
Sedari tadi matanya tidak lepas melirik ke sisi pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Wanita itu tidak berani untuk tiduran di ranjang, dia masih setia duduk dengan bersandar di dipan ranjang sampai suaminya keluar dari sana. Ancaman suaminya masih saja terngiang-ngiang di pikirannya.
"Jangan tidur dulu, awas saja kalau kau berani tidur duluan."
Anya mendecakkan lidahnya sebal. Yang dia rasakan saat ini adalah perasaan gugupnya. Wanita itu meremas piyamanya yang sedikit tipis. Dia tidak tau, sejak kapan piyama ini ada di lemari, sebelum Reyhan masuk ke dalam kamar mandi suaminya itu menyuruhnya untuk mengenakan piyama ini. Piyama bermodel kimono yang terbuat dari satin.
Pintu terbuka, Reyhan bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk dipinggangnya untuk menutupi senjatanya. Dia tersenyum penuh maksud kearah istrinya. Anya membalas senyuman suaminya dengan kikuk. Tangan yang besar dan kokoh perlahan menarik selimut yang menempel di tubuh istrinya.
"Apa kau ingin disitu terus ?"
Anya tidak mengerti maksud dari suaminya, dia menyuruhnya untuk jangan tidur dulu dan sekarang berkata seolah-olah dirinya jangan di atas ranjang, lalu dimana ?
Karna tidak ada jawaban dari istrinya, Reyhan mendekati sang istri. "Apa kau tidak lihat suamimu telanjang ? Apa kau senang jika berlama-lama memandang tubuhku yang bagus ini ?" Wajahnya terlihat bangga. Anya langsung beranjak dari ranjang. Dia baru sadar bahwa dirinya belum menyiapkan pakaian untuk suaminya, karna hubungan mereka sudah membaik jadi mulai sekarang Anya harus membiasakan untuk mengurus suaminya. Walaupun dulu dia sering menyiapkan pakaian untuk suaminya, tapi seringkali suaminya menolak.
Saat Anya sedang mengambilkan pakaian untuk suaminya, tiba-tiba kedua tangan yang kokoh itu memeluknya dari belakang. Tubuh Anya meremang, merasakan sentuhan aneh didalam tubuhnya. Tiba-tiba dia merasakan tubuhnya terbakar, saat secara tidak sengaja senjata suaminya menyentuh area punggungnya. Karna tubuh Anya yang mungil dan lebih pendek dari suaminya.
Wanita itu memejamkan matanya singkat, saat bibir suaminya menyentuh leher belakangnya. Dengan kesadaran yang penuh, Anya berusaha melepaskan dekapan suaminya.
"Bee ... Pakai baju dulu," ucapnya lembut bahkan sangat lembut.
"Tidak usah, jika nantinya kau sendiri yang akan melepaskannya," Anya membalikkan tubuhnya menghadap Reyhan.
"Pakai dulu, nanti masuk angin," perintahnya sambil memberikan sebuah kaos dan celana pendek. Tanpa sopannya Reyhan melempar pakaian yang sudah disiapkan Anya ke atas sofa. Anya meliriknya dengan kesal, dia ingin mengambil pakaian itu lagi tapi Reyhan menarik tangannya.
Kini tubuh mereka menempel satu sama lain, Anya mendongak untuk menjangkau wajah suaminya yang tampan. Dielus lembut pipi istrinya dan dikecup singkat pipi itu membuat wanita itu tersipu malu.
"Kenapa kau pendek sekali," ejek Reyhan.
Disaat suasana sudah seromantis ini dan Anya mulai terhanyut, Reyhan mengeluarkan kata-kata yang membuatnya kesal. Setelah saling mengenal selama pernikahan, kali ini Reyhan benar-benar sangat menyebalkan.
Reyhan tertawa saat melihat istrinya cemberut. Dia memeluknya dengan erat. Menciumi bertubi-tubi puncak kepala wanita yang telah membuatnya merasakan cinta sesungguhnya.
"Jangan marah, karna itu kenyataan," ucap Reyhan dan disambar pukulan bertubi-tubi didadanya oleh sang istri.
"Bukan aku yang pendek, tapi kau yang terlalu tinggi !" seru Anya tidak terima. Dia naik keatas ranjang, meninggalkan suaminya yang masih bertelanjang dada.
Tanpa diduga, Reyhan malah melepaskan satu-satunya handuk yang menempel di tubuhnya. Mata Anya membola besar hampir saja keluar dari tempatnya, karna dia melihat dengan jelas senjata suaminya yang sudah mengeras.
"Tamatlah aku ..." (dalam hati Anya)
***
Dilemparkan tas yang mahal keatas sofa lalu dirinya duduk dengan hati yang masih terbakar emosi. Tidak ada yang bisa meredamkan emosinya, sekali pun ibunya sendiri.
"Apa yang kau lakukan tadi ? Apa itu kelakuan seorang wanita yang terhormat ? Memalukan !" Nyonya Natalie yang baru saja mendudukkan tubuhnya di sofa langsung menyambar kelakuan putrinya yang dinilai tak bermoral.
"Mama tanya apa yang aku lakukan ? Aku ingin beri pelajaran untuk wanita murahan itu !"
PLAK !
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi sang putri. Nyonya Natalie menghampiri putrinya, karna takut suaminya akan bertindak lebih.
"Papa telah mendidikmu dengan baik sedari kecil, apa ini buah dari hasil didikanku selama ini ? Kau merendahkan dirimu sendiri demi seorang pria ?"
Entah sejak kapan suaminya ada di rumah, tapi sungguh bukan Nyonya Natalie yang memberitahukan kepada suaminya atas apa yang sudah dilakukan Calista.
"Apa dengan Papa menampar aku, Reyhan bisa kembali kepadaku ? Jika iya, tamparlah aku sepuas Papa."
PLAK !
"Sayang ..." Papa Calista merasa bersalah karna tamparannya mengenai sang istri yang sangat dia cintai karna dirinya menghalangi Calista dari tamparannya.
"Mama ..." Calista menatap sedih sang Mama, karna tamparan yang kedua terdengar lebih keras dari sebelumnya.
"Suamiku tolong redamkan emosimu dahulu," ucapnya sambil memegang pipinya yang memerah. Tanpa mengatakan apapun lagi, Papa Calista langsung membawa istrinya ke kamar untuk mengobati pipinya yang memerah. Putrinya dia tinggalkan begitu saja, tak ada yang peduli padanya.
TES !
Air mata Calista menetes secara dramatis. Papanya dari dulu memang tidak mengijinkannya untuk menjadi seorang model, oleh karena itu hubungan mereka sedikit tidak baik. Bahkan apapun yang dilakukannya dianggap selalu salah.
"Nona, apa boleh saya mengobati pipi Anda ?" Asisten rumah tangga yang begitu perhatian menghampiri Nona mudanya sekedar menawarkan bantuan tapi Calista menggeleng dan berlalu pergi.
***
"Apa ? Lagi ?"
Anya hampir saja terlelap tapi suara suaminya menyentak kesadarannya. Tanpa aba-aba Reyhan langsung mencium bibir istrinya yang menggoda, bibirnya yang kecil namun berisi. Tidak ada penolakan darinya, bahkan dirinya seakan pasrah akan apa yang ingin suaminya lakukan padanya.
Jiwanya seraya melayang saat merasakan kenikmatan yang sebelumnya belum pernah wanita itu rasakan. Rasa lelah mungkin hanya sebuah angin dan tidak benar-benar hinggap di tubuhnya. Yang ada hanyalah rasa kebahagiaan yang luar biasa.
Tubuhnya yang kekar menjadi pelampiasan tangannya untuk sekedar menikmati pelepasan. Bibirnya tak mampu berkata-kata saat benar-benar tubuhnya serasa melayang diatas awan. Sedangkan suaminya hanya bisa tersenyum senang melihat raut wajah istrinya yang terlihat menggemaskan saat perpaduan tubuhnya dengan tubuh istrinya. Reyhan melakukannya dengan lembut, tak ingin membuat istrinya kesakitan.
"Apa kau puas, sayang ?"
Anya memejamkan matanya saat dirasa dirinya sudah lega dan suaminya mulai berbaring disisinya tidak lagi menindihi tubuhnya.
"Aku ngantuk, Bee ..." Jawabnya lirih karna kehabisan tenaga.
"Aku bertanya, apa kau puas, sayang ?"
Anya tidak menghiraukan pertanyaan suaminya, dia berpura-pura sudah tertidur.
"Jika kau tidak mau menjawab, aku akan melakukannya sekali lagi."
Dengan cepat Anya membuka matanya dan mengatakan, "Aku sangat puas, mari kita tidur," jawabnya dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya. Reyhan tersenyum dalam hati dan mendekap istrinya dengan erat.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat sore para readers ...
Masih betah gak baca cerita Reyhan dan Anya ??
.