
Hari ini adalah hari yang paling menegangkan bagi sepasang suami istri tersebut. Mereka saling duduk berdampingan dalam satu meja yang sama dengan tangan yang saling berpegangan erat. Dihadapan mereka telah duduk orang tua dari Reyhan. Tidak ada yang berani membuka pembicaraan sampai pada akhirnya Reyhan, lelaki itu melepaskan genggaman tangannya dari sang istri, ia beralih memegang kedua tangan sang Mama yang sejak dari tadi diam.
Mama bergantian memandangi anak dan menantunya itu.
"Ma, percaya sama Reyhan. Sekarang aku dan Anya sudah saling mencintai, perjanjian yang dulu pernah diucapkan Radit tidak benar-benar aku lakukan, Ma. Reyhan tau kalau--"
"Anya, apa kau masih mencintai Radit ?" Mama menatap menantunya yang duduk tidak jauh dari tempatnya.
Anya menatap Mama mertuanya dengan serius, ia tersenyum singkat.
"Dari awal menikah dengan Kak Rey, Anya sudah menghapus semua rasa yang dulu pernah ada untuk Radit," ucapnya dengan lantang tanpa berpikir dua kali. Jawabannya kini menjadi pusat perhatian semua orang tak terkecuali Reyhan. Dirinya tidak menyangka bahwa istrinya sejak awal sudah menghapus seluruh perasaannya untuk Radit.
Anya belum selesai berbicara, dia menggeser duduknya agak kedepan. "Ma, Radit memang pernah mengatakan kalau dia akan kembali. Tapi aku tidak pernah mengharapkannya lagi setelah aku sudah sah menjadi istri Kak Reyhan, tidak pernah terbesit dipikiran Anya untuk mengakhiri ikatan pernikahan ini."
Reyhan semakin tercengang mendengar pengakuan Anya. Dia terkejut jika selama ini, wanita itu bahkan tidak ada niat untuk menghancurkan pernikahan ini. Anya menatap Reyhan dan menggenggam tangannya, ia kecup singkat punggung tangan suaminya. "Aku mencintai Kak Rey dengan seluruh hatiku."
Tak terasa air matanya menetes saat mengucapkannya, Reyhan memeluknya dengan erat.
***
Sudah sekian lama, dirinya tidak menapakkan kakinya di gedung yang sudah dengan susah payah ia dirikan itu. Impian, cita-cita atau pun angan-angan yang sudah lama ia pendam akhirnya bisa terwujud. Tentu dirinya tidak bisa berdiri sendiri tanpa pertolongan orang lain. Dia tidak pernah melupakan begitu saja jasa orang yang telah mewujudkan impiannya itu.
Radit, lelaki yang pernah menempati hatinya bertahun-tahun. Dia yang seharusnya menjadi pendamping hidupnya saat ini tapi karna ambisinya yang tidak bisa ditolerir akhirnya menguburkan impian mereka berdua untuk hidup bersama.
Menyesal ? Wanita itu tidak pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Dia malah bersyukur, atas apa yang sudah Tuhan gariskan untuknya. Ini yang terbaik, ini yang diberikan untuknya agar dia lebih mensyukuri hidupnya.
"Apa selama saya tinggalkan, butik ini ada masalah ?" Mira menggeleng. Anya merasa lega, ia mengitari seluruh ruangannya yang selama ini ditempati oleh Mira. Anya menunjuk dirinya untuk mengelola butiknya tentu dengan masih dibawah pengawasannya.
"Mereka sangat puas dengan hasil rancangan designer kita Bu, bahkan kemarin baru saja kita kedatangan model internasional."
"Oh ya, apa butikku terkenal sampai mancanegara ?" Anya merasa terkejut. Dia memutar tubuhnya kearah Mira.
"Tidak Bu, dia putrinya Nyonya Natalie baru pulang dari Prancis."
"Dari Prancis ?" Mira mengangguk.
Anya menggeleng, pikirannya tertuju pada Calista.
"Tidak mungkin," gumamnya.
"Kenapa Bu ?" Mira terlihat cemas melihat Anya yang seketika wajahnya menjadi pucat.
"Tidak-tidak, lanjutkan saja pekerjaanmu. Kau bisa ke apartemen jika ada berkas yang harus aku ttd-i segera. Aku ingin pulang, kepalaku mendadak pusing," wanita itu memijit pelipisnya untuk mengurangi sakit kepala yang tiba-tiba.
Belum mencapai pintu keluar, seseorang memanggilnya dari arah belakang.
"Nona Anya ..." Dia memutar tubuhnya kebelakang, tersenyum pada sosok yang memanggilnya.
"Nyonya Natalie ..."
"Senang akhirnya setelah sekian lama tidak bertemu, hari ini Anda ternyata kesini."
Anya mempersilahkan duduk Nyonya Natalie pada sofa panjang yang terdapat diruangan itu.
"Saya berarti mengganggu Anda ?"
"Tidak Nyonya, tidak sama sekali. Kita bisa mengobrol terlebih dahulu."
"Baiklah, saya ingin memberikan ini. Putri saya sudah pulang dari Prancis, dia sangat suka dress yang saya belikan untuknya. Terima kasih."
Sebuah bingkisan beliau letakkan diatas meja. Anya mengucapkan banyak terima kasih.
"Sebentar lagi putri saya akan kesini, Nona. Dia ingin memilih-milih baju lagi, sepertinya dia suka beberapa model baju di butik ini."
Mendadak perasaan Anya tidak enak.
"Itu putri saya ..." Nyonya Natalie menunjuk pada sosok perempuan yang baru saja turun dari mobil. Penampilannya sangat anggun, banyak pasang mata yang tidak mengalihkan perhatiannya pada sosok wanita itu. Tak terkecuali Anya sendiri, tubuhnya lemas hingga ia berusaha bersandar pada bahu sofa. Dia mencoba menormalkan detak jantungnya yang tidak beraturan.
"Sayang ... akhirnya kau datang juga, kenalin ini pemilik butiknya, Nona Anya." Nyonya Natalie memperkenalkan putrinya pada Anya. Bukannya langsung menjabat tangan. Mereka berdua malah saling menatap satu sama lain, yang satu memancarkan aura kebencian dan yang satu memancarkan aura ketakutan. Iya Anya takut, bukan takut akan sosok yang ada dihadapannya saat ini. Tapi takut jika dia mengatai dirinya yang bukan-bukan saat masih ada banyak karyawan disekitarnya. Tidak mungkin dirinya dipermalukan didepan semua karyawannya sekalipun itu tidak benar. Tapi wanita anggun itu pasti punya seribu kelicikan didalam hatinya.
"Sepertinya Tuhan hari ini sangat baik sekali, sehingga bisa mempertemukan aku dengan kau," ucapnya sinis. Wanita anggun itu mengulurkan tangannya yang sangat cantik. Dengan gemetar Anya menyambut uluran tangan itu. Tapi belum sempat Anya menyentuh, tangan wanita anggun itu ia tarik kembali. Membuat Nyonya Natalie mengernyit heran.
"Calista kau apa-apaan, kau tidak sopan !" seru Nyonya Natalie.
"Aku tidak sopan ? Bagaimana dia yang sudah merebut kekasihku !" seru Calista, dia bahkan mendorong tubuh Anya sampai terduduk kembali di sofa. Anya merasa terkejut saat tiba-tiba Calista mendorongnya hingga terjatuh. Seluruh karyawan yang melihat kini tertarik untuk melihat apa yang terjadi diantara mereka. Awalnya mereka tertarik untuk berlama-lama memandang Calista, yang memiliki tubuh indah dan wajah cantik. Tapi sekarang mereka sepertinya lebih tertarik menyimak, apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua.
"Calista !" Nyonya Natalie mencekal lengan putrinya, takut dia akan bertindak lebih.
"Mama tau ? Dia yang sudah merebut Reyhan dariku. Dia menikah dengannya saat aku di Prancis."
"Kau bicara omong kosong apa Calista, ayo kita pulang jangan buat ribut disini." Nyonya Natalie merasa malu karna banyak karyawan yang melihat kearah mereka. Dia tidak peduli siapa yang salah, karna bertengkar ditempat orang lain bukan sesuatu yang baik. Nama Calista bisa dicoreng tidak baik karna melakukan hal konyol.
"Nona Anya, maafkan putri saya." Nyonya Natalie berusaha menarik putrinya keluar, walaupun putrinya belum selesai memaki Anya.
Diluar gedung, Calista mencoba melepaskan lengannya yang ditarik kasar oleh sang Mama.
"Mama ... Sakit," rintihnya.
"Calista ! Mama tidak pernah mengajarimu untuk memaki orang ditempat umum, jika kau ada masalah dengannya, kau bisa berbicara dilain tempat." Nyonya Natalie melangkahkan kakinya menuju mobil, meninggalkan Calista yang emosinya belum mereda. Sekalipun ia tahu bahwa pernikahan mereka sementara, tapi ada rasa takut didalam hatinya. Reyhan seperti sudah berubah, dia bahkan tidak memperdulikannya lagi.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat pagi dan selamat beraktifitas ☺️