
Satu persatu anak tangga berhasil Anya naiki. Dari bawah, anak tangga ini terlihat pendek , ternyata setelah dinaiki lumayan panjang dan melelahkan. Anya menengok kebawah dan masih bisa melihat Pak Sodik sedang memotong rumput. Pikirnya ,Pak Sodik akan lama jadi ia jalan-jalan dulu sebentar.
"Uhh.. capeknya," keluh Anya. Butiran keringat menetes dari dahinya. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis berlari. Setelah berhasil menaiki semua anak tangga ,ia merasa takjub apa yang dia lihat sekarang ini. Diatas sini ternyata ada hamparan kebun bunga.
Berbagai macam bunga yang hampir Anya tidak mengetahui jenis bunganya. Intinya sangat indah dan juga seperti terawat. Harusnya ini dijadikan objek wisata saja ,namun kenapa dibiarkan saja. Entahlah.
Anya berjalan mendekati hamparan bunga tersebut. Ia tidak berniat memetiknya atau merusaknya ,hanya ingin memegangnya saja.
"Cantik," pujinya.
Ia menyesal karna tidak membawa ponselnya. Kalau tadi membawanya pasti ia akan ber-selfie ria disini.
"Awww..," pekik Anya. Ia merasa ada yang menyenggol kakinya. "Apa itu," Anya melihat ada seekor binatang ,ia bersembunyi dibalik tanaman bunga ini. Ia berusaha menjangkaunya.
"Kelinci? Lucunya kau ini."
Anya menengok ke arah kiri ,kanan ,belakang namun tidak ada siapapun. "Siapa pemilik kelinci ini? Tidak mungkin ini kelinci liar ,sungguh tidak masuk akal," Anya merasa heran.
"Hey kelinci ,tuanmu dimana?" tanya Anya kepada Kelinci yang hanya bisa diam saja.
Tiba-tiba kelinci itu terlepas dari genggaman Anya dan berlari. Anya penasaran arah kemana kelinci itu akan pergi. Walaupun cukup aneh ada kelinci disekitar sini. Karna ini jauh dari pemukiman warga ,tidak mungkin ada sebuah keluarga tinggal disini. Kalau itu kelinci liar , bagaimana kelinci itu bisa bertahan hidup. Sedangkan disini hanya terdapat tanaman bunga saja. Emangnya kelinci itu mbah dukun ,biasa makan bunga. Haha
Disisi lain Pak Sodik yang menyadari hari sudah hampir petang ,menyudahi memotong rumputnya.
"Cukuplah segini untuk makan si kebo."
Pak Sodik beristirahat sebentar sambil meregangkan otot-ototnya. Setelah badannya mulai bertenaga kembali ,ia pun menyusun rumputnya dibelakang jok motor. Namun saat menyusun rumputnya ,Pak Sodik merasa ada yang kurang.
Ia berpikir ,terus berpikir. "Ya Allah ,Non Anya," Pak Sodik baru menyadari bahwa ia tadi kesini bersama Anya. Matanya berpendar mengelilingi kebun ,namun tidak menjumpai sosok Anya. Pak Sodik pun berjalan memutari kebun ,berharap bisa menemukan Anya.
"Aduh... Non Anya kemana ini ,apa sudah pulang duluan yah? Tapi apa dia tau jalannya?" Pak Sodik pun bingung. Saat akan menelfon anak majikannya si Reyhan ,ternyata Reyhan sudah menghubunginya lebih dulu.
"Panjang umur nih Tuan Reyhan ,mau ditelfon eh malah telfon duluan," dengan segera Pak Sodik mengangkat panggilan dari Reyhan.
"Halo Pak Sodik ,kenapa belum pulang?" tanya Reyhan tidak sabar. Lelaki itu khawatir karna dari siang sampai hampir sore ,Pak Sodik dan Anya belum juga kembali ke villa. Mencari rumput harusnya tidak selama ini.
"Iya Tuan ,ini saya mau pulang."
"Ya sudah ,baiklah. Hati-hati," Reyhan akan segera menutup telfon.
"Eh Tuan tunggu."
"Kenapa lagi ,Pak?"
"Tapi Non Anya tidak ada disini ,apa mungkin Non Anya pulang duluan ya ,Tuan?" tanya Pak Sodik hati-hati. Bisa jadi Non Anya pulang duluan dan saat ini masih di jalan.
"Anya tidak ada di villa ,tidak mungkin Anya berani pulang sendiri. Dia kan baru pertama kali kesini ,belum hafal jalan ,Pak."
"Baiklah ,Tuan. Saya coba cari disekitar kebun lagi ,mungkin Non Anya sedang jalan-jalan sekitar sini."
Panggilan pun terputus. Pak Sodik kembali memutari kebun lagi untuk mencari Anya. Reyhan yang akan mandi ,mendadak perasaannya tidak enak. Ia memikirkan Anya.
Kemana Anya ,tapi dia kan sudah besar. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi....
Setelah memarkirkan mobilnya ditempat yang sekiranya aman ,Reyhan langsung mencari Pak Sodik disekitar kebun. Reyhan tidak tenang dan bergegas menyusul Pak Sodik yang sedang mencari Anya.
"Tuan kesini?"
"Dimana Anya?"
"Maaf Tuan ,saya belum berhasil menemukan Non Anya," Pak Sodik pun ketakutan ,melihat anak majikannya tersebut diselimuti rasa cemas yang amat terpancar.
Reyhan mengusap wajahnya kasar. Melihat langit sudah semakin petang. Burung-burung pun terlihat berterbangan untuk kembali ke sarangnya.
"Tapi saya curiga ,kalau...."
"Kalau apa?"
"Tuan lihat tangga disebelah sana? Mungkin Non Anya kesana Tuan."
"Ya sudah ,kita cari kesana." Reyhan pun langsung beranjak pergi.
Pak Sodik dengan cepat menarik tangan Tuannya. "Tunggu Tuan," mata penjaga villa itu mengisyaratkan ketakutan. Sedangkan Reyhan yang dicegah sorot matanya penuh dengan keheranan.
"Ada apa lagi ,Pak. Saya mau mencari istri saya disana."
Pak Sodik menengok ke arah kanan dan kiri. "Tempat itu angker ,Tuan. Kami warga disini sangat takut untuk pergi kesana."
"Sudahlah ,Pak. Saya tidak peduli. Istri saya kalau ternyata ada disana gimana? Bapak mau tanggung jawab?" Reyhan mulai tersulut emosi. Tidak percaya akan hal seperti itu. Yang ada dipikirannya hanya Anya. Entah mengapa ,ia sangat mengkhawatirkan wanita itu.
"Sebentar Tuan ,saya akan cari pertolongan ke warga sekitar untuk membantu mencari Non Anya. Tuan tunggu sebentar ,tolong jangan kesana sendirian. Berbahaya," ucapan Pak Sodik pun terlihat meyakinkan. Ia dengan sabar menunggu Pak Sodik. Walau beberapa kali ia tidak sabar untuk segera naik ke tangga tersebut.
Tidak butuh waktu lama ,akhirnya Pak Sodik kembali dengan bersama beberapa warga sekitar.
"Mari kita cari..." ucap salah satu warga ,yang belum Reyhan ketahui siapa beliau.
"Den bagus ini dari mana ? kenapa istri aden bisa sampai di wilayah ini?" tanya ramah yang ternyata pemilik perkebunan ini.
"Saya dari kota A ,Pak. Saya tidak tau apakah benar istri saya ada disini atau dimana, karna terakhir ada di kebun bersama Pak Sodik sedang mencari rumput," Reyhan menjelaskan dan Pak Sodik pun ikut menimpali.
Setelah berhasil menaiki semua anak tangga. Mereka yang berjumlah sekitar 5 orang pun sampai diatas. Hawa dingin pun mulai menyelimuti karna hari sudah sangat petang. Pandangan pun mulai terganggu ,untung saja para warga membawa senter.
Pemilik kebun tiba-tiba menghentikan langkahnya ,semuanya pun ikut berhenti. Terlihat pemilik kebun memimpin doa untuk keselamatan semuanya.
"Tolong jangan mengambil atau pun merusak ,apalagi berkata kasar saat pencarian berlangsung."
Semuanya pun mengangguk. Reyhan pun terlihat kebingungan. Sebenarnya ini tempat apa ,bukankah hanya perkebunan bunga.
"Maaf ,Pak. Sebenarnya ini tempat apa?" tanya Reyhan penasaran. Suasana sangat sunyi ,senyap hanya ada bunyi derap langkah kaki mereka. Hewan seperti jangkrik atau pun hewan lain yang terbiasa berbunyi pada malam hari sepertinya tidak bertempat tinggal disini.
"Ini dulu sebenarnya adalah tempat wisata ,namun hanya buka 3 bulan ,lalu oleh pemerintah pusat wisatanya ditutup. Karna banyak membuat keresahan," tutur pemilik kebun dengan suara yang sangat pelan.
.
.
.