Temporary Wife

Temporary Wife
Mengunjungi Rumah Mertua



Hari ini Reyhan mengajak Anya juga Qilla untuk berkunjung ke rumah mertuanya, orang tua dari istrinya. Perjalanan yang tidak terlalu jauh walaupun beda kota. Anya sedari tadi sibuk bernyanyi bersama Qilla sedangkan Reyhan hanya menyimaknya saja. Lelaki itu memilih diam, karna dirinya tidak pandai bernyanyi.


Sesampainya di rumah, Bunda dan Ayah sudah menunggu di teras. Mereka terlihat sangat bahagia. Apalagi melihat cucu mereka yang menggemaskan.


"Anya ... Kau terlihat gemukan, sayang."


Bunda mencubit pipinya yang berisi. Juga memeluk putrinya dengan erat. Beliau terlihat sangat rindu dengan putri satu-satunya itu.


"Anya memang akhir-akhir ini makannya banyak, Bun. Tapi apa aku terlihat jelek kalau gemukan ?" ucapnya dengan wajah cemberut.


"Tidak sayang. Kau masih terlihat cantik. Apa mungkin kau sedang hamil, sayang ?" Tanya Bunda sambil memegang perutnya yang masih rata.


"Minggu lalu Anya baru saja datang bulan, Bun. Tidak mungkin."


"Oh begitu ya. Ya sudah Bunda doain semoga kamu cepat isi ya, sayang."


"Aamiin, Bun."


.


.


.


"Mih ..." Suara rengekan dari Qila membuat Anya yang sedang terpejam mendadak terbangun. Gadis kecilnya itu masih berbaring di pelukannya. Mereka baru saja tertidur bersama setelah makan siang tadi.


"Kenapa sayang ?" Qila beranjak bangun. Menarik-narik tangan mamihnya untuk segera turun dari ranjang. "Iya sebentar sayang." Tubuh Anya masih lemas. Karena dia baru saja tidur beberapa menit. Awalnya dia ingin menidurkan putrinya saja tapi malah ketiduran.


"Non Anya sudah bangun. Tuan Reyhan ada di halaman belakang bersama Tuan besar," seorang pembantu baru yang tidak sengaja lewat di depan kamar memberitahukan posisi suaminya dimana. Setelah Anya menikah, Bunda mencari pembantu satu lagi. Mungkin agar rumah ini tidak terlalu sepi.


"Terima kasih, Bi."


Qila masih saja menarik-narik tangannya. "Kenapa sih sayang. Kok Mamih ditarik-tarik terus."


"Qila pingin main sama Papih," rengeknya. Gadis kecil itu memang agak rewel kalau sehabis bangun tidur, walaupun tidak menangis tapi pasti ada saja yang diinginkannya.


"Iya sayang, kita cari Papih yuk."


Tidak ada yang berubah dari rumahnya yang dulu dia tempati. Perabotan dan letaknya masih sama semua. Hanya saja dibagian belakang rumah dibuat kolam ikan yang besar. Kata Ayah, beliau membuatnya untuk Bunda. Selain menyukai tanaman, Bunda juga menyukai ikan.


"Papih ..." Qila berlari mendekati papihnya yang sedang duduk bersama Ayah mertuanya. Sedangkan Anya pergi ke kamar mandi untuk sekedar membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Kepalanya sedikit pusing karna mungkin baru terlelap sebentar dan langsung terbangun. Semakin lama pusing di kepalanya semakin hebat. Dirinya sampai berpegangan pada dinding tembok.


"Anya ... Kau tidak apa-apa, sayang ?"


Bunda yang tidak sengaja lewat melihat putrinya yang terlihat pucat. Beliau membawa putrinya untuk duduk. Dia memberikan segelas air putih hangat. Anya meneguknya sedikit demi sedikit.


"Hemmm ... Baunya enak sekali, Bun." Anya mencium aroma kue yang lezat.


"Ah ... Ini Bunda lagi bikin cake kesukaan kamu. Barangkali Qilla akan menyukai juga."


Bunda berjalan ke sebuah oven dan mengambil cake yang sudah matang. Dikeluarkanlah dari loyang dan menunggu hingga dingin sebentar baru dipotong. Anya menelan salivanya saat melihat cake kesukaannya.


"Bun, aku ingin mencicipinya," pintanya tidak sabar.


Bunda pun memotongkan untuk putrinya walaupun cakenya masih sedikit panas. Anya segera meraih cake yang baru saja Bunda potongkan untuknya. Dia memakannya menggunakan sendok. Tapi saat dia makan baru satu suap, dia langsung menggeser piringnya menjauh.


"Kenapa sayang ?" Tanya Bunda bingung.


"Manis banget, Bun. Anya tidak suka."


"Tapi di lidah Anya itu terlalu manis. Perut Anya jadi tidak enak" ujarnya seraya memasang wajahnya yang tidak suka.


"Ya sudah kalau kau tidak suka. Lidahmu mungkin lagi aneh. Bunda mau ngasih buat cucu kesayangan Bunda aja."


Bunda memanggil cucu kesayangannya. Tak berapa lama Qilla datang bersama Papihnya. Mereka duduk berdua berdekatan, Bunda langsung menyodorkan piring yang berisi kue yang selesai dipotong.


Qilla tampak menikmati kue itu satu persatu. Hingga tidak terasa kue-nya habis tidak tersisa diatas piring. Anya yang sedang menatap putrinya dengan mulut belepotan menahan tawanya. Dia meraih sebuah tisu dan membantu mengelapnya dengan perlahan.


"Makasih Mih," ucapnya menggemaskan.


"Sayang ... kau kelihatan pucat hari ini?" Reyhan yang menyadari wajah pucat itu mengecek dahi istrinya. Tetapi tidak terasa panas.


"Aku tidak apa-apa, Bee." Walaupun sebenarnya Anya merasakan sedikit pusing.


Menjelang sore hari, Bunda sibuk memasak di dapur bersama para pembantu, sedangkan Anya sedang bersama suaminya di teras. Mereka berdua sedang bercanda bersama saat orang lain sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Qilla juga sedang bersama kakeknya. Harusnya dia ikut membantu di dapur, tapi Bunda melarangnya.


"Bee ... dulu aku sering main lompat tali disitu," tunjuknya pada teras yang luas tapi sekarang sudah penuh dengan tanaman.


"Oh ya, dengan siapa?"


"Dengan teman-temanku lah, Bee. Tapi sekarang temanku entah dimana, sepertinya tidak lagi tinggal disini. Mereka ikut tinggal dengan suaminya."


Reyhan menatap istrinya dari samping. Selama hidup dengannya dia tidak pernah mendengar Anya bertemu dengan teman maupun sahabat dekat, hanya Mira salah seorang yang dekat dengannya. Anya tidak pernah ijin atau pun ada teman yang mengunjunginya. Dia baru sadar bahwa istrinya ternyata sangat tertutup, bahkan sangat minim pergaulan.


Reyhan juga sama, tapi dia sudah punya Doni yang menjadi sekretaris sekaligus sahabat karibnya. Lelaki menyebalkan itu sudah bertahun-tahun kerja bersamanya, bahkan telah dianggap saudara. Doni yang terkadang menyebal tapi perkerjaannya sangat bisa diandalkan. Reyhan sudah merasa cocok dengan Doni.


Istrinya tiba-tiba terdiam. Reyhan menepuk bahunya pelan hingga kepala Anya menoleh padanya.


"Kau kenapa sayang?"


"Hah? Aku? Hmm aku hanya kepikiran dengan butikku, Bee."


Sungguh berat wanita karir seperti Anya harus meninggalkan butik yang sudah dengan susah payah dibangunnya itu. Dia harus meninggalkan pekerjaannya demi keluarga. Mempercayakan usahanya dikelola oleh seseorang terpercayanya. Mira, hanya wanita itu yang sangat dia percayai saat ini untuk mengelola butiknya. Tidak ada lagi yang bisa dia percayai. Walaupun dirinya baru mengenal Mira, yang awalnya hanyalah sebagai karyawan baru. Tapi karna kinerja Mira yang bagus akhirnya dia diangkat menjadi sekretarisnya.


"Kenapa dengan butikmu? Apa ada masalah?" Reyhan membawa Anya bersender pada pundaknya yang lebar. Mengelus pipinya dari samping.


"Tidak ada. Mira sudah bekerja dengan baik. Sangat baik," pujinya.


Bunda memanggil mereka berdua untuk masuk, mengajak untuk makan malam bersama. Pandangan semua orang tertuju pada Anya, wanita itu tanpa memandang siapa pun langsung mengambil nasi dan lauk pauk yang jumlahnya tidak sedikit. Bahkan dirinya lupa untuk mengambilkan makanan kedalam piring suaminya, dia terlalu sibuk dengan piringnya sehingga piring suaminya dibiarkan kosong. Reyhan yang heran akan sikap istrinya hanya mampu geleng-geleng kepala. Ayah dan Bunda juga menatap putrinya dengan keheranan yang luar biasa.


.


.


.


.


.


Minta maaf untuk para readers yang putrie sayangi dan cintai..


Update-nya lama bgt. Maaf bgt ya. Putrie akhir-akhir ini ada pekerjaan diluar menulis. Jadi maaf banget belum sempet nulis. Tapi hari ini Putrie akan update lebih dari satu bab. Oke.


Permintaan maaf diterima ya???


Selalu jaga kesehatan....