
Tidak biasanya Reyhan melihat Anya hanya mengenakan baju yang terkesan sexy. Dress tidur yang terbuat dari kain satin terlihat sangat tipis. Menampakkan lekuk tubuhnya. Darah Reyhan berdesir ,ia mengagumi penampilan Anya.
Sangat cantik
Pundaknya yang terekspos bebas karna model dress tidurnya tanpa lengan. Talinya tipis membalut pundaknya yang putih mulus. Juga rambutnya yang dicepol asal ,membuat leher jenjangnya yang putih juga terlihat.
Panjang dressnya hanya sebatas setengah pahanya. Juga belahan dadanya yang sedikit terlihat ,karna bagian depan dressnya sedikit kebawah.
Reyhan perlahan menghampiri Anya. Lelaki itu tersenyum ,berusaha membuat Anya senyaman mungkin. Wanita itu pun dengan malu-malu membalas senyuman Reyhan.
"Anya...." Reyhan menyentuh pipi Anya dengan lembut. Anya hanya terdiam. Dikecupnya singkat kening Anya. Menghadirkan rasa hangat diantara mereka.
Tangan Reyhan meraih tengkuknya dan menyesap bibir wanita itu perlahan. Tak ada penolakan dari Anya. Tak ada juga balasan darinya , membuat Reyhan sedikit menjeda.
Tak menyerah ,Reyhan beralih ke arah leher. Memberi beberapa tanda cinta dibagian lehernya. Dengan napas yang memburu ,Reyhan menggiring Anya ke ranjang. Lelaki itu menindih Anya ,dengan memperdalam ciumannya ,mereka berguling kesana kemari tidak bisa menahan gejolak nafsu.
Tok.. Tok.. Tok
Terdengar suara pintu yang diketok. Tak membuat Reyhan menghentikan aktivitasnya.
Brughhh..
"Aww...." Reyhan meringis ,lelaki itu terjatuh ke lantai bersamaan selimut yang ia pakai untuk tidur.
"Kak Rey ,kau tidak apa-apa?"
Sialan .. cuma mimpi
"Hah? Apa?" Reyhan berusaha bangun.
"Kau kenapa bisa jatuh ,apa sofa ini terlalu sempit untukmu?"
"Jelaslah sempit ,kau lihat sendiri sofanya sekecil ini," jawab Reyhan dengan angkuhnya. Padahal ia sedang menyembunyikan rasa malunya. Juga adanya Pak Sodik yang ternyata sedang berdiri di depan pintu kamar.
Reyhan memandang dengan tatapan yang sudah bisa diartikan Pak Sodik.
"Maaf Tuan ,sarapan sudah siap sedari tadi. Jadi saya berinisiatif memanggil Tuan dan Nona untuk sarapan."
"Kak Rey ini masa tidak dengar Pak Sodik dari tadi katanya mengetok pintu ,namun tidak ada sahutan dari dalam. Sedangkan aku berada di kamar mandi. Baru aja selesai," Anya merasa heran ,padahal pintu dan sofa sangatlah dekat. Walaupun Reyhan tidur ,tidak mungkin lelaki itu tak mendengar sedikitpun ketokan pintu. Tidak biasanya juga ,lelaki itu bangun siang.
Pikiran Reyhan kacau. Ia tak menggubris perkataan istrinya. Ia terus berjalan ke arah kamar mandi. Langkahnya menuju wastafel ,tangannya menengadah menunggu terisi air penuh lalu diusapkan dengan kasar ke arah wajahnya.
Lelaki itu terus terbayang-bayang wajah Anya yang memakai pakaian sexy. Ia jadi tidak fokus mandi ,saat ia kira menuangkan cairan sabun muka ternyata yang ia tuang adalah shampo.
"Ya Tuhan... apa ini," wajahnya terasa lengket ,karna ia menuangkan cairan shampo ketelapak tangannya dan diusapkan ke seluruh wajahnya. Matanya mendadak perih ,saat tak sengaja busa shamponya masuk ke dalam mata.
"Air ..air .." kran air sudah ia putar beberapa kali namun tak ada air yang mengalir. Ia berdecak sebal. Ia membuka pintu dan berteriak.
"Anya... tolong ambilkan air."
Anya yang masih berada didalam kamar pun dengan segera mengambil gelas yang berada diatas nakas. Airnya hanya berisi setengah gelas ,namun ia tak punya waktu untuk mengambilnya di dapur. Melihat Kak Rey dengan wajah yang berbusa dan merintih perih.
"Kenapa sedikit sekali airnya"
Tanpa terduga Anya mengambil tisu dan mengelap wajah suaminya. Namun ada hal yang menggelitik bagi Anya. Reyhan berdiri di pintu kamar mandi hanya menggunakan ****** ***** saja. Namun Anya diam , walaupun beberapa kali pandangannya tidak terkendali.
"Masih perih ,Kak?"
"Sudah tidak apa-apa ,tolong beritahu Pak Sodik. Air krannya mati." Reyhan pun menutup pintu dan berbalik. Ia mencoba membuka krannya kembali dan air mengucur dari sana.
Ia sepertinya tidak akan keluar kamar mandi. Setelah apa yang terjadi pagi ini. Ini terlalu memalukan.
Tok .. Tok..Tok..
Suara pintu diketok.
"Kak Rey ,kau mendengar suaraku?" teriak Anya dari luar.
"Ya...."
"Kata Pak Sodik ,tidak ada masalah dengan saluran airnya. Mungkin tadi macet saja jalan airnya , coba Kak Rey putar kembali."
"Ya..."
Sekuat tenaga Anya menjelaskan ,namun jawaban Reyhan hanya ya ya saja.
Tok..Tok.. Tok
Suara pintu terketok lagi.
"Apa lagi?" kini Reyhan yang telah selesai mandi pun membuka pintu. Dengan lilitan handuk dipinggangnya. Menampakkan dada bidangnya yang berisikan otot-otot yang besar.
Reyhan mengibaskan tangan ke wajah Anya.
"Hey... kau ngliatin apa? Terpesona ya?"
"Hah ... Apa?" Reyhan berjalan mendekati Anya. Namun wanita itu malah mundur. Reyhan terus berjalan maju ,sampai langkah Anya terhenti dibelakang sofa.
"Jujur saja ,kau terpesonakan lihat aku telanjang dada seperti ini?" ledeknya.
"Tidak," Anya menggeleng cepat. Ia merasa takut. Reyhan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bibir itu kenapa menggoda sekali (dalam hati Reyhan)
Ia membayangkan mimpi itu ,saat ia mencumbu mesra Anya. Seperti nyata ,tapi sayangnya memang hanya mimpi. Namun kali ini ,tepat didepan matanya. Seperti kesempatan yang diberikan Tuhan.
Anya menggigit bibir bagian bawahnya. Bahwa ia merasa tidak nyaman dengan posisi seperti itu. Jarak mereka hanya kurang 1 cm lagi untuk saling menempel.
Dan..klop. Tubuh mereka saat ini saling menempel dengan berhadapan. Perasaan Anya tak karuan. Namun Reyhan dengan santainya merangkul pinggang Anya dengan penuh kelembutan. Menatapnya dalam-dalam. Memberikan suatu signal.
Mendadak Anya tidak bisa bernafas dengan bebasnya. Seakan sulit sekali menghirup udara. Rangkulannya berpindah dari pinggang ke arah pundak. Yang tadinya Anya sangat sulit bernafas ,kini malah nafasnya memburu. Seakan oksigen berkumpul dihadapannya.
Dari pundak menjalar ke arah tengkuk. Kedua dada Anya menempel bebas dengan dada bidang Reyhan. Tentu keduanya merasakannya. Tanpa aba-aba ,Reyhan langsung mencium bibir Anya dengan lembut. Bibir yang hanya bisa ia pandang akhir-akhir ini ,namun kali ini bisa ia rasakan.
"Hhmmppp" Anya mengeluh ,seakan ingin melepaskan ciuman itu. Namun Reyhan tak menghentikannya. Ia malah memperdalam ciumannya.
Tangan Anya memukul-mukul dada bidang Reyhan. Berharap dilepaskan. Namun Reyhan tetap tak mengindahkan. Lelaki itu memeluk erat tubuh Anya. Lama kelamaan mereka pun terhanyut suasana. Anya menarik pelan tangannya yang tadi dipakai untuk memukul. Ia terlihat pasrah. Tak dipungkiri, wanita itu pun menginginkannya.
.
.
.
Maaf ya up.nya lama ,Hehe... Tetep stay ya readers.. Cium jauh.... Hahaha