Temporary Wife

Temporary Wife
Kepulangan Mantan



Di depan sebuah rumah besar, langkah seorang pria berhenti. Matanya sejenak berkeliling. Dia menangkap sebuah objek yang membuatnya melangkahkan kakinya untuk lebih dekat. Bunga mawar merah yang sudah mekar dengan sempurna, dia petik dengan hati-hati. Takut jika durinya akan melukai tangannya.


Tiba-tiba pintu rumah itu terbuka. Seorang wanita paruh baya keluar dengan membawa kantong kresek besar ditangannya. Beliau terkejut dan seketika memberi sapaan. Pria itu tersenyum dan membalas sapaan dari pembantu di rumah tersebut.


"Mama dimana, Bi?" tanya pria itu. Dia masuk dengan membawa koper. Ada perasaan bahagia sekaligus nervous.


"Nyonya besar dan Tuan besar sedang berada di apartemen Tuan Reyhan," jawabnya.


Radit meletakkan koper begitu saja di atas lantai. Dia berniat untuk istirahat dulu setelah perjalanan jauhnya. Namun dia tidak bisa lagi menunda untuk segera menemui kekasihnya juga orang tuanya.


Sepanjang perjalanan dia tersenyum bahagia. Tepat di depan toko bunga, dirinya berhenti. Dia membeli satu bucket mawar merah, kesukaan kekasihnya.


Sesampainya di lantai bawah apartemen, tidak sangka dirinya bertemu dengan orang tuanya.


"Radit ...." Mama memeluknya bersamaan dengan rindu yang menggebu-gebu. Dia sangat merindukan putra keduanya yang sangat nakal. Meninggalkan calon istrinya dan membatalkan pernikahannya begitu saja. Sebagai orang tua harusnya marah, tapi Mama tidak bisa. Beliau terlalu menyayangi putra-putranya.


Tapi tatapan berbeda pada Papanya membuat Radit menciut untuk memeluknya. Papa menatapnya dengan dingin. Tak ada senyuman yang menghiasi bibirnya. Radit hanya berani menyalami saja.


"Pa ...."


"Radit, pulanglah. Papa mau bicara denganmu."


"Pa, aku mau ketemu Anya dulu. Dia hari ini ulang tahun." Papa dan Mama saling lempar pandang.


"Radit, pulang dulu, Nak. Papa mau bicara denganmu. Besok aja kamu ketemu Anya."


"Tapi Ma ...." Mama memohon dengan mengatupkan kedua tangannya. Papa sudah duluan beranjak pergi, dengan terpaksa Radit pun juga beranjak dari sana.


***


Setelah Anya dinyatakan hamil, Reyhan menjadi overprotektif sekali. Dia bahkan melarang istrinya untuk sekedar cuci piring atau bantu-bantu Bi Nah memasak. Pria itu selalu memarahi istrinya jika Anya mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan dirinya di larang untuk membereskan mainan Qilla yang berantakan.


"Sayang ... jangan banyak gerak. Duduk saja," perintahnya saat melihat Anya sedang membereskan mainan Qilla yang berserakan di atas lantai.


"Nyonya, biar saya saja." Mbak Ratna yang baru saja dari dapur segera mengambil alih mainan yang sedang dipungut Anya.


Wanita itu mengerucutkan bibirnya, merasa sebal. Dia bahkan tidak bisa bergerak sedikitpun. Dirinya merasa bosan.


"Aku bosan ... tidak boleh ini itu. Lalu aku bolehnya ngapain?" tanyanya dengan wajah ditekuk.


"Tidur aja yuk sayang." Anya menggeleng.


"Ini masih pagi, kenapa disuruh tidur."


Sekitar tiga hari, Reyhan mengambil cuti. Dia ingin menemani istrinya karna takut Anya kenapa-kenapa. Tapi syukurnya istrinya tidak mengalami muntah ataupun mual seperti ibu-ibu hamil lainnya. Hanya saja fisiknya yang lemah. Tapi dokter kemarin sudah memberikan vitamin untuk dikonsumsi.


Bel apartemen berbunyi. Bi Nah langsung beranjak untuk membukanya.


"Tuan, ada tamu."


Reyhan pun berjalan menemui tamunya. Anya yang penasaran juga mengikuti langkah suaminya.


Bisa dikatakan ini mungkin hari terburuk yang pernah mereka alami. Mereka fikir hidupnya sudah tenang tanpa gangguan dari manapun atau siapa pun. Nyatanya orang dari masa lalu datang kembali. Entah apa tujuannya, tapi Reyhan dengan tanpa rasa kasihan mengusir tamunya yang baru saja mendudukkan tubuhnya di sofa.


Seorang wanita cantik yang memakai dress selutut tersenyum menyeringai pada wanita dihadapannya.


"Kau mengusirku, Rey?" tanyanya mengalihkan pandangannya pada sosok pria yang amat dicintainya.


"Kenapa kau masih kesini lagi. Apa kau kehabisan teman pria?"


"Aku ingin menunggu detik-detik kau akan jadi milikku lagi. Sebentar lagi. Tunggulah."


"Bicara apa kau!" serunya.


"Maaf Nona Calista, dari pada Anda buang-buang waktu disini lebih baik pulanglah. Dan tata hidup Anda lebih baik lagi."


Anya yang biasanya diam kini mulai berani berbicara melawan Calista. Emosi yang sudah dia tahan selama ini, meluap begitu saja. Dia tidak menyukai wanita cantik yang sedang berdiri dihadapannya. Wajahnya memang cantik, tubuhnya bagus tapi attitude-nya nol besar. Harusnya wanita sepertinya mendapatkan lelaki yang lebih dari suaminya tidaklah sulit. Dia seorang model internasional, harusnya seleranya sangat tinggi. Tapi, dia masih juga menginginkan lelaki yang sudah beristri.


"Diam kau wanita tidak tahu diri!"


"Lepaskan!" Calista memberontak saat tangannya ditahan Reyhan. Saat dia berhasil meloloskan tangannya dengan rasa geram Calista mendorong Anya dengan keras. Wanita itu hampir saja terjatuh tapi Reyhan sigap menahan tubuh istrinya.


"Hentikan Calista! Anya sedang hamil!" teriaknya membuat Calista seketika membeku. Bibirnya tertutup. Hatinya mendadak panas. Tubuhnya melemas tak berdaya. Kenyataan yang sulit untuk dia terima. Tidak mungkin Reyhan dan Anya hubungannya sudah sejauh itu?


Brakkk...


Pintu dibuka dengan kasarnya.


"Siapa! Siapa yang hamil?"


Seorang pria dengan tubuh tegap berjalan mendekati mereka semua. Bucket mawar merah yang terlihat masih segar dibawanya dengan satu tangan. Pria berwajah tampan sama seperti Reyhan berhenti tepat pada sepasang suami istri. Dia melihat bagaimana tangan kakaknya melingkar dipinggang kekasihnya.


Anya tampak shock melihat Radit setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Pria itu terlihat lebih dewasa dan semakin tampan. Dia hanya memakai kaos putih dengan celana hitam panjang dengan ciri khasnya memakai topi. Topi yang pernah Anya berikan saat dirinya masih pacaran dulu.


Waktu terasa berhenti. Radit menatap dalam-dalam wanita yang teramat dia cintai. Anya membalas tatapan itu, tapi Radit merasakan ada yang berbeda. Wanita itu menatapnya bukan dengan cinta seperti dulu.


Radit perlahan mendekati Anya. Ingin memberikan bucket bunga ditangannya. Dia mencoba tersenyum walaupun sangat canggung. Tapi wanita itu hanya menatapnya dengan datar.


"Anya sedang hamil, Radit. Wanita itu sedang hamil," ucap Calista dengan mata yang berkaca-kaca.


DEG.


Hatinya seketika mencelos setelah mendengar ucapan dari Calista. Bucket bunga di tangannya seketika terjatuh begitu saja di atas lantai. Bahkan kelopak bunganya berhamburan. Radit mengalihkan tatapannya pada sang kakak.


"Hamil? Dengan siapa?"


"Denganku, suaminya," ucap Reyhan dengan santai.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Radit menghajar Reyhan dengan brutalnya. "Kurang ajar! Kurang ajar!"


"Radit! Hentikan!" Anya berusaha melerai tapi dirinya juga ketakutan. Calista pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia berusaha menarik Radit tapi tenaga pria itu sangat kuat. Tubuhnya dipenuhi emosi. Wajahnya merah padam, urat-urat di wajahnya keluar.


"Kau keterlaluan!"


Reyhan tidak melawan. Dia hanya berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Pria itu tidak tega jika harus balik memukuli adiknya.


TES!


Radit meneteskan air mata yang menyedihkan. Sangat menyedihkan. Hatinya begitu sakit. Saat mendengar wanita yang dicintainya telah hamil dengan kakaknya sendiri. Usahanya untuk mewujudkan impian agar kehidupan mereka kedepannya lebih baik nyatanya tidak berguna lagi. Matanya yang dibanjiri air mata dipaksanya untuk menatap Anya, wanita itu juga menangis. Radit tidak bisa melihat wanita yang dicintainya menangis. Sakitnya berkali-kali lipat.


Perlahan Radit menegakkan tubuhnya, dia mendekati Anya yang sedang mengusap air matanya. Dengan lancangnya tangan Radit yang baru saja untuk memukul Reyhan dia pakai untuk mengusap pipi Anya dengan lembut. Reyhan yang melihat perlakuan Radit menjadi geram, tapi dirinya tahan.


Radit memegang bahu Anya. "A-Anya ... ka-katakan kalau kau masih mencintaiku?" ucapnya dengan bibir gemetar.


Air mata Anya malah semakin deras disertai isakan kecil. Wanita itu menghindari tatapan menyedihkan dari seorang Radit.


Pria itu tidak sabar mendengar jawaban Anya, dia mengguncang pelan bahu wanita itu. "Katakan Anya ...."


Anya menarik napasnya dalam-dalam. "Ma-maaf Radit--" ucapnya terputus karna isakan. "Sekarang ... aku mencintai Kak Reyhan," ucapnya kembali.


Brughhh....


Radit pingsan.


.


.


.


.