Temporary Wife

Temporary Wife
Panggilan Sayang



Salah seorang karyawan menghampiri Anya yang terlihat sangat shock, atas perbuatan dari Calista yang mendorongnya sampai jatuh diatas sofa. Datang lagi karyawan lainnya untuk menanyakan keadaaan atasannya juga memberikan segelas air putih untuk menenangkan hati atasannya. Tidak ada yang luka memang, hanya saja dia terkejut. Bahkan malu jika apa yang diucapkan Calista barusan, didengar oleh semua karyawan yang berada disitu.


"Terima kasih," ucapnya sambil mengembalikan gelas pada salah satu karyawannya. Dia berusaha berdiri dengan dibantu mereka. "Saya bisa sendiri, saya pulang dulu. Selesaikan pekerjaan kalian," perintahnya seraya melepaskan sentuhan dari para karyawan yang merasa iba terhadapnya. Entah mereka mau berpikiran seperti apa, Anya berusaha tidak memperdulikannya. Dia tidak mau menjelaskan apa pun tentang masalah yang ada didalam rumah tangganya.


"Apa yang diucapkan model cantik itu benar ?"


"Jika benar, memang kau mau apa ? Ibu Anya orang baik, pasti ada kesalahpahaman," ucap salah satu orang karyawan.


"Mungkin dulunya Pak Reyhan dan model itu punya hubungan khusus."


"Sepertinya."


Anya sudah berjalan jauh keluar dari butiknya, dia tidak mendengar obrolan dari para karyawannya. Dia terdiam sebentar didepan pintu mobilnya, dia menoleh kebelakang. Rasanya sangat berat untuk meninggalkan Butik yang selama ini dengan susah payah dia dirikan itu. Demi keluarganya, dia rela untuk meninggalkan segala aktivitasnya diluar rumah. Dia bertekad untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik, yang selalu ada waktu untuk keluarga.


"Hufffttt ..." helaan napas terdengar begitu berat. Dengan segera wanita itu membuka pintu mobilnya dan melajukan mobilnya ke suatu tempat.


Tepat disebuah gedung yang menjulang tinggi dengan langkah tanpa keraguan, wanita itu mulai memasuki gedung yang bukan pertama kalinya menginjakkan kakinya disini. Langkahnya berhenti didepan seorang resepsionis yang menyapanya dengan ramah.


"Selamat siang Bu, ada yang bisa saya bantu ?"


"Saya ingin bertemu dengan Pak Reyhan."


"Maaf beliau sedang ada rapat penting dan sepertinya hari ini tidak bisa diganggu terlebih dahulu."


Resepsionis yang seorang wanita itu menatap sinis kearahnya. Tak banyak yang tahu bahwa Reyhan sudah menikah, yang mereka tahu bosnya memiliki hubungan spesial dengan model bernama Calista. Calista memang sering berkunjung kemari, tapi sudah beberapa tahun kebelakang model cantik itu tidak lagi mengunjungi bosnya. Walaupun Anya pernah dulu kesini tapi itu pun bersama Reyhan, tentu mereka semua yang melihat waktu itu tidak terlalu hapal wajahnya.


"Apa dia benar-benar tidak menerima siapa pun untuk bertemu dengannya ?"


"Saya hanya menjalankan pesan dari sekretarisnya Pak Reyhan, Bu. Mohon untuk Anda mengerti."


Kata-katanya masih terdengar sopan tapi terkesan mengusirnya secara halus. Anya membalikkan tubuhnya, resepsionis itu pun merasa lega. Tapi tidak berlangsung lama, Anya kembali menoleh kearah resepsionis dan tersenyum.


"Siapa namamu ?"


Resepsionis itu merasa bingung buat apa bertanya seperti itu. Sudah jelas dia memakai name tag di bajunya.


"Nama saya Rosita, apa ada pertanyaan lagi Bu ? Maaf, saya sedang sibuk."


Kali ini resepsionis yang bernama Rosita sudah terang-terangan mengusirnya.


"Kenapa Kak Reyhan bisa memperkerjakan orang seperti ini ? Sangat tidak sopan !" gerutunya dalam hati.


Anya berjalan ke arah lobby, dia duduk dengan perasaan sebal didalam hatinya. Dia memang sudah tahu ruangan suaminya berada dimana, tapi dia tidak bisa langsung masuk ke ruangan suaminya tentu dia harus mengikuti peraturan perusahaan. Anya berniat ingin memberi kejutan untuk suaminya dengan dia datang kemari, wanita itu ingin mengajaknya makan siang bersama.


Anya melirik lagi kearah resepsionis yang terlihat sangat angkuh, dia menyapanya ramah tapi seakan tidak mengijinkannya untuk bertemu dengan Reyhan. Apalagi kalau dirinya menanyakan dimana ruangan kerja suaminya, sudah pasti tidak diberitahu. Anya pun mengalah, dia tidak berkoar-koar kalau dia adalah istri Reyhan. Belum tentu semua pada percaya.


"Permisi, apa saya boleh bertanya sesuatu ?" Ada seorang cleaning servis yang berjalan melewatinya, dengan segera ia membuat langkahnya berhenti.


"Iya bu, ada yang bisa saya bantu ?"


"Apa kau tahu ruangan Pak Reyhan dimana ?" tanyanya basa-basi.


Cleaning servis itu terlihat berpikir sebentar.


"Tau Bu, ada dilantai paling atas."


"Dimana tangga daruratnya ?"


"Maaf Bu, Anda bisa menggunakan lift saja sebelah sana. Itu akan membuat Anda cepat sampai ke lantai atas."


"Bahkan tutur katanya lebih sopan dari resepsionis itu," ucapnya dalam hati.


"Aku sekalian ingin berolahraga, lagi diet."


"Bisakah kamu tunjukan pada saya dimana tangga daruratnya ?" tanyanya kembali.


Anya mengikuti langkah cleaning servis itu untuk menunjukkan tangga darurat. Dia hanya berniat menggunakan tangga darurat untuk sampai ke lantai dua, dan saat di lantai dua dia akan naik lift sampai ke atas. Karna lift di lantai bawah sangat dekat dengan meja resepsionis, pasti wanita yang angkuh itu akan melarangnya. Walaupun dirinya berhak memarahinya namun Anya buka typekal orang yang menggebu-gebu.


Tiba di lantai atas, wanita itu langsung menuju sebuah ruangan yang terlihat besar. Hanya ada 2 ruangan di lantai ini. Tentu satunya milik sekretarisnya.


Pintu tidak terkunci, dia langsung masuk saja. Benar, ternyata Reyhan sedang meeting. Terlihat ruangannya kosong tidak ada siapapun. Dengan jailnya dia mencoba duduk di kursi kebanggaan suaminya. Kursi ini bahkan lebih nyaman dari kursinya yang berada di Butik. Dia tersenyum saat statusnya sekarang yang secara tidak langsung menjadi Nyonya Reyhan. Nyonya yang memiliki suami tampan yang mapan.


"Wah ... Apa ini ?" Anya baru menyadari ada sebuah pigura kecil yang letaknya di atas meja. Saat pertama kali dia kesini pigura ini tidak ada diatas meja. Anya tersenyum menyadari bahwa Reyhan memajang foto pernikahannya berdua dengan Qila yang berada dipangkuan Anya.


Pintu terbuka, Reyhan merasa terkejut melihat istrinya yang sedang duduk di kursinya dengan bibir yang tersenyum manis. Anya berdiri dan beralih duduk diatas sofa. Reyhan menghampiri Anya setelah dirinya menutup pintu ruangannya dan menguncinya.


"Kau sudah pandai membuat suamimu terkejut ?"


Anya tersenyum malu. Dia menyenderkan tubuhnya pada bahu sofa namun baru sebentar langsung ditarik Reyhan untuk bersender dibahunya.


"Kau harus membiasakan mulai sekarang, hanya bahu suamimu yang pantas untuk kamu bersender."


Wanita itu tersenyum senang dia bahkan memeluk suaminya dari samping, tangan Reyhan juga melingkar pada tubuh mungilnya.


"Kak Rey, aku lapar," rengeknya seperti Qilla.


"Apa kau akan terus memanggilku seperti itu ?"


"Hah apa ?"


"Kak Rey, Kak Rey. Apa tidak ada panggilan yang lebih romantis ?"


"Romantis bagaimana ?"


Reyhan mendekatkan bibirnya pada telinga Anya dan berbisik pelan. "Mulai sekarang panggil suamimu dengan sebutan Bee ..."


Mata Anya membola penuh dengan raut wajah yang sangat terkejut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Putrie ucapkan terima kasih untuk kalian semua yang sudah berbaik hati meluangkan waktu untuk membaca karyaku yang masih recehan ini, hehehe


Terima kasih sudah mau memberikan like, koment juga vote.


Putrie selalu doakan untuk kalian semua, semoga sehat selalu dan dilancarkan rejekinya... Aamiin


Cerita yang Putrie tulis ini hanya sebatas imajinasi jadi jika ada tempat, tokoh atau kejadian yang diluar nalar atau tidak masuk akal. Mohon dimaklumi ya... Hehe