
Setelah 2 jam berlalu ,akhirnya Reyhan keluar dari kamar mandi.
"Kak Rey, kau kenapa lama sekali didalam kamar mandi. Ini akan membuatmu masuk angin, minumlah teh yang telah aku buat," tunjuknya pada secangkir teh yang ia letakan diatas nakas.
Anya menghampiri Reyhan yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi. Bibirnya pucat ,terlihat juga tubuhnya yang sedikit bergetar. Reyhan menggigil. Badannya hanya tertutup handuk dibagian bawahnya saja.
"Jangan memberikan perhatian yang lebih," ucapnya tanpa memandang Anya.
"Kau suamiku, sudah sepantasnya aku melakukan itu," jawab Anya. Saat ini mereka sedang berhadap-hadapan, saling memandang satu sama lain.
"Dan bagi seorang istri apakah pantas menanyakan seorang laki-laki kepada suaminya? Dan masih mengharapkannya?" Reyhan sedikit meninggikan nada suaranya namun masih terdengar lembut.
"Siapa ? Siapa yang masih mengharapkannya? Kau jangan menuduhku kalau kau saja masih mengharapkan Calista!" teriak Anya. Rasanya ia ingin menangis lagi, namun ia tahan.
"Aku tidak mengharapkan siapa pun termasuk Calista!"
Reyhan merasa sakit saat mengatakan itu, mengatakan bahwa dia tidak mengharapkan siapapun. Itu bohong. Reyhan menginginkan wanita itu, yang sekarang menjadi istrinya.
"Aku juga tidak mengharapkan dia lagi ,saat dia memutuskan untuk pergi," lirih Anya.
Anya mendongakkan wajahnya, menjangkau wajah suaminya yang terlihat tidak ramah. Anya menatap Reyhan dalam-dalam, tapi Reyhan segera mengakhiri tatapan itu dan berjalan melewatinya begitu saja. "Dan sekarang aku hanya mengharapkanmu."
Deg
Deg
Deg
Reyhan berhenti melangkah, jantungnya berpacu lebih cepat. Entah karna terkejut atau karna merasa bahagia. Secara bersamaan mereka membalikkan badan, menatap satu sama lain. Lewat tatapan mata ,mereka seperti berbicara dari hati ke hati.
"Maksudmu ?" tanya Reyhan ingin penjelasan lebih lanjut.
"Aku memang tidak pernah menginginkan pernikahan ini tapi sekarang hatiku menginginkannya." Anya memberanikan diri untuk mengatakan sejujurnya.
Butuh beberapa detik untuk Reyhan mencerna kata-kata Anya. Sulit untuknya percaya namun hatinya berkata lain. Reyhan melangkah lebih dekat, hingga jarak keduanya sangat dekat. Bahkan Reyhan bisa merasakan napas yang dikeluarkan Anya.
.
Tes
.
Air mata Anya menetes secara dramatis membasahi pipinya. Reyhan segera memeluknya. Memeluknya dengan erat. "Kau serius dengan ucapanmu ?" tanya Reyhan yang saat ini sedang memeluknya erat.
"Iya ..." Anya membalas pelukan Reyhan. Mereka tersenyum dalam hati. Reyhan melepaskan pelukan mereka. Ia menatap lamat-lamat kedua bola mata Anya, menyalurkan rasa bahagianya.
.
Cup.
.
Reyhan mengecup singkat bibir istrinya lalu memeluknya lagi. Anya bisa merasakan tubuh suaminya yang dingin, wajahnya menyentuh dada Reyhan yang tanpa pelindung.
"Pakai baju dulu, kau terlihat kedinginan." Anya berusaha melepaskan pelukan suaminya, namun karna tenaga Reyhan yang lebih besar darinya jadi percuma saja. Anya semakin ditenggelamkan kedalam pelukan Reyhan yang seperti tak mau melepaskannya.
"Aku tidak mau pakai baju, jika bukan kau yang memakaikannya." Reyhan tersenyum licik dan bahkan tertawa terbahak-bahak didalam hati melihat raut wajah Anya yang seketika memerah seperti tomat.
"Aku tidak mau, kau bisa sendiri." Anya memukul dada bidang Reyhan dengan kedua tangannya, Reyhan menjadi sangat gemas.
"Kenapa ? Kau malu ?" Anya mengangguk. Anya sebenarnya gadis polos, ia sangat menjaga attitude-nya sekali. Untuk melihat seorang pria bertelanjang membuatnya sangat malu. "Kita sudah menikah, bahkan kita belum melakukannya."
"Kau jangan pura-pura polos." Tidak sengaja Reyhan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 12 malam. Akibat dia pulang terlambat dan bertengkar dengan Calista lalu berdiam diri sangat lama di kamar mandi membuatnya tidak menyangka bahwa ini sudah larut malam. "Istirahatlah, sudah malam." Reyhan mengecup dahi Anya sangat lama. Anya naik keatas ranjang, membalutkan selimut ketubuhnya. Tapi sosok Reyhan yang sedang memakai baju menjadi daya tariknya sendiri, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya pada suaminya itu. Padahal itu bisa membuatnya malu, namun Anya penasaran.
"Kau mau lihat ?" tanya Reyhan yang akan melepaskan handuk yang menutupi bagian bawahnya.
"Tidak !" jawab Anya cepat. Anya membalikkan badannya, membelakanginya suaminya.
Brukh
Reyhan naik keatas ranjang, menggetarkan sisi ranjang. Saat ini jantung Anya semakin bergemuruh. Tangan yang kokoh perlahan memeluknya dari belakang, wanita itu kegelian saat napas sang suami terasa ditengkuknya.
Perlahan Reyhan mengecup dan menggigit kecil leher belakangnya. "Anya ... Apa kau tidak menginginkannya ?"
Anya membalikkan tubuhnya untuk berhadapan suaminya, memandangnya sampai sekian detik kemudian ia mengangguk. Ia telah melepaskan pembatas diantara dirinya dan Reyhan. Mereka adalah sepasang suami istri yang sah di mata agama dan negara. Sudah semestinya Reyhan mendapatkan haknya sebagai suami.
"Kau sudah siap ?" Tanpa penuh keraguan Anya mengangguk kembali. Cepat atau lambat ini pasti akan terjadi dan Anya sudah siap ini dari awal.
Reyhan mulai mencumbunya dengan mesra, memberikan sentuhan lembut dibagian tubuh Anya. Tidak ada jeda diantara mereka. Di tengah malam yang sunyi, saat semua orang sudah tertidur dengan pulasnya suami istri itu sedang mempersatukan cinta mereka. Cinta yang tumbuh seiring berjalannya waktu. Cinta yang tidak pernah diinginkan namun disatukan oleh sebuah takdir.
Dengan napas yang memburu, Reyhan berusaha melakukannya dengan lembut tidak ingin membuat istrinya merasa kesakitan.
"Tahan sedikit, " Reyhan berusaha menyatukan apa yang sudah mereka jaga selama ini. Anya adalah wanita pertama untuk Reyhan begitu pun sebaliknya.
"Aaahhhh ..."
Satu tetes air mata mengalir disudut mata wanita itu, Reyhan mengecup kening Anya bertubi-tubi. Membantu meredakan rasa sakitnya.
Reyhan memimpin permainan malam ini, ia dengan sangat ahlinya membuat wanita itu mengerang kenikmatan. Iya nikmat, Anya tidak bisa berkata apa pun. Ia berusaha menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara-suara yang memalukan.
"Terima kasih istriku. "
Cup.
Reyhan mengecup bibir Anya sekali lagi dan mereka kelelahan bersama. Lelaki itu membalutkan selimut keseluruh tubuh istrinya yang polos. Melihat ranjangnya yang berantakan juga pakaian mereka yang bertebaran membuat lelaki itu tersenyum malu-malu. Kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dan melihat Anya dengan tubuh polosnya, sungguh Reyhan masih tidak bisa menyangka. Wanita itu tertidur dipelukannya, tangannya juga melingkar pada tubuh suaminya.
Pagi menjelang, Anya perlahan membuka matanya. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah wajah suaminya yang tampan. Bibirnya tersenyum melihat wajah suaminya dengan jarak yang dekat. Tapi tiba-tiba ia teringat apa yang terjadi semalam, perlahan ia melihat ke bawah dimana tubuh polosnya terdapat beberapa tanda merah disana.
"Kak Rey ..." Anya mengguncang tubuh suaminya membuat lelaki itu terbangun dari tidurnya.
"Iyaaa ada apa ?" Lelaki itu membuka seluruh matanya, menjangkau wajah istrinya yang sangat polos. "Kau menginginkannya lagi ?" tanyanya jahil.
"Aku malu ... Ini bagaimana aku keluar ?" Anya menunjuk bagian tubuhnya yang penuh dengan tanda merah.
.
.
.
.
.
Maaf ya up.nya lama. Mohon dimaklumi ya, semoga bisa menghibur. Maaf kalau ceritanya kurang greget, soalnya Putrie hanya mengikuti imajinasi Putrie saja. Karna Putrie belum berpengalaman untuk hal seperti itu, hehe. Mohon kritik dan sarannya ya...
Terima kasih..
Semoga kalian selalu diberi kesehatan dan rejeki yang berlimpah. Aamiin....