disini." Suara laki-laki yang aku kenali tiba-tiba mengagetkanku yang sedari tadi sedang mengumpatnya dalam hati. Aku tidak menyadari saat sedang melihat ke arah kolam renang. Aku yang saat ini sedang dibalik tembok pun ternyata sudah ketahuan.
"Hah. Apa," kataku bingung untuk menjawab.
"Kau sedang apa disini ,Anya?" Kak Rey menatapku dengan seksama ,matanya yang agak bulat dengan bulu mata yang indah menambah kesan seksi dimataku.
"Ah ..a-ku se-dang ,hmm... ini aku sepertinya ingin berenang," kataku sedikit terbata. Padahal aku tidak bisa berenang. Ya Tuhan ,mulut ini kenapa gak bisa dikontrol.
"Kau baru saja minum obat ,apa secepat itu langsung sembuh?" Tiba-tiba Kak Rey memegang dahiku. "Hmm ,sudah turun panasnya."
"Ya sudah ,bagaimana kalau kita lomba berenang saja," ajak Kak Rey.
"Hah..." aku bingung harus jawab apa. Kenapa aku malah ditantangin Kak Rey.
"Kenapa? gak bisa berenang ya ?" ledek Kak Rey ,lalu lelaki itu langsung pergi meninggalkanku yang masih berdiri mematung.
Aku sungguh malu. Bagaimana Kak Rey tahu kalau aku tidak bisa berenang.
**
Waktu pun berganti malam ,aku saat ini sedang menonton tv ,setelah tadi makan malam bersama dengan Kak Rey. Aku jenuh jika harus di dalam kamar terus ,biasanya aku akan bermain dengan Qila , tapi karna Qila sedang ke Bandung ,aku jadi bingung mau ngapain.
Kak Rey ,lelaki itu langsung masuk kedalam kamar setelah menyelesaikan makan malamnya tadi.
Ihhh tidak ada acara yang bagus.
Aku sedari tadi mengganti chanel tv beberapa kali ,namun tidak menemukan serial atau acara tv yang bagus. Aku bosan ,aku matikan tvnya dan berjalan masuk kamar.
Saat aku akan masuk ke dalam kamar ,aku melihat pintu kamar Kak Rey terbuka. Apa dia belum tidur ya? Aku kira sudah tidur.
Karna penasaran ,aku berjalan perlahan menuju pintu kamar Kak Rey yang terbuka dengan bebasnya. Tepat didaun pintu ,aku mulai condongkan sedikit badanku kedepan.
Semoga kali ini gak ketahuan deh. Aku juga penasaran dengan isi ruangan kamar ini ,karna aku tidak pernah memasukinya. Tidak jauh beda dengan kondisi kamarku ,kamar ini malah terlihat lebih minim perabotannya ,namun luasnya sama.
Ranjang tidur yang berukuran king size dengan dua bantal yang menemani. Hanya itu yang bisa aku lihat dari sini dan ada yang aneh.
Kak Rey ,tidak ada. Kemana dia? Pintu kamar mandi pun terbuka ,artinya tidak ada orang didalam sana.
"Lagi cari apa Anya ?" Lagi-lagi suara lelaki yang aku kenali mengagetkan aku. Aku berbalik dan mendapati Kak Rey sedang bersedekap dada dengan mimik muka yang sulit ditebak.
"Kak Rey," otakku sungguh tidak bisa berpikir ,aku bingung harus mengatakan apa. Sedangkan lelaki itu memandangku tanpa gerak sedikitpun ,seolah menunggu jawabanku.
"Iya ,perlu aku ulangi pertanyaanku?. Baiklah. Kau sedang cari apa disini Anya Revana??."
"Kakak tau nama panjangku ?"
"Dasar kau amnesia ? Waktu pernikahan kan aku menyebutkan nama panjangmu."
"Oh iya ya ,ah aku lupa," jawabku dengan menahan tawa.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, cepat jawab."
"Jawab apa Kak?" tanyaku pura-pura tidak tau.
Kak Rey memelototkan matanya , membuat aku sedikit takut.
"Hmm ,aku tidak sedang cari apa-apa kok Kak ,penasaran aja sama isi dari kamar ini. Semenjak aku disini belum pernah masuk kamar ini," jawabku sambil tersenyum.
Tiba-tiba Kak Rey menarik tanganku masuk kedalam.
"Gimana ,sudah masuk kan?. Lihatlah sepuasnya."
Aku hanya bisa berdiri mematung. Tiba-tiba suasana di kamar ini menjadi sunyi. Hanya aku dan Kak Rey berdua didalam kamar ini. Lelaki itu berselonjor kaki diatas ranjang ,masih memandangku. Aku menjadi salah tingkah.
Untuk mengusir kecanggungan ,mataku pun mengitari isi seluruh kamar. Setelah dilihat dari dalam ,kamar ini sangat rapi mungkin karna jarang ditempati.
"Gimana? Sudah puas? Apa kau juga penasaran dengan ranjangnya? Kau ingin mencobanya?"
"Hah." Mataku membolat penuh ,darahku berdesir hebat ,sungguh lelaki ini memang sulit ditebak. Terkadang dingin , sangat dingin ,namun juga bisa menakutkan seperti ini.
Aku pun berlari menuju kamarku ,aku tidak sanggup jika harus berlama-lama berhadapan dengan lelaki itu ,pertanyaannya semakin membuat bibirku sulit untuk menjawab.
.
.
.