Temporary Wife

Temporary Wife
Hari Yang Aneh



Pagi ini tidak biasanya Anya bangun setelah suaminya sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi. Biasanya wanita itu akan bangun sebelum suaminya terbangun dari tidurnya. Mungkin karna semalam Reyhan membuatnya hampir patah tulang. Anya sangat kelelahan. Matanya sudah seluruhnya terbuka, tapi dia malas untuk beranjak dari tempat ternyamannya.


Sekilas Anya melirik pintu kamar mandi yang tak kunjung dibuka. Dia tidak tahu sejak kapan suaminya berada di dalam. Sambil menunggu suaminya keluar, dia pun memejamkan matanya kembali. Wanita itu dengan tubuh polosnya meringkuk dibawah selimut yang membalut tubuhnya.


Banyak tanda merah yang sengaja ditinggalkan oleh sang pembuat. Suaminya sekarang berganti profesi menjadi manusia stempel. Yang hanya mau memberikan stempel yang berwarna merah khusus di tubuhnya. Anya tersenyum saat membayangkan malam-malam yang indah bersama suaminya.


Juga saat beberapa minggu terakhir melihat suaminya frustasi karna dirinya datang bulan. Sekitar satu minggu Anya bisa istirahat dari keganasan suaminya.


Klek!


Pintu terbuka. Anya segera beranjak bangun. Dia menunggu suaminya melepaskan handuknya untuk bergantian dia pakai. Karna dirinya malas untuk memakai piyamanya kembali yang tidak tahu entah dimana.


Dengan lembut Reyhan membalutkan handuknya pada tubuh Anya yang polos. Walaupun bisa saja Anya berlari dengan keadaan polosnya, tapi dirinya tidak nyaman walaupun hanya berdua dengan suaminya.


"Sayang ... Aku langsung berangkat ke kantor ya," ucapnya setelah selesai membalutkan handuknya pada tubuh istrinya.


Anya memanyunkan bibirnya. "Ada apa di kantor ? Kenapa buru-buru sekali."


Reyhan mencubit pipinya dengan gemas lalu diciumnya. "Aku ada rapat pagi, sayang. Kemarin aku membatalkannya karna lebih memilih rapat dengan tubuhmu."


Iya. Pagi kemarin saat Reyhan baru saja bangun tidur. Dia malah tergoda pada tubuh istrinya yang tidak sengaja dia lihat sedang memakai baju. Alhasil mereka melakukan ritual pagi hari juga mandi bersama hingga Reyhan terlambat berangkat ke kantor.


"Itu karna ulahmu sendiri."


Anya akan melangkah ke kamar mandi, tapi entah kenapa dirinya tidak mau suaminya pergi. Dia membalikkan tubuhnya, Reyhan menatap istrinya dengan heran. "Kenapa, tidak jadi mandi ?" tanyanya.


Wanita itu mengangguk. Reyhan mengernyit heran. "Lalu kau mau apa ?"


"Mau rapat denganmu lagi boleh ?" Mata Reyhan membola besar. Dia tidak percaya bahwa istrinya secara terang-terangan menginginkannya. Anya seperti melupakan tubuhnya yang hampir patah tulang semalam, dia kali ini memang sangat menginginkan sentuhan lagi dari suaminya.


Reyhan tidak bisa menolak saat Anya melorotkan handuknya. Menampakkan tubuh polosnya yang membuatnya mabuk.


Saat permainan sedang berlangsung, Reyhan mendapat panggilan dari Doni.


"Iya Hallo. Undur rapatnya 1 jam lagi. Aku ada urusan yang---"


Reyhan tidak bisa melanjutkan perkataannya saat Anya membenamkan ciumannya pada bibirnya yang sedang berbicara.


"Jadi, rapatnya diundur, Pak ? 1 jam lagi ?"


Reyhan tidak bisa menjawab tapi ponsel masih menempel di telinganya. Anya pun melepaskan persatuan bibirnya, dia tersenyum jahil. Reyhan geleng-geleng kepala, bukan karna dicium Anya tiba-tiba, tapi kali ini istrinya yang memimpin permainan mereka. Wanita itu tidak berhenti menggoyangkan pinggulnya dengan wajah yang menggoda.


Beberapa kali dia mengibaskan rambutnya yang berantakan. Tentu membuat Reyhan semakin sulit bernafas melihatnya dalam keadaan sangat sexy.


"Hallo Pak."


Reyhan baru sadar bahwa ponselnya masih tersambung dengan Doni.


"Iya di undur. Kenapa cerewet sekali !"


Reyhan mematikan sambungan telfonnya. Dia tersenyum senang melihat istrinya pagi ini sangat agresif. Tidak biasanya istrinya itu akan meminta secara terang-terangan dan bahkan sekarang tidak malu-malu lagi melampiaskan hasratnya.


Saat mereka sudah mencapai puncak kenikmatan bersama juga keringat yang begitu banyak menempel di tubuh, mereka dikagetkan oleh suara menggemaskan dari balik pintu.


"Mamih ... Papih ... Kenapa belum bangun ?"


Reyhan berusaha untuk bangun walaupun tenaganya sudah terkuras habis. Dia memakai celana pendek juga kaosnya dan membuka pintunya sedikit karna tidak mau Anya terlihat dari luar.


"Papih ..."


Reyhan jongkok dan mengelus pelan kepala putrinya. "Qila makan dulu sama Mbak Ratna ya. Papih sama Mamih mau mandi dulu."


"Kok belum mandi, Pih. Papih sama Mamih kesiangan ya ? Terus kok Papih keringatan ? Papih habis lari-lari ya di dalam kamar ?"


Mbak Ratna menghampiri Qila dan berusaha membujuknya untuk pergi dari sana. Reyhan tidak menjawab pertanyaan putrinya. Dia hanya mengecup keningnya sekilas dan Mbak Ratna berhasil membujuk Qila untuk kembali ke meja makan.


Setelah sepasang suami istri itu hubungannya membaik. Bi Nah atau pun Mbak Ratna tidak ada yang berani mengganggu mereka berdua saat pagi hari, sekalipun mereka kesiangan. Karna Reyhan pernah berpesan untuk tidak mengganggu waktu mereka kecuali memang ada sesuatu yang urgent. Maka dari itu Mbak Ratna dan Bi Nah tidak membangunkan mereka walaupun hari semakin siang.


"Sayang, apa kau masih lelah ?"


"Baiklah, aku akan mandi dulu. Badanku penuh dengan keringat."


Tiba-tiba Anya beranjak bangun. Dia segera menyusul suaminya yang sudah mencapai pintu kamar mandi. "Mandi bareng, hehe."


Reyhan terdiam ditempat, melihat sosok istrinya yang berbeda dari hari biasanya. Biasanya dia akan menolak jika disuruh mandi bersama, tapi kali ini malah wanita itu yang menginginkan mandi bersama.


Saat mereka mandi bersama, tidak ada yang terjadi. Tidak ada adegan panas di dalam sana. Mereka normal untuk sekedar mandi dan membersihkan tubuh mereka dari keringat. Hanya saja Reyhan membantu membersihkan badan istrinya atas kemauannya sendiri.


Setelah mereka selesai mandi, Anya menyiapkan kembali pakaian untuk Reyhan. Karna pakaian tadi terlihat kusut dan tergeletak begitu saja di atas lantai.


"Kau mau kemana ?"


Reyhan melihat Anya memakai baju yang rapi. Dia hanya akan memakai baju seperti itu jika ingin pergi atau pun ke Butik.


"Aku mau pergi," ucapnya sambil berjalan menuju meja rias.


"Kemana ? Kau mau ke Butik ?"


"Tidak," jawabnya singkat. Reyhan semakin penasaran.


"Lalu kemana ?"


"Ke---- kantor suamiku," ujarnya terjeda.


Anya melewati begitu saja Reyhan yang terdiam seperti patung. Pria itu menjadi bingung dengan sikap istrinya yang tiba-tiba ingin menemaninya ke kantor. Dia tidak masalah jika Anya yang mau, tapi baru kali ini sikap Anya yang seperti tidak ingin jauh-jauh darinya.


"Qila sayang, Mamih mau ke kantor Papih ya. Hari ini main sama Mbak Ratna dulu ya, nanti siang Mamih pulang dan kita makan siang bersama. Oke."


CUP.


CUP.


Belum sempat gadis kecil itu menjawab, Anya sudah menciumi pipi putrinya dengan gemas membuat Qilla kegelian.


"Mamih mau nemenin Papih kerja ?"


"Iya sayang."


Anya melambaikan tangannya pada putrinya dan bergelayutan manja pada lengan suaminya yang kekar. "Apa kau terlalu takut kehilanganku ?"


"Apa kau mau kehilanganku ?"


Reyhan menggeleng. "Tidak sayang. Aku tidak mau kehilanganmu."


"Baiklah. Tidak usah banyak bertanya."


Reyhan diam-diam tersenyum melihat tingkah istrinya yang sangat manja. Dia bahkan tidak malu saat sudah tiba di kantor dengan sesekali bersender manja di lengannya.


"Mereka memperhatikan kita, sayang. Apa kau tidak malu ?"


"Apa kau merasa malu jalan denganku ?"


Ah ... Sepertinya apapun pertanyaan Reyhan akan selalu diputar balikan oleh istrinya sehingga dirinya kelabakan untuk menjawab.


.


.


Selamat siang Para Readers yang aku sayangi dan aku cintai sepenuh hatiku....


Hahahaa..


.


.