
Hari ini Reyhan sengaja bangun siang. Karna weekend membuatnya sangat malas untuk bangun. Saat Reyhan menoleh ke arah samping ,Anya sudah tidak ada. Wanita itu sudah pasti sedang di dapur ,kebiasaan saat di rumah mertua ,dia jadi sok sibuk.
Ponsel Reyhan berdering ,saat lelaki itu ingin mencoba memejamkan matanya kembali.
"Aaiisshhh.. siapa sih ganggu aja pagi-pagi" dengan terpaksa Reyhan mengangkat panggilan itu ,tanpa melihat nama kontak yang tertera.
"Hallo.."
"Hi Darling, where have you been? Why don't you ever contact me? you forgot about me?"
(hai sayang, kemana saja kamu? Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku? kamu lupa tentang saya?)
Deg.
Calista.
"I'm sorry, I've been very busy lately"
(Maaf, aku sangat sibuk akhir-akhir ini)
"I can't believe it, you liar. I hate you"
(Aku tidak percaya, kau pembohong. aku membenci mu)
Panggilan terputus. Calista mematikan sambungan telfonnya sepihak.
Reyhan melangkahkan kakinya keluar kamar. Setelah niatnya untuk kembali tidur terusik oleh Calista. Langkahnya menuju kamar putrinya. Tidak ada siapapun didalam kamar.
"Kemana Qila?"
"Qila ada di halaman belakang" tiba-tiba suara menyaut dari arah belakangnya. Reyhan sedikit terkejut.
"Kau..sejak kapan disini" tanyanya setelah membalikkan badan.
"Aku? Aku baru saja lewat ingin kembali ke kamar. Aku mau mandi," jawabnya tanpa menunggu jawaban suaminya. Wanita itu melenggangkan kakinya menjauh darinya. Namun pandangan Reyhan tak lepas memandangi Anya dari belakang. Reyhan baru sadar ,Anya mempunyai rambut yang indah. Hitam lurus panjang , seperti sangat terawat. Wajah polosnya saat belum mandi ,malah terlihat sangat manis.
"Rey ,kamu ngapain didepan kamar Qila?" tanya Mama yang baru saja datang.
"Qila dimana Ma?"
"Ada di halaman belakang. Kamu mandi saja ,terus kita sarapan bareng nanti."
"Baiklah."
"Rey...." panggil Mama kembali. Langkah Reyhan terhenti.
"Iya Ma"
"Pernikahanmu dengan Anya ,baik-baik saja kan?"
Alis Reyhan berkerut , merasa kebingungan atas pertanyaan dari Mama.
"Maksud Mama?"
"Tidak-tidak ,sudahlah sana mandi." Mama meninggalkan Reyhan yang masih berdiri kebingungan.
**
Baru saja Reyhan duduk diatas ranjang ,tiba-tiba ponselnya berdering kembali.
"Iya ada apa?"
"Rey , tolong bantu aku."
"Apa?"
"Ban mobilku bocor ,jalanan sepi banget Rey."
"Lagian siapa suruh pagi-pagi keluyuran. Telfon montir saja."
"Sudah ,tapi mendadak pada off."
"Kenapa dihari libur seperti ini ,kau masih saja menggangguku..." Reyhan berdecak sebal. Lelaki itu segera mengambil jaket dan keluar. Tanpa berpamitan pada siapapun ,ia pergi menggunakan mobil. Yang mengetahui ia pergi ,hanya Pak Satpam.
Terlihat dari jauh mobil berwarna silver terparkir ditengah jalan. Reyhan menghentikan mobilnya ,mengambilkan ban cadangan dan dilemparkan begitu saja ke jalanan.
"Pasang sendiri" ucapnya.
"Wah.. terima kasih. Kau memang bosku yang baik hati," katanya sambil merangkul bahu Reyhan.
"Kau mengganggu acara liburku."
Reyhan hanya berdiri ,melihat bawahannya sedang mengganti bannya. Karna Doni merasa kesulitan ,Reyhan pun bergerak membantunya. Doni tersenyum dalam diam. Ia tak percaya bahwa bosnya yang angkuh ,ternyata punya sisi hati yang baik.
"Kau kenapa bisa sampai disini? Ini jalanan sepi sekali."
"Aku ingin ke rumah Nenek ,ini memang jalan satu-satunya untuk menuju ke rumahnya."
Ponsel Reyhan berdering.
"Hallo ,Kakak dimana?"
Baru saja Reyhan mengangkat panggilan itu ,suara wanita yang tak lain adalah istrinya sudah menyambar duluan.
"Aku di jalan"
"Kau cerewet sekali ,aku sedang ada urusan sebentar. Kau jangan lupa sarapan ,juga Qila."
"Kakak masih lama?"
"Sebentar lagi aku akan pulang."
"Aku tunggu."
"Tidak usah menungguku ,kau sarapan duluan saja. Aku masih lama."
"Tadi katanya sebentar lagi pulang."
"Aarrrghh... Ya sudah , tunggu."
"Iya"
Panggilan terputus. Setelah mengecek ban mobil terpasang dengan baik ,Reyhan pun langsung melajukan mobilnya ke rumah.
Kenapa dia bisa cerewet seperti tadi. Dasar menyebalkan.
Namun bibir Reyhan mengukir senyuman yang indah.
Saat mobil Reyhan sudah masuk ke halaman rumah ,Anya ternyata sudah menunggunya di teras. Wanita itu berdiri dari duduknya ,saat melihat Reyhan keluar dari mobilnya.
"Kamu ngapain diluar?"
"Pakai nanya lagi ,aku tuh bingung tau. Ditanyain Mama kamu dimana ,aku gak tau. Kamu pergi aja gak ngomong ke aku." Anya terlihat kesal. Wanita itu tidak enak dengan mertuanya ,dikira ia dan suami tidak memiliki komunikasi yang baik. Sampai suaminya pergi aja gak perlu ijin ke dia.
"Iya maaf , tadi urgent. Jangan ngambek dong." Reyhan dengan jahilnya mencubit pipi Anya. Wanita itu kesakitan ,dengan segera Reyhan melepaskan cubitannya. Anya bertambah kesal dan menghentakkan kakinya ke lantai. Setelah Reyhan berjalan menjauh ke dalam rumah.
"Rey , kamu kemana sih pagi-pagi begini. Weekend malah pergi ,kasian istri kamu, nyariin kamu." Mama yang berada di meja makan ,menghampiri Reyhan yang terlihat melintas.
"Maaf Ma ,tadi Doni minta tolong bannya bocor."
Anya yang baru saja datang , terlihat acuh. Ia berjalan melewati Reyhan dan Mama begitu saja. Menuju meja makan dan menyuapi Qila.
"Ya sudah ,sana kamu mandi. Nanti sarapannya Mama anterin ke kamar."
**
Saat Reyhan keluar kamar mandi ,makanan sudah tersaji diatas meja yang berada didalam kamarnya.
Ceklek.
Anya masuk. Wanita itu duduk diatas ranjang dan menyenderkan badannya. Ia membuka ponselnya dan entah apa yang sedang ia baca ,wanita itu terlihat serius. Tapi sesekali mengukir senyumnya yang terlihat manis. Reyhan hanya menatap heran. Lelaki itu mengambil piring yang berisi makanan ,lalu segera mengisi perutnya yang kosong.
"Kau sudah sarapan?"
Hening.
Tidak ada sautan dari Anya.
"Apa kau tuli?"
"Hah ? siapa yang tuli?"
"Kau !"
"Aku tidak tuli" bantahnya cepat.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" Reyhan menatapnya dalam-dalam.
"Kau bertanya kepada siapa? Aku kira tidak bertanya kepadaku. Aku kan punya nama."
Dia salah makan apa sih. Kenapa jadi ngeselin. (batin Reyhan)
"Kenapa diam?" tanya Anya setelah tidak ada jawaban lagi dari Reyhan.
"Aku tidak jadi bertanya," ucapnya sambil menyendokkan makanan dengan kasar kedalam mulutnya. Merasa kesal dengan istrinya.
"Ya sudah" jawab Anya yang tampak acuh.
Reyhan kembali menatapnya ,namun dengan tatapan yang tajam. Namun tidak ada respon dari Anya ,wanita itu malah asyik dengan ponselnya.
Reyhan keluar kamar sambil membawa piring kotornya. Ia mencari Qila keseluruh ruangan ,namun tidak juga menemukan. Pembantunya juga entah kemana.
"Qila kemana?" tidak ada pilihan lain ,Reyhan pun terpaksa bertanya kepada Anya yang entah kenapa hari ini sangat menyebalkan.
"Ikut Mama ke supermarket bersama Bibi juga."
Reyhan terlihat benar-benar kesal. Tidak ada gunanya ia tadi sampai mencari Qila keseluruh ruangan ,jika ternyata putrinya tidak di rumah. Ia merasa sial hari ini.
.
.
.
.
.
.