Temporary Wife

Temporary Wife
Ternyata Calista ?



"Kau tidak mau ?" Reyhan menatap istrinya dalam-dalam.


"Aku malu ... Jika harus memanggilmu dengan sebutan itu," ucapnya sambil memanyunkan bibirnya. Wanita itu sungguh malu jika memanggil suaminya dengan sebutan 'Bee' tentu jika orang tua ataupun mertuanya mendengar itu terkesan menggelikan. Dan si kecil Qilla pasti akan bertanya apa maksud dari panggilan itu, seumuran Qilla sedang aktifnya bertanya.


"Panggil aku dengan sebutan itu jika hanya ada kita berdua saja," tuturnya.


CUP.


Reyhan sekilas mencium bibir istrinya yang sedari tadi terlihat menggoda namun dia bisa tahan hasratnya karna sudah masuk jam makan siang, dia akan membawa Anya kesebuah restoran.


"Kita mau kemana, Kak ?"


Anya tidak sadar bahwa suaminya sedang menatapnya dengan tajam. Saat dia menoleh, dirinya terkejut mendapati suaminya dengan wajah yang tak ramah.


"Ulangi sekali lagi," perintahnya.


Anya menepuk jidatnya pelan, dia terkekeh dan menggelayuti lengan suaminya dengan manja.


"Kita mau kemana, Bee ...?" tanyanya sengaja menekankan ucapannya dikata 'Bee'.


Reyhan tersenyum lebar. "Aku akan mengajakmu ke restoran, sayang," jawabnya lembut. Anya tersipu malu mendengar panggilan sayang dari bibir suaminya untuknya.


"Kenapa harus ke restoran ?"


"Lalu kau ingin kemana ?"


"Kita pulang saja, makan siang bersama Qilla. Dia pasti merindukanku."


"Apa kau yakin Qilla akan merindukanmu saja ?"


"Yakin, karna aku Mamihnya. Kau tau siapa yang dia cari pertama kali saat bangun tidur ? Aku. Dan kau tau siapa yang selalu dia sebut sangat mengigau ? Aku. Aku Mamihnya," ucapnya bangga. Tanpa sadar Reyhan hampir meneteskan air matanya, tidak menyangka bahwa Qilla akan sedekat itu dengan Anya.


"Apa kau sangat menyayangi anakku ?"


Anya menutup bibir suaminya, dia tidak suka pertanyaan itu keluar dari mulutnya.


"Qilla anak kita, aku sangat menyayanginya seperti aku menyayangimu," ucapnya dan langsung mengalihkan pandangannya pada luar jendela mobil.


"Hey, kenapa kau malah membuang muka saat mengatakan menyayangiku ?" Reyhan menarik dagu istrinya untuk kembali menatapnya. Dengan malu-malu Anya menatap mata suaminya yang membuatnya selama ini terbuai akan keindahan bola mata itu. Anya bukan typekal wanita yang mudah jatuh cinta, bahkan dengan Radit dahulu butuh waktu lama saat Radit berusaha meluluhkan hatinya.


Tapi siapa sangka, cinta hadir begitu cepat saat Reyhan baru menjadi suaminya. Cinta yang terlambat dia sadari tapi selalu bisa dia rasakan. Berbeda dengan Reyhan, dia takut jatuh cinta karna terbayang-bayang oleh perjanjian Radit kepadanya. Padahal hatinya tidak pernah menolak untuk dekat dengan Anya.


"Bi Nah, Qilla ada dimana ?"


"Nyonya sudah pulang," Bi Nah terlihat bahagia melihat majikannya sudah pulang. Wanita paruh baya itu menyadari akan sikap kedua majikannya yang sepertinya telah terjadi sesuatu hal sehingga hubungan mereka sudah terlihat seperti layaknya seorang suami dan istri.


"Ada di kamarnya, Nyonya. Sepertinya sudah tidur siang bersama Mbak Ratna," jawabnya.


Anya berjalan menuju kamar Qilla, dia merindukan putri kecilnya. Walaupun tadi pagi dia sudah menelfonnya dan mengatakan sedang di rumah Omahnya namun dia merasa bersalah sudah meninggalkannya tanpa pamit terlebih dahulu.


"Baru tertidur, Nyonya," ucap Mbak Ratna yang menyadari majikannya masuk kedalam kamar. Anya perlahan naik ke atas ranjang, memberi usapan lembut pada puncak kepala putrinya. Dia mendekap pelan tubuh mungilnya. Sedangkan Reyhan hanya mampu menatapnya dari ambang pintu.


CUP.


Anya mengecup sekilas kening putrinya. "Sangat manis," ujarnya lembut.


Setelah Anya turun dari ranjang, Reyhan pun melakukan hal yang sama. Tapi pria itu hanya mencium kening putrinya saja, takut jika berbuat lebih akan membangunkannya.


"Ayo Bee, kita makan siang dulu."


Mbak Ratna yang berdiri diambang pintu tidak sengaja mendengar ucapan dari majikannya. Dia ikut tersenyum senang, sama halnya dengan Bi Nah yang mengetahui hubungan pernikahan mereka yang awalnya tidak selayaknya sepasang suami istri kini sepertinya sudah berubah. Mbak Ratna ikut bahagia sekaligus terharu.


"Bee ..."


"Iya sayang, kenapa ?" Reyhan meletakkan sendok yang dipegangnya, menatap sang istri yang terlihat ingin mengatakan sesuatu.


"Tadi saat aku ke Butik, aku bertemu dengan Calista."


Wajah Reyhan terlihat terkejut, dia menggenggam tangan istrinya. "Apa dia menyakitimu ?" tanyanya menyelidik.


"Lalu apa yang dia katakan ?"


"Kau masih peduli dengannya ?" Anya menatap tidak suka.


"Aku hanya bertanya, artinya aku itu mengkhawatirkan kamu bukan dia."


Anya memutar bola matanya jengah.


"Dia mengatakan apa yang tidak mau aku dengar," ketus Anya.


"Iya apa ? Kalau dia mengganggumu atau menyakitimu, langsung kabari aku."


"Terus kamu mau nyamperin dia ? Iya ? Berdua gitu ?" Anya menatap suaminya dengan tajam.


Reyhan tertawa. Istrinya sekarang kenapa berubah menjadi seseorang yang posesif juga pencemburu ?


"Kau cemburu dengannya ?"


"Hah ? Tidak !" bantah Anya.


"Dengar ya sayang, asal kau tahu aku sudah lama memutuskan hubunganku dengannya. Tapi dia tidak pernah mau dan masih menganggapku sebagai kekasihnya. Dan aku pelan-pelan mencoba berbicara lagi dengan baik-baik, tapi entah apa yang ada dipikirannya dia begitu kekeh ingin aku kembali dengannya. Padahal aku tahu apa yang dia lakukan diluar negri."


Anya menoleh ke arah suaminya merasa penasaran dengan perkataannya yang di akhir kalimat.


"Apa yang kamu tau, Bee ?"


"Ya Tuhan, manisnya istri aku," ujarnya seraya mencubit pelan pipi istrinya. Saat Anya memanggilnya dengan sebutan 'Bee' entah kenapa hatinya terasa berbunga-bunga. "Kau penasaran ?"


"Tidak !" Seru Anya. Dia bahkan tidak mau memandang suaminya dan sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Karna Reyhan tau bahwa Anya tengah merajuk, akhirnya perlahan dia tarik kembali tangan Anya untuk dia genggam.


"Dengar ya sayang, Calista itu bukan wanita yang baik. Aku terlambat menyadarinya, saat aku tau bahwa dia disana suka bersenang-senang dengan pria lain."


Anya tercengang atas penjelasan Reyhan, dia tidak menyangka Calista yang terlihat sangat mencintainya ternyata diam-diam bermain hati dibelakangnya.


"Darimana kamu bisa tau, Bee ?"


"Aku pernah menelfonnya dan yang mengangkat seorang pria dan temanku yang berada disana juga mengatakan hal yang sama. Tapi sampai saat ini aku pura-pura tidak tahu saja kelakuan buruknya Calista," ujar Reyhan.


"Kenapa tidak kau bongkar saja kelakuan dia yang sebenarnya, agar dia berhenti untuk mengganggumu."


"Ada waktunya, sayang. Kita lihat saja nanti," ucapnya menenangkan sang istri.


Anya tampak acuh namun lagi-lagi Reyhan membujuknya dengan mengecup punggung tangan istrinya membuat Anya tersipu malu.


"Kamu sangat pandai mengembalikan mood istrimu," ucapnya menyebalkan tapi dia tersenyum dalam hati.


.


.


.


.


.


.


Selamat membaca para readers..


Salam MERDEKA !!!!!!


.


.