
Seorang suami harus memenuhi kebutuhan sandang ,pangan sang istri bukan ?. Itu yang harus Reyhan lakukan ,menurutnya.
"Tapi..jam makan siang sekitar 1 jam-an lagi, Kak," Anya melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Tidak masalah ,aku akanmenemani kamu bekerja sebelum jam makan siang tiba."
Merasa aneh ,jika Kak Reyhan bersikap seperti ini (batin Anya)
"Hey ,kenapa bengong?"
"Oh... tidak-tidak. Aku mau kembali ke ruangan," Anya pun berbalik badan. Reyhan juga beranjak berdiri dan mengikuti Anya.
Karna merasa diikuti Anya pun menengok ke belakang.
"Apa?" tanya Reyhan mendahului.
"Kenapa Kakak mengikutiku?"
"Kau memang benar-benar sudah tuli sekarang ,aku kan bilang aku mau menemani kau bekerja."
"Di ruanganku?"
"Kau menyuruh suamimu menunggu di lobby? Benar-benar ya kau ini."
"Hmm.. baiklah," jawab Anya dan wanita itu berlari ,takut Reyhan tambah marah. Reyhan tersenyum melihat tingkah menyebalkan dari istrinya.
Mira yang sedang duduk di meja kerjanya ,seketika langsung berdiri setelah melihat kedatangan Reyhan. Asisten Anya mengenali sosok Reyhan ,karna pernah melihat foto pernikahan mereka.
Mira membungkukkan badannya saat Reyhan melintas. Reyhan nampak acuh dan tetap mengikuti Anya dari belakang. Tangan Anya membuka pintu ruangannya tanpa menutup. Ia tak mempersilahkan suaminya untuk masuk.
Pintu yang terbuka lebar sudah menjadi pertanda. Wanita itu langsung duduk di kursi kerjanya. Tanpa menatap sang suami yang sedang menutup pintu.
Klek..
Suara pintu terkunci.
"Kenapa dikunci?" tanya Anya yang mulai merasa terganggu.
"Bukankah lebih baik dikunci." Reyhan mendudukkan tubuhnya di atas sofa.
Anya benar-benar tidak ingin berdebat. Menurutnya akhir-akhir ini perilaku suaminya sangatlah aneh. Terkadang cuek ,dingin , tampak tak perduli namun sekarang perilakunya bisa menjadi sangat manis.
Saat Anya sedang fokus dengan layar komputernya ,Reyhan berjalan mendekati meja kerjanya. Anya tak menyadari bahwa suaminya menghampirinya. Saat tangan Reyhan yang besar dan kokoh diletakkan disamping komputer ,Anya mulai menyadari.
Reyhan sedang berdiri persis disamping istrinya. Matanya menatap layar komputer. Melihat apa yang sedang istrinya kerjakan. Sedangkan mata Anya melihat wajah Reyhan yang terlihat sangat serius.
"Berhentilah memandangku," Reyhan beralih menatap istrinya. Sedangkan Anya langsung memalingkan wajahnya.
"Kau tak mengurus perusahaanmu? Tentu banyak pekerjaan yang harus kau urus setelah lama cuti."
Anya terkadang bisa bersikap sopan kepada suaminya dengan memanggil sebutan "Kakak" ,namun saat-saat tertentu sebutan untuk memanggil suaminya bisa berubah menjadi "kau".Hal itu mengalir begitu saja ,mungkin saat suasana hatinya sedang tidak baik. Tentu ,saat ini Anya merasa sibuk. Namun kehadiran Reyhan malah menambah dirinya tidak fokus bekerja.
"Aku punya orang kepercayaan ,aku sangat mempercayainya."
"Jangan terlalu mempercayai orang sampai 100 persen , percayalah dengan sewajarnya saja," entah dapat darimana kata-kata bijak yang Anya ucapkan. Namun membuat Reyhan sedikit terkejut. Wanita yang berusia lebih muda 5 tahun darinya ternyata bisa berfikir sangat dewasa.
"Kau lebih dewasa dari yang aku pikirkan."
"Dan kau lebih kekanak-kanakan dari yang aku bayangkan."
"Apa maksudmu?"
"Kau terkadang bisa sangat cuek ,dingin tapi juga terkadang sikapmu bisa semanis gula."
Reyhan tertawa. "Apa aku semanis itu?" katanya sambil meraba wajahnya.
"Bukan wajahmu yang manis , tapi sikapmu."
"Terus apa lagi?"
"Terus kamu itu------"
Bibir Reyhan mendarat di bibir Anya. Secara tidak langsung menghentikan ocehan dari istrinya itu.
"Hmmmpphh" Anya tidak bisa bersuara. Reyhan mengangkat tubuh Anya untuk berdiri.
Kedua kalinya Anya mendapatkan ciuman tiba-tiba seperti ini. Tubuh suaminya yang besar dan kekar dengan bebasnya memeluk tubuhnya yang mungil. Aroma parfum yang menempel dikemeja Reyhan sangat memabukkan bagi Anya. Wanita itu sangat menyukai aroma parfum suaminya.
Reyhan mengelus punggung Anya dengan kelembutan. Anya saat ini memakai kemeja warna putih yang sedikit menerawang dibagian punggungnya sedangkan bagian depannya agak tertutup dengan kantong saku dan bawahannya memakai rok span hitam selutut.
"Kak Rey ,kenapa kau selalu menciumku secara tiba-tiba?" Anya memukul dada bidang Reyhan sekeras mungkin setelah ciuman panas itu. Tapi tangan Reyhan masih memeluknya.
"Kau----, ucapnya terhenti. "Begitu menggoda," sambung Reyhan dan mulai menciumi leher jenjang Anya.
"Kak Rey...lepas ,nanti ada yang masuk," Anya berusaha memberontak.
Reyhan kembali menatap Anya. "Selain kau tuli ,kau juga pelupa. Pintunya kan sudah aku kunci."
Anya terlihat menahan malu ,ia sudah lupa jika pintunya sudah dikunci Reyhan tadi.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan," goda Reyhan.
"Hah?"
Reyhan menggiring Anya ke sofa. Wanita itu entah mengapa sangat menurut. Ia merasa sangat menyukai perilaku Reyhan saat ini.
"Kau mau apa?" tanya Anya setelah tubuhnya didudukkan diatas sofa.
"Aku mau menjalankan tugasku sebagai seorang suami," bisiknya tepat ditelinga Anya ,membuat wanita itu kegelian.
Reyhan duduk disamping Anya. Lelaki itu mengangkat Anya untuk duduk dipangkuannya.
"Kak Rey," Anya bukannya tidak suka dengan posisi seperti ini ,namun ia merasa malu.
"Tetaplah seperti ini ,sebentar saja," Reyhan merasakan tubuh Anya yang hangat. Ia sandarkan kepalanya kepunggung wanita itu. Menghirup aroma khas dari tubuh istrinya. Kedua tangannya memeluk erat bagian perut Anya.
"Kemejamu sangat tipis," Reyhan tiba-tiba menyadari kemeja yang dikenakan istrinya agak sedikit tembus pandang dari belakang. Ia bisa melihat warna dalaman sang istri. Walaupun sedikit tertutup oleh rambutnya yang tergerai. "Dan rokmu terlalu ketat dan pendek," lelaki itu menarik ujung roknya dengan cara tidak suka.
Anya hanya bisa diam. Bukankah selama ini ia sudah sering melihatnya berpakaian seperti ini? Kenapa baru komplain sekarang? Dasar aneh.
"Baiklah besok aku ganti," jawab Anya menurut.
"Hari ini harus ganti," tegas Reyhan.
"Tapi aku gak bawa baju ganti."
"Kita harus beli sekarang," Reyhan dengan paksa menarik tangan Anya.
"Tapi pekerjaanku belum selesai," Anya hampir frustasi melihat tingkah aneh suaminya.
"Kau lebih memilih pekerjaanmu daripada perintah suamimu? Baiklah kembali ke meja kerjamu. Aku tunggu di lobby saja sampai jam makan siang tiba," kata-katanya terdengar tidak ramah. Ia berlalu meninggalkan Anya yang masih berdiam diri. Saat pintu terbuka ,Mira ternyata ada didepan pintu.
"Maaf Bu ,ada pelanggan yang mau bertemu Ibu. Beliau menunggu di ruang tamu." Dalam hati kecil Anya ,ia ingin mengejar sang suami. Tapi ia juga tak ingin mengecewakan pelanggannya.
"Siapa? Pelanggan baru atau lama?"
"Nyonya Natalie ,Bu."
Mendengar nama itu , mau tidak mau, ia harus menghampirinya. Beliau adalah seorang ibu lanjut usia yang sudah berlangganan dari semenjak Butiknya dibuka. Bisa dibilang ,Nyonya Natalie adalah pelanggan pertamanya.
"Nyonya Natalie ,senang bertemu anda kembali," sapa Anya dengan ramahnya.
"Nona Anya , bagaimana kabarmu?" Nyonya Natalie tersenyum ramah.
"Baik Nyonya ,sangat baik."
"Saya dengar anda beberapa hari yang lalu bulan madu? Kenapa saya baru tau kalau kau sudah menikah Nona?"
"Saya baru saja menikah ,Nyonya. Dan memang acaranya hanya antar keluarga saja."
"Semoga keluargamu selalu diberi keberkahan oleh Tuhan ,saya doakan semoga pernikahanmu abadi sampai maut memisahkan."
Ucapan doa dari Nyonya Natalie terdengar tulus. Namun Anya melihat matanya seperti menahan kesedihan.
.
.
.
.
.
.
.