Temporary Wife

Temporary Wife
Reyhan POV 3



Hari ini weekend ,aku sengaja bangun siang karna ingin mengistirahatkan badanku setelah seminggu ini bekerja. Aku tidak tahu ,apakah Anya hari ini ke Butik atau tidak. Yang aku tahu ,Butiknya hari weekend pun tetap buka.


Aku mengaktifkan ponselku setelah semalaman aku sengaja mematikannya. Karna Doni sekretarisku selalu saja mengganggu diwaktu malam ,dia selalu bertanya seputar pekerjaan. Aku sudah mengatakan ,lanjut saja besok atau hari kerja namun ia selalu beralasan nanggung.


Doni adalah teman baikku sewaktu sekolah SMA dulu ,bagiku tak ada jarak antara atasan dan bawahan. Dia pun cukup mengerti memposisikan dirinya disaat jam kerja maupun bukan.


Betapa kagetnya aku saat ada notif pesan masuk dari Bi Nah.


Tuan ,saya mohon maaf untuk hari ini ijin tidak berangkat kerja ,karna anak saya sedang sakit ,tidak bisa saya tinggal ,maaf Tuan (emot tangan mengatup)


Ya sudahlah tidak apa-apa ,lagipula ini hari libur. Dan juga ada Anya ,dia pasti mau memasak. Kalau dia tidak mau ,ya sudah beli saja ,gampang.


Aku dengan malasnya bangun dan menuju kamar Anya untuk mengambil bajuku. Karna barangku masih disitu semua ,untuk berjaga-jaga jika ada yang menginap disini. Mereka tidak boleh tau kalau aku dan Anya tidur di kamar terpisah.


Ceklek..


Pintu kamar pun aku buka dengan hati-hati. Anya masih tidur ,dengan posisi membelakangiku saat ini. Ku lihat jam sudah menunjukan pukul 8 pagi ,tidak mungkin dia ke Butik siang hari. Dia paling telat ke Butik jam 7 pagi.


Perlahan aku buka lemari pakaianku dan aku ambil beberapa helai baju. Aku tidak mau mengganggu tidur Anya. Aku akan mandi dikamar mandi sebelah.


Setelah aku selesai mandi ,aku keluar kamar dan tidak melihat tanda-tanda Anya bangun. Tidak ada suara ,ataupun pintu kamar yang terbuka. Aku pun berinisiatif membuat sarapan ,roti panggang. Aku juga membuatkan untuk Anya.


Sampai aku selesai memakan habis roti panggangku ,Anya pun tak kunjung keluar kamar.


Dia kenapa?


Apa sangat kelelahan?


Sehingga tidur lama sekali?


Aku lihat jam dinding saat ini sudah menunjukan pukul 10. Wanita itu akan bangun jam berapa?


Aku memberanikan diri untuk membangunkannya. Dia belum makan ,padahal hari sudah semakin siang.


Perlahan aku membuka pintu kamar ,posisi Anya saat ini masih sama persis saat tadi aku masuk ke kamar ini. Posisi tidur masih membelakangiku.


"Anya... kau tidak ke Butik?"


Saat ini aku sudah sampai dipinggir ranjang ,namun tidak ada jawaban dari Anya.


Wanita ini kenapa pulas sekali tidurnya.


"Anya... bangun ,sarapan dulu," kataku lagi.


Apa suaraku terlalu lirih?


Aku goyangkan sedikit badannya yang masih tertutup selimut.


"Anya..??"


"Hmmm.." Anya hanya bergumam dan membalikkan badannya menjadi telentang.


Muka Anya pucat. Aku coba mengecek suhu badannya.


Ya Tuhan. Panas sekali.


"Anya ,kau sakit?"


Tanpa membuang banyak waktu ,aku langsung menghubungi James. Dia teman sewaktuku kuliah ,dia seorang dokter. Dia sudah menjadi dokter pribadi keluargaku selama beberapa tahun ini.


"Emmhhh... Bunda.."


Anya bergumam lagi memanggil Bundanya. Mungkin dia sudah terbiasa kalau sakit pasti ada Bunda disisinya.


"Anya ,Kakak sudah memanggilkan dokter untuk priksa kamu. Sabar ya."


Tak butuh waktu lama untuk James sampai di Apartemen, karna jarak rumahnya dengan Apartemenku lumayan dekat.


"Dia sakit apa James ?" tanyaku tidak sabar setelah James selesai memeriksa Anya.


"Istrimu ini hanya kelelahan dan tekanan darahnya rendah ,kasih makan yang cukup dan rutin minum vitamin aja. Ini kamu tebus obatnya di Apotek."


"Oke baiklah , terimakasih James."


"Istrimu jauh lebih muda ya dari Calista," James meledekku ,dia tau kalau Calista lebih tua dariku.


"Diam kau."


"Kau jahat sekali tidak mengundangku di hari pernikahanmu ,sahabat macam apa kau."


"Hmm.. sorry sorry ,acaranya khusus untuk keluarga aja. Lagipula pernikahan ini cuma se---"


"Se- apa ?" tanya James.


"Se----derhana ,hanya antar keluarga saja yang menghadiri. Sudah sudahlah ,kau pulang sana. Terimakasih ,nanti aku transfer."


Aku mendorong James keluar , aku tidak mau dia semakin banyak bertanya.


"Dasar kau..." umpat James setelah aku menutup pintu.


Aku menghampiri Anya di kamar.


"Kak Rey ,kenapa kau repot-repot panggil dokter. Aku tidak apa-apa hanya kelelahan saja."


"Iya kau kelelahan sampai jatuh sakit begini, kau dari kemarin terlalu sibuk bekerja Anya ,sampai Qila kurang perhatianmu."


Ku lihat wajah wanita itu terlihat bersedih. Sepertinya dia merasa tersinggung dengan kata-kataku.


"Iya Kak maaf ,kemarin memang ada sedikit masalah di Butik. Tapi semuanya sudah selesai,"jawabnya lirih.


"Masalah apa ?seharusnya kau bercerita kepadaku."


Anya langsung mengalihkan pandangannya kepadaku.


"Oh tidak ,maksudku jika kau ada masalah ,ya langsung diselesaikan ,aku mau menebus obat dulu di Apotek. Kau makanlah ,aku sudah buatkan roti panggang di dapur."


"Kak.."


"Lupakan ,lupakan apa yang barusan aku katakan. Masalahmu ya masalahmu begitupun aku."


"Aku cuma mau bertanya ,Bi Nah kemana?."


"Oh ,Bi Nah. Anaknya sedang sakit ,dia ijin tidak masuk hari ini."


Aku pun langsung keluar kamar ,dengan wajah yang sungguh memalukan.


**


Setelah menebus obat ,aku juga membeli makanan untuk makan siang nanti.


"Kau mau kemana?" tanyaku saat melihat Anya akan turun dari ranjang tidurnya.


Aku sedari tadi duduk disofa kecil yang berada didalam kamar ,memastikan obatnya sudah benar-benar diminum.


"Aku mau mandi ,Kak. Badanku terasa lengket," jawabnya tanpa melihat ke arahku.


"Kau tidak usah mandi ,kau kan sedang sakit."


"Apa??" Anya melihat kearahku.


"Baiklah ,tunggu sebentar. Kakak akan merebus air untuk mandi kamu."


"Tidak usah ,Kak." Anya menarik tanganku. Aku sedikit kaget dibuatnya. Tenaganya kuat sekali sekalipun dia sedang sakit.


"Kau akan semakin sakit ,jika mandi air dingin," kataku membujuk.


"Tidak usah berlebihan ,Kak. Aku tidak apa-apa."


Wanita ini ,dasar keras kelapa.


Dikasih tau malah tidak mau menurut.


"Baiklah ,urus sendiri diri kamu."


Aku pun keluar kamar dengan perasaan sedikit kesal. Tentunya aku merasa tidak dihargai sebagai suami. Hah? Suami? Pantaslah tidak dihargai. Kita kan tidak saling mencintai.


Aku saat ini sedang berada di dapur ,walaupun aku kesal dengan sikap Anya. Namun aku tetap khawatir dengan kondisinya. Bagaimana pun aku tetap bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi padanya. Kalau ada apa-apa dengannya pasti aku yang disalahkan.


Kebetulan dapur dan ruang kamar Anya bersebelahan ,aku bisa mengawasinya dari sini. Berjaga-jaga jika aku mendengar sesuatu yang membahayakan.


Setelah cukup lama aku di dapur ,aku pun mulai bosan. Aku berniat untuk tidur saja ,aku mengantuk. Aku pun berjalan melewati kamar Anya ,ku lihat dia sedang menerima telfon dari seseorang.


Telfon dari siapa?


Apa mungkin Radit?


Sudahlah biarkan.


.


.