Temporary Wife

Temporary Wife
EXTRA PART



Hari yang penuh dengan kebahagiaan. Perasaan haru tak luput dirasakan oleh mereka semua. Sepasang suami istri yang telah sah di mata agama dan negara dengan wajah yang berseri menyalami para tamu undangan yang hadir. Senyuman yang lebar tak cukup menggambarkan betapa bahagianya mereka berdua.


Cinta yang telah lama dia abaikan, nyatanya cinta itulah yang pantas untuk dia miliki. Dia tampak tersenyum diantara bahagianya wajah-wajah dari orang-orang yang ia sayangi.


"Aku sungguh bahagia hari ini," katanya. Wanita yang berada disampingnya pun menoleh. Dia juga tersenyum tersipu malu.


"Aku tidak menyangka akan ada hari sebahagia ini," kata wanita itu kemudian. Mereka saling memandang satu sama lain. Lelaki itu menggenggam erat jari jemari istrinya dan membawanya turun dari pelaminan.


Tiba-tiba ada tubuh mungil yang menabrak kaki mereka berdua, itu membuat keduanya berhenti.


"Gavin ... gak boleh lari-lari nanti jatuh," tegur Radit lembut. Anak kecil itu mengangguk polos dan tersenyum menampakkan giginya yang baru tumbuh dua.


"Ya ampun Gavin ...." Anya lari tergopoh-gopoh mengejar Gavin yang semakin aktif. Anak kecil itu baru saja bisa berjalan membuat kedua orang tuanya semakin kewalahan menghadapi sikap aktif putranya. Reyhan yang masih sibuk menemani sanak saudaranya tidak sempat untuk membantu Anya menjaga Gavin.


Anya ingin menggendong Gavin tapi anak itu malah menepis tangan mamihnya. Dia menarik-narik sisi gaun Sherly dan membuat istri dari adik iparnya itu akhirnya meraih Gavin untuk digendongnya.


"Gavin, Tante Sherly mau istirahat. Gavin sama Mamih ya," ajaknya dan dibalas gelengan oleh Gavin.


"Gavin gak mau digendong sama Mamih?" Sherly kini bersuara.


Anak kecil itu terus menggeleng dan bersuara khas anak kecil yang tidak dapat dimengerti.


Anya menghela napasnya panjang. Kini dia mengedarkan pandangannya untuk mencari putrinya. Terakhir dia bersama Neneknya tapi sekarang entah dimana. Walaupun putrinya bersama orang kepercayaannya tapi sebagai Ibu dia juga merasa khawatir.


"Sherly, aku titip Gavin dulu boleh? Aku mau cari Qilla."


"Boleh dong. Kak Anya cari Qilla dulu aja, aku ajak main Gavin," jawab Sherly dengan senyuman. Radit juga mengangguk saat Anya menatapnya.


Suasana yang berangsur mulai sepi mempermudah Anya untuk mencari Qilla hingga akhirnya dia melihat putrinya dari kejauhan sedang duduk disebuah kursi tanpa seorang pendamping. Dia berjalan tergesa, saat melihat putrinya sendirian.


"Qilla ... kenapa disini sendirian? Mana Nenek?" tanya Anya tidak sabar.


"Nenek sudah pulang Mih," jawab Qilla datar. Dia asyik makan kue yang berada dipangkuannya.


"Pulang? Dari kapan?"


"Barusan. Bunda tadi nyari kamu mau pamit tapi kamunya dicari-cari gak ada. Ditelfon juga gak diangkat." Reyhan yang entah datang darimana sambil membawa sepiring nasi beserta lauk pauk menjawab pertanyaan Anya.


"Kak Rey kok disini?" tanya Anya kemudian. Dia menatap suaminya dengan heran.


"Kakak memang dari tadi disini bareng Qilla, Bunda dan Ayah."


"Bukannya tadi lagi sama saudara-saudara Kakak yang lain?"


"Iya tadi sebentar. Terus mas cari kamu sama Gavin gak ketemu. Akhirnya ketemu Qilla sama Bunda dan Ayah. Kamu dari mana aja?"


"Dari mana? Aku dari tadi jagain Gavin yang lari kesana kesini. Dia gak bisa diem. Maunya jalan-jalan terus. Digendong aku juga gak mau," cerocos Anya. Wanita itu tampak lelah.


"Terus Gavin sekarang dimana?"


"Sama Sherly," jawab Anya sambil memalingkan muka. Dia nampak kesal dengan suaminya. Walaupun dia pikir suaminya sibuk dengan saudaranya tapi ternyata dia peduli jg dengan anak dan istrinya. Tapi entah apa yang membuat wanita itu kesal.


"Sini duduk. Makan dulu." Reyhan meraih tangan istrinya dan menyuruhnya untuk duduk. Dia memberikan sepiring nasi itu kepada istrinya. "Mas mau bawa Gavin kesini. Sherly butuh istirahat pasti," lanjutnya dan berlalu pergi.


Anya menatap punggung suaminya yang perlahan lenyap dari pandangannya. Dia tersenyum dalam hati melihat kepedulian suaminya terhadapnya. Bentuk kesalnya memang yang diinginkan adalah membuat suaminya mengerti apa yang dia mau. Iya, Anya mau Reyhan mengerti bahwa dirinya sedang lelah. Bukan berarti mengeluh mengurus kedua anaknya tapi ada kalanya mereka harus saling membantu satu sama lain. Meringankan beban satu sama lain. Itu lah hubungan suami istri sebenarnya. Berdiri dengan kaki masing-masing tapi berjalan bersama-sama.


Sambil menunggu suaminya kembali, Anya pun makan nasi yang diberikan suaminya sambil menyuapkan Qilla.


"Iya sayang ... sebentar lagi kita akan pulang. Tunggu papih sama adik Gavin ya," jawab Anya.


Terlihat Papa dan Mama menghampiri mereka.


"Anya ... dimana Reyhan?" tanya Papa.


"Sedang mencari Gavin, Pa. Tadi Gavin bersama Sherly."


"Ya sudah. Kalian nanti pulang saja sudah malam, orang tuamu juga tadi sudah pulang."


"Iya Pa."


Acara resepsi Radit dan Sherly memang sampai malam hari. Resepsi yang diadakan disebuah hotel mewah. Jauh dilubuk hatinya yang terdalam Anya merasa lega, bahwa Radit akhirnya bisa membuka hati untuk wanita lain.


Saat didalam perjalanan, Qilla yang sudah lelah pun akhirnya tertidur. Sedangkan Gavin mulai rewel jika sudah mengantuk. Qilla tertidur dalam pangkuan Reyhan sambil menyetir dan Anya sedang menyusui Gavin. Hari ini memang sangat repot menjaga kedua anaknya yang masih bayi dan balita. Karna Mbak Ratna sedang ijin pulang kampung jadi tidak bisa membantu mereka menjaga kedua anaknya.


Qilla yang sudah mulai masuk TK, juga dia sangat aktif bertanya. Yang satu aktif berbicara dan yang satu aktif bertindak. Tapi Anya sangat syukuri karna keluarga mereka telah dikasih kepercayaan untuk menjaga dua malaikat kecil.


"Apa kau juga mengantuk?" Disela-sela perjalanan, Reyhan membelai lembut rambut istrinya.


"Tidak ...."


"Jangan bohong. Kau pasti lelah," kekeh Reyhan.


Mereka saling menatap satu sama lain.


"Bersabarlah. Kita akan menjalani ini bersama-sama," lanjut Reyhan sambil tersenyum.


Anya mengangguk dan juga tersenyum.


"Kau tahu, Qilla dan Gavin sekarang seperti aku dengan Radit," ucap lagi Reyhan. Anya sekarang mengalihkan pandangannya pada sang suami. "aku dan Radit hanya terpaut 5 tahun. Mama juga sangat kewalahan saat mengurusi kami waktu kecil. Apalagi Mama tidak memakai jasa baby sitter. Aku ingat, dulu saat aku baru belajar naik sepeda aku terjatuh dan luka-luka juga bersamaan Radit sedang demam. Mama sangat khawatir dengan kita berdua, apalagi Papa waktu itu sedang berada diluar kota. Mama sampai menangis sambil membawa kita berdua ke rumah sakit." Reyhan mengusap matanya yang sedikit basah. Dia sedih mengingat kejadian itu.


Anya sekarang baru tahu bahwa mereka memang terpaut usia hanya 5 tahun. Benar juga, apa yang dirasakan Anya sekarang ternyata Mama juga pernah merasakan. Mama juga pernah memberikan nasihat untuknya.


"Anya ... sejak Mama kenal kamu dulu sebagai kekasih Radit, entah kenapa Mama sudah sangat sayang sama kamu. Mama melihat sesuatu yang beda dari kamu, kamu wanita kuat juga wanita yang sabar. Mama yakin kamu akan jadi seorang istri dan ibu yang hebat. Anya, mungkin terlalu cepat untuk kamu sekarang memiliki dua orang anak tapi percayalah, dua malaikat kecil ini yang nanti akan menjagamu hingga tua nanti. Dan jika kamu merasa kesulitan sendiri, minta tolonglah pada suamimu. Kalian berdua harus memiliki komunikasi yang baik," kata Mama.


.


.


.


.


.


.


.


SELAMAT PAGI PARA READERSKU TERSAYANG . HEHE


SEMOGA SEHAT SELALU YA ....